Sistem Dewi

Sistem Dewi
Jam pintar


__ADS_3

Aras memproyeksikan setiap sudut lahan itu, dan juga lingkungan di sekitarnya secara jelas. Selain itu Aras juga memberikan data secara spesifik mengenai luas lahan, struktur tanah, temperatur suhu dan lain-lain.


"Kerja bagus Aras" puji Alyssa senang


"Terimakasih pujiannya Nona" ucap aras


Alyssa langsung membuat design rumah, dia membuat dua design sekaligus. Satu design rumah berlantai 1 dan yang satu lagi berlantai 2 untuk pilihan.


Enzy dan Fransiska yang saat ini masih terkejut dan terpesona melihat Alyssa mendesign dengan cepat, namun terlihat indah di pandangan. Gerakan menggambarnya sangat indah seperti sebuah tarian.


Bukan hanya mereka berdua, bahkan karyawan Fransiska sama terpesonanya melihat kepiawaian Alyssa dalam membuat design.


Hampir 2 jam, Alyssa sudah menyelesaikan dua design rumah. Alyssa merasa sangat puas dengan hasil yang ia buat kali ini. Ia harap teman Fransiska menyukai designnya dan memberikan harga yang tinggi.


"Aras, bisakah kau menyimpan gambar ini?" tanya Alyssa


"Tentu Nona" ucap Aras


Sebuah cahaya merambat dari ujung ke ujung kertas gambar design milik Alyssa. Seperti sedang scan lembaran kertas itu, seperti di alat print komputer.


"Gambar anda sudah di buat otomatis dan di simpan, Nona" ucap Aras menginformasikan


"Terimakasih" ucap Alyssa


"Eh, kalian kenapa bengong kaya gitu?" tanya Alyssa heran melihat orang-orang di sana melihatnya dengan bengong.


"Nona, jam tangan apa itu?" tanya Enzy yang di angguki Fransiska yang sama penasarannya


"Ah ini, ini jam pintar buatanku. Aku memberinya nama Aras" ucap Alyssa tersenyum


"Anda membuatnya? Kapan?" tanya Enzy kaget


"Baru-baru ini, aku uji coba jam ini saat di kota B beberapa hari yang lalu" ucap Alyssa lagi


"Nona, kau sungguh hebat. Aku sangat mengidolakanmu, sejak aku tahu pemahaman anda mengenai design pakaian. Boleh tidak kita tukaran otak, sehari saja? Otak anda terlalu jenius. Kau bahkan bisa di segala bidang, aku sangat iri sekali" ucap Fransiska berbinar penuh kekaguman menatap Alyssa.


"Benar nona, anda sangat hebat. Saya kagum dan bangga menjadi salah satu orang anda" ucap Enzy bangga


"Ah, aku tidak sehebat itu juga" ucap Alyssa memegang leher belakangnya, malu.

__ADS_1


Alyssa merasa tidak enak sendiri, mengaku-ngaku itu adalah ciptaannya. Tapi dia tidak tahu menggunakan alasan apa lagi selain itu.


Beda halnya dengan semua orang yang ada di sana. Mereka semuanya menelan salivanya dengan susah payah, saat Alyssa mengatakan dia tidak sehebat itu.


Jika Alyssa bukan orang hebat, lantas apa sebutan yang pantas untuk diri mereka sendiri. Yang kemampuannya tidak bisa di bandingkan dengan Alyssa. Mungkin jika di bandingkan, kemampuan mereka tidak lebih dari 5% dari kemampuan Alyssa. Miris sekali...


..._____...


Saat ini Dion sedang menjalani hari terakhir, ujian tengah semester. Dia Sejujurnya sangat gugup. Meskipun ia sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Namun ia tetap gugup, ia ingin mendapatkan nilai yang bagus. Agar membuat bangga kakak-kakaknya.


Ia mengerjakan soalnya dengan lancar, setelah selesai mengisi semuanya, dia mengeceknya sekali lagi, sebelum ia mengumpulkan lembar jawabannya.


"Dion..!!!" panggil Tiara dari kejauhan dan mendekat.


"Tiara, kau sudah selesai mengerjakan soal ujiannya?" tanya Dion


"Sudah dong" ucap Tiara tersenyum


"Bagus, aku harap nilai kita bagus. Biar bisa buat bangga kakakku, dan kamu bisa buat bangga kakak dan ibumu" ucap Dion penuh harap


"Semoga, kita berdoa saja. Semoga usaha terbaik kita tidak sia-sia" ucap Tiara


Drrrtttt... Drrrtttt...


HP Dion di saku celananya bergetar, Terlihat nama Desti di sana. Ya, Dion dan Desti sudah tukar nomer HP saat di pernikahan Kenan dan Hanin di Kota B.


Senyum Dion merekah saat mengetahui siapa yang telepon, ia segera menekan tombol hijau dan menempelkannya di telinga.


"Hai Des" ucap Dion tidak menyembunyikan raut wajah senangnya.


"Hai, apa kau sudah menyelesaikan ujianmu?" tanya Desti


"Ya, aku baru saja menyelesaikannya, bagaimana denganmu? Apakah lancar mengerjakannya" tanya Dion


"Tentu saja, aku hanya berusaha yang terbaik. Aku ingin mengikuti Kak Alyssa kuliah di Universitas Unggulan. Aku harap aku bisa di terima belajar di sana" ucap Desti


"Aku harap keinginan kita terwujud, karena aku juga ingin kuliah di sana" ucap Dion


"Ya, kau benar. Oh iya, aku dan keluargaku akan datang ke pernikahan Kakakmu besok lusa" ucap Desti semangat

__ADS_1


"Oh ya? Aku tidak sabar bisa bertemu denganmu. Setelah kau sampai di ibukota, aku akan mengajakmu berkeliling nantinya" ucap Dion.


"Kalau begitu, kau harus menepati janjimu. Aku pulang dulu ya, sampai bertemu besok lusa Dion" ucap Desti lembut.


"Sampai jumpa juga" ucap Dion


Setelah telepon berakhir, Dion masih mengembangkan senyum di wajahnya. Dia merasa senang, akan bertemu kembali dengan wanita pujaannya.


Jantungnya tidak henti-hentinya berdetak kencang, saat mendengar suara indah nan merdu dari wanita manis berlesung pipi itu.


"Aakkhh, Prince Dion tersenyum... Astaga, manis sekali" ucap siswi di sana.


"Ya tuhan, Prince tersenyum, melotot hati Neng bang" ucap siswi lainnya


Dion, di kenal sebagai Prince karena selain tampan dan pintar, Identitas Dion sebagai adik dari pemilik sekolah terkuak. Tak ayal, membuat Dion menjadi Most Wanted di Penabur International School.


Siswi di sana juga tidak aneh melihat kedekatan Tiara, awalnya mereka menganggap Tiara adalah pacar Dion. Tapi Dion dengan tegas mengatakan jika mereka hanyalah teman, Dion juga mengatakan, dia tidak akan pacaran sampai ia lulus sekolah menengah.


"Bahagia sekali, telepon dari siapa?" tanya Tiara


"Ah, yang barusan? Dari teman" ucap Dion masih dengan rona bahagia di wajahnya


"Teman apa teman?" ledek Tiara


"Teman, tapi nggak tahu suatu hari nanti. Jujur saja, aku memiliki perasaan lebih padanya" ucap Dion


Deg!


Entah mengapa Tiara merasakan hatinya di hantam keras. Dia menggigit bibirnya, hatinya terasa sakit mengetahui Dion sudah memiliki wanita yang ia sukai.


"Siapa wanita beruntung itu?" tanya Tiara dengan nada lembut seperti biasa, dia menahan sakit di hatinya.


"Dia anak kenalan tante Hanin dan Kak Al, dari Kota M. Dia sangat manis dan lucu, astaga mukaku terasa panas saat mengingatnya" ucap Dion dengan wajah memerah.


"Ya, aku mendoakan yang terbaik untukmu" ucap Tiara dia mencoba menenangkan hatinya, meskipun sakit.


Ia sadar diri akan posisinya, Dirinya hanyalah seorang adik dari karyawan AL Group. Sedangkan Dion adalah adik dari pimpinan AL Group tag juga pemilik sekolah tempat ia belajar saat ini.


"Terimakasih, kau memang sahabatku" ucap Dion

__ADS_1


"Sama-sama" jawab Tiara, dia memutuskan untuk membunuh perasaannya terhadap Dion mulai detik ini. Karena dia tidak mau menderita karena mencintai orang yang tidak mencintainya.


__ADS_2