
Mengapa harus ada kata menyesal di dunia? Mengapa sebelum bertindak, orang tidak memikirkan konsekuensinya?
Namun setelah mengingat kita semua adalah orang biasa yang tidak sempurna. Yang mungkin saja bisa melakukan kesalahan dengan atau tanpa di sadar.
Tapi semua perbuatan harus siap menerima resiko yang sudah di lakukan. Menyesal pun sudah tidak ada artinya, karena waktu tidak akan menunggu dan terus berlalu.
~Alyssa Cecilia Sastro Wardoyo~
...¤...
"Maaf tuan Bagaskara yang terhormat, sampai kapan pun aku Azka Putra Sastro Wardoyo, tidak akan pernah memaafkan pengkhianat sepertimu" ucap Azka tegas
Raiden sangat terkejut mendengar perkataan Azka. Bahkan Azka sudah tidak sudi lagi memanggilnya dengan sebutan Papah.
Di tambah lagi Azka dengan lantang menyebut nama dirinya menggunakan nama belakang istrinya, dan menghilangkan nama belakangnya.
"Kak, sepertinya ada dua orang wanita masuk dan berjalan kemari" Bisik Alyssa pada Azka
Alyssa melihat menggunakan mata tembus pandangnya, dia dengan jelas melihat dua wanita datang, dan dia mengenali salah satunya.
Azka mengerutkan keningnya memikirkan siapa yang datang? Apakah Nimar? Tapi kenapa ada dua orang, siapa satunya?
BRAK!!!
"Papah!!! Apa yang kalian lakukan pada papahku!!!" teriak Cinta yang baru saja datang dengan Ibunya, Nimar. Membuka pintu kamar Azka dengan kencang.
"Ooohh, sungguh mengharukan sekali!! Jadi ini anak Harammu tuan Raiden?? Kamu semakin berani ternyata, membawa selingkuhanmu dan anak Harammu, masuk ke rumah mamahku. Dasar Bajingan tidak tahu diri!!!" teriak Azka dengan kemarahannya uang sudah level dewa.
"Kau, berani mengatakan aku anak haram?? Kurang ajar!!!" teriak Cinta
Dia berjalan mendekati Azka hendak melayangkan tangannya, namun di tahan oleh Nimar.
"Jangan halangi aku mah, aku ingin memberi pelajaran pada bajingan kecil ini" ucap Cinta memberontak
"Diam kamu!" bentak Nimar pada putrinya, Cinta.
"Azka sayang, maafkan adikmu dia masih kecil dan belum mengerti apa-apa? Tolong jangan marah padanya" ucap Nimar berusaha bersikap lembut pada Azka.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan menjijikkan itu ******, dan juga wanita jelek ini bukan adikku. Sampai kapanpun adikku cuma satu yaitu Alyssa" ucap Azka menunjuk Cinta dengan jijik.
"Kau.. " teriak Cinta
__ADS_1
"Apa?? Atau kau mau aku publikasikan ke seluruh media? Berita besar Seorang tuan Raiden yang terhormat telah berselingkuh dengan sahabat istrinya sendiri. Selagi istrinya masih hidup dan bahkan memiliki anak di luar nikah!!!" ucap Azka sarkas
Cinta mendadak diam mendengar ucapan kakak tirinya itu. Jika Azka benar-benar mempublish jika dirinya anak haram, dia akan di kucilkan dan tidak bisa dengan mudah bergaul dengan kalangan atas.
Tiba-tiba matanya melihat Alyssa ysng berdiri di belakang Azka, sontak saja dia kaget melihat saingan cintanya ada di depan matanya saat ini.
"Kau ****** Beraninya kau datang kemari!!!" teriak Cinta menunjuk jarinya ke arah Alyssa
"Kau yang ******!!! Beraninya kau menunjukkan jari kotormu yang menjijikkan itu di depan adikku!!!" teriak balik Azka tidak terima adik kesayangannya di sebut ******.
"Oh, kenapa aku tidak berani datang ke rumah ibuku sendiri? Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa orang luar sepertimu bisa masuk ke dalam rumah milik ibuku?" ucap Alyssa dengan tenang
"Ini rumah papahku!! Dan aku adalah putri dari Keluarga Bagaskara. Jadi aku berhak datang semauku kemari, karena aku juga salah satu pewaris Keluarga bagaskara" ucap Cinta tidak tahu malu
"Hei bajingan tua, sungguh aku benar-benar tidak menyangka. Kau dengan tidak tahu malunya, ingin menjadikan putri harammu sebagai pewaris, yang bahkan rumah ini saja bukan milikmu" ucap Azka mencibir.
"Azka, tidak seperti itu nak.." ucap lirih Raiden, dia tidak tahu harus berkata apa saat ini. Semua yang di ucapkan Azka adalah kebenarannya.
"Papah, aku tidak mau tahu, usir mereka dari sini!!" ucap Cinta
"Cinta, papah tidak bisa mengusir mereka, mereka punya hak berada di sini. Mereka juga anak papah" ucap Raiden pada Cinta.
"Cinta!!" ucap Nimar yang tidak bisa mengendalikan putri manjanya itu.
Akan semakin sulit dirinya mengambil hati kedua anak Raiden, jika Cinta terus bersikap seperti ini.
Raiden kini sungguh dalam dilema besar, dia tidak bisa berkutik karena ketiganya adalah anaknya.
Dan tidak bisa memihak pada salah satunya.
"Ha-ha-ha Kau bermimpi ******. Kau sebut Alvin itu kekasihmu? Hey bangun ini sudah siang!! Kau pikir Alvin mau dengan wanita sundel macam kamu? Asal kau tahu, Alvin itu cinta mati dengan Alyssa. Bahkan dia dengan senang hati menikahi adikku besok, jika adikku yang memintanya" ucap Azka tertawa
"Kak, udara di sini sudah terkontaminasi, kenapa kita tidak keluar saja dari sini. Aku takut banyak virus yang menyebar" ucap Alyssa
"Kau benar dek, Yuk kita keluar saja dari sini" jawab Azka dan kemudian mengambil tasnya lalu melangkah keluar.
"Tunggu!! Kalian tidak boleh keluar. Bisa saja kalian membawa sesuatu yang berharga dari sini" ucap Cinta menghalangi keduanya.
"Kau pikir aku seorang pencuri Hah?" Bentak Azka, wanita di depannya benar-benar sumber masalah.
"Azka maafkan adikmu, kau bisa keluar dan jangan ambil hati ucapannya. Biar papah bicara dengan adikmu" ucap Raiden.
__ADS_1
Dia ingin membiarkan Azka keluar dulu, dan akan membicarakannya dengan Azka lagi nanti setelah kondisi sudah tenang.
Namun tanpa dia sadari pilihannya itu justru membuat Azka dan Alyssa semakin membenci dirinya.
"Huh, buru-buru banget sih ngusir kita, sudah tidak sabar ya bermanja-manja dengan selingkuhan dan anak harammu. Dan ingat tuan Raiden, Dia bukan adikku!!" ucap Azka menekan
"Kalian tidak boleh keluar sebelum aku periksa isi tas kalian!" ucap Cinta kekeh dengan pendiriannya
"Kau... " Azka sangat emosi melihat muka tebal wanita di depannya ini, dan dia juga takut Raiden tahu tujuan sebenarnya dia datang.
"Periksa saja!!" ucap Alyssa cuek
Azka menoleh ke arah adiknya itu, namun Alyssa hanya tersenyum dan mengangguk dengan percaya diri.
Jadi dia hanya pasrah dan menurut saja yang di ucapkan Adiknya itu, dan percaya padanya.
Cinta mengambil tas milik Alvin dan Alyssa. Dia membongkar semua barang di dalam tas itu, dan membuat semuanya berserakan di lantai.
Namun ia hanya melihat tas itu berisi pakaian dan satu dokumen milik Azka yaitu Ijazah miliknya.
"Kau lihat, tidak ada apa-apa!! Aku dan Kak Azka datang kemari hanya mengambil ijazah kakakku yang tertinggal di sini" ucap Alyssa dengan ringannya
Azka sempat bingung, kenapa dokumen yang mereka ambil tidak di temukan. Namun dia hanya percaya dengan adiknya yang sudah pasti mengatur semuanya.
Alyssa dan Azka kemudian mengambil kembali tas dan pakaian yang berserakan.
"Apa harus ada pemeriksaan tubuh juga? Silahkan jika kalian tidak percaya" ucap Alyssa tersenyum mengejek
"Sudah cukup! Cinta, biarkan mereka pergi" ucap Raiden
"Tapi pah!" teriak Cinta
"Cinta, apa kau tidak mendengar perkataan papah?!" teriak Raiden
"Aku akan membalas semua penghinaan ini Raiden! dan juga kalian berdua tunggu saja tanggal mainnya" ucap Azka dengan sorot mata penuh dengan kebencian.
Azka dan Alyssa kemudian melangkah pergi keluar. Saat berpapasan dengan Raiden Alyssa sengaja berhenti membisikan sesuatu padanya, dan hanya bisa terdengar oleh dirinya dan Raiden.
Raiden yang mendengar ucapan Alyssa sangat terkejut.
...___...
__ADS_1