Sistem Dewi

Sistem Dewi
Kesakitan seorang ayah


__ADS_3

Setelah bertemu dengan rekan bisnisnya, Alyssa dan Alvin berangkat menuju panti asuhan. Di sana Bu Titik, ibu asuh yang lain dan juga anak-anak sudah menyambutnya di depan pintu.


Alyssa sangat terkejut dengan sambutan yang luar biasa ini. Bagi penghuni panti, Alyssa adalah sosok anak, kakak, juga sahabat bagi mereka. Alyssa juga di sebut sebagai Dewi oleh ibu asuh dan anak-anak.


Karena berkat Alyssa mereka tidak terlunta-lunta di jalan, setelah penggusuran panti yang dulu. Bahkan kini mereka hidup dengan berkecukupan, karena Alyssa mencukupi semua kebutuhan mereka.


Dari mulai makanan, pakaian, akomodasi, pendidikan dan lain-lain. Jangan lupakan fasilitas di panti yang sangat lengkap, dan tempat tinggal yang lebih dari sekedar kata layak.


"Kak Icaaaaaa!!!" panggil anak-anak memeluk Alyssa dan mencium pipinya satu-satu.


"Bu" sapa Alyssa mencium punggung tangan Bu titik dan ibu asuh yang lain.


"Apa ini calon mu?" tanya Bu titik melirik Alvin, ia tahu karena sebelumnya Alyssa sudah mengatakannya lewat telepon.


"Selamat sore Bu, salam kenal saya Alvin calon suami Alyssa" ucap Alvin sopan sambil mencium tangan Bu titik dan ibu asuh yang lain, yang sudah di anggap orang tua oleh calon istrinya.


"Ayo masuk dulu" ucap ibu titik dan mereka semua masuk ke dalam panti yang sangat besar itu.


Mereka mengobrol dan menyampaikan tujuannya sembari menyerahkan undangan pernikahan.


"Jadi sabtu ini kalian menikah?" tanya Bu Titik


"Iya bu, dan Ica harap semua ibu asuh dan anak-anak panti bisa datang. Ica sudah menyiapkan pesawat khusus, dan juga orang yang menjemput di sini dan di airport nantinya" ucap Alyssa


"Apa tidak terlalu merepotkan untuk kamu, bagaimanapun kita sangat banyak. Akan banyak biaya yang harus kamu keluarkan nantinya" ucap Bu Titik, karena tidak ingin membebani Alyssa


"Tentu saja tidak, Ica malah ingin kalian semua datang. Untuk akomodasi dan tempat tinggal di sana sudah di siapkan. Untuk pakaian tema juga sudah di sediakan nanti di sana, jadi bu Titik dan yang lain tidak perlu khawatir. Alyssa punya uang, dan itu tidak akan habis, hanya karena Alyssa mengeluarkan sedikit untuk mengundang kalian datang. Justru kedatangan kalian membawa rezeki untuk kami berdua" ucap Alyssa


"Hah, kami menghasilkan rezeki apa?" tanya bu Titik dan yang lain heran.


"Rezeki kebahagiaan" ucap Alyssa tersenyum


"Rezeki tidak melulu soal materi bukan? Dan aku harap kalian bisa datang untuk memberi doa dan kebahagiaan untuk kami" ucap Alyssa tersenyum dan menoleh ke arah Alvin yang juga tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Kamu hebat sayang, aku bangga padamu" ucap Alvin dalam hati.


...


Ibu kota, Biro kepolisian pusat Ibukota.


Alaric, Deswita dan juga Sanjaya, datang untuk melihat Hendriko yang sudah di jemput tim kepolisian sektor pusat dari Distrik 4 bagian utara.


"Saudara Hendriko, Silahkan ikut kami" ucap Polisi membuka kunci sel yang hanya ada Hendriko di satu sel itu.


"Siapa yang ingin menemuiku?" ucap Hendriko


"Nanti juga kamu tahu" ucap Polisi.


Sampai saat ini, Hendriko masih bertanya-tanya, mengapa dirinya ada di sebuah penjara kecil kantor polisi di distrik 4 saat membuka matanya.


Belum sadar sepenuhnya, ia di kejutan saat beberapa polisi dan intel datang menjemputnya untuk di pindahkan ke sektor pusat.


"Ayah, Kakak, Kakak ipar" ucap Hendriko terlihat senang saat melihat keluarganya, datang menengoknya.


Awalnya hendriko tidak yakin, kenapa dirinya bisa di tangkap. Namun setelah pihak kepolisian memeriksanya untuk test narkoba. Dirinya meyakini jika ia di tangkap karena hal obat-obatan.


"Kau tahu kenapa kau ada di sini?" tanya Alaric dengan nada datar, menahan emosi di hatinya.


"Aku tahu, aku di jebak seseorang dan mengkonsumsi narkoba. Hingga aku di tangkap. Tapi percayalah Kak, aku bukanlah pecandu dan pengedar. Tolong aku kak, bebaskan aku dari sini" ucap Hendriko dengan harapan kakaknya bisa menolongnya keluar dari penjara.


Ia melihat tatapan dingin di kata kakaknya, sedang kan wajah Sanjaya terlihat amat sangat bersalah. Bagaimanapun, ia gagal mendidik putra bungsunya untuk menjadi orang yang baik.


"Maaf, tapi yang melaporkanmu dan membuatmu masuk ke penjara adalah aku" ucap Alaric dengan santai bicara seperti itu.


"Apa?? Apa aku tidak salah dengar? Apa kakak sudah gila? Aku adik kakak, kenapa kakak tega melakukan semua ini padaku? Kakak macam apa yang tega memenjarakan adiknya sendiri!" teriak Hendriko marah, yang membuat beberapa polisi datang, karena takut ada adanya keributan di sana.


"Lalu kau sebut adik macam apa orang sepertimu?" tanya Alaric mengeram marah

__ADS_1


"Ayah, kau lihat anak kebanggaanmu! Dia tega berbuat seperti ini padaku, aku juga anak ayah, aku juga adiknya. Kenapa kalian begitu tega padaku. Apa salahku?" ucap Hendriko marah.


Karena ia melihat Sanjaya hanya menunduk dengan mata merah dan berkaca-kaca. Yang berarti ayahnya mengetahui jika dirinya di laporkan oleh sang kakak.


Ia pikir kedatangan mereka untuk membebaskannya, namun ternyata kenyataannya adalah mereka yang melaporkannya.


"Diam kau bangs*t..!!!" teriak Alaric


"Apa salahku padamu kak? Kenapa kau lakukan ini padaku?" ucap Hendriko


"Kau tanyakan apa salahmu? Baik kau dengarkan aku baik-baik apa yang akan aku sampaikan tentang kesalahanmu" ucap Alaric.


Degh!


Entah mengapa Hendriko terlihat takut, ada perasaan takut secara alami berhadapan di depan seorang Alaric.


"Kau bilang aku tega Hah? Dengarkan aku bang*at!!! Kau adalah orang paling tidak tahu malu yang pernah aku kenal, bajingan keparat!!" ucap Alaric


"Kau!!! Tidak punya hati ingin membunuh putraku! keponakanmu sendiri! Hanya karena harta? Kau pikir aku tidak tahu dan tidak memiliki bukti perbuatanmu? Haruskah aku diam saja saat tahu kau menyakiti putraku satu-satunya?" ucap Alaric


Degh!


"Kakak tahu?" gumam Hendriko dalam hati


"Hendriko, selain membunuh keponakanmu. Kau juga melakukan menggelapkan dana perusahaan, penggelapan pajak, Sindikat perdagangan manusia, pemakai dan pengedar narkoba. Kau sungguh membuatku marah hingga ingin mati? Kau sudah memberikan kotoran ke wajahku. Selama ini, apa salahku? Kenapa kau jadi seperti ini?" ucap Sanjaya yang sedari tadi diam dan menangis.


"Ayah" ucap lirih Hendriko dengan lutut lemas dan badan gemetar hebat.


"Selesai sudah" ucap Hendriko dalam hati.


"Terimalah hukumanmu, setiap perbuatan yang kamu lakukan, kau harus terima konsekuensi dan hukumannya. Aku harap setelah ini kau sadar akan kesalahanmu dan berubah menjadi lebih baik lagi" ucap Sanjaya.


Dia berdiri dari duduknya, dan melangkah pergi keluar dengan rasa sesak di dadanya. Alaric dan Deswita juga mengikuti dari belakang, keluar dari ruangan.

__ADS_1


Sedangkan Hendriko, terdiam entah apa yang di pikirannya hingga ia tersadar saat polisi menariknya untuk masuk ke dalam sel lagi.


...


__ADS_2