
Hai Guys, Maaf Author kemarin nggak Up 🙏 Karena di sini kondisi cuaca sangat mendukung sekali, untuk edisi rebahan sambil meluk guling 😁
Apalagi di temani musik yang mengalun indah, jadi weh Author lupa nulis. Malah lanjut trip adventure di alam mimpi😂🙊
Terus juga hari ini cuna bisa up 1 BAB, Maafin author ya karena sinyal di sini ngajakin berantem, susah beett...😁🙏
..._____...
Alyssa kini sedang berada di Ruang Keluarga di Penthouse miliknya. Dia di temani Alvin, Azka, Diana dan juga Raiden.
Alvin dan Azka untuk beberapa hari memang meliburkan dirinya sendiri, untuk tidak bekerja. Padahal hari ini semua orang yang datang ke pernikahan Hanin dan Kenan, sudah kembali ke Ibukota dan juga kota M.
Namun keduanya memutuskan, untuk menikmati beberapa hari lagi di kota kelahiran Alyssa dan Azka itu.
"Vin, kamu semalam kemana? pergi nggak bilang-bilang, kakak nyariin tahu. Mana dateng pun tak tahu kapan, tiba-tiba udah nongol di sini lagi aja. Kaya jin iprit" tanya Azka menginterogasi calon iparnya.
"Ah, itu Kak, Aku ketemu mitra bisnis kemarin di luar. Kebetulan dia juga ada di kota S, jadi sekalian bahas soal kerja sama. Mau balik ke sini udah kemaleman, takut ganggu. jadi aku balik ke sini pagi, kaya nya kakak lagi mandi deh. Kak Juna juga udah nggak ada di sini soalnya" ucap Alvin dengan lancar berbohong.
"Oh gitu" ucap Azka mengangguk paham
"Nak, kamu serius banget lihat ponselnya. Ada apa?" ucap Raiden pada Alyssa dengan nada lembut.
"Ah ini, lagi berkirim pesan sama Kak Juna" ucap Alyssa
"Emang dia kirim pesan apaan dek?" tanya Azka penasaran.
"Katanya ia nemu sesuatu di surat kabar terkini barusan, kaya koran harian kota gitu. Dia bilang dia lihat orang yang kita kenal ada di berita itu, dan dalam keadaan sudah meninggal dunia" ucap Alyssa
__ADS_1
"Hah, siapa emang?" tanya mereka bertiga serempak, kecuali Raiden.
"Cinta" ucap Alyssa datar
Mendengar nama itu Raiden yang paling terkejut. Bukan apa-apa, Raiden hanya merasa kasihan pada Cinta. Bagaimana pun ia dulu sangat menyayangi Cinta. Meskipun waktu itu ia pikir Cinta adalah anaknya yang tidak berdosa, hanya saja ia lahir karena kesalahannya dengan Nimar.
Namun setelah tahu kenyataan, Cinta bukan putri kandungnya. Ia tidak lagi memikirkannya lagi, namun setelah mendengar kabar ini. Dia merasa sedih dan sangat menyesal. Karena ia turut andil dalam rusaknya moral Cinta. Karena dulu dia sangat memanjakannya dan tidak mendidiknya dengan baik.
"Dia meninggal? Kenapa bisa? Apa yang terjadi?" tanya Raiden
Alyssa menoleh ke arah Raiden, Raiden yang di tatap Alyssa merasa sangat bersalah, karena sudah menanyakan hal itu pada putrinya. Bisa saja Alyssa dan Azka salah mengartikan ucapannya itu.
"Ya Tuhan, apa aku salah bicara. Aku tidak bermaksud seolah aku peduli pada Cinta, aku hanya merasa kasihan pada gadis itu dan merasa bersalah karena dulu gadis yang aku pikir adalah putriku saat itu. Aku turut andil dengan sifatnya yang buruk itu, karena aku tidak mendidiknya dengan benar, sehingga menjadi anak dengan kelakuan sangat minus Akhlak" Gumam Raiden dalam hati
Alyssa mendengar itu paham, jika Raiden hanya merasa kasihan setelah mendengar kabar itu.
"Aku mengerti. Kau tidak usah khawatir, Kak Juna menyuruh orang untuk memberikan pemakaman yang layak untuknya. Dan untuk kenapanya aku belum tahu pasti, kenapa dia bisa meninggal" ucap Alyssa
"Kenapa kau membantu ja**ng itu, Dek?" tanya Azka
"Nggak ada salahnya kita membantu sesama manusia Kak" ucap Alyssa pelan
"Tapi... " ucap Azka tidak setuju
"Kak, aku tahu apa yang kamu rasakan dan kamu pikurkan. Duo cecunguk itu memang sudah banyak menyakiti kita. Namun anaknya, meskipun ia memiliki sifat yang sangat tidak baik. Namun ia tidak pernah menyakiti kita secara fisik. Aku juga sama sepertimu, aku sangat membencinya. Apalagi saat ia berani dengan terang-terangan menggoda dan menginginkan calon suamiku. Namun ia tidak pernah sekalipun menyakiti kita, kan? Lagian saat itu otaknya masih dangkal. Jadi dia tidak akan mungkin bisa kepikiran cara untuk menyakiti kita" ucap Alyssa terkekeh
"Terserah kamu kalau begitu" ucap Azka masih cemberut. Ia masih merasa kesal Alyssa masih mau membantu musuhnya.
__ADS_1
"Jangan ngambek dong, kalau ngambek lagi aku nggak jadi nih nyiapin acara pernikahan Kakak sama Kak Ayu secara besar-besaran" ucap Alyssa, yang tentu saja membuat Azka langsung terduduk dan antusias menjawab.
"Iya-iya kakak nggak ngambek adikku sayang, yang paling baik hati dan tidak sombong. He-he. Jadi kapan kau dan mamah datang untuk mewakili kakak, melamar Ayu secara resmi? Terus janji ya siapin acara pernikahan besar-besaran untuk kakak, jangan kalah sama pernikahan Alex dan Enzy, minggu depan" ucap Azka sudah merubah cara bicaranya, tidak lagi merajuk malah sekarang cenderung menjilat adiknya, ha-ha.
"Iya Kak Azka, nanti akhir bulan ini Aku sama mamah ke rumah Kak Ayu, lamar dia untuk kakak. Puas sekarang Hmm?" ucap Alyssa kesal campur gemas juga pada kakak tersayangnya itu.
"Woaaahhh, Kak Azka mau lamar cewek. Pacarnya Kak Azka yang pake baju putih di hotel itu bukan Al?" tanya Diana, dia sempat lihat Azka berdiri tak jauh dari Ayu saat di hotel. Sebelum terbang ke kota S.
"Iya yang itu" ucap Alyssa
"Waaahhh, jangan lupa undang Diana ya Kak! Asiiikkk makan besar gratisan, sekalian cuci mata lihat cowok bening, muda dan berduit tebal. Ha-ha" ucap Diana, membuat Alyssa menggelengkan kepalanya sambil terkekeh karena kelakuan sahabatnya itu.
"Kita kapan nikahnya, sayang?" tanya Alvin dengan senyum menawannya
"Nanti, setelah aku lulus S1" ucap Alyssa, membuat Alvin murung kembali dan hanya bisa bersabar.
"Ha-ha-ha, sabar ya Alvin. Sabar nunggu 3-4 tahun lagi" ucap Diana
"Isshh, kata siapa? Ica janji akan percepatan kuliahnya kok, paling lama 2 tahunan lagi dia sudah lulus" ucap Alvin kesel
"Al, apa ada yang belum papah tahu? Maaf papah hanya ingin tahu saja, apa kakak kamu sudah punya pacar?" tanya Raiden penasaran
"Bukan pacar lagi, tapi anak laki-lakimu itu kebelet di nikah sama pacarnya" ucap Alyssa terkekeh
"Idih, sama aja kaya tunangan bucinmu tuh! Dia juga kebelet kawin, eh nikah maksudnya, sama kamu dek" ucap Azka tak mau kalah
Semuanya kemudian saling tertawa, suasana di sana menjadi makin hidup.
__ADS_1
Raiden juga sangat menyukai interaksi mereka saat ini. Meskipun putra dan putrinya belum memanggilnya dengan sebutan Papah. Tapi mereka sudah tidak merasa canggung lagi dalam berbincang. Raiden merasa sangat bahagia sekali, ia harap selamanya kebersamaan seperti ini bisa terjalin.