
"Bu, silahkan masuk! Majikan saya mau menemui ibu,"kata security itu kemudian membuka pintu yang tidak terlalu lebar di samping pos penjagaan.
"Terimakasih, Pak,"ucap ibu Sandy dengan wajah yang lega sekaligus takut, cemas dan juga khawatir dengan apa yang akan terjadi setelah dia mengakui segala kesalahannya. Wanita itu kemudian berjalan menuju pintu utama rumah itu dengan jantung yang berdebar-debar.
"Mari Bu, ikut saya. Tuan Darmawan sudah menunggu anda di ruang tamu," ucap seorang Art yang sudah menunggu wanita itu di depan pintu.
"Terimakasih,"ucap ibu Sandy kemudian mengikuti Art itu.
Darmawan menatap wanita yang memasuki ruangan tamu itu. Mencoba mengenali dan mengingat wanita itu tapi Darmawan merasa benar-benar tidak mengenal wanita itu.
"Silahkan duduk!"ucap Darmawan pada wanita itu.
"Terimakasih, Tuan,"ucap wanita itu kemudian duduk dengan jantung yang berdetak kencang. Jemari tangan nya saling bertautan, nampak tremor dan berkeringat dingin.
"Maaf, tapi apa sebelumnya kita pernah bertemu?"tanya Darmawan sopan.
"Tidak Tuan. Sebelumnya kita belum pernah bertemu. Tapi apa benar anda Tuan Darmawan pemilik HD Group?" jawab ibu Sandy sekaligus bertanya.
"Iya, benar. Katanya ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan kepada saya tentang adik saya, apa itu benar?"tanya Sandy.
"IyaTuan, maafkan saya! Saya telah merahasiakan hal ini bertahun-tahun. Saya bersalah, saya egois, maafkan saya Tuan!"ucap ibu Sandy yang tiba-tiba berlutut di depan Darmawan.
"Eh..kenapa ibu berlutut seperti ini? Bangun, Bu! Dan tolong katakan pada saya, apa sebenarnya yang ingin ibu sampaikan kepada saya tentang almarhum adik saya!"pinta Darmawan kemudian membantu wanita tua itu untuk duduk.
"Adik anda sudah meninggal?"tanya ibu Sandy nampak terkejut.
"Iya. Adik dan adik ipar saya meninggal dalam sebuah kecelakaan 25 tahun yang lalu,"sahut Darmawan menghela nafas panjang,"Jadi apa yang ingin ibu sampaikan tentang almarhum adik saya itu?"sambung Darmawan.
"Kejadian ini terjadi 30 tahun yang lalu," ucap ibu Sandy kemudian mulai bercerita.
30 tahun yang lalu.
__ADS_1
Ibu Sandy yang sedang hamil besar pergi ke rumah sakit dengan keadaan yang sudah mau melahirkan. Dokter segara menangani ibu Sandy dan beberapa jam kemudian ibu Sandy sudah berada di ruang rawat.
"Dokter, mana anak saya, dok?"tanya ibu Sandy saat baru sadar dari obat bius.
"Maaf, putra ibu tidak dapat diselamatkan,"ucap dokter itu nampak tidak tega dengan keadaan ibu Sandy.Ibu Sandy menangis tanpa suara, air matanya mengalir begitu deras.
"Dok, rahim saya telah diangkat karena tumor, saya sudah tidak bisa mengandung lagi dan sekarang putra saya meninggal. Saya sudah tidak memiliki apa-apa lagi, hidup saya sudah hancur, dok!"ucap ibu Sandy menangis sesenggukan.
"Yang sabar ya, Bu!"ucap dokter itu.
"Apalagi yang bisa saya lakukan selain menerima kenyataan pahit ini, dok?"ucap ibu Sandy sesenggukan.
"Suami ibu belum tahu keadaan ibu?" tanya dokter itu.
Ibu Sandy menggeleng,"Suami saya kerja diluar kota sebagai mandor bangunan. Mungkin seminggu lagi suami saya baru pulang,"sahut ibu Sandy.
"Ya sudah, saya tinggal dulu, ya? Saya harus memeriksa pasien yang lain,"ucap dokter itu dengan suara lembut dan ibu Sandy pun merespon nya dengan menganggukkan kepalanya.
"Kamu tunggu di sini, aku akan mengambil bayi kita agar kita bisa menukarnya dengan bayi Darmawan ini,"kalimat itulah yang diucapkan seorang pria kepada seorang wanita yang sedang menggendong bayi membuat ibu Sandy langsung bersembunyi. Beberapa menit kemudian pria itu kembali dengan membawa seorang bayi dalam gendongannya.
"Cepat kamu tukarkan bayi kakak mu dengan bayi kita,"ucap pria tadi kepada sang wanita.
Wanita itu meletakkan bayi yang sedang digendong nya ke lantai kemudian menerima bayi yang disodorkan oleh pria didepannya.
Ibu Sandy yang mengintip tidak sengaja melihat tato kupu-kupu di lengan kiri wanita itu, saat wanita itu mengulurkan tangannya menerima bayi itu.
"Cepat taruh anak kita di box bayi kakak mu! Aku akan membuang bayi Darmawan ini agar anak kita menjadi pewaris HD Group,"ucap pria itu menyeringai dan dianggukki oleh wanita bertato kupu-kupu kemudian kedua orang itu pun berpisah dengan sang pria yang menggendong bayi yang tadi diletakkan di lantai.
Tidak tahu kenapa ibu Sandy mengikuti pria yang katanya hendak membuang bayi itu. Pria itu membawa bayi itu ke belakang area rumah sakit yang sangat sepi karena hari sudah malam dan menggali tanah kemudian mengubur bayi itu membuat ibu Sandy sangat terkejut.
Setelah pria itu pergi dan tidak terlihat lagi, ibu Sandy bergegas keluar dari persembunyiannya, menghampiri tempat pria tadi mengubur bayi malang itu dan seperti orang kesurupan ibu Sandy menggali tanah itu dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Bangun, nak! Bangun!"ucap ibu Sandy setelah berhasil mengeluarkan bayi itu dari dalam tanah, dengan perasaan takut jika bayi itu meninggal. Ibu Sandy membersihkan bayi dalam gendongannya dari tanah kemudian menggoncang- ngoncang bayi itu agar terbangun bahkan memberikan nafas buatan untuk bayi itu dengan tubuh yang bergetar.
"Oke..oke..oek..."bayi itu tiba-tiba menangis.
"Kamu selamat, Nak! Kamu selamat!" ucap ibu Sandy dengan bercucuran air mata bahagia.
Sejak saat itu ibu Sandy merawat Sandy dengan penuh kasih sayang seperti anaknya sendiri dan memberikan asi pada Sandy. Bahkan sampai suaminya meninggal dunia, ibu Sandy tidak memberi tahu pada suaminya bahwa Sandy bukanlah anak kandung mereka.
***
"Begitulah ceritanya Tuan. Maaf karena keegoisan saya. Saya tidak memberitahu tentang apa yang saya ketahui. Saya tidak tahu apakah Sandy itu putra anda atau bukan. Namun jika Sandy adalah putra kandung anda, saya akan mengembalikan nya pada anda,"ucap ibu Sandy.
Darmawan nampak tertegun, tidak bisa berkata apa-apa karena shock mendengar cerita ibu Sandy. Darmawan tidak menyangka jika ada kejadian seperti itu, yang berarti Hery bukanlah putranya, melainkan keponakannya.
"Umur saya sudah tidak lama lagi, saya tidak ingin membawa rahasia ini sampai mati.Selama ini saya dan suami saya sangat bahagia memiliki putra seperti Sandy. Jika benar dia putra anda, saya mohon maafkan saya,"lanjut ibu Sandy berurai air mata.
"Kenapa ibu harus meminta maaf pada saya? Ibu telah berjasa menyelamatkan bayi yang hampir saja meninggal. Jika benar anak yang ibu rawat selama ini adalah putra saya, saya sangat berterima kasih pada ibu,"ucap Darmawan.
"Be.. benarkah Tuan tidak membenci saya karena menyembunyikan hal ini selama 30 tahun?"tanya ibu Sandy memberanikan diri menatap Darmawan seraya menghapus air matanya.
"Iya, jika tidak ada ibu bayi itu pasti sudah meninggal. Bolehkah saya bertemu dengan anak yang ibu rawat selama ini?" tanya Darmawan.
"Iya.Biasanya Sandy pulang pukul lima sore, Tuan,"ucap ibu Sandy seraya melirik jam yang menempel di dinding ruang tamu Darmawan yang menunjukkan pukul empat sore.
"Baiklah, saya akan mengantarkan ibu pulang agar saya bisa bertemu dengan anak itu,"ucap Darmawan.
...🌟"Jika ingin hati mu tenang, maka jangan pernah menyembunyikan kebenaran, walaupun kenyataannya menyakitkan."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
To be continued
__ADS_1