Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
69. Rahasia Tentang Ratih


__ADS_3

Di ruang kerja Adiguna.


"Sandy, bagaimana saham saya yang ada di Bramantyo Group?"'tanya Adiguna pada orang kepercayaannya.


"Saya sudah menarik seluruh saham yang anda miliki di Bramantyo Group, Tuan,"jawab Sandy.


"Bagus, mulai besok mereka akan kehilangan pemegang saham yang lain kemudian perusahaan mereka lama-kelamaan akan bangkrut. Dan mereka akan mengemis-ngemis untuk meminta bantuan ku,"ucap Adiguna dengan senyum kemenangan.


"Tapi Tuan..."ucap Sandy menggantung.


"Ada apa?"tanya Adiguna menaikkan sebelah alisnya.


"Sepertinya harapan Tuan itu tidak akan terjadi,"ucap Sandy dengan suara pelan dan kepala yang tertunduk.


"Apa maksudmu?"tanya Adiguna menaikkan suaranya.


"Ternyata setelah anda menarik saham anda, langsung ada yang menanam saham di Bramantyo Group. Bahkan nilainya lebih besar dari saham yang anda tanamkan. Dan yang paling mengejutkan adalah, Tuan Rendra sebelumnya sudah menginformasikan kepada para pemegang saham bahwa akan ada kemungkinan anda akan menarik saham anda,"


"Namun Tuan Rendra mengatakan pada para pemegang saham agar tetap tenang karena sebegitu anda menarik saham anda, Tuan Rendra menjamin akan ada yang menanam modal lebih besar dari anda dan nyatanya itu benar,"jelas Sandy panjang lebar dengan kepala masih menunduk.


"Jadi dia sudah mengantisipasi semua ini dari awal?"tanya Adiguna dengan raut wajah kecewa.


"Iya Tuan,"jawab Sandy singkat.


"Siapa yang sudah menanam saham lebih besar dari ku di Bramantyo Group? Siapa orang itu?"tanya Adiguna menatap serius kepada Sandy.


"Ayudisha Alvarendra, istri dari Tuan Rendra yang teryata sudah dinikahi Tuan Rendra delapan bulan sebelum Tuan Rendra menikahi Nona Anjani,"jelas Sandy.


"Apa?! Maksud mu, putriku adalah istri kedua Alva?"tanya Adiguna dengan suara yang menggelar di ruangan itu.


"Iya Tuan, Ayudisha adalah istri pertama Tuan Rendra yang sah dimata hukum dan agama. Bahkan sekarang mereka sedang berbahagia atas kelahiran putra pertama mereka,"jelas Sandy lagi.


"Brakk " dengan penuh emosi, Adiguna menggebrak meja kerjanya.


"Kurang ajar!! Alva sialan.!!"pekik Adiguna.


"Saya sudah memperingatkan anda sejak awal agar tidak menuruti permintaan Nona Anjani untuk menikah dengan Tuan Rendra, tapi anda tidak percaya,"ujar Sandy.


"Kamu tidak setuju Anjani menikah dengan Alva bukan karena kamu tahu tentang semua ini kan? Tapi karena diam-diam kamu menaruh hati pada putriku, iya kan?!"todong Adiguna kepada Sandy.


Selama ini Adiguna sering memergoki Sandy mencuri pandang pada Anjani bahkan Sandy menolak semua perempuan yang mendekatinya. Sandy juga suka mencari kesempatan agar bisa bersama dengan Anjani. Karena itulah Adiguna menduga bahwa Sandy menyukai Anjani.


"Ma...mana mungkin saya berani, Tuan," ucap Sandy gugup.


"Cari cara agar aku bisa membalaskan sakit hati putriku,"ucap Adiguna mengalihkan pembicaraan.


"Itu akan sulit, Tuan,"sahut Sandy.


"Kamu belum mengerjakan tapi sudah pesimis,"cibir Adiguna.

__ADS_1


"Bukan begitu, Tuan. Masalahnya saya baru mengetahui jika ternyata istri Tuan Rendra adalah pemegang saham terbesar di perusahaan anda juga, Tuan,"jelas Sandy.


"Apa?! Kamu serius ?!"tanya Adiguna tidak percaya.


"Apa anda lupa jika pemegang saham terbesar di perusahaan anda tujuh bulan terakhir ini bernama Ayudisha Putri? Itu adalah nama lengkap dari istri Tuan Rendra,"jelas Sandy.


"Arghh..sial.!! Siall !!"pekik Adiguna, menyunggar rambutnya kasar.


***


Di rumah sakit.


"Al, kapan kita pulang? Aku tidak suka berada di sini, Al,"keluh Disha.


"Sabar, sayang! Dokter belum mengizinkan kamu pulang,"ucap Alva lembut seraya membelai rambut Disha.


"Aku merasa sudah sehat, Al,"rengek Disha.


"Itu kan menurut kamu, bukan menurut dokter sayang,"sanggah Alva.


"Oh iya, bagaimana keadaan Ferdi dan supir pribadiku, Al?"tanya Disha saat teringat dua orang yang mengalami kecelakaan bersamanya.


"Mereka selamat dan baik-baik saja, sayang,"


jawab Alva.


"Lalu siapa yang menabrak mobil kami,Al?"


"Lalu bagaimana keadaan orang itu? Apa dia juga baik-baik saja?"


"Kenapa kamu memperdulikan dia, sayang? Dia hampir saja membuat aku kehilangan kamu dan putra kita,"ucap Alva tidak suka.


"Aku hanya penasaran saja, Al,"ucap Disha lembut.


"Dertt... dertt.. dertt..."suara handphone Alva diatas nakas. Alva meraih handphonenya dan melihat siapa yang menghubunginya kemudian menerima panggilan itu.


"Halo, pa,"sahut Alva.


"Papa tunggu kamu di rumah. Papa ingin menanyakan beberapa hal tentang perusahaan kita di luar negeri,"ucap Bramantyo to the point.


"Iya, nanti aku akan pulang,"sahut Alva dan Bramantyo pun segera mengakhiri sambungan telepon.


"Ada apa, Al?"tanya Disha penasaran.


"Papa ingin menanyakan beberapa hal tentang perusahaan kami di luar negeri,"jelas Alva.


"Ohh.."sahut Disha.


"Apa kamu menginginkan sesuatu?"

__ADS_1


"Tidak, kenapa, Al?"


"Jika tidak aku akan pulang ke rumah sekarang saja agar saat kembali ke sini tidak terlalu malam. Jadi jika kamu menginginkan sesuatu aku akan membelikannya sekarang,"jelas Alva.


"Untuk sekarang tidak ada, Al. Tapi nanti jika aku menginginkan sesuatu, aku akan meminta tolong pada anak buah Ferdi,"sahut Disha.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi sekarang,"pamit Alva kemudian mengecup kening dan bibir Disha. Setelah itu Alva pun segera pulang ke rumah orang tuanya.


Setelah berkendara selama satu jam akhirnya Alva tiba di rumah kedua orang tuanya yang terlihat megah.


"Tuan Muda,"sapa seorang Art kepada Alva.


"Dimana papa dan mama saya, Bik?"tanya Alva.


"Tadi baru saja masuk ke dalam kamar, Tuan Muda,"jawab Art itu.


"Oh ya sudah, saya akan ke kamar kedua orang tua saya dulu ya ,Bik?!"ucap Alva.


"Iya, silahkan Tuan Muda,"jawab Art tersebut.


Alva pun berjalan menuju kamar kedua orang tuanya dan berniat mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya yang sedikit terbuka itu.


"Pa, apa tidak sebaiknya Alva beserta anak dan istrinya tinggal di rumah ini, pa?"tanya Ratih yang membuat Alva mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar itu dan sementara memilih diam untuk mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya.


"Papa belum bisa menerima Disha untuk tinggal di rumah ini sebelum papa tahu pasti siapa Disha,"sahut Bramantyo.


"Apalagi yang ingin papa ketahui tentang Disha? Bukankah Disha saat ini adalah pemegang saham terbesar di perusahaan kita? Itu berarti Disha bukan orang dari kalangan menengah kebawah, pa!"protes Ratih.


"Tapi papa penasaran dengan identitasnya dan juga keluarganya yang sengaja ditutupi, ma,"sahut Bramantyo.


"Itu tidak penting pa, yang penting adalah Alva bahagia bersama Disha. Mama menyesal kemarin menuruti papa untuk memaksa Alva menikah dengan Anjani hingga membuat Alva harus menyembunyikan Disha dari kita,"ujar Ratih.


"Itu salah satunya yang membuat papa ragu. Jika Alva menikahi Disha dengan kekayaan yang hampir sama dengan kita, kenapa Alva menyembunyikan Disha begitu lama dari kita?!"jelas Bramantyo.


"Itu karena mama tidak memberikan Alva kesempatan untuk berbicara,pa,"ucap Ratih.


"Pokoknya papa belum mau menerima Disha di rumah ini sebelum papa tahu siapa sesungguhnya Disha,"ucap Bramantyo keras kepala.


"Pa, sudah cukup papa mengatur hidup Alva selama ini. Biarkan kali ini dia menjalani apa yang diinginkan nya, pa," ucap Ratih merasa kesal.


"Kenapa mama ngeyel sekali ingin menerima Disha di rumah ini, sich?"ucap Bramantyo kesal.


"Selama ini mama tidak pernah meminta apapun pada papa. Sekali ini, tolong penuhi permintaan mama! Izinkan Alva beserta anak dan istrinya untuk tinggal bersama kita di sini. Mama memang bukan ibu kandung Alva, tapi mama tidak akan membiarkan Alva tidak bahagia,"ujar Ratih.


"Apa maksud mama?!"tanya Alva yang tiba-tiba membuka pintu kamar itu.


...🌟"Wanita yang pantas di panggil ibu adalah wanita yang menyayangi kita setulus hati. Walaupun bukan dari rahimnya kita terlahir di dunia ini."🌟...


..."Nana 17 Oktober "...

__ADS_1


...π‘Ίπ’†π’π’‚π’Žπ’‚π’• π‘―π’‚π’“π’Š π‘Ήπ’‚π’šπ’‚ 𝑰𝒅𝒖𝒍 𝑨𝒅𝒉𝒂 πŸπŸ’πŸ’πŸ‘ 𝑯. 𝑻𝒂𝒒𝒂𝒃𝒃𝒂𝒍𝒂𝒍𝒍𝒂𝒉𝒖 π‘΄π’Šπ’π’Œπ’–π’Ž π‘΄π’Šπ’π’π’‚ π‘Ύπ’‚π’Žπ’Šπ’π’Œπ’–π’Ž.π‘Ίπ’†π’Žπ’π’ˆπ’‚ π’Œπ’†π’Šπ’Œπ’‰π’π’‚π’”π’‚π’ 𝒅𝒂𝒏 π’Œπ’†π’“π’†π’π’…π’‚π’‰π’‚π’ π’‰π’‚π’•π’Š 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 π’Žπ’†π’π’šπ’†π’“π’•π’‚π’Š π’Œπ’Šπ’•π’‚ π’…π’Š π’‰π’‚π’“π’Š π’šπ’‚π’π’ˆ 𝒑𝒆𝒏𝒖𝒉 π’Žπ’‚π’Œπ’π’‚ π’Šπ’π’Š.π‘¨π’‚π’Žπ’Šπ’Šπ’....


To be continued


__ADS_2