Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
192. Dua Preman


__ADS_3

"Eh..eh... kenapa ini motor?"gumam Icha yang sedang mengendarai motor tapi tiba-tiba saja motor nya oleng. Dengan terpaksa Icha pun menepikan motornya.


"Oh ya ampunn.!! Cobaan apalagi ini ,ya Tuhannn!! Ini motor kenapa pakai ban nya bocor, sich?! Nggak tahu apa orang pengen cepet-cepet pulang?! Bentar lagi kalau tuch langit menangis, aku bakal kebasahan nich,"gerutu Icha yang berhenti di pinggir jalan sambil menatap ban motornya, kemudian menatap langit yang terlihat mendung dan mungkin sebentar lagi akan turun hujan.


"Arkkhh..!!! Sial! Sial! Sial! Handphone ketinggalan, duit nggak bawa! Terus sekarang aku harus bagaimana iniii??? Argh.!! Apes banget sich?! Masa iya, aku harus nuntun nich motor ke bengkel, tapi nggak bawa duit?! Sial.!!"umpat Icha semakin kesal saat meraba kantong celananya tapi tidak menemukan uang maupun handphonenya.


Icha tadi disuruh mamanya untuk mengambil kue pesanan mamanya di toko kue langganan mereka. Namun Icha tidak menyangka saat dalam perjalanan pulang, ban motornya tiba-tiba bocor.Dan sekarang Icha bingung bagaimana harus pulang karena Icha tidak membawa uang ataupun handphone.


Saat Icha sedang kebingungan, merasa kesal dan merasa khawatir berada di jalan sepi sendirian yang jauh dari rumahnya, tiba-tiba ada dua orang pria yang menghampirinya.


"Neng, lagi ngapain, neng?"tanya pria bertubuh gempal memakai kaos berwarna hitam dengan tato di lengannya.


"Sendirian aja, neng?"tanya pria satunya yang bertubuh jangkung, memakai jaket Levis dengan sebelah hidungnya yang dipasang anting.


"Lagi nungguin temen, bang! Bentar lagi juga dateng,"sahut Icha bersikap biasa saja, padahal dalam hati sudah ketakutan setengah mati di dekati dua pria yang nampak nya bukan pria baik-baik. Dari penampilan mereka Icha dapat menebak jika kedua pria itu adalah preman.


"𝘼𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙘𝙖𝙧𝙞 𝙩𝙖𝙠𝙨𝙞, 𝙣𝙞𝙘𝙝! 𝙈𝙖𝙨𝙖 𝙗𝙤𝙙𝙤' 𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙤𝙩𝙤𝙧! 𝙂𝙖𝙬𝙖𝙩 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙞 𝙨𝙞𝙣𝙞 𝙡𝙖𝙢𝙖-𝙡𝙖𝙢𝙖,"batin Icha.


"Abang temani boleh, nggak?"tanya pria bertato.


"Nggak usah bang, ntar ngerepotin. Lagian sebentar lagi temen saya juga datang,"ucap Icha terus menatap ke jalan untuk mencari taksi, tanpa menoleh pada kedua pria itu, berusaha tetap tenang, walaupun hati sudah mau menangis.


"Sama sekali nggak ngerepotin kok, neng! Iya kan, bro?"sahut pria bertato kemudian bertanya pada pria yang hidungnya di pasang anting.


"Yoi, tentu saja nggak bakalan ngerepotin. Apalagi yang ditemenin cewek secantik si Eneng,"sahut pria yang hidungnya dipasang anting.


"Ach, abang-abang bisa aja. So sweet banget!"canda Icha dengan senyum yang dipaksakan, sedangkan hatinya sekarang benar-benar sudah menangis. Icha sengaja bersikap biasa pada kedua pria itu, dengan harapan kedua pria itu tidak akan mengganggunya.


"𝙔𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣..!! 𝙏𝙖𝙠𝙨𝙞 𝙢𝙖𝙣𝙖, 𝙩𝙖𝙠𝙨𝙞!! 𝙆𝙤𝙠 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙚𝙬𝙖𝙩, 𝙨𝙞𝙘𝙝!"batin Icha.

__ADS_1


"Sini, neng! Deket Abang! Cuacanya dingin loh! Anginnya aja kenceng banget. Bentar lagi kayaknya mau hujan, dech! Kalau deket sama kita berdua kan bisa anget!" ucap pria bertato.


"Nggak dingin kok, bang! Ini malah gerah, soalnya saya kan pakai jaket tebel," ucap Icha sambil melihat jalanan untuk mencari taksi.


"𝙋𝙖𝙥𝙖, 𝙢𝙖𝙢𝙖, 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙞𝙣𝙞?"batin Icha yang sudah menangis.


"Kalau panas, dilepas aja neng, jaket nya," ucap pria bertato.


"Abang bantuin lepas jaketnya, ya?"tawar pria yang hidungnya dipasang anting.


"𝘿𝙪𝙝, 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙩𝙖𝙙𝙞 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙜𝙚𝙧𝙖𝙝, 𝙨𝙞𝙘𝙝?!"gerutu Icha dalam hati.


"Nggak usah, bang! Terimakasih!"ucap Icha masih berusaha tenang dengan mata yang terus memindai kendaraan yang lewat untuk mencari taksi, dan sesekali melirik dua pria yang berdiri tidak jauh darinya itu.


"Tapi kami berdua dengan senang hati mau bantuin Eneng lepasin jaket, loh!" ucap pria bertato.


Kedua orang pria itu perlahan mendekati Icha dengan gerak-gerik yang mencurigakan membuat Icha semakin tegang dan ketakutan. Icha berpikir apa yang harus dia lakukan saat ini untuk menyelamatkan diri.


"𝙀𝙝...𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙜𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝, 𝙮𝙖? 𝙈𝙖𝙨𝙖 𝙞𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙛𝙩𝙖𝙧 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙖? 𝙄𝙝.. 𝙖𝙢𝙞𝙩-𝙖𝙢𝙞𝙩 𝙙𝙚𝙝! 𝙃𝙖𝙢𝙗𝙖 𝙧𝙖𝙡𝙖𝙩 𝙙𝙤𝙖 𝙝𝙖𝙢𝙗𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣. 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙤𝙡𝙤𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙗𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙨𝙞𝙣𝙜𝙜𝙚𝙡 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙢𝙗𝙖 𝙟𝙖𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙨𝙖𝙮𝙖. 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙗𝙚𝙧𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖, 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙮𝙖 𝙟𝙖𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙪𝙙𝙖𝙧𝙖,"


"𝙇𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠 𝙥𝙡𝙚𝙩𝙝𝙞𝙣𝙜 𝙠𝙪𝙣𝙞𝙣𝙜 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙪 𝙣𝙮𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙪𝙣𝙜𝙖𝙞, 𝙮𝙖? 𝙀𝙝 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣, 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠 𝙉𝙖𝙬𝙖𝙣𝙜 𝙒𝙪𝙡𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙡𝙚𝙣𝙙𝙖𝙣𝙜,"batin Icha yang masih sempet- sempet nya mengingat cerita dongeng. Icha merasa kebingungan, harus bagaimana caranya menghadapi situasi yang mengancam dirinya saat ini.


Saat Icha merasa benar-benar ketakutan dan siap-siap mengambil langkah seribu, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan motornya yang di parkir.


"Icha! Sedang apa kamu disini malam -malam begini?"tanya seseorang yang baru turun dari mobil.


"Kak Radeva!"seru Icha saat melihat siapa yang menyapanya. Icha langsung berlari, menghambur memeluk Radeva.


Saat Radeva melewati jalan itu, Radeva melihat seorang gadis yang sepertinya dia kenali sedang didekati dua orang pria yang berpenampilan seperti preman. Radeva memutuskan menghentikan mobilnya, dan saat Radeva keluar dari mobil, ternyata gadis itu adalah Icha.

__ADS_1


"Kamu kenapa ada di sini?"tanya Radeva berusaha mengurai pelukan Icha. Namun Radeva terkejut saat melihat Icha sudah berurai air mata yang sudah ditahannya sedari tadi.


"Kamu kenapa?"tanya Radeva khawatir.


"Kak, aku tadi di suruh mama ngambil kue di toko kue langganan mama. Tapi pas nyampe sini, ban motor ku tiba-tiba bocor, dan kedua pria itu terus mendekati ku. Aku takut kak,"ucap Icha sambil terisak.


Radeva melihat motor Icha yang dibelakang nya ada box yang diikat, kemudian melihat dua pria yang mendekati Icha tadi masih berdiri di dekat motor Icha.


"Ayo, masuk mobil dulu!"ajak Radeva membimbing Icha masuk ke kursi penumpang bagian depan, disamping kursi kemudi.


Radeva menghubungi bengkel untuk mengambil motor Icha, kemudian melangkah ke arah motor Icha yang di parkir di pinggir jalan, ingin mengambil box yang berada jok belakang.


"Uang parkir bro!"ucap pria bertato menghalangi Radeva yang ingin mengambil box kue Icha. Radeva mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah dari dalam dompetnya dan memberikan nya pada pria bertato.


"Masa cuma segini, bro?"protes pria bertato itu.


"Jadi kamu mau minta tambah?"tanya Radeva seraya menggulung lengan baju kemejanya hingga ke siku.


"Peace, Bro!! Peace!!"ucap pria bertato itu pada Radeva seraya mengangkat kedua tangannya,"Ayo cabut bro!"ajak pria bertato itu pada temannya yang hidungnya memakai anting.


Setelah orang bengkel datang dan membawa motor Icha, Radeva pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan mengantar Icha pulang.Icha merasa sangat senang, karena bertemu dengan Radeva lagi dan untuk kedua kalinya dia ditolong oleh Radeva. Dalam mobil mereka tidak banyak bicara hingga akhirnya mereka tiba di depan rumah Icha.


"Mampir dulu, kak! Biar papa sama Mama ku tidak berpikir aku dari kelayapan, dan mereka tau kalau kakak udah nolongin aku lagi,"ujar Icha karena masih ingin melihat Radeva.


Baru saja Radeva ingin membuka mulutnya, tiba-tiba handphone Radeva berbunyi. Radeva pun segera menerima panggilan masuk itu saat mengetahui siapa yang menelponnya.


"Halo, sayang!"ucap Radeva dengan senyum yang mengembang.


"Degh" jantung Icha seolah berhenti berdetak saat mendengar Radeva mengucapkan kata sayang pada orang yang sedang menelponnya.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2