
Dua pasang suami-istri itu menatap mobil Radeva yang sudah menjauh. Mereka kemudian berjalan menuju mobil mereka yang ada di parkiran.
"Rik, kami akan menjenguk Ferdi di rumah sakit, apa kamu mau ikut?"tanya Alva menoleh pada Riky yang berjalan bersama Yessie, di belakangnya dan Disha.
"Kebetulan sekali, Tuan. Kami memang ingin menjenguk Ferdi,"sahut Riky.
"Baiklah, kita barengan aja ke rumah sakit sekarang,"ajak Alva.
"Iya, Tuan,"sahut Riky.
Akhirnya mereka pun pergi ke rumah sakit tempat Ferdi dirawat menggunakan mobil masing-masing. Setelah menempuh hampir satu jam perjalanan dengan drama kemacetan lalulintas, akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit tempat Ferdi dirawat.
Riky mengetuk pintu sebuah ruangan VIP, dan tak berselang lama, seorang wanita cantik yang nampaknya sedang mengandung pun membukakan pintu ruangan itu.
"Maaf, kami ingin menjenguk Ferdi,"ucap Riky sopan.
"Oh, mari! Silahkan masuk!"ucap perempuan itu membuka lebar pintu ruangan itu dengan senyuman ramah.
Ferdi yang mendengar suara Riky pun langsung menoleh ke arah pintu,"Tuan, Nyonya!"ucap Ferdi saat melihat Alva dan Disha yang juga datang.
"Hey...apa yang kamu lakukan? Diam lah dan jangan banyak bergerak, atau lukamu akan lama sembuh! Apa kamu sengaja ingin lama sembuh, agar bisa cuti lebih lama?"sergah Alva saat melihat Ferdi ingin bangun dari tempatnya berbaring. Sedangkan Disha dan Yessie menyerahkan bingkisan buah-buahan yang mereka beli dalam perjalanan tadi pada perempuan yang tadi membukakan pintu.
"Mana mungkin saya berniat seperti itu, Tuan,"ucap Ferdi mengurungkan niatnya untuk duduk.
"Kalau begitu, jadilah pasien yang baik,"ucap Alva dengan Disha yang berada disampingnya, yang sekarang sudah berada di sisi ranjang tempat Ferdi berbaring, sedangkan Riky dan Yessie berada disisi yang lain.
"Li, kenalkan, ini Tuan Alva dan Nyonya Disha, mereka adalah majikan ku,"ucap Ferdi pada wanita yang tadi membukakan pintu, lalu menatap Alva dan Disha.
"Tuan, Nyonya, perkenalkan, saya Lily, istri Kak Ferdi,"ucap Lily sedikit membungkuk kepada Alva dan Disha.
"Senang berkenalan dengan mu,"ucap Alva tersenyum tipis.
"Kamu sedang mengandung, ya?"tanya Disha ramah, dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Iya, Nyonya,"sahut Lily mengulas senyum tipis.
"Wah..selamat, ya! Sudah berapa bulan?"tanya Disha lagi nampak antusias.
"Ini sudah menginjak lima bulan, Nyonya,"jawab Lily dan Disha pun mengangguk-angguk kecil.
"Li, kenalkan, yang ini teman ku, Riky dan Yessie, istrinya. Mereka juga bekerja pada Tuan Alva,"ucap Ferdi menunjuk ke arah Riky dan Yessie.
"Salam kenal!"ucap Lily menatap Riky dan Yessie seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di dada, karena posisi mereka yang terpisah oleh ranjang tempat Ferdi berbaring.
"Salam kenal,"ucap Riky dan Yessie bersamaan seraya menangkupkan kedua tangan mereka seperti yang dilakukan oleh Lily.
"Bagaimana keadaan mu , Fer?"tanya Alva.
__ADS_1
"Saya baik-baik saja, Tuan. Maaf, untuk sementara waktu saya belum bisa menjaga Nyonya. Selama saya dalam masa pemulihan, saya akan menugaskan orang kepercayaan saya untuk menjaga Nyonya,"ucap Ferdi yang nampak tidak enak hati pada Alva.
"Atur saja oleh mu. Aku percayakan semuanya padamu,"ucap Alva yang memang sangat mempercayai Ferdi.
"Terimakasih, Tuan, atas kepercayaan anda pada saya,"sahut Ferdi dan Alva pun mengangguk kecil dengan seulas senyum tipis.
Setelah berbincang beberapa menit, kedua pasangan suami-istri itu pun pamit undur diri. Riky bersama Yessie melajukan mobilnya menuju rumah mereka, sedangkan Alva bersama Disha melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi.
Setelah rombongan Alva meninggalkan ruangan itu, sekarang hanya tinggal Ferdi dan Lily yang berada di ruang rawat inap Ferdi. Satu jam setelah kepergian Alva dan rombongannya, waktu makan siang pun tiba.
"Kak, sudah waktunya makan siang. Aku suapi, ya?"tawar Lily seraya mengambil makan siang Ferdi yang sudah disiapkan oleh rumah sakit.
"Iya,"sahut Ferdi, dan dengan telaten Lily pun menyuapi Ferdi.
"Kamu sudah memberi tahu Dina, kan, agar setelah pulang sekolah ke sini?"tanya Ferdi setelah selesai makan.
"Sudah, kak,"sahut Lily.
"Kamu makanlah dulu! Bayi dalam kandungan mu juga butuh asupan gizi. Kamu juga harus banyak istirahat, jangan sampai kamu kelelahan, tidak baik untuk anak kita,"ucap Ferdi seraya mengelus perut Lily.
"Iya, kak,"sahut Lily tersenyum manis kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu dan menyantap makan siangnya.
Satu jam kemudian seorang gadis cantik yang memakai seragam sekolah nampak masuk ke dalam keruangan itu.
"Kakak, bagaimana keadaan mu? Maaf, aku baru bisa kesini,"ucap gadis itu langsung mendekati Ferdi.
"Ach iya, maaf kak!"ucap gadis itu menatap Lily seraya menyengir bodoh, kemudian mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan itu untuk mencari kamar mandi dan begitu melihat tempat yang dicarinya, gadis itu pun bergegas untuk membersihkan diri.
Lima belas menit kemudian, gadis yang bernama Dina itu pun keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar dan mengenakan baju santai. Dina pun menghampiri Ferdi dan Lily.
"Li, pulanglah, dan istirahat! Biar Dina yang menemaniku di sini. Kamu kesini lagi besok pagi saja,"ujar Ferdi menatap Lily, seraya mengelus lengan Lily lembut.
"Baiklah,"ucap Lily kemudian menatap Dina,"Din, kamu jaga suami kita baik-baik!"titah Lily pada Dina.
"Kakak tenang saja, akan aku menjaga dan merawat suami kita dengan baik,"sahut Dina kemudian tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Aku pulang, kak!"pamit Lily pada Ferdi.
"Hati-hati di jalan!"ucap Ferdi tersenyum lembut pada Lily dan Lily pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, kemudian meninggalkan ruangan itu.
"Kak, kata kak Lily , kakak ditikam pisau di punggung kakak, apa masih sakit?"tanya Dina yang kini duduk di tepi ranjang Ferdi dengan ekspresi serius.
"Sudah lebih baik,"jawab Ferdi seraya tersenyum manis memegang tangan Dina.
"Aku khawatir sekali saat kak Lily mengatakan kalau kakak terluka karena ditikam pisau,"ucap Dina dengan wajah sedih.
"Kenapa? Kamu takut aku mati dan kamu menjadi janda muda?"tanya Ferdi seraya memicingkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Tentu saja. Bagaimana kami bisa hidup tanpa kakak? Apalagi sekarang kak Lily sedang mengandung. Apa kakak tega meninggalkan kami?"ujar Dina dengan wajah sedihnya.
Ferdi adalah tulang punggung keluarga mereka yang mencukupi semua kebutuhan dalam keluarga mereka. Lily hanya ibu rumah tangga biasa, Dina sendiri masih sekolah. Sedangkan kedua orang tua Dina membuka warung kecil yang dimodali oleh Ferdi, agar keduanya mempunyai kegiatan untuk menghilangkan rasa jenuh mereka. Walaupun sebelumnya Ferdi tidak mengizinkan, tapi mereka kekeuh ingin memiliki penghasilan sendiri dan tidak ingin merepotkan menantu mereka. Namun, tentu saja penghasilan dari warung mereka itu tidak akan bisa untuk mencukupi semua kebutuhan keluarga itu .
"Kamu masih muda dan cantik, kamu bisa mencari suami yang lebih muda dari ku, setelah aku meninggal,"ucap Ferdi santai.
"Kakak jangan bicara sembarangan! Aku tidak percaya pada laki-laki manapun selain pada kakak. Susah mencari lelaki yang benar-benar tulus dan menerima segala kekurangan ku. Hanya kakak yang tulus padaku dan mau menerima aku apa adanya,"ujar Dina menatap lekat wajah suaminya.
"Benarkah? Lalu... bagaimana perasaan mu padaku?"tanya Ferdi terlihat serius, karena selama menikah hampir setengah tahun dengan Dina, gadis itu belum pernah menyatakan cinta padanya.
"Perasaan ku? Tentu saja aku menyukai kakak,"jawab Dina tegas.
"Benarkah kamu menyukai aku?"tanya Ferdi nampak senang dan tanpa ragu Dina langsung menganggukkan kepalanya,"Kalau begitu, cium aku,"titah Ferdi seraya menyentuh bibirnya sendiri sebagai isyarat jika Ferdi ingin Dina mencium bibirnya.
"Tidak mau!"sahut Dina dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Tidak mau? Katamu kamu menyukai ku? Tapi kenapa kamu tidak mau mencium ku?"tanya Ferdi seraya mengernyitkan keningnya.
"Jika aku mencium bibir kakak, kakak pasti..."Dina menjeda ucapnya sesaat,"Aku takut nanti kakak jadi kepengen,"sahut Dina dengan suara kecil seraya memalingkan wajahnya yang tiba-tiba merona.
Ferdi mengulum senyum kemudian berkata,"Kamu kan bisa pegang kendali, dan aku hanya tinggal menikmati,"ucap Ferdi dengan suara menggoda, entah mengapa dirinya yang pendiam itu jadi banyak bicara jika bersama dengan istri mudanya itu.Bagi Ferdi, Lily adalah pasangan yang selalu membuatnya merasa nyaman, sedangkan Dina adalah pasangan yang membuat jiwa mudanya kembali berkobar penuh semangat. Kedua istrinya itu, masing-masing mempunyai tempat tersendiri di dalam hatinya.
"Kakak mesum!"ketus Dina mengerucutkan bibirnya dengan wajah merona membuat Ferdi tertawa.
"Hahaha...Awhh.!"ucap Ferdi yang tiba-tiba menghentikan tawanya dan meringis menahan sakit.
"Kakak kenapa?"tanya Dina nampak khawatir.
"Luka di punggungku terasa sakit saat aku tertawa,"sahut Ferdi.
"Kakak, sich! Belum sembuh, tapi otaknya sudah mesum,"gerutu Dina dengan wajah cemberut
Ferdi menipiskan bibir menahan tawa melihat ekspresi istri mudanya itu, ekspresi yang terlihat menggemaskan di matanya. Jika saja dirinya tidak sedang terluka, Ferdi pasti sudah menyerang istrinya itu. Sayang, saat ini dia sedang terluka, jadi untuk sementara waktu belum bisa melakukan aktivitas ranjang.
...πΈβ€οΈπΈ...
...Aku ucapkan terima kasih untuk semua reader yang sudah mampir dan membaca karya ini....
...Tanpa reader semua aku bukanlah apa-apa, dan bukan siapa-siapa....
...Terimakasih atas dukungan kalian semua.Love you all!...
...β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπππππ...
...πΈβ€οΈπΈ...
To be continued
__ADS_1