
Di pantai dekat lokasi jatuhnya pesawat, matahari nampak sudah mulai muncul dan memancarkan sinarnya. Radeva dan Bramantyo nampak lelah. Semalaman mereka tidak tidur untuk mencari Alva.
"Om, sebentar lagi sepertinya ada yang datang lagi,"ucap Radeva saat melihat beberapa petugas membawa kantong jenazah dan juga tandu.
"Ayo kita ke sana!'ajak Bramantyo.
Setelah tiba di pos yang sudah disediakan untuk korban selamat Radeva dan Bramantyo pun kembali mencari Alva, namun tidak ada korban yang masih hidup yang mereka lihat. Yang baru saja mereka lihat dibawa dengan tandu, ternyata adalah keluarga korban yang pingsan karena shock mendapati anggota keluarga nya meninggal. Semua yang dibawa ke pos itu sudah meninggal. Sejak pesawat itu dikabarkan meledak dan jatuh ke laut, hanya ada tiga orang yang ditemukan selamat, itu pun dengan luka bakar yang lumayan parah dan sekarang masih dirawat di rumah sakit dalam keadaan kritis.
"Om, sebaiknya kita pulang dulu, kita juga butuh istirahat. Sudah sejak semalam kita berada di sini, biar nanti anak buah kita yang meneruskan pencarian. Setelah kita cukup beristirahat, kita kembali lagi ke sini. Aku ingin melihat keadaan Disha, Om juga harus melihat keadaan Tante,"ucap Radeva seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Baiklah, kita pulang dan istirahat dulu,"sahut Bramantyo setuju dengan pendapat Radeva,"Ngomong -ngomong apa kedua orang tuamu tahu tentang kecelakaan yang menimpa Alva ini?"tanya Bramantyo yang baru mengingat besannya. Dari raut wajahnya, Bramantyo nampak terlihat lelah dan ada guratan kesedihan yang terlihat di sana.
"Tidak, Om. Aku tidak ingin mereka cemas, aku takut mama akan shock seperti Tante Ratih,"jawab Radeva.
"Tapi apa mereka tidak bertanya kenapa kamu tidak pulang?'tanya Bramantyo.
"Aku bilang sama mereka kalau aku menginap di rumah Om, jadi mereka tidak banyak bertanya lagi,"sahut Radeva yang memang pernah beberapa kali menginap di rumah Bramantyo.
"Ya sudah? Ayo kita pulang!"ujar Bramantyo nampak tidak bersemangat.
Akhirnya kedua orang beda usia itu pun berkemas untuk pulang. Setelah menempuh perjalanan yang lamanya hampir dua jam, akhirnya mereka pun tiba di kediaman Bramantyo.
"Pa, bagaimana? Apa sudah ada kabar tentang Alva?"tanya Ratih penuh harap saat melihat Bramantyo baru saja memasuki rumah.
"Belum, ma,"sahut Bramantyo berusaha untuk tegar di depan istrinya. Sedangkan Ratih yang mendengar jawaban dari suaminya pun menjadi lesu kembali, nampak jelas kesedihan di raut wajahnya.
"Tuan Besar, apa Tuan Besar dan Tuan Muda sudah makan? Apa perlu saya siapkan makanan?"tanya seorang Art yang sudah lama bekerja pada Ratih dan Bramantyo, nampak mengkhawatirkan kedua pria yang baru saja pulang itu.
"Ah iya, boleh Bik. Kebetulan kami belum makan karena malas mampir ke restoran,"jawab Bramantyo jujur.
"Ach, kebetulan sekali. Nyonya Besar juga belum makan,"ucap Art itu.
"Kenapa mama belum makan?"tanya Bramantyo pada Ratih nampak khawatir.
"Mama nggak ada nafsu buat makan, pa," sahut Ratih lesu.
__ADS_1
"Bik, apa adik saya sudah makan?"tanya Radeva pada Art itu, saat mengingat adiknya.
"Dari pagi saya belum melihat Nyonya turun dari kamarnya, Tuan,"sahut Art itu.
"Apa? Jadi dari pagi dia belum keluar kamar?"tanya Radeva nampak khawatir.
"Belum, Tuan. Tadi saya sudah mencoba mengetuk pintu kamar Nyonya, tapi tidak ada sahutan dari Nyonya,"sahut Art itu yang pagi tadi memang mengetuk pintu kamar Disha karena mengkhawatirkan keadaan Disha.
"Om, Tante, saya ingin melihat Disha dulu,"pamit Radeva.
"Iya, lihatlah dulu. Maaf Tante tidak bisa menghiburnya. Tante semakin sedih jika melihat dia. Tante tau bagaimana rasanya di tinggal suami,"ucap Ratih kembali menitikkan air matanya, mengingat saat suami pertama dan juga kedua anaknya meninggal karena sebuah kecelakaan.
"Tidak apa-apa Tante.Saya bisa mengerti," sahut Radeva sambil mengelus lengan Ratih.
"Sudah, mama jangan nangis lagi! Kita pasti menemukan putra kita,"ucap Bramantyo memeluk Ratih,memberi semangat, walaupun sejatinya dia sendiri tidak yakin dengan apa yang diucapkan nya, setelah melihat tempat meledak dan tenggelam nya pesawat yang jatuh kemarin malam.
"Aku ke atas dulu,"ucap Radeva kemudian bergegas menaikkan anak tangga menuju lantai dua, dimana kamar adiknya berada.
Tok! Tok! Tok!
"Sayang!"
Radeva terus mengetuk pintu kamar itu dan memanggil Disha. Radeva sangat khawatir dengan keadaan Disha, karena jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, tapi adiknya itu belum keluar juga dari kamarnya.
"Ceklek"
"Astaga!"pekik Radeva yang terkejut melihat Alva muncul dari balik pintu. Radeva melihat Alva dari atas sampai bawah untuk memastikan bahwa yang ada di hadapan nya itu benar-benar adik iparnya.
"Ada apa sich, pagi-pagi begini sudah menganggu orang?!"ketus Alva dengan rambut acak-acakan dan hanya menggunakan celana boxer saja. Pria itu terlihat sangat kesal saat melihat Radeva di depan pintu kamar nya.
"Shitt.!!! Pagi kamu bilang? Ini sudah siang! Semalaman sampai pagi kami tidak tidur karena mencari mu. Tapi kamu ternyata malah disini dan asyik bercinta dengan adikku?! What the hell.!!"umpat Radeva setelah melihat tubuh Alva yang penuh dengan tanda cinta dan gigitan.
Dengan kesal Radeva langsung berbalik meninggalkan Alva hingga Alva bingung dengan tingkah dan ucapan kakak iparnya itu. Namun sebelum Alva menutup pintunya Radeva kembali bersuara.
"Cepat turun! Kami tunggu di bawah untuk menjelaskan semuanya,"ucap Radeva tanpa menoleh ke Alva seraya menuruni anak tangga menuju lantai satu.
__ADS_1
Alva tidak menyahuti perkataan Radeva namun nampak mengernyitkan keningnya,"Penjelasan apa maksud nya?"gumam Alva nampak bingung namun langsung kembali masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu nya.
Alva melihat Disha yang masih terlelap, bibir nya melengkung ke atas saat mengingat percintaan panas mereka semalam. Perlahan Alva mendekati ranjang kemudian mengecup kening Disha, lalu mengelus kepala Disha lembut, menatap wajah istrinya itu dengan senyuman. Setelah puas memandangi wajah istrinya, Alva mengecup bibir Disha sekilas kemudian berlalu ke kamar mandi.
Sedangkan Radeva yang menuruni anak tangga nampak terlihat kesal,"Dasar adik ipar lak natt! Semalaman sampai pagi aku dan Om Bramantyo mencarinya dalam cuaca hujan gerimis tanpa sekejap pun memejamkan mata, ehhh....yang dicari ternyata malah enak-enakan bercinta dengan adikku. Kalau saja adikku tidak mencintai nya, sudah aku copot gelarnya sebagai adik ipar ku. Akan aku jadikan dia mantan adik ipar ku,"gerutu Radeva hingga akhirnya tiba di lantai satu.
"Tuan Besar, em...itu..."ucap salah satu seorang penjaga rumah menghampiri Bramantyo.
"Ada apa? Itu apa?"tanya Bramantyo penasaran.
"Itu Tuan, ada tangga yang di letakkan di balkon kamar Tuan muda Alva,"ucap penjaga itu agak ragu.
"Tangga di balkon kamar Alva? Siapa yang meletakkan nya di sana?"tanya Bramantyo, dan Ratih pun. nampak penasaran.
"Saya tidak tahu, Tuan. Pagi-pagi sekali saya sudah melihat tangga itu di balkon kamar Tuan Muda, padahal kemarin sore nggak ada tangga di balkon kamar Tuan Muda,"sahut penjaga itu agak takut, sedangkan Bramantyo nampak mengernyitkan keningnya.
Saat Bramantyo akan bertanya lagi pada penjaga rumah itu, Bramantyo melihat Radeva menghampiri mereka.
"Bagaimana, Dev? Apa Disha nggak mau turun dan makan bersama kita?"tanya Bramantyo yang melihat wajah Radeva nampak kesal.
"Sepertinya Disha masih tidur, Om. Sia-sia kita mencari Alva, semalaman sampai siang gini belum tidur, ehh.. yang dicari malah enak-enakan di rumah,"gerutu Radeva bersungut-sungut.
Bramantyo dan Ratih secara bersamaan mengernyitkan kening mereka lalu saling menatap seolah dari tatapan mereka itu, mereka saling bertanya.
"Apa maksud kamu?"tanya Bramantyo mengalihkan tatapannya pada Radeva, membuat Radeva membuang nafas kasar.
"Alva tidak apa-apa, Om. Dia baik-baik saja. Dia ada di atas, di kamarnya dan baru saja bangun saat aku mengetuk pintu kamarnya tadi,"sahut Radeva dengan wajah kesal.
"Apa? Alva sudah pulang?"tanya Ratih dan Bramantyo bersamaan. Mereka merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Radeva, tapi juga ada semburat kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka.
"Jadi yang meletakkan tangan di balkon Tuan Muda itu, Tuan Muda sendiri? Karena itukah nggak ada yang tahu kalau Tuan Muda pulang?"asumsi penjaga rumah.
...🌺❤️🌺...
To be continued
__ADS_1