Sistem Dewi

Sistem Dewi
Rasa lega dan sakit


__ADS_3

Ibra terlihat sangat terkejut melihat Alvin berada di sana. Matanya juga menangkap Doni yang ia kenal dan juga seorang wanita cantik yang tak lain adalah Alyssa.


"Kau..." ucap Ibra


"Sahabat baikku yang ini tidak mungkin lupa padaku bukan?" ucap Alvin menyunggingkan senyumnya.


"Cih, kau sudah di sini, kau tidak usah pura-pura tidak tahu apa-apa Alvin. Sejak kapan kau tahu aku masih hidup?" ucap Ibra tanpa basa basi.


"Belum lama" ucap Alvin yang berjalan kemudian duduk di sofa.


Matanya melihat jasad Larasati yang sudah tidak bernyawa dengan wajah hancur. Tidak ada rasa kasihan di matanya, justru ia senang karena tidak perlu mengotori dirinya sendiri. Untuk melenyapkan wanita itu.


Ibra yang melihat Alvin menatap jasad Larasati terkekeh, dan mengucapkan sesuatu


"Apa kau sedih, kekasih barumu saat ini sudah tidak bernyawa, sahabatku sayang?" ucap Ibra dengan senyum mengejek


"Tidak, aku justru senang melihatnya, terimakasih sudah menyingkirkan benalu ini" ucap Alvin tenang dan wajah yang tersenyum tipis.


"Kau pintar berpura-pura rupanya, bukankah kau sudah bercinta dengannya siang sampai sore tadi?" ucap Ibra mengetatkan rahangnya karena marah, mengingat hal itu.


Bagaimana pun Larasati adalah wanita yang sudah lama menjadi Ratu di hatinya selama bertahun-tahun. Namun rasa sakit karena pengkhianatan Larasati membuatnya gelap mata dan membunuhnya.


Namun Ibra tidak menyesal sama sekali, jika ia tahu hal ini sejak lama atau waktu di putar kembali. Sudah bisa di pastikan jika ia akan tetap melakukan hal yang sama seperti sekarang ini.


"Aku tidak peduli tentang itu, katakan padaku! Kenapa kau ingin sekali membunuh dan menghancurkanku, Ibra? Bukankah kita bersahabat? Apa aku telah melakukan hal yang membuatmu kecewa sebagai seorang sahabat?" ucap Alvin menatap Ibra


Ia ingin sekali membunuh pria di depannya, namun ia mencoba menahannya karena ingin mendengar alasan Ibra membencinya dengan mulutnya sendiri.


"Aku membencimu Alvin! Hanya karena kamu putra dari jendral besar. Dengan mudahnya kamu mendapat gelar Letnan Mayor termuda dalam sejarah. Harusnya itu aku!! Aku yang lebih pantas mendapatkan gelar itu! Aku juga benci dirimu yang super jenius itu. Semua orang di barak, panglima tertinghi, jendral besar dan yang lainnya. Memuji dan memuja kamu, sebagai legenda militer masa depan. Sedangkan namaku? justru perlahan meredup karena kehadiran kamu di militer. Aku membenci semua yang ada padamu, aku sangat membencinya" ucap Ibra


"Hanya karena itu? Kenapa pikiran kamu begitu dangkal dan picik sekali Ibra? Sampai-sampai kamu berencana membunuh calon istriku. Dan dulu wanitamu itu hampir membunuh ibuku. Jika hanya karena itu, kita bisa berjuang bersama-sama. Apa tidak ada rasa kasihan dan kasih sayang pada sahabatmu?" ucap Alvin menahan amarahnya.


"Cih, aku tidak pernah menganggapmu sahabat. Tentu saja, aku akan membunuh siapapun yang berhubungan denganmu. Asal kau tahu, gara-gara kau terlalu unggul. Aku menjadi terabaikan" ucap Ibra.


Alvin sedikit terkejut saat ini Ibra menodongkan pistol ke arahnya.


"Matilah, agar rasa benci dalam diriku hilang. Sahabatku ha-ha" ucap Ibra sedikit lagi menarik pelatuk pistolnya.


Namun Tama sedikit lebih cepat, dengan wujud yang tak terlihat. Tama menendang tangan Ibra dan pistol itu terlempar cukup jauh.


Ibra terkejut, sedikit rasa takut dalam hatinya dengan sosok tanpa wujud itu. Yang ia tidak tahu apa itu.


Ibra langsung berlari ke arah Alyssa dan menbekapnya dengsn pisau lipat di tangannya. Ia pikir jika Alyssa adalah yang paling lemah di antara ketiganya, untuk di jadikan sandera.

__ADS_1


Namun ekspresi Alvin dan Doni justru terlihat tenang-tenang saja, membuat Ibra heran.


"Bukankah wanita ini adalah calon istrinya? Kenapa Alvin tenang-tenang saja. Apa rasa cinta Alvin pada wanita ini sudah menghilang, sesuai dengan yang di ucapkan Larasati? Hais benar-benar sial" Gumam Ibra dalam hati.


"Biarkan aku pergi! Atau aku bunuh wanitamu ini" ucap Ibra, meskipun ragu. Ia tetap menjadikan Alyssa tameng.


"Kau tahu apa yang paling aku tidak sukai di dunia ini selain pengkhianat?" ucap Alyssa dengan nada biasa.


Tanpa ada rasa ketakutan sama sekali pada suaranya. Padahal kini di lehernya terdapat pisau yang bisa kapan saja melukainya.


Melihat Ibra diam saja Alyssa melanjutkan ucapannya.


"Aku juga tidak suka, ada orang asing yang sembarangan menyentuhku" ucap Alyssa


KREK!!!


KLANG!!!


BRUGH!!!


"Aaarrggghh" teriak Ibra


Alyssa mencengkeram pergelangan tangan kanan Ibra dan mematahkannya, hingga pisau yang ia pegang jatuh.


Di tambah tubuh tinggi besar Ibra, telah di angkat dan di banting oleh wanita kecil seperti Alyssa. Sungguh hal itu sangat tidak masuk akal dan sulit ia percayai, sesaat sebelum ia berhasil di banting di lantai dengan keras.


DUK!!!


Alvin melangkah dan menginjak dada Ibra kuat-kuat. Ia menginjaknya lagi dan lagi.


"Berani sekali kau menyentuh dan menyakiti wanitaku, Ibra!!" ucap Alvin, ia menahan amarahnya. Agar ia telihat tenang barusan.


Ia kemudian memukuli Ibra dengan brutal. Ia sangat ingin membunuh laki-laki itu sekarang juga. Alvin mengambil pisau lipat milik Ibra di lantai, yang tadi Ibra gunakan untuk menyandera Alyssa.


SRET!!!


SRET!!!


SREEEETTTTT!!!


"Aaaaarrrggghhhh sakiittt bajingan" teriak Ibra.


seluruh anggota tubuh tanpa terkecuali, menjadi karya estetik pisau lipat yang di ukir oleh Alvin.

__ADS_1


Tangan Ibra satunya hendak memukul Alvin. Namun Alvin dengan gesit menghindar dan melayangkan tendangannya tepat di kepala Ibra.


Ibra merasakan dengungan di kepalanya, tendangan Alvin sangat kuat. Bahkan Ibra merasa isi kepalanya seperti pecah.


"Huukkk" Ibra mengeluarkan seteguk darah.


Tak hanya itu, dari hidung dan telinga Ibra juga mengeluarkan darah. Bisa di pastikan jika kepala Ibra saat ini terluka parah.


"K-kau... " ucap Ibra tak sanggup lagi berbicara


"Aku tidak bisa melampiaskan rasa kesalku, karena wanitamu itu dulu hampir membunuh mamah. Dan karena wanitamu sudah mati, maka aku akan melakukannya padamu" ucap Alvin


JLEP!!!


JLEP!!!


JLEP!!!


JLEP!!!


Entah berapa kali, Alvin menusuk perut dan dada Ibra. Yang jelas, saat ini darah mencuat dan mengenai wajah dan juga tubuh Alvin.


"Huuuukkkk" Darah yang keluar dari mulut Ibra masih terus keluar.


"Dan ini karena kamu sudah berani menyandera wanitaku. Selamat tinggal sahabat lama" ucap Alvin


SREEETT!!!!


Alvin menyayat leher Ibra, ia menggo*oknya sampai setengah leher dan membiarkannya menganga dan terus mengeluarkan darah.


Ibra sudah sekarat seperti ayam yang baru saja di potong. Tubuhnya menggelepar, bahkan Tuhan pun seperti enggan menerimanya dengan cepat. Membuat waktu begitu lama hingga ia mati karena kehabisan darah dengan rasa sakit yang ia rasakan.


BRUK!!!


Alvin menjatuhkan lututnya dan mengeluarkan air matanya. Hatinya merasakan lega dan juga ada rasa sakit di saat bersamaan, muncul di hatinya.


Alyssa memeluknya memberikan dukungan terbaiknya. Alvin membalas pelukan itu dan tangisnya langsung pecah.


"Bukan seperti ini yang ku inginkan, Hiks... Orang yang dulu sangat dekat denganku dan kita pernah saling menyayangi waktu itu. Kenapa harus berakhir seperti ini Hiks, Hiks, Kenapa???" ucap Alvin bergetar.


Bagaimanapun, rasa sayangnya pada Ibra dulu begitu tulus. Ia sudah menganggapnya seperti kakak nya sendiri. Namun takdir begitu kejam mempermainkan perasaannya.


Alyssa menepuk dan mengelus punggung Alvin pelan. Ia menoleh ke arah Doni yang terduduk di lantai tak jauh darinya. Kakinya lemas, pikirannya juga melayang.

__ADS_1


Alyssa pun, menyuruh Tama membereskan semua kekacauan ini. Kemudian membawa Alvin dan Doni ke tempat yang lebih tenang.


...


__ADS_2