Sistem Dewi

Sistem Dewi
Kondisi Raiden


__ADS_3

Raiden dengan tubuhnya yang gemetar menatap sendu pada sahabat putranya itu. Perasaan menyesal kembali menyeruak di relung sanubarinya.


Apalagi saat ia teringat penderitaan mantan istrinya dulu, yang di siksa begitu kejam belasan tahun hingga menjadi gila.


Setetes cairan bening di sudut matanya terjatuh tanpa permisi. Dadanya begitu terasa sesak, tubuhnya begitu lemas. Tanpa aba-aba ia jatuh tidak sadarkan diri.


Juna yang melihat Raiden pingsan terkejut, ia kemudian berteriak meminta tolong. Beberapa orang di sekitar sana membantunya, menggotong tubuh ringkih ayah dari sahabatnya itu ke dalam mobilnya yang terparkir cukup jauh.


"Om Raiden, Ya Tuhan semoga Om tidak kenapa-napa..." ucap Juna cemas.


Ia bergegas membawa Raiden ke rumah sakit terdekat, RS. Karisma Kota S yang terletak di pinggiran kota.


"Pak, tolong panggil petugas rumah sakit!!" ucap Juna pada security Rumah sakit itu sambil membuka pintu belakang mobilnya. .


Dengan sigap Security memanggil petugas rumah sakit, dan kembali bersama dengan petugas kesehatan, yang membawa brankar dorong.


Raiden langsung di larikan ke Unit Gawat Darurat, dan di tangani Dokter umum.


Dengan harap-harap cemas Juna berdoa agar Raiden baik-baik saja. Meskipun ia tahu kesalahan ayah dari sahabatnya itu, namun tetap saja dirinya merasa tidak tega. Melihat kondisi ringkih tidak berdaya mengesot dan gemetar badannya.


Apalagi, Raiden sangat baik kepadanya dulu, pada saat masa-masa Azka dan dirinya kuliah. Raiden juga menyemangatinya untuk mengejar apapun yang dia ingin kan. Tak jarang, Raiden juga memberikan uang saku saat ingin berpergian bersama Azka.


"Ya Tuhan, aku mohon, tolong selamatkan Om Raiden" ucap Juna berdoa dengan penuh harap.


Juna bergegas membayar administrasi untuk penanganan di UGD. Lalu kembali ke ruangan UGD melihat hasil pemeriksaan.


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Juna begitu dokter keluar dari ruangan pemeriksaan.


"Apa anda keluarga pasien?" tanya dokter


"Saya sahabat anaknya. Apa Om Raiden baik-baik saja?" tanya Juna


"Kondisinya cukup parah, selain mengalami kekurangan gizi karena sudah beberapa hari belum makan. Pasien juga mengalami patah tulang di kedua kakinya, di tambah dengan terpotongnya alat vital yang ter infeksi. Membuat kondisi pasien saat ini masih kritis" ucap Dokter


"Ya Tuhan..." Gumam Juna yang mendengarnya merasa lemas.


"Untuk saat ini pasien sedang kami infus. Saya sarankan Pasien untuk di rawat beberapa hari, untuk penanganan luka infeksi dan pemulihan gizi yang akan di atur, hingga kondisinya bisa berangsur membaik. Untuk patah tulang di kaki pasien, bisa melakukan lakukan pemasangan Pan. Tapi hal itu memerlukan persetujuan dari pihak keluarga. Alangkah baiknya anda menghubungi keluarga pasien agar segera di tindak lanjuti" ucap Dokter lagi


"Kalau begitu tolong berikan perawatan terbaik Dok, berikan juga kamar rawat inap terbaik di sini. Saya akan menghubungi keluarganya segera" ucap Juna

__ADS_1


"Baik, kami permisi dulu" ucap Dokter.


Juna menimbang-nimbang harus menelepon Azka atau Alyssa. Dan memberitahukan kondisi ayahnya. Juna hendak memberi tahu Azka terlebih dahulu, namun ia teringat sahabatnya itu sudah sangat membenci ayahnya.


Jadi ia memutuskan untuk menelepon Alyssa, namun nomor Alyssa sedang sibuk saat ini. Juna kemudian mengirim pesan pada Alyssa.


...💬 Al, dek. Kalau tidak sibuk, tolong telepon kakak balik, penting!!...


Setelahnya Juna pergi untuk mengurus prosedur rawat inap Raiden di bagian administrasi.


...¤...


Ring! Ring! Ring!


Telepon Alyssa berbunyi, Nama Hanin tertera di sana.


Karena posisi tangan Alyssa sedang kotor karena sedang makan kepiting, begitu juga dengan Alvin. Alyssa meminta tolong Diana untuk mengangkatnya.


"Halo tante" ucap Diana sopan


"Halo Al, kamu ada di mana? Kita semua sedang kumpul di resto hotel. Bisakah kamu datang kemari?" ucap Hanin belum menyadari suara Diana yang ia kira adalah Alyssa.


"Tante, ini bukan Al, ini Diana. Alyssa sedang makan saat ini, dia sedang mengisi tenaga yang hilang setelah terjatuh dari lantai 3 Mall" ucap Diana yang di hadiah pelototan tajam dari sang empunya telepon, karena berbicara sembarangan.


"Apa???" teriak Ameera yang juga kaget mendengar ucapan Hanin barusan.


Badannya tiba-tiba lemas dan hampir jatuh tidak sadarkan diri, namun dengan sigap Noah menahannya.


"Ira, kamu nggak apa-apa?" tanya Noah khawatir


"Mamah!!!" teriak Azka terkejut, bahkan semua yang ada di sana terkejut mendengar Alyssa jatuh dari lantai 3 Mall dan melihat Ameera yang hampir terjatuh pingsan.


"Nyonya Atmadja, boleh aku bicara dengan yang ada di telepon" ucap Noah dengan sopan


Hanin mengangguk dan menyerahkan telepon genggam miliknya. Saat ini pikirannya juga berkecamuk, sampai-sampai ia lupa jika Diana barusan mengatakan jika Alyssa sedang makan. Yang berarti Alyssa saat ini dalam kondisi baik-baik saja.


"Halo, maaf dengan sapa saya bicara?" ucap Noah sopan


"Oh, saya Diana sahabat Alyssa. Maaf anda siapa?" tanya Diana bingung karena sekarang yang bicara adalah seorang laki-laki

__ADS_1


"Oh, saya calon ayah sambung Alyssa dan Azka. Apa Alyssa baik-baik saja? Bagaimana keadaannya sekarang?" ucap Noah, dengan tidak tahu malunya, membawa embel-embel calon ayah sambung. (Ngarep ya, babang Noah)


"Eh, Calon Ayah sambung Alyssa?" ucap Diana terkejut. Ia juga bingung siapa itu Azka? Karena Alyssa belum menceritakan perihal keluarganya karena jarang berkomunikasi.


Bukan hanya Diana yang terkejut, Alyssa pun sama terkejutnya sampai tersedak di buatnya.


"Itu pasti Noah, aduh si kutu kupret. Sempet-sempetnya ngaku-ngaku calon bapak sambung" Ucap Alyssa dalam hati


"Biar aku yang bicara!" ucap Alyssa. Dia sedikit kesal sahabatnya malah bicara pada Hanin jika dirinya terjatuh, yang ada semua orang di sana akan merasa khawatir.


Alyssa kemudian mengambil tissu dan mengelap tangannya. Dan mengambil tissu lainnya untuk alas teleponnya.


"Halo Noah? Ini aku Alyssa" ucap Alyssa to the point


"Alyssa, kamu tidak apa-apa nak?" tanya Noah sudah persis seperti seorang ayah yang khawatir anaknya terluka karena jatuh dari sepeda.


"Isshh, kamu sudah seperti bapak-bapak saja, Noah" ucap Alyssa


"Aku serius Alyssa" ucap Noah serius


"Jangan dengarkan ucapan Diana. Memang benar aku jatuh dari lantai 3 Mall, tapi aku tidak apa-apa. Awalnya sih memang tulang kakiku retak sedikit dan pergelangan kaki ku juga geser. Tapi sekarang sudah aku obati, aku sudah sembuh bahkan sudah bisa lari sekarang" jelas Alyssa dengan terperinci


"Hufft, syukurlah. Tadi ibumu terkejut dan hampir pingsan mendengar kau terjatuh" ucap Noah


"Mamah ada di situ?" ucap Alyssa terkejut, kemudian ia melirik tajam sahabatnya yang sedang nyengir kuda dan mengangkat kedua jarinya.


"Iya kami semua sedang makan siang di restoran hotel. Kamu ada di mana? Apa perlu aku suruh orang untuk jemput kamu?" ucap Noah


"Tidak perlu, aku sedang makan juga di sini. Jangan menungguku, kalian lanjutkan lah makan. Aku akan ke sana setelah selesai makan di sini" ucap Alyssa


"Baiklah, hati-hati kalau begitu" ucap Noah kemudian mematikan teleponnya.


Semua orang menatap Noah penuh dengan tanda tanya. Noah menjadi kikuk sendiri, kemudian ia menjelaskan apa yang di ucapkan Alyssa tadi di telepon. Tanpa di kurangi atau di lebihkan. Takarannya Pas!


"Dasar kau, Kau dengar itu?! Semuanya panik gara-gara mulutmu nggak ada rem, kan semuanya mikir yang enggak-enggak" ucap Alyssa cemberut


"Maaf Al, aku keceplosan tadi. Beneran deh" ucap Diana menyesal


"Ya nggak pa-pa, lain kali jangan sembarangan bicara Na. Apalagi lewat telepon. Yang ada nanti salah paham dan panik" ucap Alyssa menghela napasnya. kemudian mengelus tangan Diana. Ia tahu sahabatnya itu tidak bermaksud mengagetkan orang lain.

__ADS_1


Alyssa kemudian melirik ponselnya kembali, ada panggilan tak terjawab dari Juna, dan sebuah pesan singkat.


"Tumben Kak Juna Telepon dan kirim pesan, ada apa ya?" Gumam Alyssa yang dapat di dengar oleh Alvin.


__ADS_2