
Semua orang di sana syok, bahkan kini Alvin terduduk lemas dan menangis.
BRUK!!!
"Iraaa!!!" teriak Noah saat melihat Ameera pingsan. Noah merebahkan Ameera di sofa, dan mencoba membangunkannya.
Azka saat ini merasakan tulang-tulangnya melunak, ia lemas hingga tak sanggup berdiri. Ayu yang berada di sampingnya, dengan sigap menangkap tubuh kekasihnya yang lemas tak berdaya.
Sejujurnya Ayu sama syok nya, bagaimana pun ia juga juga perempuan. Dia juga merasakan sakit di hatinya, saat Alyssa di nyatakan tidak bisa mempunyai keturunan.
Semuanya larut dalam pikiran mereka masing-masing. Kabar yang di terima hari ini begitu menyesakan di hati semua orang.
"Hiks, Hiks, Ica, maafkan aku sayang... Ini semua gara-gara aku" ucap Alvin menangis.
"Alvin, kamu yang sabar nak. Sekarang yang terpenting Alyssa sadar dulu, jadilah penguat yang selalu di sisinya" ucap Erick menepuk bahu putranya, agar sedikit tenang.
...
Sandra saat ini sedang menemani Aletta yang baru saja melahirkan buah hatinya. Baby Boy, Bayi yang di lahirkan Aletta sangat sehat dan tampan.
Sandra keluar dari ruang rawat inap Aletta, dan menghampiri Erick yang ada di sana. Saat Erick menceritakan kabar buruk tentang calon menantunya, Sandra pun menangis.
Ia menangis bersandar di bahu sang suami, ia tidak menyangka hal ini terjadi pada calon menantu tersayangnya, Alyssa.
"Di mana sekarang Alvin Pah" tanya Sandra yang khawatir tentang kondisi putranya yang saat ini pasti sangat terpukul.
"Dia masih ada di ruangan Alyssa, dia tidak mau makan apapun sejak semalam. Hati dan fisiknya berantakan saat mendengar vonis dokter. Dia tidak mau beranjak sedikitpun dari sana" ucap Erick.
"Apa Ameera dan yang lain marah, karena kejadian ini menimpa putri kesayangannya?" tanya Sandra lagi
"Tidak, mereka tidak menyalahkan Alvin atau yang lainnya. Hanya saja saat ini Ameera masih syok mendengar kenyataan Alyssa tidak bisa punya anak dan masih dalam keadaan koma" ucap Erick
"Iya Pah, mamah ingin ke sana. Tapi mamah nggak bisa tinggal kan Aletta saat ini" ucap Sandra masih dengan raut wajah sedih.
"Menurut mamah gimana soal kelanjutan hubungan Alvin?" tanya Erick menatap istrinya
"Gimana apanya Pah?" tanya Sandra tidak mengerti
"Maksud papah, apa mamah masih ingin Alyssa menjadi menantu mamah, setelah tahu kondisi Alyssa saat ini yang tidak bisa memberikan mamah cucu" tanya Erick
"..." Sandra menghela nafasnya panjang.
__ADS_1
"Itu terserah Alvin Pah, mamah sebagai orang tua hanya bisa mendukung keputusannya. Hidup tak melulu soal anak, itu bukan kita yang menentukan bisa atau tidaknya. Meskipun mamah sejujurnya menginginkan seorang cucu dari Alvin, tapi mamah tetap mendukung seandainya Alvin memilih tetap bertahan dengan Alyssa. Alyssa adalah gadis yang baik, dan juga dari keluarga baik-baik. Dia juga gadis yang pintar meskipun sekarang ia punya kekurangan. Lagian kita sudah punya cucu tampan dari Letta dan Vier. Asal mereka hidup bahagia, mamah juga bahagia" ucap Sandra.
"Papah bangga punya istri seperti mamah, papah harap setelah ini, Alvin tetap memilih bertahan dengan Alyssa dan menerima apapun keadaannya" ucap Erick yang di angguki Sandra
...¤...
Hari silih berganti, minggu pun cepat berlalu. Sudah satu bulan lamanya, namun Alyssa tetap setia dengan tidur panjangnya.
Alvin semakin tidak terurus, kantung matanya menebal karena kurang tidur. pagi sampai sore ia bekerja, setelah seminggu ia absen bekerja. Setelah pulang dari kantor, ia pergi ke rumah sakit menjaga Alyssa, bahkan sampai begadang seharian tidak tidur.
Penampilan Alvin yang dulu, klimis, rapih. Kini terlihat kusut, bahkan ia tidak mencukur bulu kumis dan jenggot, yang sudah mulai memanjang di wajahnya.
Semua orang sudah menasihati Alvin agar istirahat dan bergantian menjaga. Namun Alvin menolak. Ia kekeh ingin menemani Alyssa sampai Alyssa sadar.
"Sayang, apa mimpimu sangat indah sampai-sampai kau enggan untuk bangun. Sayang, aku merindukanmu. Apa kau tidak merindukanku, ayo buka matamu!" ucap Alvin.
"Sayang, kita akan selalu bersama apapun yang terjadi. Aku tak mau kehilangan kamu" ucap Alvin mengecup jemari tangan Alyssa.
Enzy yang melihatnya merasa kasihan, Alvin yang dulu dingin dan arogan. Kini terlihat kusut tak ada semangat hidup. Karena separuh jiwanya masih tertidur lelap.
"Tuan Alvin" panggil Enzy
"Tuan, anda jangan seperti ini terus. Nona tidak akan suka melihat kondisi anda yang sekarang. Apa anda lupa, nona Alyssa tidak suka dengan orang yang berpenampilan berantakan. Bagaimana jika nanti nona sadar dan melihat anda berpenampilan seperti ini? Apa anda tidak takut Nona akan ilfil pada anda? Atau mungkin nona akan mencari laki-laki lain yang tampan, berpenampilan menarik dan kaya. Lalu meninggalkan anda, yang terlihat kusut bahkan tidak ada gairah hidup" ucap Enzy
Ucapan Enzy membuat Alvin tersentak
"Apa Ica akan mencari laki-laki lain hanya karena penampilanku tidak rapih dan berantakan?" tanya Alvin
"Tentu saja, aku bisa menjamin hal itu mungkin saja terjadi. Jika anda... " ucap Enzy terpotong
"Yaaakk... Aku masih tampan dan menarik, siapa laki-laki yang berani merebut wanitaku? Ah sial" ucap Alvin kesal, lalu ia menelepon Doni
"Doni, bawa pakaian gantimu ke rumah sakit, bawa juga alat cukur, tak pakai lama!!!" ucap Alvin, membuat Enzy terkekeh pelan.
"Tolong jaga Ica!!" ucap Alvin pada Enzy
Setelah Alvin mengucapkan itu, ia kemudian masuk ke kamar mandi di ruangan sebelah untuk membersihkan Diri.
"Nona, apa kau mendengarnya? Tunangan anda sangat khawatir dan merindukan anda. Dia sangat kacau melihat anda tidak kunjung sadarkan diri. Cepatlah bangun, dan kita akan membalaskan dendam pada orang yang berani mencelakai anda" ucap Enzy
Mata Enzy sekilas melihat pergerakan pada jari nonanya, sontak Enzy terkejut dan melihat kembali untuk memastikannya. Dan jari itu kembali bergerak, di susul oleh gerakan mata hendak terbuka.
__ADS_1
"Nona, anda sadar?" ucap Enzy senang. Ia kemudian memencet tombol di samping ranjang berkali-kali.
Alyssa mengerjakan matanya beberapa kali sebelum ia memejamkan matanya sejenak karena menyesuaikan cahaya di dalam ruangan.
Enzy sangat peka, ia kemudian menghalangi cahaya dengan telapak tangannya.
"Nona" ucap Enzy dengan raut wajah bahagia, saat Alyssa membuka matanya kembali. Mulut Alyssa bergerak hendak berbicara namun tidak jadi. Justru terlihat kening Alyssa berkerut setelahnya, sebelum ia diam tidak menjawab ucapan Enzy.
Tiba-tiba Dokter Fadilah dan juga Dokter Nisa datang terburu-buru, mereka takut terjadi sesuatu yang buruk pada bos besar mereka.
"Ada apa nona?" Tanya Dokter Nisa
"Nona sadar" ucap Enzy menangis bahagia
Dokter terkejut, mereka langsung melihat Alyssa yang sudah membuka matanya. Keduanya langsung memeriksa, dan tersenyum.
"Nona, apa kau mendengar kami?" tanya Dokter yang hanya di jawab anggukan kepala
"Apa nona ingat, anda siapa?" tanya Dokter yang juga di jawab hanya anggukan kepala
"Apa bisa anda mengatakan sesuatu?" ucap Dokter, kini Alyssa menggelengkan kepalanya, membuat dokter di sana heran, dan menduga-duga hal buruk lainnya.
Sedangkan di sisi Alyssa kini sedang mengumpat.
"Sistem sialan, kenapa memberikan misi nyeleneh di saat seperti ini? Kan jadinya mereka mikir yang nggak-nggak" umpat Alyssa dalam hati.
...
Kira-kira apa misinya ya?
...
Maaf Author update telat dan juga hanya satu BAB. Author saat ini sedang di rumah sodara yang sedang hajatan 7 hari 7 malam sampai akhir bulan nanti. 😵
Dan di sini rameh banget orang, dan berisik pula. Jadi Author nggak bisa konsentrasi buat nulis.😕
Maaf ya, tapi sebisa mungkin Author tetap update setiap harinya. 😉
Terimakasih🙏
...
__ADS_1