
Alva berjalan sambil menelpon kliennya hingga saat berada di depan kamar rawat Disha, Ferdi menghampiri Alva.
"Iya, Tuan. Anda bisa mengirimnya ke email saya,"ucap Alva sambil menempelkan handphone nya di telinganya.
"Tuan, ada teman....."ucapan Ferdi terpotong saat Alva meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sebagai isyarat agar Ferdi diam.
"Iya, Tuan. Anda tidak perlu khawatir,"ucap Alva masih bicara dengan seseorang dalam sambungan telepon.
"Tapi, Tuan....."ucap Ferdi kembali terpotong saat Alva memelototi Ferdi dan menyingkirkan Ferdi dari pintu, karena menghalangi Alva untuk masuk hingga...
"Ceklek"
"Oke.,"ucap Alva mengakhiri sambungan telepon,"Sayang..."Alva menggantung kata-katanya saat melihat Yessie, Icha dan Disha menatapnya. Tangannya yang hampir menjauhkan handphone nya dari telinganya kembali di tempelkannya di telinganya. Wajah yang sempat terlihat terkejut langsung disembunyikan nya dengan memasang wajah datarnya.
"Iya, sayang. Sudah dulu, ya?!"lanjut Alva seolah - olah masih dan sedang menelepon, istrinya. Padahal saat Alva mengatakan 'Oke' tadi, kliennya langsung memutuskan sambungan telepon dan Alva baru akan menjauhkan handphonenya dari telinganya saat dia mengatakan kata 'sayang' namun terkejut saat melihat Yessie dan Icha ada di dalam ruangan Disha.
"𝐔𝐧𝐭𝐮𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐮𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐧𝐝𝐩𝐡𝐨𝐧𝐞 𝐤𝐮 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐭𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠𝐚𝐤𝐮. 𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤, 𝐝𝐮𝐚 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 𝐜𝐮𝐫𝐢𝐠𝐚. 𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐢𝐧𝐢, 𝐅𝐞𝐫𝐝𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐡𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦,"batin Alva.
"Disha, bagaimana keadaan kamu?"tanya Alva berpura-pura menjenguk Disha dihadapan Yessie dan Icha.
"Sudah lebih baik,"sahut Disha.
"𝐇𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐞𝐭𝐚𝐡𝐮𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥 𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠. 𝐔𝐧𝐭𝐮𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐚 𝐥𝐚𝐧𝐠𝐬𝐮𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐭𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐥𝐞𝐩𝐨𝐧. 𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐚𝐤𝐭𝐢𝐧𝐠𝐧𝐲𝐚. 𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐤𝐭𝐨𝐫 𝐬𝐚𝐣𝐚?"batin Disha.
"Ini, saya membawa bakso dan es kelapa muda untuk kamu. Semoga cepat sembuh,"ucap Alva menyodorkan kantor plastik yang dibawanya pada Disha.
Saat Alva dalam perjalanan ke rumah sakit, Disha meminta Alva untuk membelikannya bakso dan es kelapa muda.
"Terimakasih,"ucap Disha.
"Kalau begitu saya permisi,"ucap Alva lalu segera keluar dari ruangan rawat Disha dan melihat Ferdi.
"Tuan..."ucapan Ferdi kembali dipotong Alva.
"Beritahu saya jika teman-teman Disha sudah pergi,"ucap Alva.
"Baik, Tuan,"ucap Ferdi.
"𝐔𝐧𝐭𝐮𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐣𝐚 , 𝐓𝐮𝐚𝐧 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐦𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐤𝐞𝐣𝐚𝐝𝐢𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐝𝐢,"batin Ferdi.
Alva tidak bisa memarahi Ferdi atas kejadian tadi, karena tadi Ferdi sudah menghalangi Alva untuk masuk tapi tidak dihiraukan oleh Alva.
Sementara di dalam ruangan rawat Disha. Disha nampak antusias membuka kantong plastik yang diberikan Alva tadi.
__ADS_1
"Wahh..aku sudah kepengen banget makan bakso sama es kelapa muda,"ucap Disha.
"Sini, biar aku masukkan ke dalam mangkuk, Dis,"ucap Yessie mengambil alih kantong plastik yang dipegang oleh Disha.
"Terimakasih, Yes,"ucap Disha.
"Pak, Rendra mau menjenguk kamu apa cuma mau nganterin makanan sich, Dis? Habis ngasih makanan langsung pergi. Lagian aneh nggak sich? Masa membesuk orang sakit kok bawa bakso sama es kelapa muda?"tanya Icha yang merasa aneh dengan sikap Alva.
"Dia mungkin ingat makanan kesukaan aku. Kami kan sering pergi dan makan bersama,"sahut Disha.
"Iya tapi aneh aja Dis, membesuk orang sakit kok bawa makanan kayak gitu. Mana cuma sebentar terus juga cuma ngomong beberapa patah kata lagi," ujar Icha.
"Sudah...nggak usah dipikirin, orangnya emang gitu, irit bicara,"terang Disha.
"Mungkin dia nggak nyaman. Soalnya di ruangan ini kan perempuan semua. Btw aku sangat terkejut saat dia bicara dengan istrinya. Nampak kaku dan datar dengan orang lain tapi mesra banget manggil istri dengan sebutan sayang,"sela Yessie.
"Iya ya. So sweet banget. Eh.. jadi bener, Pak Rendra yang nganter kamu ke rumah sakit, Dis?"tanya Icha.
"Iya,"sahut Disha singkat.
"Suami kamu nggak cemburu sama Pak Rendra, Dis?"tanya Icha lagi.
"Suamiku tidak akan menghalangi aku bergaul dengan pria asal masih dalam batas normal dan wajar,"sahut Disha.
"Ini, Dis, makanan kamu,"ucap Yessie sambil meletakkan sebuah meja kecil yang telah ada semangkuk bakso dan segelas es kelapa muda diatas meja kecil tersebut di depan Disha.
"Makasih, Yes,"ucap Disha sambil tersenyum kepada Yessie.
"Iya,"sahut Yessie balas tersenyum.
"Dis, apa benar beberapa hari yang lalu mantan pacar kamu si Hery itu nyamperin kamu?"tanya Icha.
"Iya,"sahut Disha kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Dia masih saja mengejar-ngejar kamu, Dis?"tanya Yessie.
"Dari dulu dia memang seperti itu.Tidak bosan mengejar aku. Aku sampai jengah dibuatnya. Karena itu aku dulu terpaksa nerima dia jadi pacar aku,"jawab Disha sambil mengunyah baksonya.
"Maksud kamu, kamu nggak pernah cinta sama si Hery itu?"tanya Icha.
"Nggak,"sahut Disha singkat.
"Ada ya, orang kayak gitu?! Udah kayak cowok nggak laku aja,"ujar Icha.
__ADS_1
"Iya ya, percuma tampan kalau profesinya jadi pebinor. Kayak nggak ada perempuan lain saja di dunia ini selain Disha. Udah punya suami juga masih dikejar-kejar," ujar Yessie.
" Iya, padahal kan ada yang kayak kamu yang masih jomblo pakek akut lagi, ngapain ngejar-ngejar istri orang," timpal Icha.
"Eh, jangan sembarangan ya?! Lebih baik jadi jomblo akut dari pada jadi pebinor atau pelakor,"ucap Yessie.
"Eh, sorry jangan marah ya?!"ucap Icha sambil nyengir.
"Aku sudah biasa sama mulut kamu yang nggak ada akhlak itu,"cibir Yessie.
"Yahh.. kalian ini jarang sekali sependapat, tapi bisa segitu lamanya jadi sahabat. Herman dech!!" sahut Disha yang dari tadi sibuk dengan makanannya.
***
Di perusahaan Bramantyo Group. Riky sedang sibuk dengan laptopnya, duduk di sofa dengan laptop diatas meja dalam ruangan Alva.
"Rik, file yang aku kirimkan itu harus segera selesai. Nanti malam aku hanya akan menemani istriku dan aku tidak mau disibukkan dengan pekerjaan.
"Iya, Tuan. Memangnya kapan Nyonya keluar dari rumah sakit Tuan?"tanya Riky tanpa menoleh pada Alva, tetap fokus pada laptopnya.
"Besok sore. Aku mau ke toilet dulu,"ucap Alva.
"Gara-gara Nyonya sakit, aku harus mengerjakan pekerjaan Nyonya. Semoga saja Nyonya cepat sembuh,"gumam Riky tangannya meraih minuman di sebelah kanannya tapi matanya fokus pada laptopnya.
"Yahh...tumpah dech!!"gumam Riky yang tidak sengaja menumpahkan minumannya yang masih sisa separuh.
Akhirnya Riky tidak jadi minum dan melanjutkan pekerjaannya. Beberapa menit kemudian Alva sudah kembali dari toilet bersamaan dengan Riky yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah belum Rik,?"tanya Alva
"Sudah, Tuan. Baru saja selesai. Ini, Tuan bisa melihatnya,"ucap Riky.
Alva pun berjalan mendekati Riky yang duduk di sofa dengan laptop-nya. Namun tiba-tiba Alva terpeleset minuman Riky yang tumpah di lantai dan belum dibersihkan.
"Ahkk..!!"pekik Alva.
"Bugh" tubuh Alva terjatuh menimpa tubuh Riky bersamaan dengan suara pintu yang terbuka.
"Ceklek "suara pintu terbuka membuat Riky dan Alva spontan menoleh, masih dalam posisi Alva menindih tubuh Riky.
"Astaga..!!! Apa yang kalian lakukan?!"
To be continued
__ADS_1