
Setelah menempuh perjalanan pulang yang cukup melelahkan, akhirnya Alva, Disha dan paman Disha tiba di apartemen Alva dan Disha saat dini hari.
"Paman, sebaiknya paman beristirahat. Paman bisa istirahat di kamar tamu, mari saya antar!"ucap Alva kemudian mengantarkan paman Disha ke kamar tamu, sedangkan Disha sudah masuk ke dalam kamarnya terlebih dahulu.
"Terimakasih, Nak?"ucap paman Disha.
"Sama-sama, paman,"ucap Alva kemudian meninggalkan paman Disha dan masuk ke dalam kamarnya dan Disha.
Sayang, kamu belum tidur?"tanya Alva saat masuk kedalam kamar, dan melihat Disha yang duduk bersandar di headboard ranjang.
"Hemm,"sahut Disha, sedangkan Alva langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak lama kemudian Alva keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan boxernya kemudian menghampiri Disha.
"Ayo kita tidur! Jangan sampai kamu sakit! Kasihan Kaivan jika kamu sakit,"ucap Alva seraya naik ke atas ranjang kemudian perlahan menarik istrinya yang masih duduk agar segera berbaring.
Alva membawa Disha dalam pelukannya mengecup puncak kepala Disha kemudian mengelus kepala Disha dengan lembut.
"Jangan dipikirkan soal tadi. Kita akan mencari orang tuamu bersama-sama. Aku akan menyuruh Ferdi untuk menyelidikinya,"ucap Alva masih mengelus kepala Disha.
"Terimakasih, sayang,"ucap Disha mendongakkan kepalanya menatap wajah Alva.
"Aku tidak suka dengan ungkapan terimakasih lewat kata,"ucap Alva.
"Lalu? Apa kamu ingin aku mengungkapkan terimakasih lewat bunga?"tanya Disha mengernyitkan keningnya.
"Mau aku kasih tau bagaimana cara mengungkapkan rasa terima kasih tanpa kata?"tanya Alva menarik sebelah sudut bibirnya.
"Bagaimana?"tanya Disha dan tanpa kata Alva langsung mencium bibir Disha dengan lembut, menikmati bibir itu dan mengakses mulut Disha, membelit lidah Disha lalu melepaskan ciuman itu saat Disha sudah mulai kehabisan nafas.
"Mau lanjut?"tanya Alva seraya menaik turun kan alisnya tersenyum penuh arti.
"Aku ingin tidur,"ucap Disha mengecup bibir Alva sekilas kemudian menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Alva tersenyum, kemudian mengeratkan pelukannya pada tubuh Disha dan mulai memejamkan matanya.
Keesokan paginya. Setelah membersihkan diri Alva dan Disha mengajak paman Disha untuk sarapan bersama. Sedangkan Kaivan sedang disuapi MPASI oleh Bik Inah. Setelah selesai sarapan mereka duduk di ruang tamu, dengan Alva yang memangku Kaivan.
"Maafkan atas sikap papa saya paman,"ucap Alva membuka obrolan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nak. Paman juga bersalah karena kabur dan tidak menghadapi masalah. Karena paman yakin, kami orang kecil ini pasti akan kalah dengan orang kaya walaupun di pengadilan sekalipun. Yang benar adalah orang yang punya kekuasaan dan banyak uang, sedangkan kami yang orang kecil ini pasti akan dianggap salah,"ucap paman Disha menghela nafas dalam.
"Oh ya paman, ngomong-ngomong ,sekali lagi aku minta maaf karena tidak mengundang paman dan bibi saat pernikahan kami,"ucap Disha tidak enak hati.
"Kamu kan sudah menelepon paman dan bibi waktu itu, jadi jangan merasa tidak enak hati. Paman malah yang tidak enak hati karena setiap bulan kamu selalu mengirimkan uang buat kami. Paman dan bibi sangat berterima kasih padamu,"sahut paman Disha.
"Walaupun kenyataannya aku bukan bagian dari keluarga kalian tapi aku tetap menganggap kalian keluarga ku paman. Terimakasih paman, karena kalian mau menerima dan membesarkan aku layaknya putri kalian sendiri,"ucap Disha.
"Sama-sama, Nak. Oh ya nak Alva, tentang Beni..."ucap paman Disha nampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Waktu itu saya memang melihat papa saya mengikat orang yang bernama Beni itu di gudang. Tapi setelah papa menyalakan api untuk membakar gudang itu saya langsung pergi karena tidak ingin dipergoki oleh papa saya,"
"Jadi saya tidak benar-benar melihat sampai selesai saat orang yang bernama Beni itu dibakar. Dan tadi setelah anak buah saya menyelidiki kasus itu melalui kenalan kami di kepolisian, ternyata memang orang yang bernama Beni itu memang tidak mati karena dibunuh papa, orang itu bunuh diri setelah satu jam masuk jeruji besi,"jelas Alva.
"Syukurlah, berarti papamu bukan seorang pembunuh,"sahut Disha.
"Anak kalian lucu sekali, boleh paman menggendongnya?"tanya paman Disha sambil mengulurkan tangannya pada Kaivan, tapi Kaivan malah memeluk erat lengan Alva.
"Sebaiknya paman merubah penampilan paman dulu agar putra kami tidak ketakutan saat paman ingin menggendongnya,"ucap Alva dengan nada bercanda.
"Ah, kamu benar. Sekarang paman tidak perlu menyamar lagi. Paman akan merubah penampilan paman menjadi pangeran tampan seperti waktu masih muda dulu, agar saat pulang nanti bibi kalian pangling,"ucap paman Disha percaya diri membuat Alva dan Disha tertawa.
"Paman narsis?"cibir Disha sambil tertawa.
***
"Sayang, boleh aku melihat kalung punya kamu?"tanya Alva setelah Disha menidurkan Kaivan.
"Sebentar,"ucap Disha kemudian mengambil kalung yang sudah lama disimpannya," Ini, sayang!" ucap Disha menyerahkan sebuah kota sederhana kepada Alva.
"Ini indah sekali, sayang. Kenapa kamu tidak pernah memakainya?"tanya Alva setelah membuka kotak yang diberikan oleh Disha dan melihat kalung yang begitu indah di dalamnya.
"Aku merasa bentuknya terlalu mewah, sayang. Ini hanya cocok jika dipakai ke acara pesta. Kalau aku pakai untuk sehari-hari, rasanya tidak cocok dan terlalu berlebihan,"ucap Disha memberikan alasan yang masuk akal.
"Iya sich, ini memang agak berlebihan jika di pakai sehari-hari. Bentuknya agak besar dan terlalu mencolok karena keindahan batu permata nya,"ucap Alva membenarkan ucapan Disha.
"Apa menurut mu ini benar-benar mahal harganya, sayang?"tanya Disha masih ragu jika kalung miliknya itu mahal.
"Aku memang tidak terlalu tahu soal perhiasan, tapi sedikit banyak aku bisa membedakan mana permata yang bernilai tinggi dan mana permata yang nilainya biasa saja, karena mama suka mengoleksi perhiasan. Dan aku rasa kalung kamu ini harganya pasti mahal. Sepertinya ini dibuat khusus alias dipesan,"ujar Alva.
__ADS_1
***
Di perusahaan Bramantyo Group.
Hari itu seperti biasanya Alva dan Disha disibukkan dengan aktivitas di perusahaan Bramantyo Group.
"Dis, ruangan meeting sudah siap, dan para staf juga sudah hadir di sana,"ucap seorang karyawan kepada Disha.
"Oke. Apa Pak Riky sudah diberi tahu?"tanya Disha sambil merapikan berkas-berkas yang ada di mejanya.
"Sudah, Dis,"sahut karyawan itu.
"Oke, kalau begitu aku akan ke ruang meeting sekarang. Kamu standby di sini, ya?! Didalam, suamiku sedang rapat secara online, jadi yang akan memimpin rapat di ruang meeting adalah Pak Riky. Aku pergi!"ucap Disha sambil membawa beberapa berkas.
"Iya, Dis,"sahut karyawan itu.
Beberapa menit kemudian nampak Ratih datang bersama seorang gadis cantik yang berpakaian lumayan seksi.
"Nyonya,"sapa karyawan yang bersama Disha tadi yang duduk tidak jauh dari meja kerja Disha.
"Em, dimana Disha?"tanya Ratih saat melihat Disha tidak ada di meja kerjanya.
"Nyonya Disha sedang rapat dengan Pak Riky dan beberapa staf di ruang meeting, Nyonya,"jawab karyawan itu sopan.
"Apa putra ku ada di dalam?"tanya Ratih lagi.
"Ada Nyonya, tapi Pak Rendra sedang rapat online di dalam ruangannya,"ucap karyawan itu sesuai dengan apa yang dia ketahui dari Disha kemudian menatap gadis yang datang bersama Ratih.
"Baiklah, saya tidak akan menggangu Alva, tapi tidak apa-apa kan kalau saya menunggu di ruangan Alva?!"tanya Ratih.
"Iya, nyonya,"sahut karyawan itu.
Ratih kemudian masuk kedalam ruangan Alva tanpa mengetuk pintu ruangan Alva.
"𝐒𝐢𝐚𝐩𝐚 𝐠𝐚𝐝𝐢𝐬 𝐢𝐭𝐮? 𝐂𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢. 𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤𝐤𝐚𝐧 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚,𝐬𝐢𝐜𝐡!"batin karyawan itu.
...🌟"Keluarga tidak harus sedarah, karena terkadang orang yang tidak sedarah bisa lebih baik dari saudara sendiri. Saudara sendiri terkadang tidak mau menganggap apalagi mengakui bahwa kita saudara mereka saat kita tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
__ADS_1
Dukung author lewat like ,komen ,hadiah dan vote, ya?! Agar author tetap semangat buat menulis. Dan bagi yang sudah memberikan like, komen dan hadiah, author ucapkan terima kasih banyak.🙏🙏🙏🙏🙏 Dukungan kalian semua adalah semangat dan penghargaan buat author.🤗🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
To be continued