
Matahari sudah bertengger di atas kepala, sudah waktu nya jam makan siang. Karyawan A.S.A Group sudah mulai membubarkan diri untuk mengisi perut mereka.
Dan saat ini seorang wanita masuk ke dalam gedung perkantoran terbesar di negaranya itu. Ia membawa Rantang makanan, yang sudah ia susun setelah makanan itu ia beli dari luar.
Wanita itu tak lain adalah Larasati.
"Permisi mbak, mau tanya. Kalau ruangan Alvin ada di lantai berapa ya?" tanya Larasati dengan nada yang ramah.
Resepsionis itu mengerutkan keningnya sekilas, banyak wanita yang datang ingin menghampiri bos besarnya itu. Jadi dia curiga wanita di depannya itu adalah salah satu pemuja orang terkaya di negara ini.
Dia juga kesal karena wanita di depannya, begitu gamblang menyebut nama bosnya tidak memakai embel-embel Tuan atau Pak.
"Maaf sebelumnya, apa nona sudah membuat janji?" tanya Resepsionis dengan sopan.
Meskipun ia curiga dan kesal, namun ia tetap menjalankan etiket profesional kerjanya.
"Belum, karena saya lupa mengabarinya" ucap Larasati singkat
"Kalau begitu, saya tanyakan dulu pada sekretaris beliau. Maaf nama anda siapa nona?" tanya Resepsionis
"Larasati" ucap Larasati penuh percaya diri
Resepsionis itu pun langsung menelepon ke sekretaris Nino, dan Nino mengkonfirmasinya ke Doni. Setelahnya Doni mengizinkan untuk Larasati naik, resepsionis pun mengarahkan Larasati.
"Nona Larasati, anda bisa langsung ke ruangan Pak Alvin, di lantai 10, menggunakan lift sebelah kiri" ucap Resepsionis menunjuk lift umum.
"Terimakasih" ucap Larasati kemudian beranjak menuju lift.
Dirinya merasa senang, karena Alvin masih mau menemuinya, itu berarti Alvin masih ingat dan masih ada rasa peduli terhadap dirinya.
...
Di sisi lain, Doni menyampaikan kedatangan Larasati pada Alvin. Meskipun Alvin tidak menginginkan bertatap muka dengan Larasati, namun ia tidak ada pilihan lain selain menjalankan rencananya dengan Alyssa.
Doni bagaimana pun sudah di beri tahu rencana Alvin dan Alyssa. Jadi dirinya hanya menjadi penonton yang baik dan menjalankan peran yang di perlukan nantinya.
Namun nino tidak mengetahui apapun, dirinya juga bingung, siapa itu Larasati? Namun dirinya tidak memikirkannya lebih jauh, yang jelas dirinya saat ini hanya perlu bekerja dengan baik dan profesional.
TING!
__ADS_1
Pintu lift terbuka, sosok Larasati muncul. Nino terlihat sedikit takjub melihatnya. Di lihat dari sudut manapun, tidak di pungkiri jika Larasati adalah wanita cantik dan sexy.
Meskipun penampilannya masih kalah jauh dengan Alyssa ataupun Enzy dan Ameera dari segi penampilan.
Tapi sosoknya, masih di bilang kecantikan di atas rata-rata. Karena itu, Ibra sampai bertekuk lutut mencintainya, hanya karena paras dan juga servis nikmat di atas ranjang.
Larasati juga memiliki mulut yang sangat manis, hingga ia dengan mudah memperdayai orang-orang di sekitarnya, dengan kata-katanya.
"Kak Doni" sapa Larasati dengan semangat melihat Doni.
Dia tahu jika Alvin dan Doni bersahabat, jadi ia memperlakukan Doni dengan sopan dan ramah, untuk mengambil simpatinya.
"Laras? Hei kemana saja kamu 5 tahun terakhir, tidak ada kabar beritanya. Bagaimana kabarmu?" ucap Doni terkejut dan raut wajah senang, ia begitu mendalami perannya.
Nino bagaimana pun hanya menyimak saja.
"Kabarku baik-baik saja Kak, aku di kota Y. Aku baru sampai di Ibukota kemarin" ucap Larasati tersenyum
"Oh seperti itu, syukurlah kalau kau baik-baik saja" ucap Doni tersenyum
"*Cih, sampai di ibukota kemarin katanya, dasar pembohong ulung. Dasar bermuka dua! Jijik aku melihatnya, kalau bukan karena rencana Alyssa, Udah aku pitek nih anak la*ur satu" umpat Doni dalam hati*.
"Ada, masuk saja ke dalam. Alvin pasti senang melihat mu. Kau tahu tidak, jika 5 tahun ini, Alvin terus menyuruh orang untuk mencarimu, namun tetap saja hasilnya nihil" ucap Doni
"Benarkah?" seru Larasati, ia senang jika Alvin ternyata masih peduli padanya.
"Tentu, masuklah! Aku tahu kau pasti merindukan kakakmu yang satu itu kan" ucap Doni terkekeh
"He-he, kau tahu saja Kak" ucap Larasati ikut terkekeh, kemudian ia melangkah menuju ke ruangan Alvin.
"Selamat menahan emosi beo, semoga aktingmu lancar" Gumam Doni dalam hati
...
Ceklek
Pintu ruangan di bukanya, ia melihat Alvin yang masih fokus dengan berkas di depannya.
Larasati terpesona melihat wajah tampan rupawan milik Alvin, yang terpahat bagai dewa yunani itu. Yang sedang fokus pada kerjaannya dan aura memikat di sekitarnya.
__ADS_1
"Ekhm..." Larasati berdehem
Membuat Alvin mendongak melihat siapa yang ada di depannya, wajahnya yang terkejut terkesan sangat alami.
Kayaknya bang Alvin cocok jadi aktor deh 😂
"La... Laras" ucap Alvin masih dengan mode terkejutnya.
"Kak Alvin, Laras kangen" ucap Larasati berjalan cepat mendekat dan ingin memeluk Alvin.
Namun Alvin beranjak berdiri dari duduknya dan mundur, membuat Larasati gagal melakukan adegan mesra saling berpelukan itu.
"Kenapa kakak menghindar? Kakak nggak kangen sama Laras?" ucap Larasati dengan wajah kecewa, sedih, sekaligus menahan geram.
"Bu.. Bukan begitu. Kakak sangat terkejut melihat kamu. Kamu kemana saja? Bersembunyi di mana kamu? Apa kamu baik-baik saja? Apa kau makan dengan baik dan tidur di tempat yang layak? Bagaimana dengan sekolahmu?" ucap Alvin dengan rentetan pertanyaan dan berjalan mendekat ke arah Laras.
Mendengar Alvin masih peduli padanya, senyum Larasati mengembang. Kesempatan untuk menarik kembali Alvin untuk menjadi laki-lakinya, masih terbuka lebar. Pikirnya
"Maaf Kak, Laras kabur begitu saja. Laras ingin menenangkan diri karena sudah di usir dan di hina oleh tante Sandra. Kata-kata tante Sandra sangat menyakitkan apa lagi, sebelum mengusir laras, tante menampar keras aku. Rasanya sakit Kak" ucap Larasati dengan raut wajah sedihnya dan hampir menangis.
Alvin yang mendengar itu mengepalkan tangannya, ia sangat marah saat ini. Bagaimana tidak, Ibunya di fitnah tepat di depan matanya saat ini.
Namun ia sebisa mungkin menahan rasa emosinya di depan Larasati.
Larasati yang melihat Alvin marah, menyunggingkan senyum tipis. Dia pikir jika Alvin marah terhadap mamahnya karena telah menyakiti dirinya.
"Terus kamu tinggal di mana sekarang Ras?" tanya Alvin dengan nada melembut
"Aku tinggal di kontrakan kak" ucap Larasati dengan senyum
"Apa perlu kakak beli rumah untuk kau tinggal? Kakak nggak mau kamu kenapa-kenapa, apa lagi tinggal di tepat sempit seperti itu" ucap Alvin
"Tidak perlu Kak, Laras baik-baik saja kok. Oh iya, Laras tadi masak khusus buat Kak Alvin. Ayo makan Kak, Laras tahu kalau Kakak pasti belum makan, kan?" ucap Larasati sudah berjalan menuju sofa, dan menyiapkan makan untuk Alvin di atas meja.
Alvin duduk dengan tenang, ia kemudian makan makanan yang di siapkan Larasati.
Apa Alvin tidak takut di racuni atau di berikan obat gitu? Tentu tidak, karena Alyssa sudah memberi tahu 10 menit sebelum Larasati datang.
Jika Larasati membeli makanan untuk ia bawa, dan mengaku ia yang masak. Dan makanan itu, di pastikan tidak ada obat atau racun apapun.
__ADS_1
...