
"Ada apa hmm?" tanya Alvin dengan lembut
"Kak Juna tadi menghubungiku dan dia mengirimiku pesan supaya meneleponnya balik. Aku ke wastafel sebentar ya, cuci tangan dulu" ucap Alyssa
Alvin dan Diana mengangguk. Meskipun Diana juga bingung siapa itu Juna? Kenapa banyak nama asing berseliweran sekarang.
Tak berselang lama, Alyssa sudah kembali ke meja makan. Ia langsung mengambil telepon genggam miliknya, lalu menghubungi Juna.
"Halo Kak, ada apa?" ucap Alyssa yang sudah duduk di kursinya.
Alvin dengan sigap menyuapi Alyssa makanan yang masih banyak dan belum sempat ia habiskan itu. Diana hanya memutar matanya jengah, lagi-lagi dia di suguhkan pemandangan kemesraan yang hakiki. Tanpa melihat dirinya sekarang adalah seorang jones.
"Al, akhirnya kau telepon juga" ucap Juna dengan nada cemas yang begitu kentara
"Ada apa? Apa ada sesuatu buruk terjadi?" tanya Alyssa, feelingnya mengatakan ada kabar tidak baik.
"Al, aku tadi menemukan ayahmu sedang mengesot di pinggir jalan dekat lampu merah. Keadaannya begitu menggenaskan, dan sekarang aku membawanya ke rumah sakit. Sekarang beliau butuh pihak keluarga untuk persetujuan pemasangan Pan di kedua kakinya yang patah" ucap Juna
Alyssa yang mendengarnya terhenyak, dia merasakan hatinya tercubit dan sakit. Ya, walau bagaimanapun, Raiden tetaplah ayah kandungnya. Tidak ada yang bisa mengubah fakta itu, apalagi darah Raiden juga mengalir di tubuh dirinya.
"Al, apa kau mendengarku?" ucap Juna, karena tidak mendapatkan respons dari Alyssa
"Aku tahu Om Raiden melakukan kesalahan yang sangat besar di masa lalu. Tapi bagaimana pun Om Raiden adalah ayahmu dan Azka. Maaf bukannya kakak ikut campur urusan keluarga kalian, tapi kakak yang melihatnya tidak tega. Dia begitu ringkih, lemah, kedua kakinya patah, dan alat vitalnya terpotong dan infeksi. Dia juga kekurangan gizi, karena tidak mendapatkan asupan beberapa hari. Om Raiden dalam kondisi kritis sekarang" ucap Juna
Alyssa lagi-lagi merasakan sakit di hatinya begitu menyelekit, tanpa ia sadari air matanya jatuh, ia menangis.
Alvin yang melihat wanitanya menangis sangat cemas, ia mengusap air mata yang mengalir di pipi mulus Alyssa. Begitu juga dengan Diana yang panik melihat sahabatnya menangis tiba-tiba.
"Kamu kenapa Ca/Al?" tanya keduanya bersamaan
Alyssa mengabaikan pertanyaan mereka dan berbicara dengan Juna di telepon.
__ADS_1
"Kirim aku alamatnya, aku akan ke sana hari ini. Tapi aku akan meminta izin dulu sama mamah dan Kak Azka. Kak Juna, tolong urus segala sesuatunya di sana, jangan lakukan operasi dulu" ucap Alyssa sedikit serak
"Baiklah, kamu hati-hati Dek" ucap Juna
Setelah sambungan telepon terputus, Alyssa menghamburkan diri ke pelukan Alvin. Dia kemudian menangis dengan suara tertahan.
Alvin yang melihat itu, hatinya ikut merasakan sakit. Alyssa yang ia kenal adalah sosok wanita kuat, namun yang ia lihat sekarang adalah sisi rapuh dari seorang Alyssa.
"Menangislah jika itu membuatmu lega dan lebih baik!!" ucap Alvin memeluk dan mengelus sayang surau indah milik wanitanya. Meskipun ia penasaran apa yang terjadi, ia tidak menanyakannya, sebelum Alyssa mengatakan sendiri padanya.
Diana lebih tercengang lagi, ia selama ini belum pernah melihat sahabatnya itu menangis seperti sekarang ini. Meskipun ia tahu kehidupan Alyssa dulu sangatlah kekurangan, namun Alyssa tidak pernah mengeluh apa lagi menangis.
Sedikit merasa lega setelah menangis, Alyssa kembali duduk dan menceritakan apa yang Juna katakan melalui telepon.
"Entah kenapa, hati aku sakit mendengar orang itu dalam kondisi kritis sekarang" ucap Alyssa serak
"Jadi, kamu ingin pergi ke sana?" tanya Alvin dengan lembut, ia memahami apa yang di rasakan Alyssa, adalah ikatan antara anak dan ayahnya.
"Baiklah" ucap Alvin
"Tunggu! Aku nggak ngerti kalian bicarakan apa sih? Mamah? Orang itu? Kak Azka? Kak Juna? Noah? Yang kamu sebut itu siapa?" tanya Diana heran dan bingung.
"Kamu ikut aku ya, nanti di mobil aku ceritakan semuanya" ucap Alyssa
Diana hanya mengangguk dan mengikuti Alyssa dan pergi.
...¤...
Suasana di Private room Hotel, tempat Mereka makan bersama sedikit tegang, saat Alyssa menceritakan dan meminta izin ke Kota S pada mamah dan kakaknya.
Baik Ameera maupun Azka hanya diam tidak merespon. Alyssa yang melihat tidak ada yang merespon, sampai berlutut di depan mamah dan kakaknya.
__ADS_1
Sontak hal itu membuat semua orang terkejut dengan apa yang di lakukan Alyssa.
"Apa yang kamu lakukan Al?" ucap Ameera dan Azka kaget.
Alyssa yang mereka kenal adalah sosok wanita tangguh, hebat, kuat, cerdas, memiliki harga diri dan kehormatan yang ia junjung tinggi. Mereka tidak pernah melihat Alyssa merendahkan dirinya dengan berlutut. Meskipun itu di depan ibu dan kakaknya.
"Mah, Kak, Aku mohon maafkan kesalahannya. Sudah lebih dari cukup ia menerima ganjaran yang ia perbuat di masa lalu. Meskipun aku tahu rasa sakit itu masih ada di hati kalian karena perbuatannya. Walau bagaimana pun Dia tetaplah ayahku dan Kak Azka. Tidak ada yang bisa mengubah fakta ini. Mungkin kejadian aku jatuh dan tulang retak juga sebagai teguran dari yang di atas. Kalau saja aku tidak punya keahlian dalam pengobatan, aku mungkin sekarang hanya bisa duduk di kursi roda karena cacat. Sama seperti orang itu yang kelaparan beberapa hari tidak makan, dan mengesot di aspal, tanah dan bebatuan hanya untuk bertahan hidup" ucap Alyssa sambil menangis.
"Aku mohon buka pintu maaf di hati kalian, tidak baik menyimpan rasa benci dan dendam begitu lama. Yang ada hanya akan membuat hati menjadi kotor, gelap dan menyiksa diri sendiri dalam kebencian yang tidak ada ujungnya. Lepaskanlah rasa benci dan dendam itu, melepaskan bukan berarti lemah dan kalah, tapi akan membuat hidup kita kedepannya lebih tenteram dan damai" ucap Alyssa
Ameera dan Azka merasakan sakit di hatinya, bagaimana jika Alyssa memang tidak bisa pengobatan dan cacat karena insiden jatuh dari ketinggian. Mereka tidak akan sanggup untuk melihat putri dan adik tercintanya itu menderita.
Dan mungkin dengan melepaskan rasa benci dan dendam itu pada Raiden. Adalah salah satu cara, mengobati trauma mendalam dalam dirinya, tentang pengkhianatan.
"Baiklah, mamah izinkan kau boleh ke sana. Mamah juga memaafkan kesalahannya, meskipun rasa sakit itu masih ada entah sampai kapan. Mamah akan coba mengikhlaskan takdir hidup yang sudah terjadi" ucap Ameera
Alyssa merasa lega, kemudian ia menoleh ke arah kakaknya yang masih terdiam.
"Bangunlah! Huufftt... " Azka menghembuskan nafasnya berat sebelum melanjutkan ucapannya
"Aku akan coba ikhlaskan semuanya. Kau benar, bagaimanapun dia adalah ayah kita berdua. Aku akan pergi bersamamu" ucap Azka luluh.
Alyssa tersenyum dan memeluk mamah dan kakaknya secara bergantian.
"Apa itu artinya, Ameera akan kembali bersama dengan mantan suaminya? Ya Tuhan, hatiku terasa sakit membayangkan hal itu terjadi" Gumam Noah dalam hati.
"Mamah akan coba mengikhlaskan semuanya, namun mamah minta maaf. Karena meskipun mamah sudah menghilangkan rasa benci terhadap orang itu, namun rasa cinta yang mamah miliki untuknya, sudah tidak bersisa lagi" gumam Ameera dalam hati.
Alyssa kemudian berjalan keluar bersama dengan Alvin, Azka, dan Diana. Mereka akan berangkat ke Kota S saat ini juga.
Sebelum keluar Alyssa berbisik pada Noah, membuat Noah yang saat itu berkecamuk pikirannya dengan berbagai kemungkinan, kehilangan kesempatan untuk mendekati Ameera, wanita yang ia cintai itu. Berubah menjadi cerah kembali dengan semangat perjuangan yang membara empat lima. Setelah mendengar apa yang di ucapkan Alyssa padanya barusan.
__ADS_1