
Di lain tempat, Alvin saat ini menatap sebuah pil di tangannya. Pil itu tiba-tiba saja muncul di mejanya, setelah ia menerima telepon dari calon istrinya, Alyssa.
Ia tidak heran kenapa Pil itu bisa di sana tiba-tiba. Karena ia yakin jika itu pekerjaan Tama.
"Masukan Pil itu ke minuman untuk Larasati. Pastikan ia meminum itu" ucap Alyssa ringan dari seberang telepon.
"Obat apa ini, sayang?" tanya Alvin penasaran
"Itu Pil halusinasi, tidak membahayakan. Hanya saja orang yang mengkonsumsinya seperti berada di alam bawah sadarnya. Dan setelah sadar ia akan mengingat dan merasakan apa yang ada dalam pikiran mereka saat masih dalam halusinasi, bukan hal sebenarnya. Pil itu hanya berlangsung selama 8 jam saja, dan bereaksi dalam 2-3 menit setelah konsumsi" ucap Alyssa
"Dari mana kau mendapat obat itu? Apa kau bereksperimen membuat jenis obat baru lagi?" tanya Alvin
"Mmm.." Gumam Alyssa mengiyakan
Sejujurnya, Pil itu dia dapat dari hadiah dari undian sistem. Dan ia hanya memiliki satu-satunya pil tersebut.
"Baiklah sesuai keinginanmu tuan putri" ucap Alvin.
"Ica.. " panggil Alvin lagi
"Ya" jawab Alyssa
"Aku merindukanmu" ucap Alvin tulus dengan suara beratnya. Dia benar-benar merindukan wanitanya itu.
"Aku juga, sabarlah sebentar lagi. Besok aku akan menemuimu di kantor, hmm" ucap Alyssa
"Hmm, aku menunggumu besok di sini" ucap Alvin tersenyum meskipun Alyssa tidak bisa melihat senyumnya.
Setelah telepon terputus, Alvin menghela nafas panjang. Karena sebentar lagi sandiwaranya akan segera di mulai lagi.
Benar saja, tak lama pintu ruangan kerjanya di buka dari luar. Alvin tahu siapa orang yang berani membuka pintu ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kak, aku datang" suara Larasati menggema di setiap sudut ruangan.
Dia beranjak mendekati Alvin, namun Alvin lagi-lagi menghindar secara halus. Larasati mengerutkan keningnya heran, karena meskipun Alvin terang-terangan mengatakan kata manis padanya. Namun ia selalu menghindar dari sentuhannya.
__ADS_1
Melihat gelagat curiga Larasati, Alvin segera bersuara.
"Laras, kita berada di kantor sekarang, tidak enak jika menjadi bahan gosip orang-orang. Statusku masihlah tunangan Alyssa, tunggulah sampai besok, hmm. Aku akan memutuskan pertunanganku dulu dengannya, bagaimana?" ucap Alvin dengan nada di buat sehalus mungkin dan seakan serius.
"Benarkah?" ucap Larasati dengan mata berbinar mendengarnya.
"Tentu saja, setelah itu aku akan mengumumkan pada dunia. Jika kita adalah sepasang kekasih dan akan segera menikah" ucap Alvin menahan rasa jijik saat ia mengatakannya.
Larasati sangat senang mendengarnya, namun ia mencoba menahan diri untuk tidak memeluk laki-laki yang kini hanya berjarak 1 meter dari dirinya itu.
"Sekarang siapkan makanannya, sayang. Aku sudah lapar he-he, aku akan mengambil minum untuk kita" ucap Alvin lagi
"Tentu sayang" ucap Larasati dengan mata yang memancarkan kebahagiaan.
Alvin mengambil dua gelas berisi air putih, ia memasukan pil tersebut di minuman Larasati. Memang Pil itu tidak berwarna dan tanpa bau saat di campur ke dalam minuman. Jadi itu sama persis dari warna dan juga rasa, seperti air putih biasa.
Mereka berdua kemudian makan dengan tenang, Larasati pun tanpa curiga meminum air putih yang di berikan oleh Alvin, hingga tandas tak bersisa.
Selang beberapa menit, tingkah Larasati menjadi aneh. Dia bicara pada dirinya sendiri seperti orang gila. Alvin menatap heran, namun sedetik kemudian dia tahu, jika itu efek dari obatnya. Ia takjub melihat Pil halusinasi itu cukup bekerja dengan baik.
"Kenapa kau muncul tiba-tiba, bagaimana kalau aku jantungan" ucap Alvin mengelus dada.
"Saya di minta nona, untuk membawa wanita ini" ucap Tama mengabaikan ucapan Alvin
"Eh, mau di bawa kemana memangnya?" tanya Alvin
Tama tidak menjawab ucapan Alvin, ia langsung memegang Larasati dan keduanya menghilang entah kemana.
Alvin tidak marah, karena di abaikan Tama, justru ia bergidik sendiri melihatnya. Bagaimana tidak? Ia merasa seperti berada di dunia lain saja rasanya.
"Astaga, menyeramkan sekali" ucap Alvin bergidik, kemudian beranjak dari sofa dan duduk di kursi kebesarannya dan melanjutkan pekerjaannya.
...
Di tempat lain, Tama membawa Larasati ke dalam sebuah kamar. Itu adalah sebuah kamar di hotel bintang 5 di pusat kota.
__ADS_1
Ia mengetuk pintu kamar itu, di sana sudah ada seorang laki-laki tinggi besar dengan wajah cukup menyeramkan. Laki-laki itu adalah orang yang Alyssa bayar untuk memberikan kenikmatan duniawi pada Larasati.
Larasati yang bawah pengaruh obat halusinasi, melihat laki-laki itu. Dan dia menyangka jika yang ia sentuh dan mengawalnya berc*nta itu adalah Alvin.
Setelah tugasnya selesai, Tama langsung keluar dari pintu dan menghilang dari sana.
...
Berbeda dengan Larasati yang sedang menikmati nikmatnya dunia dengan laki-laki yang ia kira adalah Alvin.
Ibra saat ini masih meratapi nasibnya, air matanya menetes tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Itu membuat hatinya makin sakit mengingat ucapan Larasati, wanita yang ia cintai.
"Ternyata selama ini aku mencintai wanita yang salah, ternyata selama ini aku hanya di manfaatkan saja. Larasati ja**ng, dasar kau wanita murahan!! Andai saja... Andai saja, aku sembuh dari penyakit ini. Akan aku buat kau otang pertama yang ku buat menderita karena sudah menyakitiku dan mengkhianatiku, ja**ng" ucap Ibra dalam hati.
Ia merasa sakit di hatinya karena pengkhianatan Larasati, dan mendengar sendiri jika wanita yang di cintainya setulus hati. Justru mencintai orang yang paling ia benci, di tambah dia ingin membunuhnya setelah mendapatkan cinta Alvin.
Ibra merutuki kebodohannya selama ini, dia menyesal sudah mencintai wanita seperti Larasati. Di saat ini ia sangat membencinya, ingin sekali ia menghancurkan dan membunuh Larasati detik ini juga. Ibra merasa Harga dirinya terinjak-injak.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu rawat inap terbuka, di sana terlihat seorang laki-laki tampan memakai pakaian dokter.
Laki-laki itu tak lain adalah Tama yang menyamar menjadi Dokter di rumah sakit ini.
"Permisi, saya akan memeriksa anda" ucap Tama.
Meskipun Tama adalah sebuah makhluk buatan, namun ia memiliki perangai hampir sama dengan manusia, jadi tidak ada yang tahu jika dia bukan manusia. Dan tentunya ia hanya menjalankan perintah dari tuannya.
"Kondisi anda cukup parah, dan itu tidak bisa di sembuhkan oleh dokter manapun" ucap Tama, ia hanya mengcopy paste ucapan Alyssa yang di ajarkan padanya.
Terlihat Ibra hanya meneteskan air matanya, dia sangat sedih mengingat kondisinya saat ini, dan semangat hidupnya menipis mendengar vonisnya. Namun ucapan Tama berikutnya, membuat semangat hidupnya seperti bangkit kembali.
"Namun saya bisa menyembuhkanmu, jika kau bersedia. Kedipkan matamu dua kali, jika kau mengizinkan saya mengobatimu" ucap Tama.
Saat ini kedepan mata terlihat, Ibra tentu saja tidak menyia-nyiakan harapan untuk dirinya. Meskipun sangat mustahil, namun ia akan mengambil resikonya.
__ADS_1
...