
Mata Alyssa dan Juna terpaku dengan ke lima benda yang ada di atas meja. Benda yang membuat keduanya syok di tambah dengan keterangan dari Tama jika masih banyak lagi yang ia temukan di rumah lain milik Setyono di distrik 3 itu.
"Seberapa banyak yang ada di sana?" tanya Alyssa
"Yang ini, ada sekotak berukuran 20x20 sentimeter" tunjuknya pada benda yang tak lain adalah berlian asli.
"Kalau yang ini, ada cukup banyak, bahkan hampir menghabiskan seperempat ruangan di bawah tanah" tunjuknya ke pada benda berbentuk uang tunai berwarna merah muda dan lembaran uang berwarna hijau/Dolar.
"Yang ini hanya ada 10 buah termasuk yang ini" ucap Tama menunjuk ke benda yang tidak lain adalah pistol berkaliber.
"Juga yang ini, benda ini ada di sebuah kotak persegi panjang berukuran 1x0,5 meter" ucap Tama menunjuk emas batangan yang sangat menyilaukan. Bahkan Juna sempat menggigitnya, dan ternyata itu benar-benar emas asli.
"Yang terakhir, ada banyak ini di dalam beberapa kotak di ruangan itu. Kurang lebih ada sekitar belasan kotak" Tama menunjuk benda seperti garam kasar atau kristal yang di bungkus plastik. Yang tak lain adalah obat narkotika jenis baru yang beredar.
Lagi-lagi Juna dan Alyssa terkejut dengan penuturan Tama. Bukankah ini merupakan bukti kasus korupsi dan juga kasus suap, yang melibatkan Setyono. Bahkan bukti kasus baru yang baru saja di ketahui. Yang tak lain adalah Setyono sebagai penyuplai atau pemasok narkoba jenis baru.
Juna dan Alyssa saling berpandangan dan tersenyum penuh makna. Akhirnya mereka menemukan titik terang, dan hanya perlu mengekspos semuanya.
"Dan, saya menemukan dua hal lain. Mungkin ini juga sama pentingnya" ucap Tama menyerahkan tumpukan map.
Alyssa segera mengambil dan membukanya. Matanya terbelalak saat melihatnya.
"Ini... ha-ha-ha..." tawa Alyssa saat melihatnya
"Ada apa Al? tanya Juna penasaran
"Ini bukti konkret jika kakak dan paman tidak bersalah, dan berkas ini adalah bukti yang di tuduhkan pada kak Juna dan paman, justru tertera jelas jika yang melakuakannya adalah Setyono. Dan lihatlah berkas yang ini!!" ucap Alyssa memperlihatkan beberapa berkas lainnya.
"Ini..." ucap Juna terkejut dengan mulut terbuka
__ADS_1
"Ya, bukankah ini menarik kak" ucap Alyssa tersenyum jahat dan menyeramkan m
"Apa yang kamu maksud sama seperti yang aku pikirkan Al?" tanya Juna
"Yaps, kita lakukan hari ini juga, sebagai DP buat Setyono" ucap Alyssa
"Oke, kita gunakan caramu, tapi bagaimana dengan kasus ku, tidak mungkin kita bisa menggrebek tempat Setyono. Karena kemungkinan aparat juga tidak akan mau melakukannya tanpa perintah dari biro terkait, yang pastinya susah untuk di percaya, dan kemungkinan berpihak padanya" ucap Juna
"Urusan kasus dia yang lain, kita bicarakan besok lusa dengan Alvin. Dia akan datang ke sini dan kita minta dia untuk menggrebek tempat Setyono. Kakak jangan khawatir, kita bisa melakukannya, jika Alvin saja tidak cukup kuat. Mungkin papah Erick lebih tertarik untuk hal seperti ini" ucap Alyssa
"Aku lupa jika keluarga dari suamimu semuanya orang berpangkat tinggi di militer dan juga pemerintahan" ucap Juna bernafas lega, seakan menemukan pasokan oksigen setelah lama kesulitan bernafas.
Untuk keadaan sang ayah, Juna sudah merasa lega. Karena Alyssa memberi tahu, jika keadaan ayahnya baik-baik saja. Dan pengadilan untuk sang ayah akan di lakukan 4 hari lagi. Jadi masih ada waktu hingga Sabtu ini untuk mengumpulkan bukti.
"Lalu satu hal lagi itu apa Tama?" tanya Alyssa
"aku menemukan ruang bawah tanah yang lain. Namun bukan barang-barang seperti ini yang saya lihat di sana" ucap Tama
"Tulang dan juga potongan tubuh manusia" ucap Tama, Alyssa dan Tama terkejut dengan mata membola.
"Manusia laknat!!" teriak Alyssa geram
"Tama, malam ini antar aku melihat tempat itu secara langsung" ucap Alyssa yang di angguki Tama
...
Setelah mendapat telepon dari sang istri, selesai bekerja, Alvin langsung mengemudikan mobilnya ke arah kediaman tua Ardhana.
Terlihat jika ada mobil milik Erick dan juga Xavier, yang berarti papah, kakak dan juga kakak iparnya ada di rumah.
__ADS_1
"Selamat malam Pah, mah, Kak" sapa Alvin yang langsung duduk bersama dengan mereka di ruang keluarga.
"Tumben kamu ke sini, mana Ica?" tanya Sandra menoleh ke arah belakang Alvin
"Ica lagi di kota S mah" ucap Alvin sangat lelah setelah mengerjakan pekerjaannya yang sangat menggunung itu.
"Ke kota S? Berkunjung ke Raiden? Kok kamu nggak ikut ke sana?" tanya Erick yang di angguki Sandra
"Nggak baik loh jauh-jauhan sama istri, apalagi kalian masih pengantin baru. Apa nanti kata Om Raiden, yang mungkin berpikir kalian ada masalah karena kau tidak menemaninya datang ke sana" ucap Aletta
"Betul kata kakakmu, Alvin" ucap Sandra setuju dengan ucapan putrinya itu.
"Hais, Mau ku juga begitu mah. Tapi Ica maksa buat aku tanggung jawab sama kerjaan di perusahaan, apalagi Doni tengah cuti. Ica mengatakan dia ada urusan di sana dan baru siang tadi aku mengetahui kalau ia ada di sana, karena masalah yang terkait Juna di kota S. Dan sesaat sebelum ke sini, Ica menelepon dan mengatakan jika ia membutuhkan bantuan ku dan juga papah" ucap Alvin
"Katakan, bantuan apa yang di minta menantu cantik kesayangan ku!" ucap Sandra
"Yeehhh, berarti aku bukan menantu kesayangan mamah dong?" ucap Xavier cemberut
"Kan mamah bilang menantu cantik kesayangan mamah. Emang kamu mau di sebut menantu cantik? udah mulai berubah gender kamu Vier?" ucap Sandra menatap menantu laki-lakinya itu.
"Iidiiiihh amit-amit jabang kebo..." ucap Xavier bergidik, membuat semuanya tertawa ringan.
Alvin kemudian menceritakan perihal masalah Juna. Dan juga tentang bantuan yang di butuhkan Alyssa saat ini.
Erick mengangguk mengerti saat putra semata wayangnya menceritakan hal itu. Ia tentu saja tidak akan menolak membantu Alyssa. Terlebih Juna dan ayahnya tidak salah dan hanya di jadikan kambing hitam oleh Setyono.
Dengan bukti yang di miliki Alyssa, cukup untuk membekuk Setyono di dalam penjara seumur hidup bahkan hukuman mati. Karena sudah menyalahgunakan wewenang dengan jabatannya saat ini.
"Baiklah, besok papah akan persiapkan semuanya, untuk tim investigasi dan juga penyidik. Papah akan memintanya langsung dari Kapolri dan juga pemerintah. Tidak perlu menunggu lusa, besok malam setelah kau selesai bekerja, kita langsung berangkat ke kota S bersama pasukan yang lain" ucap Erick
__ADS_1
"Oke Pah" ucap Alvin berseri, pasalnya ia tidak sabar bertemu dengan istri tercintanya. Sungguh ia merindukan pelukan hangat sang istri, terlebih saat malam tiba.
...••• ...