
Di perusahaan Bramantyo Group.
Ratih nampak berjalan menuju ruangan putranya. Namun langkah Ratih terhenti saat melihat Disha dengan perutnya yang membuncit itu masih bekerja.
"Dis, kamu belum cuti juga?"tanya Ratih saat melihat Disha masih setia duduk menghadap laptopnya.
"Saya tidak ingin mengambil cuti Nyonya, terkecuali jika saya sedang sakit,"jawab Disha.
"Kamu ini benar-benar wanita yang keras kepala,"ujar Ratih,"Oh ya, apa putra saya ada didalam ruangannya?"tanya Ratih.
"Ada Nyonya,"sahut Disha ramah.
"Baiklah, saya akan masuk dulu,"ucap Ratih.
"Silahkan Nyonya!"ucap Disha dan di tanggapi dengan anggukan kepala oleh Ratih.
Ratih kemudian masuk ke dalam ruangan Alva dan melihat putra kesayangannya itu sedang sibuk dengan laptopnya.
"Al.!"panggil Ratih.
"Mama, ada apa, ma?"tanya Alva.
"Malam ini kamu pulang ke rumah,ya?!"pinta Ratih.
"Ma, sudah aku bilang, aku tidak bisa tidur jika menginap di rumah,"sahut Alva.
"Ya, sudah. Tapi kamu harus pulang ke rumah pagi-pagi sekali,"perintah Ratih.
"Mau apa, ma?"tanya Alva sambil mengernyitkan keningnya.
"Besok adalah hari peringatan meninggalnya kakek dan nenekmu, jadi kita akan berziarah ke makam mereka,"ucap Ratih.
"Oh iya, aku lupa. Baiklah ma, besok pagi-pagi sekali, aku akan pulang untuk berziarah ke makam kakek dan nenek bersama kalian.
"Ya sudah, mama pergi dulu, mama masih ada urusan lain. Eh iya, Al, itu si Disha nggak mau cuti apa? Kayaknya bentar lagi mau lahiran dech,"tanya Ratih.
"Sudah aku suruh cuti, tapi dia nggak mau, ma,"ucap Alva.
"Ibu hamil satu itu keras kepala banget sich? Perut sudah segede itu masih saja nekat bekerja,"gerutu Ratih sambil keluar dari ruangan Alva bertepatan dengan Riky yang mau masuk.
"Nyonya,"sapa Riky sambil menganggukkan kepalanya dan hanya di balas Ratih dengan tepukan dipundak Riky.
__ADS_1
"Tuan, ada apa dengan Nyonya besar?"tanya Riky yang tadi mendengar Ratih menggerutu. Riky meletakkan berkas-berkas yang dibawanya di atas meja Alva.
"Itu, gara-gara Disha yang sudah hamil besar tapi masih bekerja,"sahut Alva.
"Oh soal itu. Ngomong -ngomong Nyonya Disha sebentar lagi mau lahiran ya, Tuan?"tanya Riky.
"Iya,"sahut Alva sambil meraih berkas-berkas yang diletakkan Riky di atas meja nya.
"Wahh.. sebentar lagi Tuan akan berpuasa panjang dong,"ucap Riky yang mendapat lirikan tajam dari Alva," Sebaiknya anda isi dulu baterai dan juga power bank Tuan. Saya kasihan pada Tuan, saya takut nanti keris pusaka Tuan akan karatan jika terlalu lama tidak dimasukkan ke dalam sarungnya. CK..Ck..Ck... kasihan sekali, pasti menyiksa ya, Tuan,"ucap Riky sambil bergidik.
"Riky...!!!"teriak Alva yang sudah sangat geram karena ledekan dari Riky.
"Ampun Tuan..!! Saya masih polos.!!"teriak Riky sambil berlari keluar dari ruangan Alva.
"Asisten sialan.!! Polos dari mananya? Omongannya aja udah kayak orang yang sudah berpengalaman. Kayaknya kebanyakan nonton film 21 plus tuh anak. Dasar asisten kurang ajar!!"gerutu Alva.
Malam harinya di apartemen Disha, sepasang suami-isteri itu sudah selesai makan malam dan sedang duduk di sofa kamar sambil menonton televisi. Disha bersandar di dada bidang Alva, sedangkan Alva memeluk Disha dari samping seraya mengelus perut Disha.
"Sayang, tunggu disini sebentar, ya?!"ucap Alva sambil melepaskan pelukannya.
"Mau kemana?"tanya Disha yang melihat Alva mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Apa ini, Al?"tanya Disha yang memang tidak tahu.
"Tanda tangani semua dokumen ini,"ucap Alva sambil duduk di sebelah Disha dan memberi Disha sebuah pena.
Disha membaca semua dokumen itu kemudian menatap Alva dengan pandangan tidak percaya.
"Al, apa maksud dari semua ini? Kenapa kamu memberikan aset berharga sebanyak ini untukku? Kamu tidak perlu melakukan semua ini, Al. Aku percaya kamu tulus mencintai dan menyayangi aku, jadi kamu tidak perlu melakukan semua ini, Al,"ujar Disha.
"Aku ingin mengakui mu sebagai istri ku kepada dunia, dan inilah cara satu-satunya untuk melindungi kamu. Jika aku tidak melakukan ini, aku takut keselamatan kamu dan juga keselamatan buah hati kita akan terancam,"jelas Alva.
"Apa maksud mu, Al?"tanya Disha tidak mengerti.
"Selama ini aku belum bisa mengakui mu sebagai istri ku karena aku takut papaku akan menyingkirkan kamu dari hidupku. Tapi sekarang jika kamu menandatangani semua dokumen ini, aku yakin papa tidak akan berani, bahkan akan berpikir seribu kali jika ingin mengusik mu dan buah hati kita, sayang,"
"Kamu tahu kan, jika aku mengakui kamu sebagai istriku, maka aku akan menceraikan Anjani? Dan jika aku menceraikan Anjani maka Adiguna akan menarik semua sahamnya dari Bramantyo Group, saat itulah kamu yang akan masuk menjadi pemegang saham terbesar di Bramantyo Group. Dan papa tidak akan bisa menyingkirkan kamu dari hidupku,"jelas Alva.
"Maksud mu aku akan menjadi pemegang saham terbesar di Bramantyo Group?"tanya Disha tidak percaya.
"Rencananya seperti itu,"jawab Alva.
__ADS_1
"Jadi selama ini kamu mempersiapkan semua ini? Dan haruskah aku menandatangani surat wasiat ini juga? Apa ini tidak berlebihan, Al?"tanya Disha dengan serius menatap Alva.
"Tidak sayang, ini tidak berlebihan. Kamu harus menandatangani surat wasiat itu juga untuk menjaga keselamatan kamu dan buah hati kita,"jawab Alva.
"Tapi Al, aset yang kamu berikan ini terlalu banyak,"ucap Disha.
"Anggap saja ini sebagai bukti cintaku padamu dan pada buah hati kita,"ucap Alva sambil mengelus pipi Disha.
"Setelah semua aset ini berpindah padaku, apa kamu tidak takut? Bagaimana jika setelah ini aku meninggalkan kamu?"tanya Disha.
"Akan aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa meninggalkan aku,"ucap Alva dengan wajah serius dan tatapan mata yang begitu tajam hingga membuat Disha bergidik ngeri.
"Apa papamu sangat menakutkan hingga kita harus melakukan semua ini?"tanya Disha mencoba mencairkan suasana dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Alva.
Akhirnya Disha menandatangani semua dokumen dan juga surat wasiat yang diberikan Alva kepadanya.
"Maafkan aku jika selama ini aku masih meragukan cintamu,"ucap Disha seraya memegangi rahang kokoh Alva dan menatap mata Alva dengan penuh rasa sesal.
"Aku mengerti sayang, kamu selama ini pasti merasa seperti istri simpanan. Maafkan aku, aku perlu waktu lama untuk melakukannya semua ini,"ucap Alva tulus kemudian mengecup telapak tangan Disha dengan lembut.
"Tidak apa-apa, Al. Aku mengerti, butuh waktu lama untuk melakukan semua ini,"ucap Disha penuh pengertian.
"Besok aku akan pergi berziarah ke makam kakek dan nenek ku bersama papa dan mama. Setelah pulang dari makam, aku akan mengakui kamu sebagai istriku di depan mama, papa dan sekaligus menceraikan Anjani. Kamu akan menjadi istri ku satu-satunya yang aku cintai,"ujar Alva kemudian mencium bibir Disha sekilas.
"Terimakasih kasih, Al. I love you,"ucap Disha kemudian mencium bibir Alva dengan lembut yang dibalas dengan lembut pula oleh Alva.
"I love you more,"ucap Alva setelah melepaskan ciuman mereka kemudian mengecup bibir Disha beberapa kali.
"Besok aku akan membuat kejutan untuk semua orang, dan mulai besok dunia akan tahu bahwa kamu adalah Nyonya Ayudisha Alvarendra. Tapi...bolehkah aku meminta sesuatu dari mu?"tanya Alva nampak ragu.
"Apa yang ingin kamu minta dari ku?Jika aku bisa, aku akan memberikannya,"ucap Disha dengan senyuman hangat.
"Aku ingin kamu berhenti menutupi kecantikan kamu dengan kacamata tebal dan gigi kawat mu itu. Apa kamu bersedia?"tanya Alva.
"Aku..."
...🌟"Cinta itu tentang memberi bukan meminta, tentang ketulusan dan keikhlasan, bukan keterpaksaan."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
To be continued
__ADS_1