Sistem Dewi

Sistem Dewi
Bantuan Juna


__ADS_3

"Jawab mah!! Siapa ayahku??" tanya Cinta lagi


"A-ayah kamu... " ucap Nimar


Nimar diam, ia tidak tahu harus mengatakan siapa ayah kandung Cinta padanya atau tidak.


"Jangan paksa mamah kamu, jika ia belum siap mengatakannya, Cinta" ucap Miko memberi pengertian pada Cinta


"Aku punya hak untuk tahu om" ucap Cinta dengan tatapan sendunya


"Katakan siapa ayah kandungku mah? Aku mohon!" ucap Cinta lagi


"Maaf Cinta, mamah belum bisa mengatakannya padamu sekarang" ucap Nimar lalu melangkah pergi, keluar dari rumah Miko.


Cinta hanya menangis mendapati kenyataan yang ada. Bahkan Mamahnya tidak ingin mengatakan padanya, tentang siapa ayah kandungnya.


"Sudah jangan menangis, kamu sekarang istirahat dlu sana. Mamah kamu hanya butuh waktu untuk jujur padamu. Akan ada waktunya kamu tahu semuanya" ucap Miko mengelus punggung Cinta pelan


Cinta hanya mengangguk lemah, kemudian ia melangkah ke kamar tamu, untuk istirahatkan badan dan pikirannya yang sedang kacau.


...¤...


Alyssa saat ini sudah berada di kafe milik Juna, untuk membahas sesuatu. Dia duduk sambil menikmati Vanila Latte di depannya.


"Al, kau sudah lama? Maaf Kakak baru selesai pembukuan" ucap Juna menghampiri adik dari sahabatnya itu.


"Baru 10 menit Kak. Kafe nya rameh juga ya kak" ucap Alyssa menatap pelanggan lalu kalah keluar dan masuk


"Yah lumayan Al, bisa buat aku hadirin modal melamar cewek" ucap Juna sambil terkekeh


"Sepertinya kakak sudah punya sakit yang di inginkan? Ciee....Oh iya Kak, makasih sudah bantu Al sebelumnya" ucap Alyssa tulus


"Belum Al, kakak masih konvoi ampe sekarang. Ah kamu ini, seperti sama siapa aja He-he. Kau itu adik sahabat kakak, sudah kakak anggap adik kakak sendiri juga. Jadi tak perlu sungkan" ucap Juna


"Tapi tetap aja, jika bukan karena kakak. Kasus penggelapan dana di perusahaan, akan sulit terkuak jika tidak di lengkapi bukti yang kuat. Juga mengenai kasus pembunuhan itu. Terimakasih sudah repot-repot turun tangan melacak Jenazah gadis malang itu" ucap Alyssa lagi


"Sama-sama Al, kakak justru senang bisa membantumu. Jujur saja, kakak sangat geram saat tahu apa yang di lakukan bajingan korup itu, bahkan dia sangat tidak manusiawi, mengubur wanita yang sudah ia perkosa dan di bunuhnya, dengan tidak layak" ucap Juna kesal


"Oh iya Kak, aku boleh minta tolong sekali lagi?" tanya Alyssa


"Tentu, jika aku bisa, pasti aku akan berusaha membantumu" ucap Juna tersenyum manis.


"Aku ingin kakak membawa seorang wanita padaku setelah satu minggu" ucap Alyssa


"Siapa?" tanya Juna

__ADS_1


"Mantan Sahabat mamahku, yang sudah menyiksa mamah selama belasan tahun terakhir " ucap Alyssa


"Apa??" teriak Juna kaget


Untung saja meja Alyssa berada cukup jauh dengan meja yang lain, jadi tidak terlalu terdengar yang lain.


"iiihhh Kak Juna, kenapa teriak-teriak? kenapa nggak pake toa aja sekalian!!" ucap Alyssa cemberut kesal


"He-he maaf Al, kakak kaget soalnya" ucap Juna


"Bagaimana ceritanya? Jika Al percaya, Coba ceritakan dulu sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Juna lagi


Alyssa kemudian menceritakan apa yang terjadi pada mamahnya, dan rencana Alyssa uang akan membalas Nimar.


Ring! Ring! Ring!


Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba telepon Alyssa berbunyi. Alyssa tanpa sungkan mengangkatnya di depan Juna.


Alyssa percaya Juna dan sudah menganggap Juna kakaknya sendiri sama seperti Azka.


"Halo" ucap Alyssa


"Halo Nona, apa saya mengganggu anda?" ucap orang itu


"Duo ular itu pergi ke sebuah kompleks rumah, yang di ketahui milik pria paruh baya bernama miko" ucapnya lagi


Ekspresi wajah Alyssa berubah marah saat orang suruhannya, menyebut nama Miko.


Yang Alyssa tahu dari mamahnya. Miko adalah orang yang menyiksa dan membawa mamahnya ke rumah sakit jiwa.


"minta rekan kamu yang lain menyelidiki orang itu. Apa kamu punya photo orang itu?" tanya Alyssa


"Ada nona, biar saya kirim Via WA. Saya akan meminta rekan saya untuk menyelidiki orang itu segera" ucap orang itu lagi


"Saya tunggu kabar lain secepatnya" ucap Alyssa


"baik Nona" ucap orang itu.


Alyssa mengepalkan tangan dengan kuat, dia sekuat tenaga untuk menekan emosinya agar tidak meledak saat ini juga.


"Hei, kenapa Al?" tanya Juna saat melihat ekspresi wajah adik sahabatnya itu berubah.


"Aku tidak apa-apa kak" ucap Alyssa


"Katakanlah! Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja" ucap Juna

__ADS_1


"Hmm kau benar Kak, aku menemukan salah satu pelaku lainnya yang dulu menyiksa mamah" ucap Alyssa


"Aku mau kakak, bawa dia bersama wanita itu ke hadapanku, apa bisa Kak?" ucap Alyssa


"Baiklah, kakak akan melakukannya" ucap Juna bertekad membantu Alyssa dan Azka.


...¤...


Alvin merasa gelisah di kantornya, dia tidak fokus dalam pekerjaannya hari ini.


Doni yang melihat tuan mudanya uring-uringan mencoba mendekat padanya dan bertanya.


"Tuan muda" panggil Doni.


"Haaahhh Doni, Kau di sini? Sekarang kau gantikan aku kerjakan ini! Aku tidak bisa fokus" ucap Alvin


"Apa ada yang mengganggu pikiran tuan muda?" tanya Doni


"Ya ada, aku sangat merindukan Ica... Sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu" ucap Alvin menghela nafas.


"Tuan muda, bukannya Nona Alyssa sedang ke kota S dengan ibu dan kakaknya, Untuk mengambil alih Bagaskara corp" ucap Doni


"Aku tahu Doni, tapi aku khawatir. Ica mengatakan dia juga akan membalas dendamnya. Bahkan dia melarangku untuk ikut, kenapa dia tega sekali padaku?" Ucap Alvin


"Nona Alyssa hanya tak ingin anda mengabaikan pekerjaan anda di sini, tuan" ucap Doni memberikan pengertian


"Tapi kan ada kamu yang bisa mengantikan aku di sini" ucap Alvin


"Bukannya tuan muda tahu jika kita harus datang ke pertemuan bisnis? Dan itu tak bisa di wakilkan" ucap Doni


"Haaahhh... Kau benar Doni, tapi aku tetap ingin di samping calon istriku" ucap Alvin


"Kan anda bisa bertemu lagi saat nona kembali beberapa hari lagi" ucap Doni


"Entahlah, aku merasa akan ada sesuatu yang besar, yang akan memisahkan aku dan Alyssa, Don. Aku tak ingin itu sampai terjadi, Itu membuat selalu kepikiran beberapa hari ini" ucap Alvin


"Itu hanya perasaan anda tuan, tidak akan ada yang berani mengambil Nona dari anda" ucap Doni.


Semoga saja seperti itu, Doni! Karena aku tidak sanggup hidup tanpa Ica" ucap Alvin lagi


Lalu kemudian Alvin beranjak ke kamar pribadinya yang ada di dalam ruangannya, dia ingin mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya saat ini.


Doni yang melihat Alvin pergi, meninggalkan tumpukan berkas di mejanya hanya menghela nafasnya. Kemungkinan hari ini ia akan lembur sampai larut.


"Nasib,, Nasib,," Gumam Doni dalam hati

__ADS_1


__ADS_2