Sistem Dewi

Sistem Dewi
Menemukan Juna


__ADS_3

Alyssa dan Tama saat ini sudah sampai di tepi tebing kembar di daerah hutan kota S. Jika orang biasa melihat area, tidak ada yang mencurigakan di sekitar sini.


Namun tidak bagi Tama dan Juga Alyssa. Meskipun Alyssa belum melihat posisi tepatnya Juna ada di mana. Tapi Ia bisa merasakan adanya nafas kehidupan, tak jauh dari posisi ia berdiri saat ini.


"Tepat di bawah kita berdiri, ada goa yang tidak terlihat karena tertutup semak dan batu. Jika tidak turun, dan memeriksanya dengan teliti. Tidak akan ada yang mengetahui keberadaan Goa itu" ucap Tama menjelaskan letak goa berada.


Alyssa mengacungi jempol untuk Juna yang sangat pintar menemukan tempat yang aman untuk bersembunyi. Dan juga untuk Tama yang bisa menemukan tempat, yang kemungkinan di mana Juna sembunyi saat ini.


"Biar aku periksa terlebih dulu" ucap Alyssa menatap tanah berbatu yang ia injak, menggunakan Mata tembus pandangnya.


Kondisi malam memang susah untuk orang biasa melihat keberadaan sekitar dengan jelas. Namun itu semua tidak berlaku bagi Alyssa yang memiliki kemampuan mata tembus pandang.


Saat ia mencoba menembus lapisan tanah yang ia pijak, memang benar Alyssa dapat melihat dengan jelas. Ada seseorang yang tengah duduk dengan badan menyender ke dinding.


Mata Alyssa terbelalak saat mengetahui jika itu adalah Juna dan dapat di lihat keadaan Juna yang sudah lemas dan pucat, dengan kaki yang terluka dan di balut kain seadanya.


Alyssa langsung mengeluarkan ransel gunung dari ruang penyimpanan nya dan meminta Tama untuk membawanya turun serta. Karena akan sulit menjelaskan pada Juna saat ia mengeluarkan barang dengan tangan kosong.


"Bawa ini dan kita turun sekarang!" perintah Alyssa, Tama hanya mengangguk mengerti dan menjalankan perintah tuannya.


Kemudian keduanya turun dengan cara melompat secara langsung. Jarak antara tebing dan dasar goa yang hanya tiga meter lebih dan goa itu hanya memiliki lebar 20 cm sebagai pijakan yang mengarah ke pintu goa.


Juna saja saat turun ia menggunakan dinding tebing yang menonjol untuk turun, dan itu membutuhkan waktu lama untuk mencapai pijakan Goa.


Karena dinding batu berlapis rumput yang kurang menonjol, dan jika tidak hati-hati bisa saja tergelincir jatuh ke jurang saat menuruninya. Di tambah kakinya yang terluka, menyulitkan ruang geraknya.


Juna sendiri mengetahui keberadaan Goa itu yang tidak sengaja ia tahu, saat ia berlatih di hutan beberapa tahun lalu.


Hap!!


Dengan sekali lompatan Alyssa dan Tama berdiri dengan stabil di pijakan yang sempit itu.


Alyssa menyibak rumput yang menghalangi pintu Goa di mana Juna berada. Ia masuk di ikuti Tama di belakangnya.

__ADS_1


Mendengar suara langkah kaki, Juna yang pandangannya mulai kabur meringsut ke area goa lebih dalam dan menahan nafasnya. Ia sedikit ketakutan karena mengira orang-orang yang mengejarnya, sudah mencium jejak keberadaannya.


Padahal ia yakin jika goa yang ia tempati saat ini sangatlah tertutup dan tidak banyak orang yang tahu.


"Kak juna" panggil Alyssa.


Mendengar suara tidak asing di telinganya, Juna terkejut. Namun ia hanya diam karena takut ia salah dengar, karena mengingat kondisinya sedang tidak cukup baik. Beruntung kondisi di sana sangat gelap, hingga tidak ada yang menyadari jika ia berada di dalam.


"Kak Juna, ini Al" ucap Alyssa lagi dengan menyalakan lampu emergency dari jam pintarnya, Membuat penerangan di sana sangat terang dan terlihat dengan jelas siapa saja yang berada di dalamnya.


Juna mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.


"Al" ucap Juna saat melihat Alyssa dengan jelas


Entah mengapa air matanya turun begitu saja saat melihat sosok yang sudah dia anggap sebagai adik kandung nya sendiri itu.


"Kak!" ucap Alyssa


Wajahnya sangat pucat seperti tidak ada darah yang mengalir di tubuhnya. Suhu tubuhnya juga sangat rendah, begitu dingin di pegang.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Juna dengan lemas


"Justru aku yang tanya kenapa kakak tidak memberitahu hal seperti ini padaku? Kalau saja perasaan dan intuisi ku tidak kuat. Dan aku juga mencoba menyelidikinya. Aku tidak akan tahu keadaan kakak dan tidak bisa menyusul ke sini tepat waktu.


"Kakak tidak mau merepotkan kamu, apa lagi kamu pengantin baru yang pastinya sedang hangat-hangatnya ingin terus berduaan" ucap Juna Lirih.


"Justru kalau terjadi apa-apa dengan kakak, bagaimana perasaan aku, kak Azka dan Diana saat mengetahuinya dan tidak bisa menolong tepat waktu? Sudah, jangan bicara banyak dulu, nanti saja setelah waktu dan kondisinya nyaman. Tama kemarikan tasnya!" ucap Alyssa


Tama langsung memberikan tasnya tanpa menjawab. Alyssa menerima tas itu dan langsung mengambil dua kotak kecil, satu kotak besar dan beberapa roti dan juga mineral.


"Al, pria tampan siapa ini?" tanya Juna


"Asistenku, namanya Tama. Jangan heran jika dia dingin dan tidak banyak bicara. Ia hanya akan mengikuti perintah dariku" ucap Alyssa yang di angguki Juna.

__ADS_1


"Makan dan minumlah dulu, agar tubuh kakak ada tenaga sedikit! Atau kakak mau Juna suapi?" ucap Alyssa


"Kakak masih kuat makan sendiri" ucap nya dengan bibirnya yang pucat dan bergetar itu


"Kalau begitu, makanlah! Al akan lihat luka Kakak dan mengobatinya dulu" ucap Alyssa


Saat menenggak minuman kemasan itu, Juna merasakan itu adalah minuman ternikmat yang pernah ia minum. Padahal itu hanyalah air mineral kemasan biasa, mungkin karena satu tetes dari minuman itu bisa menghilangkan dahaga Dalam dirinya dan Juna bersyukur masih bisa hidup sampai saat ini.


Setelahnya Juna makan beberapa suap roti untuk mengganjal perutnya. Sedangkan Alyssa sibuk memeriksa kaki Juna yang terkena tembakan.


"Telan ini kak, ini akan membantu memulihkan darahmu dan juga sebagai penghilang rasa sakit saat aku mengambil peluru dan menjahitnya" ucap Alyss


Juna langsung menelannya tanpa curiga, karena ia percaya jika Alyssa tidak akan mungkin mencelakai dirinya.


Benar saja, setelah minum obat dan melanjutkan makan roti. Tenaga Juna perlahan pulih, bahkan ia tidak merasakan sakit saat Alyssa membedah kakinya untuk di ambil pelurunya dalam keadaan sadar.


KLANG!


Peluru berhasil di ambil dan di letakan di mangkok alumunium yang ia bawa. Alyssa melanjutkan untuk menjahit bekas sayatan operasi kecil itu dan membalutnya dengan perban.


"Kakak sudah merasa lebih baik? hoooaamm" ucap Alyssa sambil menutup mulutnya karena menguap.


"Hmm, kakak sudah merasa lebih baik. Bahkan kaki kakak sudah tidak merasakan sakit" ucap Juna.


"Ya, efek obatnya belum hilang. Lebih baik kita meninggalkan tempat ini sekarang juga sebelum hari terang dan sebelum obat penghilang rasa sakit menghilang efeknya" ucap Alyssa


"Tapi kakak lihat kamu sudah lelah dan mengantuk Al, apa tidak sebaiknya istirahat dulu" ucap Juna


"Itu hal gampang, kak Juna tidak perlu khawatir. Aku bisa menangani itu dengan obat yang membuatku fresh kembali" ucap Alyssa, kemudian mengeluarkan pil fresh dari dalam saku celananya dan meminumnya.


"Lihat, aku sudah segar kembali bukan? Ayo kita pergi sekarang, Tama, kau bawa tas ini lagi dan perhatikan sekeliling. Jika ada yang mendekat kau berikan aba-aba. Kita harus keluar dari hutan dan masuk ke mobil sewaan sebelum pagi" ucap Alyssa lagi dan di angguki keduanya.


...•••...

__ADS_1


__ADS_2