Sistem Dewi

Sistem Dewi
Ketakutan Arumi


__ADS_3

Cekit!!


Sebuah mobil berhenti tepat di depan Alyssa, Keluar seorang laki-laki tampan yang terlihat panik menghampiri Alyssa.


Yaps, benar itu Alvin.


Grep!!


Begitu berdiri di depan Alyssa, di bawanya Alyssa dalam pelukan hangatnya. Rasa khawatir yang mendera hatinya, menghilang saat melihat kekasih hatinya. Berada dalam keadaan baik-baik saja, meskipun pakaian yang ia kenakan sedikit kotor.


"Syukurlah kamu tidak apa-apa sayang" ucap Lirih Alvin


Ia melepas pelukannya dan menatap manik mata Alyssa, lalu ia menciumi seluruh wajahnya dan mengecup bibir Alyssa berkali-kali.


"Kau tahu betapa khawatir aku hm" ucap Alvin


"Aku tidak apa-apa, seperti yang kamu lihat" ucap Alyssa mencoba untuk tersenyum


Doni yang melihatnya menghela nafasnya lega, saat melihat kondisi Alyssa baik-baik saja. Dia sama khawatirnya mendengar Alyssa kecelakaan, apalagi belum genap satu minggu Alyssa keluar dari rumah sakit.


"Ayo masuk ke dalam mobil dulu" ucap Alvin membawa Alyssa masuk ke dalam mobil.


Doni dengan cepat membukakan pintu untuk keduanya. Baru ia kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi.


Alvin melepas jas yang ia kenakan dan memakaikannya pada Alyssa yang saat ini merebahkan tubuhnya di kedua pahanya.


"Jam berapa saat ini?" tanya Alyssa


"Setengah dua, ada apa hm? " jawab Alvin


Alyssa pikir jika ia masih cukup waktu untuk membantu pakaian sebelum ke airport guna menjemput Raiden. Karena pesawat yang di tumpangi Raiden akan mendarat pukul setengah 5 sore.


"Bisakah kita ke mansionmu terlebih dulu. Aku ingin membersihkan badanku dan juga mengganti baju. Setelah itu kita ke Airport menjemput Raiden" ucap Alyssa


"Baiklah, Doni kita ke mansionku sekarang!" ucap Alvin, dia tahu jika Alyssa akan menjemput ayahnya, karena pagi tadi Alyssa sudah mengatakan padanya.


"Baik tuan" ucap Doni


"Sekarang ceritakan padaku, Apa yang sebenarnya terjadi sayang? Kenapa bisa terjadi kecelakaan? Siapa yang melakukannya?" tanya Alvin seraya mengelus lembut rambut kekasihnya.


"Baiklah jadi begini.... " ucap Alyssa kemudian menceritakan semuanya tanpa di tutup-tutupi.


"Kenapa kamu begitu nekad? Kenapa kamu membahayakan diri kamu sendiri? Ini masalah nyawa, bukan mainan Ica!" ucap Alvin marah.

__ADS_1


"Alvin dengarkan aku, aku tahu ini berbahaya. Tapi hal ini juga tidak bisa di hindari, cepat atau lambat wanita gila itu akan melakukan apa saja demi mewujudkan keinginannya. Yaitu untuk mendapatkan kamu dan menyingkirkanku dari dunia ini" ucap Alyssa


"Maksudmu, ini perbuatan Arumi?" tanya Alvin


"Ya, dia yang menyuruh orang suruhannya yang merupakan wakil ketua 2 di Dark Moon, untuk membunuhku" ucap Alyssa mengangguk


"Kurang ajar!!! Akan ku bunuh dia!!!" ucap Alvin penuh emosi mengepalkan tangannya.


Ia tak suka orang nya di sentuh atau di celakai, apalagi orang itu adalah orang yang paling ia cintai di dunia ini selain ibu nya.


Doni yang melihat kemarahan Alvin bergidik ngeri. Namun ia tetap fokus mengendarai mobilnya.


Alvin mengambil HP nya dan ingin menelepon seseorang, namun di hentikan oleh Alyssa.


"Alvin tenanglah" ucap Alyssa kemudian mengulurkan tangannya menyentuh wajah Alvin.


"Bagaimana aku bisa tenang sayang, dia berani sekali untuk melukaimu, bahkan ingin membunuhmu. Jadi tolong jangan larang aku untuk membunuh nya" ucap Alvin menatap sendu manik mata Alyssa


"Sayang, dengarkan aku. Aku tahu kamu marah karena kamu begitu mencintaiku. Tapi dengarkan aku dulu, biarkan aku yang membalasnya sendiri hm. Ini tidak akan membutuhkan waktu yang lama, aku dan Tama sudah cukup untuk menghancurkan wanita gila itu beserta organisasinya. Aku akan memusnahkan Dark Moon sampai ke akar-akarnya. Tolong percaya padaku kali ini, aku janji aku tidak akan melibatkan diriku dalam bahaya lagi. Aku pastikan aku akan selamat dan akan berdiri di samping kamu" ucap Alyssa


Alvin saat ini mencoba mengontrol emosinya, ia tahu jika Alyssa adalah sosok wanita mandiri yang keras kepala. Semua yang ia inginkan wajib ia dapatkan, dan Alvin akan bisa melarangnya.


"Baiklah, tapi jika aku mendengar kamu mengalami kejadian buruk lainnya, jangan harap aku akan membiarkanmu melakukan hal bahaya di masa depan" ucap Alvin


"Lalu di mana Tama sekarang?" tanya Alvin


"Dia sudah aku suruh untuk memberikan pelajaran, pada orang yang sudah berani membuat terjatuh tadi. Dan tentu saja memberikan hadiah indah untuk wanita gila itu" ucap Alyssa menyeringai


Doni ingin melihat seringai Alyssa bergidik ngeri. Dia juga penasaran siapa Tama yang di bicarakan kedua Bosnya itu.


"Nggak cewek, nggak cowok, sama-sama nyereminnya. Gimana nanti anak-anak mereka ya?" ucap Doni dalam hati bergidik ngeri sendiri.


Note : Doni sudah tahu jika Rahim Alyssa sudah baik-baik saja. Karena Alvin sudah menceritakan padanya, tapi Alvin belum memberi tahukan hal itu pada orang tuanya.


...


Di sisi lain sebuah mansion yang juga merupakan markas besar Organisasi Pembunuh Bayaran Dark Moon.


Seorang pria paruh baya melangkah ke dalam Mansion, beberapa orang di sana menyambutnya dengan Hormat.


Pria paruh baya itu adalah Hendrawan, orang yang baru saja menabrak mobil Alyssa hingga terjatuh ke dalam jurang.


Ia melangkah menuju sebuah kamar di lantai 3, kamar paling besar di mansion itu.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar itu ia ketuk, tak lama terdengar suara wanita dari dalam mempersilakan ia masuk, yang tak lain adalah Arumi. Hendrawan masuk dan tidak lupa ia mengunci pintu dari dalam.


"Selamat siang nona cantikku tersayang" ucap Hendrawan tersenyum


"Apa kau berhasil membunuh atau membawa ****** itu ke sini, Awan?" ucap Arumi


"Aku sudah berhasil membunuh wanita yang anda maksud nona. Aku sudah menabrak mobil yang ia kendarai hingga masuk jurang dan meledak" ucap Hendrawan yakin


"Ha-ha-ha kerja bagus Awan. Sesuai janjiku, aku akan mentransfer uangnya ke rekeningmu hari ini juga" ucap Arumi


"Nona tidak lupa, kan?" ucap Hendrawan dengan maksud khusus.


"Tentu saja aku tidak lupa. Aku akan memuaskan kamu. Menguras cairanmu sampai pagi" ucap Arumi menggoda dengan mengalungkan kedua tangannya ke leher Hendrawan.


Hendrawan yang begitu tergoda tubuh sintal milik Arumi, langsung menyambar dan melahap habis bibir Arumi.


Arumi tak kalah agresif dan membalas Ciuman penuh na*su itu. Hingga keduanya te**jang satu sama lain dan saling menindih.


Tangan keduanya saling meraba dan meremas satu sama lain. Hingga Hendrawan tidak sabar dan langsung memasuki gua terlarang milik Arumi, dan meng***jotnya penuh semangat.


"Aahhh Enak, terus... Oohh,, Hmm, Fasteerrr saa yaaang...Aahh" De**han demi de**han memenuhi tiap sudut ruang kamar milik Arumi.


Mereka tidak menyadari sesuatu yang buruk sedang mengintai mereka.


Slash!!!


Duk!!!


Tiba-tiba saja di tengah pergu*ulan panas mereka, kepala Hendrawan terlepas dan terjatuh tepat di samping kepala Arumi.


Darah bekas tebasan leher mun*rat mengenai wajah Arumi. Menyaksikan pemandangan mengerikan tepat di depan matanya, sontak Arumi berteriak ketakutan dan bergetar hebat.


"Aaaaaakkkhhhhhhhhh.....!!!!" teriak Arumi sangat kencang


Meskipun Arumi pernah memenggal orang, namun kejadian yang di alaminya saat ini, sukses membuatnya ketakutan.


Karena orang yang membunuh Hermawan tidak terlihat sama sekali, kapan dan dari mana datangnya seperti angin.


Mendengar teriakan kencang dari kamar ketua mereka, pengawal menggedor pintunya. Karena pintu terkunci dari dalam, jadi pengawal tidak bisa masuk.


Di sisi lain, Arumi sangat ketakutan hingga ia tidak berani bergerak dari posisinya. Ia merasa takut, takut jika pembunuh yang tidak terlihat di matanya itu membunuh dirinya juga.

__ADS_1


...


__ADS_2