Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
188. Bapak Galak


__ADS_3

Setelah hampir satu jam menempuh perjalanan, akhirnya Radeva menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah dua lantai yang tidak tergolong mewah tapi termasuk rumah yang bagus dan lumayan luas.Radeva turun dari mobilnya dan membuka pagar rumah itu, kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah itu.


Radeva turun dari mobil kemudian menggendong Icha menuju pintu utama rumah itu. Orang tua Icha yang mendengar suara pintu mobil yang di tutup di depan rumah mereka pun segera keluar bertepatan dengan Radeva yang sudah sampai di depan pintu itu.


"Selamat malam, Pak, Bu!"sapa Radeva.


"Icha! Ada apa dengan mu? Kenapa wajah mu? Dari mana saja kamu? Papa khawatir menunggu mu pulang, papa sudah mencari kamu kemana-mana. Kenapa kamu digendong pria ini? Kamu apakan anak saya?"tanya Pak Bagas dengan wajah khawatir saat melihat Icha tapi berubah menjadi garang saat melihat Radeva, tanpa menjawab sapaan dari Radeva.


"𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙟𝙖𝙝𝙞𝙩𝙖𝙣 𝙗𝙚𝙠𝙖𝙨 𝙤𝙥𝙚𝙧𝙖𝙨𝙞 𝙗𝙖𝙩𝙪 𝙜𝙞𝙣𝙟𝙖𝙡 𝙠𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙧𝙞𝙣𝙜, 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙪𝙗𝙞𝙖𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙞𝙠𝙪 𝙙𝙞 𝙜𝙚𝙣𝙙𝙤𝙣𝙜 𝙤𝙡𝙚𝙝 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙨𝙞𝙣𝙜,"batin Pak Bagas yang memang empat hari yang lalu baru selesai melakukan operasi karena penyakit batu ginjal yang dideritanya.


"Pa, suruh masuk dulu! Ayo, masuk dulu, Nak!"ujar Bu Bagas yang kasihan melihat Radeva sedang menggendong Icha.


"Makasih, Bu!"sahut Radeva kemudian mengikuti Bu Bagas masuk ke dalam rumah dan mendudukkan Icha di sofa ruang tamu.


"Kamu!"tunjuk pak Bagas pada Radeva,"Siapa kamu, dan kenapa bisa bersama putri saya? Kamu apakan putri saya? Mana nggak sopan lagi! Masa bertamu ke rumah orang larut malam hanya memakai singlet doang?! Nggak punya sopan santun!"ketus Pak Bagas dengan wajah galaknya.


"Pak, sabar dulu, Pak!"ucap ibu Icha seraya mengelus lengan Pak Bagas agar Pak Bagas bisa tenang. Pak Bagas memang sangat protektif pada anak gadisnya itu.


"Pa, aku tadi di culik oleh mantan pacar aku si Dery itu..."


'Brakk"Pak Bagas menggebrak meja yang terbuat dari kayu di depannya itu dan langsung berdiri. Radeva nampak terkejut dengan aksi pak Bagas itu. Sedangkan Bu Bagas dan Icha hanya terkejut sebentar karena sudah terbiasa dengan sifat Pak Bagas.


"Apa?! Berani sekali anak brengseek itu menculik kamu! Dimana dia sekarang, hah? Akan papa hajar dia!"sergah Pak Bagas nampak berang. Wajah yang nampak tegas dengan kumis yang menyerupai kumis Pak Raden dalam tokoh film si Unyil , badan nampak tegap dengan alis tebal dan tatapan mata yang tajam.


"𝙋𝙖𝙣𝙩𝙚𝙨𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙟𝙖 𝙧𝙪𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙖𝙢𝙪 𝙞𝙣𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙮𝙪, 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙟𝙖 𝙨𝙤𝙛𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙪𝙢𝙪𝙢𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙖𝙘𝙖. 𝙆𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙢𝙚𝙟𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙖𝙘𝙖, 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙟𝙖 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙥𝙖𝙥𝙖 𝙄𝙘𝙝𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝. 𝙏𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝘿𝙞𝙨𝙝𝙖, 𝙗𝙖𝙥𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙄𝙘𝙝𝙖 𝙜𝙖𝙡𝙖𝙠,"batin Radeva menahan senyumnya.


Sebenarnya Radeva sudah mencari informasi tentang Icha semenjak Disha merekomendasikan Icha sebagai calon pasangannya.Namun Radeva masih memikirkan cara untuk mendekati Icha. Dan kebetulan Radeva bertemu Icha di mall secara tidak sengaja dan malam ini juga tidak sengaja bertemu dengan Icha.


"Pa, tenang dulu! Dengar kan Icha bercerita dulu!"ucap Bu Bagas yang selalu sabar menghadapi suaminya yang pemarah itu.


"Cepat ceritakan!"titah Pak Bagas.

__ADS_1


"Begini, pa. Tadi pas aku ke warung, tiba-tiba Dery menculik ku bersama dua orang temannya. Aku di bawa ke sebuah gedung tua yang ada di daerah xx. Dia berusaha melecehkan aku bersama kedua temannya, pa...."


"Apa?! Berani sekali bocah itu ingin melecehkan kamu?"potong pak Bagas nampak sangat emosi , memotong kata-kata Icha.


"Pa, biarkan Icha menyelesaikan ceritanya dulu!"ujar Bu Bagas kembali menenangkan suaminya,"Lanjut kan ceritanya, Cha!"titah Bu Bagas.


"Aku berusaha melarikan diri dan saat aku melarikan diri aku hampir tertabrak mobil Tuan Radeva ini. Namun Tuan Radeva malah menolong ku dari tiga orang yang mengejar ku. Tuan Radeva berhasil membekuk dua orang teman Dery dan menyerahkan mereka ke polisi. Bahkan Tuan Radeva ini membantu aku membuat laporan ke kantor polisi. Tapi sayang, Dery berhasil melarikan diri,"sambung Icha.


"Maaf, saya salah sangka kepada kamu. Terimakasih, karena sudah menolong putri saya. Tapi kenapa kamu harus menggendong putri saya?"tanya Pak Bagas pada Radeva sudah tidak garang seperti tadi, merasa tidak enak karena sudah salah sangka pada Radeva.


"Ketika keluar dari kantor polisi, putri anda terpeleset dan jatuh hingga membuat kakinya terkilir. Dan sepertinya kakinya sekarang jadi bengkak,"jawab Radeva dengan tenang, seraya melihat pergelangan kaki Icha.


"Lalu kenapa anda tidak memakai baju?"tanya Pak Bagas yang merasa Radeva tidak sopan, bepergian dengan hanya memakai singlet.


"Kemeja saya saya berikan pada putri anda karena bajunya sudah banyak yang sobek,"jawab Radeva jujur.


Pak Bagas menghela nafas panjang menatap kemeja yang dipakai putrinya, kemudian kembali menatap Radeva.


"Maaf kan jika saya tadi bersikap kasar pada Nak Radeva. Saya sudah mencari Icha kemana-mana tapi tidak ketemu. Saya tadi sangat khawatir pada Icha, apalagi Icha pulang dengan keadaan yang seperti ini,"ucap pak Bagas jujur dan nadanya sudah menjadi lembut, bahkan tidak menggunakan kata anda lagi.


"Sekali lagi saya minta maaf dan terimakasih karena Nak Radeva sudah mau menolong putri kami dan mengantarnya pulang," ucap Pak Bagas sopan.


"Sama-sama, Pak. Bukankah sudah merupakan kewajiban kita sebagai sesama manusia untuk saling tolong menolong,"sahut Radeva.


"Itu memang benar, Nak. Tapi tidak semua orang perduli dan mau menolong orang lain. Entah apa yang akan terjadi pada putri kami jika tidak ada nak Radeva ini,"sahut Bu Bagas.


"Yang penting sekarang tidak terjadi hal-hal yang bapak dan ibu khawatirkan. Ya walaupun Icha sekarang jadi terluka seperti ini,"sahut Radeva menatap Icha yang berantakan dengan beberapa luka di wajahnya dan pergelangan kakinya.


"Kalau di izinkan, saya ingin membantu mengurut kaki Icha yang terkilir,"sambung Radeva menawarkan bantuan.


"Nak Radeva bisa mengurutnya?"tanya Bu Bagas ramah.

__ADS_1


"Kalau terkilir bisa, Bu. Tapi saya membutuhkan minyak urut,"sahut Radeva.


"Oh ya, sebentar, ibu akan mengambilkannya,"sahut Bu Bagas, lalu segera beranjak dari duduknya.Tak lama kemudian, Bu Bagas sudah kembali membawa minyak urut.


"Ini minyak nya, Nak!"ucap Bu Bagas seraya menyerahkan minyak urut pada Radeva.


Radeva menerima minyak yang diulurkan Bu Bagas, kemudian mengangkat kaki Icha dan menaikkan nya ke atas pahanya. Perlahan Radeva mengurut kaki Icha.


"𝙔𝙖 𝙖𝙢𝙥𝙪𝙣𝙣.. 𝙜𝙖𝙣𝙩𝙚𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙚𝙩 𝙨𝙞𝙘𝙝! 𝘼𝙣𝙙𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙙𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙟𝙤𝙙𝙤𝙝𝙠𝙪, 𝙗𝙚𝙩𝙖𝙥𝙖 𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪. 𝙐𝙙𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣, 𝙗𝙖𝙞𝙠, 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙚𝙢𝙗𝙪𝙩, 𝙧𝙖𝙢𝙖𝙝, 𝙙𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙗𝙪𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙩𝙪....𝙞𝙞𝙝𝙝.. 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙚𝙩 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙚𝙡𝙪𝙠,"batin Icha yang jadi gemes dengan Radeva hingga tidak merasakan sakit di tubuhnya ataupun di kakinya yang sedang diurut Radeva.


"Rileks kan kaki kamu, ya? Saya akan mencoba untuk membuatnya lebih baik,"ucap Radeva menatap Icha.


"Iya,"sahut Icha dengan senyum diwajahnya menatap wajah tampan di depan matanya.


Radeva kembali mengurut kaki Icha, kemudian memutar-mutar nya perlahan hingga..."Krek"


"Akkhh..!"pekik Icha saat Radeva berusaha mengembalikan urat kaki Icha pada posisi awal.


"Coba gerakan! Semoga saja sakitnya berkurang,"ucap Radeva seraya menurunkan kaki Icha dari pahanya.


Icha mencoba menggerakkan kakinya, dan senyum pun terukir di bibirnya saat merasakan kakinya sudah tidak sesakit tadi. Tapi Icha merasa sakit saat tersenyum karena bibirnya yang pecah di tampar oleh Dery tadi.


"Terimakasih, Tuan! Rasanya sudah tidak sesakit tadi,"ucap Icha.


"Panggil saja kakak, jangan Tuan!"ucap Radeva tersenyum tipis.


"Iya, kak,"ucap Icha tersenyum dengan wajah memerah karena merasa senang sekaligus malu.


"Karena sudah larut malam, saya permisi Bu, Pak!"pamit Radeva.


"Oh iya, Nak. Sekali lagi bapak ucapkan terimakasih!"ucap Pak Bagas tulus.

__ADS_1


"Sama-sama, Pak,"sahut Radeva kemudian meninggalkan rumah pak Bagas.


To be continued


__ADS_2