Sistem Dewi

Sistem Dewi
Mengerjai anggota lain


__ADS_3

"Alvin!" ucap Alyssa terkejut.


"Sayang, kaki dan perutku sakit. Tenaga kamu kuat banget ssshhh" ucap Alvin dengan manja dan meringis kesakitan.


Tentu saja dia jujur, karena tenaga istrinya itu tidak main-main kuatnya. Masih terasa sakit terlebih sikutan maut yang mengenai perutnya.


"Lagian di suruh siapa kamu jahil, mengagetkanku dengan muncul tiba-tiba, seperti jin iprit" ucap Alyssa pedas


Meskipun begitu ia mematikan shower lalu beranjak mengambil dua handuk dan memakainya juga melilitkannya pada tubuh suaminya itu.


"Ayo keluar dulu!" ucap Alyssa menggandeng Alvin yang menurut keluar dari kamar mandi menuju kamar dan duduk di tepi ranjang.


"Apa sakit?" tanya Alyssa memegang perut suaminya yang keras dan tercetak menggoda itu.


Alvin mengangguk seraya menikmati sentuhan tangan istri yang selalu di ridukannya itu.


"Maaf aku tidak sengaja, lain kali bukan begitu caranya memberikan kejutan. Itu bahaya, bisa saja kamu terbunuh atau terluka parah jika aku menggunakan seluruh tenagaku karena merasa ada bahaya mendekat" ucap Alyssa


"Ya, aku minta maaf" ucap Alvin lembut.


"Aku ambil air hangat dulu untuk mengompres perutmu" ucap Alyssa lalu berdiri, namun ia di tarik oleh Alvin hingga jatuh ke pelukannya.


"Tidak perlu, aku hanya perlu dirimu sebagai obatku. Itu jauh lebih menyembuhkan dari pada obat lainnya" ucap Alvin, yang kini membawa tangan Alyssa mengelus perutnya dan terus bergerak ke arah bawah.


Mata Alyssa terbelalak saat ia merasakan benda panjang, berutat, besar dan keras, juga hangat berada di telapak tangan mungilnya. Alvin menuntunnya dan menggerakkannya naik dan turun.


"Aaahh,,," suara ambigu yang keluar dari mulut Alvin membuat wajah Alyssa memerah.


"Sayang, sshhh tahu kah kamu, aku tersiksa beberapa hari ini. Aaahh, Aku merindukanmu, aku menginginkanmu Icaaa" ucap Alvin meracau


"Alvin nanti Ki, Hmmmppphh...." Ucapan Alyssa terpotong karena Bibir hangat Alvin sudah menyerbu dengan ganas nya ke bibirnya.


Alvin me**mat dan mengabsen setiap deretan gigi Alyssa, merasakan dorongan Alvin yang menggebu. Alyssa membalasnya hingga terjadi lilit melilit antara lidah satu dengan yang lain.


Tak berhenti di sana, tangan Alvin tak di biarkan menganggur. Ia melepaskan tangan yang menuntun istrinya dan meremas kedua bukit kesukaannya dengan penuh gelora.


Alvin yang tidak kuat puasa dan berjauhan dengan sang istri langsung menerjang Alyssa saat ini juga. Dan terjadilah yang harus terjadi antara sepasang suami istri yang memadu kasih, mencetak gol dan mengukir prasasti.


...


Di ruang tamu, Juna masih bercerita dengan Erick tentang masalahnya. Erick mendengarkannya dengan seksama.


"Jadi seperti itu, lalu apa kamu tahu di mna semua bukti itu di sembunyikan?" tanya Erick

__ADS_1


Pada dasarnya, Erick mengetahui sepenggal cerita dari sang anak. Namun untuk lokasi spesifiknya, Alvin juga tidak mengetahui karena Alyssa belum memberitahu nya.


"Untuk lokasinya, yang tahu hanya Alyssa dan Tama" ucap Juna


"Tama? Manusia buatan itu?" tanya Erick menunjuk Tama yang berdiri tenang dan gagah tanpa bergerak sedikit pun.


"Tuan sudah mengetahui tentang Tama? Ya, karena Tama yang menyelidiki di mana semua bukti mengarah, setelah mendapat petunjuk dari Aras dan juga perintah langsung dari Alyssa. Al yang menebaknya dengan sangat tepat dan akurat" ucap Juna


"Aras?" ucap Erick bingung, siapa lagi itu Aras, pikirnya.


"Aras adalah nama dari jam tangan pintar buatan Alyssa" ucap Juna menjelaskan


Erick menghela nafasnya, menantunya itu sungguh istimewa dan unik. Dia memiliki bakat yang tidak orang lain miliki, tentu saja Ia sebagai mertuanya sangat lah bangga.


Tak lama, Erick mendapatkan kabar jika Petinggi Kepolisian tingkat provinsi dan kota sudah berada di markas besar militer kota S.


Tentu saja Erick harus menemui petinggi itu, karena harus membicarakan tentang pengerebekan atau inspeksi mendadak ke salah satu kediaman petinggi kepolisan di kota S, malam ini.


Namun ia menoleh ke arah Alvin beranjak tadi, Erick adalah pria dewasa yang sudah berpengalaman. Ia tahu jika putranya itu pasti sedang berada di area perang kenikmatan dengan istrinya.


jadi ia memutuskan untuk berangkat ke markas besar sendiri, dan menitipkan pesan untuk anak dan menantunya itu melalui Juna. Agar keduanya bisa menyusul ke markas besar jika kegiatan mereka sudah selesai.


...


Ia menatap suami yang saat ini tengah tersenyum cerah sambil memandangi wajahnya yang sesekali mendaratkan ciuman sayang di kening, pipi atau bibirnya.


Alyssa heran mengapa stamina Alvin tidak ada habisnya, bahkan ia seperti kuda liar yang staminanya selalu terjaga dan tidak kelelahan sama sekali setelah beronde-ronde bergerak dengan buasnya.


"Mau kemana sayang?" tanya Alvin, saat melihat istrinya beranjak dari tempat tidur.


"Mandi, ini sangat lengket. Kita harus segera keluar, bukankah kamu bilang papah Erick datang bersamamu?" ucap Alyssa


"Kalau begitu ayok mandi bareng!" ucap Alvin. semangat.


"No, yang ada makin lama. Aku tahu otak mesum kamu Alvin" ucap Alyssa


"Aku janji kita hanya sekedar mandi, tidak melakukan hal lainnya" ucap Alvin memohon.


Akhirnya Alyssa menyerah dan mengizinkan suaminya mandi bersama agar cepat keluar menemui Erick. Namun janji hanya janji, bukannya cepat selesai.


Justru dengan kenakalan dan akal-akalan Alvin, mereka menghabiskan waktu lebih dari satu jam lamanya. Karena selain mandi mereka juga berolahraga di bawah air dengan berbagai macam gaya dan suara aneh bergema di penjuru kamar mandi.


...

__ADS_1


"Sayang, sudah dong marah nya. Maafkan aku soal tadi, aku tidak tahan melihat tubuhmu yang sangat se*si dan menggoda itu. Terkesan melambai menginginkan aku untuk datang dan berpetualang di dalamnya dan menikmati surga dunia" ucap Alvin


Alyssa memutar matanya, dan menghela nafasnya, kemudian ia memukul ringan mulut suaminya itu. Bukan karena apa, tapi saat ini Juna yang ada di antara mereka mendengarkan hal-hal ambigu yang menjurus ke arah yang penuh sensor maut.


"Kakak ke kamar dulu Al, jangan lupa yang kakak bilang tadi, kalian berdua di tunggu di markas besar militer oleh tuan besar" ucap Juna yang langsung meninggalkan pasangan pengantin baru itu.


Juna jelas tidak ingin telinga dan pikirannya ternodai dengan hal-hal berbau sensor. Namun tetap saja Juna mengingat dan jadi bersemangat untuk bersama Diana.


"Sepertinya setelah masalah ini selesai, aku harus segera meminta ayah untuk melamar Diana untukku. Aku akan memintanya segera menikahkan aku dengannya" gumam Juna dalam hati.


...


Di dalam markas besar, Alyssa dan Alvin sudah berada di ruangan yang di dalamnya adalah anggota kepolisan dan kemiliteran tingkat tinggi di sana.


Mereka menatap Alyssa dengan heran dan bertanya-tanya, karena ada wanita muda yang berada di antara mereka. Terlebih ia duduk di sisi Alvin dan Erick, ya itu adalah Alyssa.


Erick menjelaskan jika Alyssa adalah menantunya, dan dia yang mengetahui letak lokasi penggrebekan dan juga tempat di mana bukti itu berada, maka dari itu ia berada di sini.


Alyssa tidak mempedulikan tatapan mereka yang merendahkan dirinya sebagai wanita dan beban saat penggrebekan berlangsung.


Tentu bukan orang-orang dari Erick maupun Alvin yang memandangnya remeh. Karena mereka sudah melihat sendiri bagaimana sadis dan beringasnya menantu keluarga Ardhana tersebut.


"Pah, aku pikir Tama harus pergi bersama kita. Biarkan dia yang menjadi petunjuk jalan ke sana, dia tahu setiap sudut rumah itu dengan jelas" ucap Alyssa


"Tentu saja" ucap Erick


Alyssa dengan seringainya kemudian memanggil Tama, Alvin yang tahu pikiran istrinya hanya menggelengkan kepalanya. Ia tahu istrinya itu malas mendengar ocehan orang-orang tentang dirinya dan ingin mengerjai mereka.


Erick yang mengetahui hal itu juga mencoba mempersiapkan diri untuk tidak terkejut, seperti yang di bicarakan anaknya tentang Tama.


"Tama, Keluarlah" ucap Alyssa membuat semua orang bingung dan juga mencela diam-diam.


Wuushh!!!


"Saya nona" ucap Tama, yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah orang dan di menundukan kepala di depan Alyssa, seperti hormat.


Semua orang terkejut, Erick yang sudah mempersiapkan diri juga masih terkejut. Terlebih anggota lain yang menyaksikan nya, bahkan ada beberapa yang sampai jatuh pingsan karenanya.


"Ha-Hantu....!!!" teriak yang lain yang terkejut.


"Payah" gumam Alyssa ringan saat melihat beberapa petinggi ada yang jatuh pingsan, dalam hati ia tertawa terbahak-bahak.


...••••...

__ADS_1


__ADS_2