Sistem Dewi

Sistem Dewi
Permintaan lain


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Pintu kembali di ketuk, namun Arumi masih enggan beranjak dari tempatnya.


Austin meminta kunci cadangan pada anak buahnya yang berjaga, tak lama mereka membawa kunci cadangan kamar yang di tempati Arumi saat ini.


Austin masuk dan tidak lupa ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Di liatnya Arumi yang sedang meringkuk di kasur.


Seraya tersenyum penuh makna Austin berjalan mendekati Arumi. Tidak ada rasa takut pada sosok ketua Dark Moon itu.


Karena Austin sangat menyadari, jika Arumi tidak sehebat ketua yang dulu. Sayangnya ketua yang dulu terperdaya oleh Arumi. Hingga tanpa dia sadari, dia menyerahkan kekuasaannya, lalu di bunuh oleh Arumi saat ia lengah.


"Nona" panggil Austin pura-pura selembut mungkin


Arumi mendongak melihat siapa yang memanggilnya.


"Au-Austin...Austin, tolong lindungi aku! Aku tidak ingin mati Austin" ucap Arumi lirih dan ketakutan


"Nona tenang saja, ada aku di sampingmu, aku tidak akan memberikan kesempatan untuk pembunuh itu, menyentuh seujung rambut anda" ucap Austin duduk di samping Arumi.


"Benarkah?" ucap Arumi menatap Austin penuh harapan.


"Tentu saja, Lagian pembunuh itu hanya datang untuk membunuh Hendrawan, bukan untuk membunuh anda. Lihat pembunuh itu tidak datang lagi kan? Kalau memang dia ingin membunuh anda, itu bisa dia lakukan sedari tadi, bukan?" ucap Austin


"Kau benar, Aku bodoh tidak memikirkannya sampai sana. Terimakasih Austin kau selalu di sampingku dan membuat ku sadar, jika ketakutan dalam diriku hanyalah sugesti semata" ucap Arumi menghela nafas lega.


"Hanya berterimakasih saja?" ucap Austin


Arumi paham yang di maksud Austin, namun ia menolaknya. Karena bayangan kepala Hendrawan di penggal saat ia berci*ta, terlintas dalam benaknya, dan rasa takut itu masih ada.


"Ti-tidak sekarang Austin. Ak-aku..." ucap Arumi hendak menolak


"Nona jangan berpikir yang tidak-tidak. Percaya padaku... Aku akan membuat bayang-bayang yang mengerikan itu menghilang, di gantikan oleh kenikmatan tiada tara, yang akan aku berikanmu" ucap Austin


Ia mengabaikan rasa takut Arumi, ia langsung menyerang Arumi dengan ciuman bertubi-tubi. Ia menyentuh titik-titik sensitif tubuh Arumi.


Mereka melakukan hubungan itu lagi dan lagi, meskipun awalnya Arumi sedikit menolak dan bayang-bayang itu muncul.


Namun berjalannya waktu, sentuhan dari Austin membuatnya nyaman dan melupakan kejadian buruk yang baru saja menimpanya. Bahkan kini dirinya sedang mende**ah penuh kenikmatan di bawah seorang Austin.


...


Alyssa, Alvin, Raiden, Azka dan Doni, saat ini berada di restoran Giant Hotel untuk makan malam.


Mereka berlima mengobrol dengan hangat, Azka pun memberitahu jika dirinya akan segera menikah dengan sang kekasih, dua bulan lagi. Dan dia berharap Raiden memberikan restu dan datang saat hari bahagianya.

__ADS_1


Raiden turut bahagia saat mendengar berita bahagia putranya. Namun ia juga ragu jika harus datang, karena kemungkinan Ameera tidak akan senang saat mereka bertemu di sana.


"Tidak usah khawatir, mamah tidak keberatan anda datang" ucap Alyssa


Entah mengapa sangat sulit memanggil laki-laki di depannya itu dengan sebutan Papah. Meskipun begitu, hatinya sudah tidak memiliki dendam ataupun kebencian padanya.


Raiden senang saat mendengar ucapan Alyssa dan dia berjanji akan datang saat pernikahan Azka nanti.


...


Di dalam perjalanan menuju ke mansion, Alyssa dan Azka berbeda mobil, karena Alyssa akan pulang ikut dengan Alvin.


Alyssa menyandarkan kepalanya di dada bidang Alvin. Alvin tentu saja tidak merasa keberatan, malah dia mengeratkan pelukannya di pinggang wanitanya itu. Ia membelai lembut rambut Alyssa dan sesekali mengecupnya penuh perasaan.


Sedangkan Doni? Dia tidak berani menoleh atau melirik spion. Bahkan ia sekuat tenaga menulikan pendengarannya. Takut jiwa jomblonya meronta dan ngambek karena tidak mendapat belaian. Kasihan 😂


"Ngantuk Hmm?" tanya Alvin sambil mengecup kepala Alyssa yang wanginya ia sukai itu.


"Hmm, aku tidur sebentar ya, tidak apa-apa kan?" ucap Alyssa


"Tidurlah, aku akan bangunkan mu jika sudah sampai mansion" ucap Alvin


Tak lama Alyssa pun memejamkan matanya, tertidur pulas di dekapan hangat dada bidang Alvin.


Akhirnya Alvin menggendong tubuh Alyssa dan membawanya masuk. Ameera yang melihatnya, membiarkan Alvin menggendong Alyssa dan membawanya ke kamar milik Alyssa di lantai dua.


Alvin dengan pelan membaringkan Alyssa di ranjang, namun tetap saja Alyssa terusik dan terbangun.


"Hmm, Alvin, kok aku sudah ada di kamar? Kenapa kamu tidak membangunkanku" ucap Alyssa dengan suara seksi khas bangun tidur.


Cup!


Alvin mengecup bibir Alyssa yang terus menggodanya sejak tadi.


"Aku tidak tega membangunkanmu, jadi aku menggendongmu ke kamar. Maaf sudah membuat mu terusik hingga bangun" ucap Alvin lembut


"Justru aku yang minta maaf sudah merepotkan kamu" ucap Alyssa


"No, sayang. Jangan berkata seperti itu, aku tidak keberatan sama sekali melakukannya" ucap Alvin tulus


"Alvin" panggil Alyssa


"hm, kenapa?" ucap Alvin


"Aku boleh minta tolong?" ucap Alyssa

__ADS_1


Alvin mengangkat sebelah alisnya. Dia mengingat saat Alyssa meminta tolong padanya untuk membantunya mendapatkan Kapal pesiar, dalam jangka waktu kurang dari 48 jam.


Alyssa paham melihat ekspresi Alvin hanya terkekeh. Kemudian ia melanjutkan ucapannya.


"Tenang saja, aku tidak akan minta yang sulit dan macam-macam, kau tidak perlu khawatir" ucap Alyssa


"Ah, bukan seperti itu Ica..." ucap Alvin menggaruk tengkuk lehernya tidak enak.


"Aku hanya ingin minta tolong, carikan aku bahan obat" ucap Alyssa lagi


"Bahan obat? Kau ingin membuat obat apa?" tanya Alvin


"Jenis obat baru" ucap Alyssa


"Apa bahannya sulit untuk di cari?" tanya Alvin


"Tidak, bahan itu sangat mudah di dapatkan. Aku bisa saja menyuruh bawahanku, tapi aku tidak ingin melakukannya. Aku lebih nyaman jika aku minta bantuanmu untuk mencarinya" ucap Alyssa


Alvin terharu, karena secara tidak langsung Alyssa menaruh kepercayaan yang tinggi padanya.


"Baiklah, aku akan mencarinya untukmu" ucap Alvin tersenyum


Alyssa kemudian beranjak dari tempat tidur dan mengambil kertas dan bolpoin di laci meja kecil di sudut kamar.


Ia kemudian menulis bahan apa saja yang harus di beli oleh Alvin. Dan memberikan kertas itu padanya.


"Kapan kamu ingin membuat obat dengan bahan ini?" tanya Alvin


"Secepatnya. Dan kau akan tahu kegunaan obat ini nantinya" ucap Alyssa


"Baiklah, aku akan mengusahakan secepat yang aku bisa. Sekarang pulang dulu ya, kamu istirahat jangan terlalu banyak pikiran dan jangan sampai sakit" ucap Alvin


"Ya, kamu juga hati-hati pulangnya, hemmpphh..." ucap Alyssa terpotong karena Alvin mencium dan melu*at bibir Alyssa.


Cup!


Setelah ciuman terlepas, Alvin mengecup kening Alyssa lembut dan dalam.


"Good Night sayang, aku pulang" ucap Alvin tersenyum manis.


Setelah Alvin pulang, Alyssa merebahkan badannya ke kasur empuk miliknya. Matanya menerawang ke langit-langit kamar.


"Arumi, lihat saja nanti, hadiah apa yang akan aku berikan padamu. Tapi sebelum itu, mari kita bersenang-senang, akan aku buat kau merasakan apa arti rasa sakit, dan apa itu penyiksaan yang sesungguhnya" ucap Alyssa menyeringai.


...

__ADS_1


__ADS_2