Sistem Dewi

Sistem Dewi
Kematian Larasati


__ADS_3

Melihat persetujuan Ibra, Tama langsung mengambil sebuah cairan dari dalam saku jas dokternya. Kemudian ia membuka botol cairan yang ternyata Magic Liquid itu.


Dengan pelan ia membuka mulut Ibra, dan menuangkan cairan itu ke dalam sana. Sesaat setelah Ibra menenggak cairan itu, Tama langsung pergi.


Ibra merasa sedikit khawatir jika cairan yang masuk ke mulutnya itu, adalah racun yang akan membunuhnya. Namun kekhawatirannya itu tidak berlangsung lama.


beberapa detik kemudian ia merasakan jika ia bisa bergerak lagi dan mulai bisa berbicara meskipun sedikit kaku pada awalnya. Ibra sangat senang karena dirinya kembali pulih. Ia segera keluar dari ruangan, mencari dokter yang sudah menyembuhkan dirinya, karena Ia ingin berterimakasih.


Namun sejauh apapun ia mencari, ia tidak menemukannya. Dokter lain yang melihat Ibra sembuh pun terkejut. Ibra langsung menghampiri dokter itu untuk menutup mulut apa yang terjadi pada dirinya saat ini.


Ibra menanyakan dokter yang menyembuhkannya, namun dokter di depannya tidak tahu dan tidak mengenal atas ciri-ciri yang Ibra sebutkan.


Dan detik itu juga Ibra bergegas keluar dari rumah sakit dan pulang menuju rumahnya berada. Ia ingin sekali membalaskan dendamnya pada Larasati, saat ini juga.


Tak ia sadari, dari jauh Alyssa tersenyum melihatnya.


"Sepertinya permainan akan segera di mulai. Tak sabar aku jadi penonton. Apa aku kabari saja Alvin ya? Agar kita menonton pertunjukan bersama" Gumam Alyssa.


Dia kemudian bergegas menelepon Alvin.


"Halo sayang" ucap Alvin di ujung telepon


"Rencana sukses, kita tinggal menonton pertunjukannya. Apa kau ingin menontonnya bersama?" tanya Alyssa


"Tentu, kau di mana sekarang?" tanya Alvin


"Aku di rumah sakit, kita ketemu di jalan fff, aku tunggu di gerbang 2. Ah, jangan lupa bawa camilan yang banyak untukku" ucap Alyssa, jalan fff menunjuk ke alamat rumah Ibra.


"Tentu, aku akan ke sana sekarang dengan Doni" ucap Alvin


"Hmm, hati-hati" ucap Alyssa


...


Waktu sudah menunjukkan jam 8 malam, Larasati menggeliat bangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk pada retina matanya.


Ia memandangi sekelilingnya, saat ini ia tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya Dan hanya tertutup selimut tebal. Ia mengingat jika saat ini ia berada di hotel setelah berci*ta dengan Alvin dari siang sampai sore tadi.


Wajahnya memerah mengingat betapa perkasanya Alvin, mengoyak miliknya berkali-kali, hingga ia kelelahan dan tertidur. Jantung Larasati berdebar kencang.


Ia tidak mendapati Alvin saat bangun di sana maupun di kamar mandi. Namun ia menemukan sebuah catatan kecil di atas nakas.


...Sayang, permainanmu sungguh luar bisa Liar. Aku sangat menyukainya, itu sangat nikmat. Aku tidak sabar untuk menerkammu lagi, saat kita bertemu. Maaf aku pergi saat kamu tidur, aku ada urusan setelah ini. Pulanglah ke kontrakanmu dulu, dan membereskan barangmu, karena kita akan tinggal bersama setelah ini. Sampai jumpa nanti gadisku yang manis, Aku menyayangimu......


...-Alvin-...


Melihat catatannya itu, wajahnya makin memerah dan bahagia. Karena ia sudah mendapatkan Alvin sentuhnya setelah berbagi peluh bersama.


"Aaahhhh, akhirnya... Setelah sekian puluh purnama, aku mendapatkanmu juga Alvin. Dan aku sebentar lagi akan menjadi nyonya Ardhana Ha-ha" ucap Larasati

__ADS_1


Ia beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Namun ia merasakan bagian intinya sedikit sakit. Ia mengulum senyum saat mengingat betapa luar bisanya Alvin saat memasukinya.


Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia keluar dari hotel menuju rumah milik Ibra. Mengingat saat ini Ibra masih ada di rumah sakit karena lumpuh permanen.


Ia dengan santainya akan kembali ke rumah Ibra, untuk beristirahat dan mengambil barang-barang miliknya. Karena besok ia akan tinggal bersama Alvin.


Namun itu hanya hayalannya semata, ia tidak tahu bahaya apa yang menantinya saat ini.


...


Tuk! Tuk!


Alvin mengetuk kaca mobil Alyssa, kemudian ia dan Doni masuk ke dalam mobil Alyssa.


"ini pesananmu, nyonya" ucap Alvin terkekeh menyerahkan dua kantong besar berisi camilan berbagai rasa, dari gurih sampai manis.


"Terimakasih, kamu yang terbaik" ucap Alyssa tersenyum


"Cih, padahal aku yang beli, malah berterima kasih padanya. Bos besar hanya duduk saja di mobil saja saat aku beli itu semua" Gumam Doni pelan namun masih terdengar.


"Ha-ha-ha" tawa Alyssa pecah sedangkan Doni terdiam karena mendapatkan tatapan tajam dari depannya. Siapa lagi kalau bukan tatapan tajam Alvin, sang bos besar.


"Terimakasih juga Doni" ucap Alyssa tulus


"Tidak usah berterima kasih sayang, abaikan saja Doni. Oh iya, Bagaimana? Apa tontonannya sudah mulai?" tanya Alvin


"Sebentar lagi" ucap Alyssa


Sebuah taksi masuk ke dalam kompleks dan berhenti di sebuah rumah. Larasati keluar dari dalam taksi itu dan masuk ke dalam rumah minimalis berlantai dua itu.


"Aras, putar Video nya" ucap Alyssa


"Baik Nona" ucap Aras.


Lalu sebuah layar hologram muncul, menampilkan suasana di dalam rumah itu. Bahkan suaranya di video pun terdengar jelas.


Posisi mobil Alyssa adalah tepat di depan rumah di sebelah rumah milik Ibra, jadi lebih nyaman saat mereka bergerak nantinya.


...


Ceklek!


Kriet!


Larasati membuka pintu rumah itu, keadaan di sana sangatlah gelap. Karena lampu belum di nyalakan.


Ctak!


Setelah ia menutup pintu Ia langsung menyalakan lampu, dia terkejut karena ada sosok yang ia kenal, sedang berdiri menatap dirinya dengan mata yang tajam.

__ADS_1


Larasati mundur beberapa langkah dan hendak lari setelah mengetahui Ibra berada di depannya.


"Akkkhhhhh!!!" teriak Larasati karena tangannya berhasil di gapai dan di tarik hingga tubuhnya membentur lantai.


Ibra bergegas menuju pintu dan menguncinya. Lalu ia berjalan menuju Larasati.


"Kenapa kau kabur Hmm Laras sayang??" ucap Ibra, berjongkok dan mencengkeram rambut Larasati dengan kuat.


PLAK!!!


PLAK!!!


"Aaakkhhh sakit, lepaskan Ibra!!" teriak Larasati karena cengkeraman dan tamparan kuat Ibra yang membuat pipinya bengkak lebam, dan sudut bibirnya berdarah.


"Lepas kau bilang? Ah tentu..." ucap Ibra melepaskan cengkeramannya kemudian berdiri.


BUGH!!!


BUGH!!!


"Aahhh, Ibra hentikan! Tolong!!!" teriak Larasati setelah ia di tendang dengan keras, berkali-kali oleh Ibra.


"Dasar ja**ng, terima ini!!! Brengsek!! Mana kesombonganmu Hah? Bukannya kau mengatakan ingin melenyapkanku, saat di rumah sakit? Sebelum itu terjadi, aku duluan yang akan melenyapkanmu, dasar ja**ng" ucap Ibra terus menerus menendang. Bukan hanya perut, ia menendang semuanya, dari kepala, kaki dan lain-lain.


Larasati kini meringkuk melindungi kepalanya dari tendangan Ibra.


"Aaakkhh, ampuunnn. Lepaskan aku, Toloooongggg, tolooong!!!!" teriak Larasati sekuat tenaga.


"Tidak akan ada yang menolongmu, kau lupa jika kompleks ini sangat sepi? dan kita tidak memiliki tetangga yang menghuni rumah sebelah?" ucap Ibra dan mencengkeram rambut Larasati hingga wajahnya mendongak ke atas.


"Dasar wanita sialan, berani sekali kau mengkhianatiku. Dasar bic*h!!!" teriak Ibra.


"Lepaskan aku, atau Alvin akan datang menghabisimu, brengsek!" ucap Larasati


"Alvin tidak akan bisa menolongmu, karena kamu bukan siapa-siapa baginya?" ucap Ibra


"Kau salah, aku adalah kekasihnya sekarang, dan besok ia akan membatalkan pertunangannya dan akan menikahiku. Bahkan kita sudah berc**ta siang sampai sore tadi. Bunuh aku jika kau berani, bangsat!" teriak Larasati memberontak


"Sialan, dasar wanita murahan. Kau pikir aku tidak berani membunuhmu Hah? Dasar menjijikkan, Cuih..." ucap Ibra kemudian dia meludahi wajah Larasati.


Ibra dengan beringas dan penuh amarah yang menutupi mata hatinya. Menghantamkan kepala Larasati ke lantai berkali-kali.


"Aaarrgghhh... ampuuunn, tolong... aahh" teriak Larasati.


Karena benturan yang keras menghantam bagian wajahnya secara terus menerus. Larasati kini sudah tidak bernyawa lagi dengan wajah sudah hancur.


"Cih, rasakan itu!!! Berbahagialah bertemu raja neraka Laras, dan aku pastikan kekasih yang kamu cintai itu menyusulmu secepatnya. Akan ku buat dia merasakan kematian yang sangat tragis dan menyakitkan" ucap Ibra.


"Kau ingin membunuhku?" ucap seseorang yang membuat Ibra terkejut dan menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Hai sahabat lama. Lama kita tidak bertemu" ucap Alvin melambaikan tangannya dan tersenyum mengejek.


...


__ADS_2