Sistem Dewi

Sistem Dewi
tetap nenunggu


__ADS_3

Alyssa, Alvin, Azka dan Diana saat ini sedang berada di dalam pesawat jet pribadi milik Alvin.


Walaupun Alyssa punya pesawat khusus untuk dirinya sendiri, namun ia memilih menggunakan milik calon suaminya itu. Saat Alvin menyarankannya untuk menggunakan pesawat pribadi miliknya itu, Alyssa tidak menolak sama sekali.


"Kak, kenapa kakak diam saja?" tanya Alyssa, karena melihat Azka sedari tadi hanya terdiam tidak bersuara sejak beranjak dari hotel.


"Tidak apa-apa dek" ucap Azka dengan senyum yang sedikit di paksakan


"Tidak mungkin aku mengatakan, jika aku gelisah dan takut emosiku meledak lagi saat melihat bajingan itu. Ahh, kenapa sulit sekali memaafkan perbuatannya di masa lalu. Tapi hatiku juga tidak tenang, bagaimana jika sesuatu yang buruk menimpa orang itu, kenapa memikirkan hal itu, membuat hatiku merasa tidak nyaman" Gumam Azka dalam hati


Alyssa yang mendengar itu, mengambil tangan kakaknya dan mengusapnya lembut.


"Kak, aku tahu jika ini berat untukmu, memang tidak semudah itu memaafkan kesalahan orang yang sudah menyakiti kita dan orang yang kita sayangi. Tapi bolehkah aku bertanya sesuatu?" ucap Alyssa dengan nada lembut


"Tanya apa?" ucap Azka dengan nada pelan dan lembut juga


"Apa sebelum Kak Azka mengetahui penderitaan mamah karena pengkhianatan dan penyiksaan. Orang itu memperlakukan kakak dengan tidak baik? Apa orang itu tidak menyayangimu seperti seorang ayah pada umumnya? Apa dia pernah bersikap keras atau menyakitimu secara fisik? Apa pernah dia mengabaikan kepentinganmu dan tidak peduli terhadap kau yang sebagai anaknya?" tanya Alyssa


Azka tersentak mendengar pertanyaan Adiknya itu. Memang benar jika Raiden, tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Bahkan Raiden sebagai seorang ayah selalu memberikannya perhatian, kasih sayang, mendukung segala keinginannya, juga tidak pernah menyakitinya secara fisik.


"Dia tidak pernah melakukan itu. Dia selalu melakukan tugas seorang ayah dengan baik saat itu" ucap Azka menundukkan kepalanya.


"Itu yang aku maksud Kak. Seburuk apapun dia, dia adalah ayah kita. Tanpa dia, kita tidak akan pernah hadir di dunia ini dan bersatu dengan nama keluarga sekarang. Kesalahannya terbesar adalah pernah melakukan hal Bodoh dengan label pengkhianatan. Namun sekarang dia sudah menyesali itu semua, dan sudah mendapat buah dari kesalahannya di masa lalu. Aku hanya tidak ingin kita menyesal di kemudian hari. Saat orang itu sudah tidak ada di dunia, kita terlambat untuk menyesalinya" ucap Alyssa bijak


"Kakak paham. Terimakasih sudah menyadarkan kakak. Kakak tidak mengira jika adik kakak justru berpikir lebih dewasa dan bijak" ucap Azka tersenyum dan mengelus kepala adiknya dengan sayang.


"Harus dong! He-he, adik kakak yang paling cantik ini, adalah wanita langka dan sangat berharga, tidak ada duanya" ucap Alyssa terkekeh memuji dirinya sendiri


"Cih, mulai sombongnya" ucap Azka yang sudah tidak tegang seperti tadi dan ikut terkekeh gemas.


"Ucapan Alyssa benar Kak, dia adalah wanita langka yang paling berharga. Dan dia hanya milikku seorang" ucap Alvin ikut tertawa bersama.

__ADS_1


"Ish, Kak Azka. Abaikan mereka! Mereka mengumbar kemesraan tidak tahu waktu dan tempat, nggak tahu apa kalau yang lain itu iri karena masih jomblo" ucap Diana


Diana sudah tahu semuanya, setelah Alyssa menceritakan semuanya secara detail tentang pertemuan dengan keluarga kandungnya.


"Kamu aja yang jomblo. Kakak sih sudah punya calon istri dong. Ahh jadi kangen Ayu" ucap Azka membayangkan calon istrinya


"Iiihhh, kalian bertiga jahat, membully seorang jomblo ngenes seperti aku!!" ucap Diana cemberut


Sontak semuanya tertawa karena tingkah Diana, setidaknya mereka bisa merasa sedikit rileks tidak selalu tadi.


...¤...


Di kota B


Ameera memandangi riuh piruk suasana dari lantai 20 di balkon kamar yang ia tempati. Karena besok ia dan yang lainnya akan kembali ke ibukota, termasuk Noah.


Ya, Noah memutuskan untuk memindahkan pusat kantor dari kota A ke ibukota, agar dia bisa terus dekat dengan wanita pujaannya, Ameera.


Ameera sudah tidak memiliki perasaan cinta di hatinya untuk Raiden. Namun ia tidak bisa menampik kenyataan, kalau kedua anaknya adalah putra dan putri Raiden juga.


Bayangan pengkhianatan yang di lakukan Raiden, terus menghantuinya. Meskipun saat ini sudah mulai berkurang karena sudah lama ia tidak mendengar kabar dan nama orang itu.


"Huft, mungkin benar yang di ucapkan Alyssa, jika aku harus belajar mengikhlaskan semuanya. Yang mungkin bisa melegakan hatiku yang penuh kebencian dan dendam ini" ucap Ameera lirih.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamarnya di ketuk.


Ameera bergegas membuka pintu, di liatnya Noah tengah berdiri di sana dengan senyuman Manis yang tak luntur yang ia tunjukkan padanya.


"Noah" ucap Ameera mengerutkan keningnya bingung, kenapa Noah menghampirinya ke sinu.

__ADS_1


"Aku membawakan kamu camilan dan Minuman kesukaanmu. Boleh aku masuk?" ucap Noah dengan sopan


"Hmm, masuklah" ucap Ameera


Noah melangkahkan kakinya masuk ke kamar. Di liatnya tidak ada yang berbeda dari kamar Ameera dengan kamar dirinya. (Ya iyalah bambang, wong kalian nginep di hotel yang sama😑)


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Noah tiba-tiba setelah ia duduk di sofa di sana.


"Maksudmu?" tanya Ameera balik


"Tentang kedua anakmu yang berangkat menemui ayahnya" ucap Noah penasaran


"Itu keinginan mereka, ikatan batin ayah dan anak akan selalu ada sampai nyawa tak lagi di raga" ucap Ameera.


"Apa kau masih mencintainya? Ma-maksudku, pada mantan suamimu" ucap Noah, Sejujurnya hatinya sekarang jedag jedug, takut tidak sesuai keinginannya.


"Tidak, sudah belasan tahun rasa itu sudah hilang. Hanya tersisa luka dan rasa sakit saja yang masih tertinggal" ucap Ameera ringan


"Boleh aku tanya sesuatu?" ucap Noah


"Apa?" tanya Ameera menatap netra indah nan tajam milik Noah


"Bagaimana perasaanmu terhadapku?" ucap Noah dengan nada serius.


"Aku tidak tahu. Maaf Noah, aku tidak ingin memberikan kamu harapan palsu. Aku takut itu akan menyakitimu nantinya" ucap Ameera merasa bersalah


"Tidak apa-apa, aku bisa menunggumu" ucap Noah tersenyum lembut.


"Apa kau tidak marah? Kenapa kau tidak mencari wanita lain, yang seusiamu misalkan?" ucap Ameera entah mengapa perasaannya tidak nyaman saat mengatakan itu.


"Aku juga inginnya seperti itu, saat kamu menolakku beberapa kali. Namun entah mengapa hatiku mengatakan tidak untuk wanita lain. Aku juga tidak mengerti kenapa, tapi aku merasa nyaman di dekatmu. Aku ingin terus berada di sampingmu dan melindungimu. Aku tadi nya akan menyerah, jika kau mengatakan masih mencintai mantan suamimu, aku akan melakukan apapun asal kamu bahagia, meski itu bukan denganku. Tapi karena kau mengatakan sudah tidak ada cinta untuknya, aku akan terus berjuang sampai kau membuka hatimu dan menerimaku" ucap Noah

__ADS_1


Ameera hanya terdiam, ia mencerna setiap ucapan Noah padanya. Sebenarnya dia sudah mulai nyaman dan bergantung pada laki-laki muda nan tampan di depannya itu. Namun ia tidak tahu, apa itu karena dia sudah membuka hati padanya, atau karena alasan lain.


__ADS_2