Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
47. Sensitif


__ADS_3

"Aku hanya masuk angin, ma. Semalam karena sangat lelah aku malas makan dan langsung tidur,"sahut Alva.


"Semalam kan mama sudah menawari kamu makan, dasar kamu nya saja yang bandel. Sudah tahu belum makan malam malah tidur dengan perut kosong,"omel Ratih.


"Sebaiknya kamu kembali ke dalam kamar mu, Al. Bik, tolong telepon dokter!"perintah Ratih.


"Baik Nyah,"sahut seorang Art langsung melaksanakan apa yang diperintahkan majikan nya.


"Tidak, tidak perlu memanggil dokter, ma. Aku baik-baik saja, aku harus ke kantor hari ini," sahut Alva.


"Tidak boleh, kamu itu sakit, Al. Kamu harus istirahat di rumah,"tegas Ratih.


"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?"tanya Bramantyo yang baru masuk ke dalam ruangan makan yang menjadi satu dengan dapur itu.


"Ini apa, Alva ini sakit tapi tidak mau istirahat dan juga tidak mau dipanggilkan dokter,, malah mau ke kantor"adu Ratih.


"Iya, wajah kamu pucat sekali Al, sebaiknya kamu istirahat di rumah,"ucap Bramantyo.


Akhirnya karena tubuhnya memang terasa lemas, Alva pun terpaksa kembali ke dalam kamarnya. Kemudian Bramantyo pun mendekat untuk membantu Alva kembali ke kamarnya.


"Jangan mendekat, pa! Aroma parfum papa itu sangat menyengat. Perutku menjadi mual lagi karena nya,"ucap Alva menolak di bantu Bramantyo.


"Kamu ini aneh sekali sich, Al? Persis sekali seperti bapak-bapak yang lagi ngidam,"cetus Ratih, kemudian membantu Alva kembali ke dalam kamarnya, sedang Bramantyo hanya mengikuti ibu dan anak itu dari belakang.


Tak lama kemudian dokter keluarga mereka pun datang, dan segera memeriksa keadaan Alva.


"Dok, cepatlah sedikit memeriksa nya. Saya mual sekali mencium aroma parfum dokter,"ucap Alva sambil menutup hidung nya.


Ratih pun geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya itu. Akhirnya dokter pun memeriksa Alva secepat yang dia bisa.


"Bagaimana keadaan putra saya, dok?" tanya Ratih pada dokter yang memeriksa Alva.


"Asam lambung Tuan Muda naik, menurut pemeriksaan saya pola makan Tuan Muda tidak teratur. Saya akan memberikan resep untuk mengatasi penyakit yang diderita oleh Tuan Muda. Sementara ini, saya sarankan untuk makan bubur, dan jangan makan makanan yang pedas-pedas,"ucap sang dokter, kemudian memberikan resep kepada Ratih.


"Terimakasih, dok!"ucap Ratih.


"Sama-sama, Nyonya.

__ADS_1


Kalau begitu saya pamit, Tuan, Nyonya dan Tuan Muda. Semoga Tuan Muda cepat sembuh,"ucap sang dokter.


"Terimakasih, dok!" ucap Bramantyo, Ratih dan Alva bersamaan.


Baru saja beberapa langkah dokter itu keluar, tiba-tiba Anjani masuk ke dalam kamar itu.


"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali?"tanya Anjani yang terkejut saat mendapati banyak orang yang berada di dalam kamar Alva dan juga dokter yang baru saja keluar dari kamar itu.


"Alva sakit, sayang,"jawab Ratih.


"Kamu sakit apa, Al?" tanya Anjani.


"Jangan mendekat.!!"pekik Alva kepada Anjani, tapi Anjani malah terus mendekati Alva.


"Aku bilang jangan mendekat.!!"pekik Alva sambil menutup hidung dan mulutnya, lalu secepat kilat berlari ke dalam kamar mandi melewati Anjani begitu saja kemudian kembali muntah-muntah.


"Al.!!"pekik Ratih langsung menyusul Alva ke dalam kamar mandi dan mengelus-elus punggung Alva.


Setelah beberapa menit, akhirnya Alva pun keluar dari kamar mandi dibantu oleh Ratih. Namun saat baru sampai didepan pintu kamar mandi Alva berhenti.


"Ma, suruh perempuan itu jauh-jauh dari ku! Dia itu belum mandi, ma. Aku mencium bau keringat bercampur parfum di tubuhnya,"ucap Alva sambil menunjuk Anjani.


Dengan perasaan yang kesal, akhirnya Anjani menjauh dari Alva. Setelah Alva kembali ke atas ranjang, Anjani langsung mengambil pakaian ganti dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi kemudian menutup pintu kamar mandi dengan kuat sehingga membuat Bramantyo, Ratih dan Alva terkejut.


"Dasar anak manja, tidak punya etika.!!" umpat Alva kesal.


Ratih hanya geleng-geleng kepala dibuat nya, sedangkan Bramantyo hanya mampu membuang nafas kasar.


"Kamu istirahat dulu, mama akan membuatkan bubur untuk kamu,"ucap Ratih.


"Mama di sini saja dulu, aku suka dengan aroma tubuh mama,"ucap Alva memeluk tubuh Ratih.


"Ingat umur Al, kamu itu sudah dewasa. Berhentilah bersikap manja kepada mamamu,"ketus Bramantyo.


"Kenapa papa jadi sensitif sekali? Aku hanya ingin berlama-lama memeluk mama, apa papa cemburu padaku?" ketus Alva yang membuat Bramantyo terkejut.


"Apa kamu bilang? Papa sensitif? Yang sensitif itu kamu! Dari tadi kamu tidak mau didekati oleh siapapun selain mamamu. Kenapa setelah kembali dari luar negeri sikapmu jadi aneh sekali? Jangan-jangan kamu kesambet setan di sana,"ujar Bramantyo kemudian keluar dari kamar Alva dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Mama akan membuat bubur untuk kamu, sebentar, nanti mama kembali lagi ke sini,"ucap Ratih.


Akhirnya Alva pun terpaksa membiarkan mamanya pergi.Tak lama setelah Ratih pergi, Anjani keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian. Anjani kemudian kembali mendekati Alva.


"Mau apa kamu? Jangan coba-coba untuk mendekati aku.!"ucap Alva.


"Kenapa? Kamu takut tergoda dengan tubuh ku?"tanya Anjani tersenyum smirk semakin mendekati Alva.


"Berhenti mendekati aku atau aku akan melemparkan lampu tidur ini.!!"ancam Alva sambil memegang lampu tidur. Namun Anjani tetap nekad mendekati Alva hingga....


"Praangg.."Alva melemparkan lampu tidur yang di pegang nya tepat di sebelah kaki Anjani.


"Kau...?!! Kamu sudah benar-benar tidak waras.!!"pekik Anjani.


"Aku tidak main-main dengan kata-kata ku jika kamu masih nekat untuk mendekati aku, maka aku akan melemparkan ini tepat di kepala mu,"ancam Alva sambil memegang miniatur harimau sebesar kepalan tangan.


"Kamu memang benar-benar sudah tidak waras.!!"pekik Anjani kemudian langsung menyambar tasnya dan keluar dari kamar itu dengan membanting pintu.


Suara pintu yang dibanting itu begitu keras hingga hampir seluruh penghuni rumah itu terkejut, termasuk Alva dan Ratih.


"Dasar anak manja tidak punya tata Krama, tidak punya etika.!!"umpat Alva.


Beberapa menit kemudian, Ratih sudah membawa bubur dan obat untuk Alva. Setelah Alva menghabiskan bubur dan meminum obatnya, Ratih pun meninggalkan Alva.


"Aku jenuh sekali berdiam diri di sini. Aku sangat merindukan Disha. Tapi mama tidak akan membiarkan aku pergi dari sini,"gumam Alva.


Saat Alva berdiri di balkon kamarnya, Alva melihat Ratih sedang berada di kebun bunganya. Melihat itu, Alva pun langsung berganti pakaian lalu melarikan diri dari rumah itu dan langsung menuju kantor dengan menggunakan taksi online yang sudah dipesannya.


"𝐀𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐤𝐚𝐛𝐮𝐫 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐚𝐦𝐚. 𝐀𝐤𝐮 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐦𝐞𝐫𝐢𝐧𝐝𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚,"batin Alva saat sudah berada di dalam taksi.


Sesampainya di kantor, Alva tidak melihat Disha berada di meja kerjanya yang berada tepat di depan ruangan Alva.


Alva pun langsung masuk ke dalam ruangannya dan melihat Disha sedang meletakkan berkas-berkas ke dalam lemari dengan posisi berdiri membelakangi Alva. Dengan perlahan dan tanpa suara, Alva mendekati Disha.


"Ahkk...!!!"


...🌟"Panas dan hujan masih bisa di tahan, tapi menahan rindu, membuat hati mati kutu."🌟...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2