Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
238. Olahraga Sehat


__ADS_3

...❤️ Yang belum punya pasangan halal, harap menepi❤️...


"Kamu tidak bohong, kan?"tanya Disha seraya memicingkan matanya.


Alva menghela napas panjang, kemudian beranjak dari duduknya dan mengambil handphonenya,"Ini nomor telepon supir taksi online itu, aku akan menelponnya untuk memperjelas semuanya, benar apa tidak ceritaku tadi,"ucap Alva langsung memencet nomor telepon supir taksi online yang mengantarkan nya pulang tadi dan mengaktifkan mode loud speaker.


"Eh..i..ini sudah larut,"ucap Disha.


"Tidak apa, biar semuanya jelas,"ucap Alva bersamaan dengan suara seseorang dari ujung telepon.


"Halo, Tuan. Apa ada barang anda yang tertinggal di taksi saya?"tanya supir taksi itu.


"Maaf, sebelumnya, karena menelpon bapak larut malam begini,"ucap Alva yang sebenarnya tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, Tuan. Katakan saja, apa yang bisa saya bantu,"ucap sang supir taksi.


"Begini, istri saya mengira, saya mampir ke tempat lain karena pulang begitu terlambat,"ucap Alva membuat Disha membulatkan matanya," Bisa bapak ceritakan apa saja yang terjadi pada kita, semenjak kita bertemu di bandara tadi, dan jam berapa kejadian nya,"pinta Alva seraya melirik Disha yang jadi salah tingkah.


"Oh itu, saya akan menceritakannya secara singkat. Saat saya tiba, anda dipeluk dan dikejar waria di bandara pada pukul tujuh, lalu pukul delapan lewat sepuluh menit kita terjebak di jalan xx karena kecelakaan beruntun dan hampir tengah malam kita baru sampai dirumah, Tuan,"cerita supir taksi itu secara singkat.

__ADS_1


"Terimakasih banyak, Pak. Maaf menganggu bapak malam-malam begini,"ucap Alva, sekali lagi meminta maaf.


"Tidak apa-apa, Tuan,"sahut sang supir taksi, kemudian sambungan telepon pun diakhiri.


"Sekarang kamu sudah dengar kan, aku tidak berbohong,. Aroma parfum di pakaian ku dan juga lipstik yang menempel di kemejaku itu adalah milik waria di bandara tadi. Sekarang kita telepon Ferdi,"ujar Alva kemudian langsung menghubungi Ferdi, sedangkan Disha hanya diam karena merasa bersalah telah menuduh suaminya dengan asumsinya sendiri.


"Halo, Tuan. Ada apa Tuan menghubungi saya tengah malam begini? Tuan tidak akan mengajak saya bertanding seperti seminggu yang lalu, kan?"tanya Ferdi terdengar sedang mengatur napas.


"Bagaimana jika iya? Hey..kenapa napas mu seperti itu? Jangan bilang kamu sedang bercinta dengan istri mu?"tanya Alva karena mendengar Ferdi bicara dengan napas yang tidak teratur.


"Tuan, olah raga tengah malam itu tidak bagus untuk kesehatan jantung, apalagi Tuan mandi malam-malam seperti waktu itu. Lebih baik anda melakukan olah raga di rumah dengan Nyonya, itu lebih sehat, enak dan mengasikkan," ucap Ferdi tanpa menjawab pertanyaan dari Alva. membuat Disha merona karena malu. Ternyata semua tuduhannya pada Alva adalah salah.


"Oh, iya Tuan, saya lupa mengembalikan arloji Tuan, yang tertinggal saat kita bertanding seminggu yang lalu,"ucap Ferdi setelah teringat arloji milik Alva.


"Ah iya, besok saja kamu kembalikan padaku. Lanjutkan saja pekerjaan mu,"ucap Alva, kemudian langsung memutuskan sambungan telepon dan menatap Disha yang tertunduk.


"Sayang, kamu dengar sendiri kan, dari Ferdi? Aku tidak berbohong,"ucap Alva kemudian mengangkat dagu Disha dengan jari telunjuk dan jempolnya agar Disha menatapnya,"Nothing gonna change my love for you. You know how much I love you .You're my world, my heart, my soul. I can't live without you. Please, believe me! ( Tidak akan ada yang mengubah cintaku padamu. Kamu tahu betapa aku mencintaimu. Kau adalah duniaku, hatiku, jiwaku. Aku tak bisa hidup tanpa mu. Kumohon, percayalah padaku!)"ucap Alva menatap lekat manik mata Disha.


Perlahan Alva mendekatkan wajahnya pada wajah Disha kemudian memiringkan kepalanya dan sesaat kemudian bibirnya pun sudah menempel dengan bibir Disha, membuat Disha memejamkan matanya. Dengan lembut Alva melum matt bibir yang sudah selama seminggu ini dia rindukan. Tangan kanan Alva memegang tengkuk Disha untuk memperdalam ciumannya, sedang tangan kiri Alva memeluk pinggang Disha untuk merapatkan tubuh mereka. Tangan besar itupun mulai mengelus punggung Disha dengan lembut.

__ADS_1


Alva memberi kecupan, lum matan, sesapan, dan gigitan-gigitan kecil dibibir Disha, kemudian lidahnya menerobos masuk ke dalam mulut Disha, mengakses apapun yang ada didalam sana. Karena terbuai dengan apa yang dilakukan oleh Alva, tanpa sadar Disha pun membalas apa yang dilakukan oleh Alva. Suara decapan bibir pun terdengar di kamar itu.


Sesekali Alva menghentikan ciumannya agar mereka bisa mengambil napas. Kemudian mengulang ciuman mereka yang semakin terasa panas. Tangan Alva mulai bergerilya, menelusup ke dalam baju Disha, menyentuh setiap inchi tubuh Disha, hingga berhenti di dua buah gundukan. Dengan lembut Alva mengusap dan meremas dua buah bukit kembar itu secara bergantian membuat Disha tanpa sadar melenguh.


Helai demi helai kain yang menempel di tubuh mereka pun teronggok di lantai. Alva yang sudah lama menginginkan Disha pun tidak mampu menahan diri lagi. Rasa rindu yang membuncah dan kebutuhan biologisnya yang sudah lama tidak terpenuhi membuat Alva begitu berhasraaat pada Disha. Sedangkan Disha yang juga sudah sangat merindukan Alva pun tidak bisa menolak setiap sentuhan memabukkan yang diberikan oleh Alva yang membuat seluruh tubuhnya meremang.


Sebagai seorang suami, Alva begitu tahu, dimana saja titik-titik sensitif pada tubuh istrinya yang membuat istrinya itu menatapnya dengan sayu,"Ugh..Al.."ucap Disha saat alva dengan lihainya bermain di kedua bukit kembar Disha. Terlihat jelas di mata itu, jika Disha menginginkan yang lebih dari sebuah sentuhan. Alva yang hasraatnya sudah terbakar pun akhirnya menyatukan tubuh mereka. Memacu tubuhnya di atas tubuh Disha, membuat Disha meremas rambut tebal Alva saat rasa nikmat yang diberikan oleh Alva di bagian intinya itu terasa menjalar di seluruh tubuhnya.


'Al..ugh..."suara lenguhan Disha membuat Alva semakin membuat menggila. Sebagai seorang pria dewasa, Alva benar-benar sangat tersiksa karena menahan hasratnya selama satu Minggu ini. Dan saat ini, Alva benar-benar melepaskan apa yang ditahannya selama satu Minggu ini. Menikmati tubuh indah istrinya yang selalu membuatnya melayang karena rasa nikmat yang tidak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata.


"Sayang....ahh... nikmat sekali,"racau Alva, terus bergerak di atas tubuh Disha, kadang melum mat bibir Disha, kadang membuai kedua bukit kembar milik Disha, membuat Disha meracau di bawah kungkungan Alva yang terus bergerak di atas tubuhnya. Peluh pun membanjiri tubuh sepasang insan yang sedang mengejar kenikmatan duniawi itu, hingga akhirnya mereka merasakan sesuatu yang hangat menyembur dari bagian inti tubuh mereka, yang menandakan mereka telah mencapai puncak kenikmatan.


Alva menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Disha,"I love you. I can't live without you. (Aku mencintaimu. Aku tak bisa hidup tanpa mu),"ucap Alva menatap lekat mata Disha, kemudian mengecup bibir Disha beberapa kali. Perlahan Alva berbaring di samping Disha, mendekap erat tubuh Disha dalam pelukannya,, dibawah selimut tebal yang menutupi tubuh mereka yang polos.


...🌟"Tanpa kepercayaan, apalah arti sebuah hubungan."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❤️🌸...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2