Sistem Dewi

Sistem Dewi
Calon suami?


__ADS_3

Hari ini, Alyssa, Alvin dan Azka kembali ke ibukota, sedangkan Diana kembali ke kota B untuk melanjutkan kuliahnya di sana.


Meskipun sedikit tidak rela di tinggal putra dan putrinya. Raiden tetap mengizinkan mereka kembali ke ibukota.


Alyssa menawari Raiden untuk tinggal di penthouse miliknya. Bagaimanapun penthouse itu sangat jarang ia tempati, karena dirinya sekarang stay di ibukota.


Namun Raiden menolak dengan tegas, ia lebih memilih untuk tinggal di kediaman orang tuanya. Ia juga belum tahu kondisi ayahnya di kediaman lama setelah lebih dari 2 bulan ia tinggal, tak ada kabar.


"Hati-hati, kabari papah jika kalian sudah sampai di sana. Jika punya waktu luang, kunjungi papah di sini, Papah pasti akan sangat merindukan kalian" ucap Raiden berlinang air mata, melepas kedua anaknya pergi ke Ibukota.


"Aku akan mengabarimu saat sudah sampai di sana. Oh iya, ini... Pergunakanlah ini dengan baik dan bijak, sandinya tanggal lahirku. Kau mengingatnya bukan?" ucap Alyssa seraya tersenyum kecil


"Ah, apa ini? Tidak usah sayang, lebih baik kamu simpan untuk diri kamu sendiri. Papah akan berusaha untuk diri papah sendiri nanti" ucap Raiden menolaknya.


"Aku tidak menerima penolakan, aku juga minta maaf sudah membuat kau kehilangan segalanya dengan mengambil rumah, perusahaan dan memblokir tabunganmu dulu" ucap Alyssa merasa sedikit bersalah, bukan karena mengambil hal itu dari Raiden. Tapi karena saat ini masih belum bisa memanggilnya dengan sebutan papah.


"Ah, kamu tidak salah. Ini memang pantas papah dapatkan setelah kesalahan besar yang papah dan keluarga besar papah lakukan terhadap kalian. Semua yang kalian ambil adalah hak milik kalian, bukan punya papah. Jadi wajar jika kalian mengambil milik kalian sendiri" ucap Raiden tersenyum


"Sudah, om terima saja. Ica pasti punya pertimbangannya sendiri. Bagaimanapun, ia memberikan itu pada ayah kandungnya, bukan? Tidak ada yang salah seorang anak memberikan sesuatu pada orang tuanya" ucap Alvin yang membuat Raiden menangis terharu


"Baik, papah akan terima. Papah akan pergunakan ini dengan baik, lalu mengembalikannya pada kalian suatu hari nanti. Terimakasih" ucap Raiden tulus


Setelahnya mereka berempat berangkat menuju kota mereka masing-masing. Meninggalkan Raiden dalam keheningan, dan juga kerinduan pada kedua anaknya.


...¤...


"Jadi Alvin sudah kembali ke ibukota hari ini?" tanya seorang wanita duduk di sofa di sebuah Villa.


"Iya nona" ucap laki-laki yang ada di depan wanita itu.

__ADS_1


"Oh, Alvin, aku sangat merindukanmu, sudah cukup lama aku tidak melihatmu sayang, meskipun itu hanya dari jauh" ucap wanita itu


"Di ketahui mereka kembali karena asisten pribadi wanita itu, akan menikah dalam beberapa hari lagi" ucap laki-laki itu.


"Oh bagus, pucuk di cinta ulam pun tiba. Kamu tahu apa yang harus kau lakukan bukan?" ucap wanita itu.


"Ya nona, aku akan segera membunuh wanita yang ada di samping calon suamimu" ucap laki-laki itu.


"Calon suami? Ha-ha-ha... Ucapanmu tidak buruk. Kau benar Austin, dia calon suamiku. Karena dia tidak mau menjadi temanku, maka aku akan menjadikannya suamiku. Ahh aku tidak sabar untuk menikmati masa berdua denganmu dan memiliki banyak anak tampan sepertimu, Alvin. Dan juga putri cantik seperti aku tentunya" ucap wanita itu yang tidak lain tidak bukan adalah Arumi, wanita gila yang terobesi ingin memiliki anak dan memiliki Alvin.


"Tapi sebelum itu, nona tidak lupa janji nona bukan?" ucap Austin


"Tentu saja tidak, aku akan memuaskan kamu malam ini, sebagai uang mukanya" ucap Arumi yang di sambut lu**tan di bibirnya oleh bibir Austin.


...¤...


Kota B


Dia baru saja turun dari taxi bandara yang ia naiki, Diana melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion mewah milik neneknya itu.


Meskipun mansion itu sudah tua, namun tidak terlihat menyeramkan dan sangat terawat. Malah terlihat mewah dan klasik, karena Nenek Diana adalah salah satu dari 3 keluarga besar di Kota B, setelah Keluarga Hartanto (orang tua Bryan) dan Keluarga Atmadja (orang tua Kenan).


"Diana, kamu sudah pulang?" ucap Nenek Diana bernama Pitaloka


"Iya Nek, Diana baru sampai" ucap Diana tersenyum, namun senyum itu memudar saat ia melihat orang yang paling dia benci saat ini, sedang duduk memandangnya seraya tersenyum manis.


Reno, mantan pacar Diana itu sengaja datang berkunjung ke kediaman Pitaloka. Karena ia ingin meluruskan masalah dan meminta maaf pada Diana, wanita yang paling ia cintai.


"Untuk apa kau kemari?" tanya Diana dengan nada ketus yang kentara

__ADS_1


"Diana, tidak sopan! Dia itu pacar kamu, bukan? Kenapa kamu berbicara seperti itu?" ucap Pitaloka heran


"Dia bukan pacar Diana Nek, dia hanya MANTAN" ucap Diana tetap dengan nada sinis dan menekan kata mantan.


"Sayang, kalian ada masalah apa? Bukannya kalian baru saja pacaran, ko sudah putus? Kalau ada masalah itu di bicarakan baik-baik, dan cari jalan keluarnya" ucap Pitaloka menasehati


"Tidak perlu di bicarakan baik-baik Nek, aku sangat membencinya dan tidak ingin melihat wajahnya lagi di depanku. Dan kamu, keluar kamu dari sini!!! Kehadiranmu tidak di inginkan di rumah ini!!!" ucap Diana mengusir Reno


"Diana, jaga mulutmu! Mana sopan santunmu? Bagaimanapun Reno adalah tamu di sini, tidak pantas kamu mengusirnya begitu saja" ucap Pitaloka, dia sangat bingung kenapa Cucunya yang sangat lembut, berkata tidak sopan pada tamu.


"Diana, aku minta maaf padamu. Tapi itu hanya salah paham, sayang. Kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik, ya. Aku akan menjelaskan semuanya" ucap Reno memohon


"Cih!! Dasar penjilat!! Nenek, jika dia tidak pergi, biar Diana saja yang pergi!!" ucap Diana kesal


"Di, kamu jangan bertingkah seperti anak kecil" ucap Pitaloka


"Nenek belain dia? Apa nenek tahu apa yang dia lakukan di belakang kita? Asal nenek tahu, dia itu bajingan!! Bilang padaku mau ke rumah sakit anterin ibunya, tapi nyatanya aku malah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Dia jalan dengan wanita lain di Mall, bergandengan tangan, bahkan berciuman dengan mesra di area publik" ucap Diana membuat Pitaloka kaget dan menatap tajam ke arah Reno.


"Bu-bukan seperti i-itu Nek... " ucap Reno namun terpotong karena ucapan Diana lagi.


"Bukan hanya itu, apa nenek tahu cucumu ini hampir saja kehilangan nyawa karena dia, beberapa hari yang lalu?" ucap Diana dengan nada sedikit meninggi


"Apa yang terjadi padamu Di?" tanya Pitaloka merasa cemas, meskipun saat ini cucunya berada di depannya dalam kondisi baik-baik saja.


"Dia!!" tunjuk Diana ke arah Reno.


"Bajingan ini mendorongku dan aku hampir terjatuh dari lantai tiga Mall. Tahukah nenek saat itu aku pikir, aku akan mati saat itu juga. Kalau saja, kalau saja hiks..." ucap Diana menangis.


BRAKK!!!

__ADS_1


Pitaloka menggertak meja di depannya, wajahnya merah padam karena marah. Ia menatap tajam ke arah Reno.


__ADS_2