Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
246. Kak, Maaf!


__ADS_3

Radeva mengendarai mobilnya agak cepat, karena ingin segera sampai ke rumah kedua orang tuanya. Mata Radeva fokus melihat jalan. Dalam mobil itu, keduanya hanya diam tanpa ada yang memulai pembicaraan.


Sesekali Icha melirik suaminya yang fokus berkendara, tanpa berani mengajak bicara pria di sampingnya itu. Walaupun sebenarnya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada Radeva. Namun Icha merasa tidak tepat jika menyampaikan nya pada Radeva sekarang. Bahkan Icha nampak duduk dengan gelisah, namun Radeva yang fokus berkendara tidak menyadari kegelisahan Icha.


Setelah sekitar empat puluh lima menit berkendara, akhirnya keduanya pun tiba di kediaman Mahendra. Ghina yang berniat ke dapur pun tidak jadi ke dapur saat mendengar bel rumah mereka berbunyi. Ghina langsung berjalan ke arah pintu utama dan segera membuka pintu.


"Eh, ada menantu mama? Mama pikir kamu akan menginap di rumah mertua mu, Dev,"ujar Ghina.


"Aku sudah kangen tidur di rumah, ma,"ucap Radeva seraya menutup dan mengunci pintu.


"Ayo masuk!"ajak Ghina, mencium kedua pipi Icha kemudian menggandeng tangan kiri Icha, membawa nya masuk.


"Ma, kami istirahat dulu di kamar, ya?!"ucap Radeva menggandeng tangan kanan Icha hingga Icha berada ditengah -tengah antara ibu dan anak itu.


"Ya sudah, istirahatlah!"ucap Ghina seraya melepaskan tangan Icha sambil tersenyum.


"Kami ke kamar dulu, ya, ma,"pamit Icha.


"Iya,"sahut Ghina masih menampilkan senyuman nya.


Radeva langsung menarik tangan Icha dan membawanya menaiki tangga ke lantai dua dimana kamarnya berada. Sebegitu masuk, Icha nampak takjub dengan kamar Radeva yang luas , tertata rapi dan diisi dengan barang-barang yang terlihat tidak murah.

__ADS_1


Sedangkan Radeva, sebegitu mereka masuk, dia langsung mengunci pintu kamarnya. Radeva pun menghampiri Icha yang nampak takjub melihat kamarnya.


"Ehh..kak!"seru Icha yang terkejut langsung memeluk leher Radeva, saat Radeva tiba-tiba langsung menggendong nya ala bridal style menuju ranjang.


Radeva membaringkan tubuh Icha di atas ranjang dan langsung menindih tubuh Icha, lalu mencium bibir Icha, membuat Icha gelagapan. Radeva nampak seperti harimau yang kelaparan dan ingin memakan Icha sampai habis tak bersisa. Memagut, melum mat, menggigit kecil bibir Icha dan mengakses isi mulut Icha dengan agresif. Radeva melepaskan ciumannya saat Icha memukul-mukul dadanya karena hampir kehabisan napas.


Icha terengah-engah, mencoba mengambil napas,"Kak..emp..."baru saja Icha ingin bicara, Radeva langsung membungkam mulut Icha dengan bibir nya, sehingga Icha tidak bisa lagi melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.


Icha berusaha mendorong dada Radeva, saat tangan Radeva mulai melucuti pakaiannya, tapi Radeva malah mengunci pergerakan Icha dengan menaikkan kedua tangan Icha di atas kepala Icha dan memegangnya erat dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan Radeva kembali melanjutkan aksinya membuka gaun yang dikenakan oleh Icha.


Saat Radeva melepaskan pangutan nya Icha kembali bersuara sambil mengatur napasnya,"Kak....aku ..emp..."baru juga mau bicara, lagi-lagi Radeva kembali membungkam mulutnya dengan bibir Radeva lagi. Akhirnya Icha pun pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Radeva padanya, hingga akhirnya Radeva berhenti mencium bibirnya dan turun ke lehernya.


Icha berusaha mengatur napasnya dan menahan desa hannya,"Kak, a..aku...aku tidak bisa melayani mu,"ucap Icha menahan diri agar tidak mende sahh karena cum mbuan Radeva, dengan tatapan yang terlihat gelisah.


Seketika Radeva menghentikan kegiatannya mencum mbu Icha dan menatap Icha lekat,"Kenapa?"tanya Radeva dengan tatapan yang sulit diartikan, napas memburu dan wajah yang sudah memerah karena hasraatnya yang sudah begitu menggebu-gebu.


"Aku..aku sedang datang bulan,"ucap Icha kemudian menunduk dan menggigit bibirnya sendiri, merasa sangat bersalah pada suaminya yang sudah sangat menginginkan dirinya, tapi dia malah tidak bisa melayaninya.


"Benarkah?"tanya Radeva memicingkan sebelah matanya menatap Icha dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.


"I..iya. Maaf!"ucap Icha merasa tidak enak hati pada suaminya itu.

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang dari tadi sore?"tanya Radeva mulai bangkit dari atas tubuh Icha kemudian duduk dengan raut wajah yang terlihat kesal dan sangat kecewa.


Icha ikut bangkit seraya menutupi tubuhnya dengan selimut, duduk dengan menundukkan kepalanya lalu berkata,"Tadi sore belum, kak. Itu..em baru tadi pas kita selesai makan malam,"ucap Icha menundukkan kepalanya semakin dalam tidak berani menatap wajah suaminya yang sudah duduk di samping dirinya berbaring.


"Lalu kenapa tidak bilang saat aku membaringkan mu di ranjang tadi?"tanya Radeva lagi masih dengan raut wajah kesal dan kecewanya.


"Kakak langsung menyerang ku dan membungkam mulut ku saat aku ingin bicara, bahkan Kak memegangi kedua tanganku, saat aku ingin menjauhkan kakak dari ku,"ucap Icha membela diri.


"Haissh..!"ucap Radeva mengacak-acak rambutnya frustrasi, kemudian beranjak dari tempat tidur. Apa yang dikatakan oleh Icha memang benar, saat Icha ingin bicara Radeva langsung membungkam mulut Icha dengan bibirnya, dan saat Icha ingin menjauhkan tubuhnya dengan tubuh Icha, dirinya malah mengunci pergerakan Icha. Dirinya lah yang bersalah karena tidak memberikan kesempatan pada Icha untuk bicara.


"Kak, maaf! Ini diluar kehendak ku,"ucap Icha memegang tangan Radeva yang sekarang sudah berdiri di samping ranjang.


"Tidak apa-apa. Aku tahu, ini bukan kehendak mu. Maaf! Aku yang salah karena tidak memberikan kamu kesempatan untuk berbicara,"ucap Radeva tersenyum tipis pada Icha, senyum yang terlihat dipaksakan. Radeva kemudian melepaskan tangan Icha dari tangannya secara perlahan, berjalan menuju kamar mandi, kemudian masuk dan membuang napas kasar.


Radeva menutup pintu kamar mandi lalu bersandar di pintu itu dengan menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamar mandi. Beberapa saat kemudian Radeva menundukkan kepalanya menatap sesuatu di bawah sana yang masih berdiri tegak. Radeva mengusap wajahnya dengan kasar kemudian berjalan menuju shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin, untuk mendinginkan tubuhnya yang terasa panas karena hasraatnya yang sudah naik, tapi tidak bisa disalurkan.


...🌟"Saat tubuh sudah dikuasai napsu, maka akan sulit bagi otak untuk berpikir jernih."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2