
"Mamaaahhh... " Teriak Alvin memanggil Sandra, begitu ia masuk kedalam kediaman tua.
Sandra yang saat ini sedang bersantai di ruang tamu, dan meminum jus semangka dengan anggun. Tiba-tiba tersedak karena terkejut mendengar teriakan merdu putranya itu.
"Uhuukkk... Uhuuukk..." Sandra masih terbatuk karenanya.
"Alvin, jangan teriak-teriak! Ini rumah, bukan hutan!" ucap Sandra menoleh ke arah Alvin sewot.
"Maaf mah, aku kira mamah ada di kamar atau taman belakang" ucap Alvin menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.
Alvin langsung duduk di samping mamahnya, ia menatap ragu ingin menanyakan tentang kejadian beberapa tahun lalu.
Sandra yang melihatnya seperti mau bicara sesuatu tapi tidak jadi, mengerut heran.
"Katakan saja, seperti bukan dirimu saja" ucap Sandra
"Mah, sebenarnya apa yang terjadi saat 5 tahun yang lalu, saat Larasati meninggalkan kediaman tua?" tanya Alvin setelah menarik nafas.
Sandra ini mendengarnya terkejut namun ia terdiam cukup lama, tangannya yang memegang gelas jus, terlihat gemetar.
Kejadian itu sudah lama dan sangat sulit ia lupakan. Namun saat ini, putranya menanyakan tentang kejadian yang membuat darah tingginya naik itu.
"Kenapa kau menanyakannya? Kau masih peduli dengan perempuan Sundal itu, Hah??" teriak Sandra tidak suka.
Alvin tentu saja terkejut melihat teriakan mamahnya, ia tidak menyangka jika mamahnya masih bereaksi sama seperti 5 tahun yang lalu.
"Alvin hanya bertanya mah" ucap Alvin selembut mungkin, berbeda saat 5 tahun lalu. Ia ikut dalam emosi, mendengar Sandra berteriak padanya dan mengusir Larasati.
"Percuma mamah menjawabnya, karena kamu tidak akan percaya. Malah memarahi mamah, membentak mamah dan keluar dari rumah seperti dulu" ucap Sandra dengan raut wajah sedih.
Ucapan Sandra menampar Alvin seketika. Alvin merasa menyesal, dulu ia memarahi mamahnya, bahkan sebelum mamahnya menjelaskan tentang kejadian sebenarnya.
Dia malah memilih pergi dan tinggal di mansion pribadinya. Karena merasa kecewa dengan sang mamah, yang mengusir Larasati yang merupakan tanggung jawab Alvin saat itu.
Untung saja pertengkaran ibu dan anak itu hanya bertahan 6 bulan saja. Setelahnya, Alvin memperbaiki hubungan dengan sang mamah, namun ia tetap tinggal di mansion dan tidak kembali ke kediaman tua.
Sejak saat itu pula, dirinya tidak lagi membahas masalah Larasati di depan mamahnya. Dan ia menggunakan koneksinya untuk mencari keberadaan Larasati. Dirinya tidak tenang karena sudah terikat janji dengan Ibra saat itu.
__ADS_1
"Maaf mah, Alvin dulu egois dan tidak ingin mendengar penjelasan mamah terlebih dulu" ucap Alvin menyesal
"Sudah lah, itu sudah lama terjadi. Lupakan saja masalah itu" ucap Sandra
"Tapi mah, Alvin ingin tahu yang sebenarnya terjadi. Alyssa mengatakan jika aku harus menanyakan langsung pada mamah, sebelum ia memberikan semua data bukti skema Ibra dan Larasati padaku" ucap Alvin
"Alyssa sudah tahu? Apa dia juga tahu jika Ibra masih hidup?" ucap Sandra
Yang sukses membuat bola mata Alvin nyaris keluar karena terkejut. Jelas-jelas barusan mamahnya mengatakan jika Ibra masih hidup.
"Ba-bagimana mamah tahu?" ucap Alvin.
"Huft, karena menantu kesayangan mamah, meminta mamah menceritakannya padamu. Mamah memang tahu jika Ibra masih hidup, dan dia berada di kota Y" ucap Sandra menghela nafasnya pelan.
Alvin lagi-lagi terkejut, namun dia tetap diam saja dan mendengarkan mamahnya bercerita.
"5 tahun lalu, mamah melewati kamar Larasati dan mendengar Larasati berbicara dengan seseorang di telepon. Dia mengatakan jika masih belum berhasil menjerat kamu, untuk jatuh cinta padanya. Dia juga mengatakan jika dia hanya mencintai orang yang yang ia sebut 'Ibra sayang' di teleponnya" ucap sandra
#Flashback on
"Baiklah, aku akan terus menunggu kabar baikmu. Jangan sampai kamu benar-benar jatuh cinta padanya Laras! Ingat, kamu kekasihku, hanya milikku" ucap Ibra mengingatkan
"Kau tenang saja, aku tidak akan jatuh cinta padanya. Aku hanya mencintaimu, Ibra sayang" ucap Larasati.
Panggilan telepon itu pun berakhir, raut wajah Larasati kini berubah. Ia menjadi terdiam lalu menyunggingkan senyumnya.
"Sayang sekali, aku sudah jatuh dalam pesona Alvin, Ibra sayang. Dan rasa cintaku padanya, lebih besar dari rasa cintaku padamu. Aku akan mengikuti rencanamu untuk menjerat Alvin dan membuatnya menjadi milikku. Tapi, aku tidak akan menjalankan keinginanmu untuk menghancurkan lelaki ku" ucap Larasati
"Setelah aku berhasil membuat Alvin jatuh cinta padaku. Bukan Alvin yang akan mati dan hancur, tapi diri kamu sendiri Ibra Ha-ha" ucap Larasati tertawa
Sandra yang mendengar itu di balik pintu, pelan-pelan beranjak pergi.
Ia Mengurungkan niat untuk memberitahu semua itu pada Alvin. Karena ia tahu Alvin menjaga Larasati sebagai adik perempuannya, karena amanat sahabatnya.
Sandra akhirnya meminta anak buah Erick untuk mencari tahu informasi lengkap, mengenai Larasati.
Setelah 1 minggu lamanya, informasi lengkap berada di tangan Sandra. Ia mengetahui jika Ibra sahabat putranya itu masih hidup, dan wanita bernama Larasati adalah kekasih Ibra, bukan adiknya.
__ADS_1
Malam harinya, Sandra memeregoki Larasati membuat minuman untuk Alvin, yang sudah ia campuri obat perangsang.
Tak memerlukan waktu yang lama, Sandra langsung menyenggol bahu Larasati dengan cukup keras. Hingga gelas berisi kopi yang di campur obat itu jatuh.
Prang!!!
"Ahhh..." teriak Larasati merasakan sakit di kakinya karena terguyur kopi panas dan pecahan gelas.
"Astaga mamah, Larasati" ucap Alvin terkejut dan menghampiri keduanya.
"Mamah nggak apa-apa? Kamu juga nggak apa-apa Ras?" tanya Alvin bergantian
"Kakiku, sakit kak" ucap Larasati merintis, dalam hatinya ia merutuki Sandra yang sudah menggagalkan rencananya.
"Sial, gagal aku tidur bersama dengan Alvin. Dasar nenek peyot, awas kamu!!!" ucap Larasati dalam hati.
Setelah kejadian itu, Larasati beberapa kali membuat ulah untuk Sandra. Sandra sudah tidak nyaman dengan keberadaan Larasati di tengah-tengah keluarganya.
Namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak memiliki bukti yang cukup.
Sampai akhirnya, Larasati memergoki Sandra menguping. Dan hendak membunuh Sandra dengan pisau dapur. Namun Sandra tidak Bodoh, ia tahu niat Larasati, sehingga ia menghindar tepat waktu.
Sebagai istri seorang jendral, sedikitnya ia mempelajari beladiri, meski tidak hebat. Dan hanya tahu teknik standar menyerang dan bertahan.
"Beraninya kamu berniat membunuhku? Keluar kamu dari rumah ini!!" ucap Sandra dengan marah dan mengusir Larasati
"Anda tidak bisa mengusir saya Nyonya, anda tahu jika Alvin tidak akan menyetujuinya dan sangat menyayangiku" ucap Larasati dengan percaya diri.
"Pergi dari sini, pergi jauh dari kehidupan putraku!!! Jangan pernah menampakkan diri di depannya!!! Aku memiliki bukti kejahatan kamu. Silahkan jika kau ingin bertahan di sini. Aku bisa membongkarnya ke pihak berwajib saat ini juga. Akan aku ingatkan, Suamiku adalah seorang dengan pangkat tinggi di kemiliteran kalau kau lupa. Aku bisa dengan mudah menjebloskan kamu ke penjara seumur hidup. Karena berani menyerang seorang istri aparat tinggi negara" ucap Sandra dengan yakin.
Larasati diam mencoba tenang, namun ia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya. Dengan emosi yang tinggi, akhirnya ia keluar dari kediaman lama Ardhana.
Sebelumnya, ia mengirim pesan pada Ibra jika ia gagal dan ketahuan oleh Sandra, dan akan pergi ikut Ibra ke kota Y. Dia juga meminta orang suruhan Ibra untuk merusak CCTV di rumah dan menghilangkan bukti yang di miliki Sandra.
Lalu sebelum ia pergi, ia mengirim pesan pada Alvin, mengatakan jika Sandra membencinya, menghinanya, mengasarinya, dan mengusirnya dari rumah dengan kejam.
#Flashback Off
__ADS_1