Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
52. Berita Bahagia


__ADS_3

"Apa?!"pekik Alva langsung berlari menuju toilet wanita.


Riky yang baru saja keluar dari toilet pria terkejut saat melihat Alva berlari ke arah toilet wanita dengan wajah panik. Riky pun segera menyusul Alva dan betapa terkejutnya Riky saat melihat Disha duduk dilantai dengan wajah pucat.


"Sayang, kenapa bisa seperti ini?"tanya Alva langsung menggendong tubuh Disha keluar dari toilet itu.


"Al, perutku sakit sekali,"sahut Disha lirih.


"Rik, ikut aku ke rumah sakit,"ucap Alva.


Riky pun segera berjalan dengan cepat mendahului Alva untuk membuka lift.


"Rik, kamu nanti langsung siapkan mobilnya,"ucap Alva dengan wajah khawatirnya.


"Baik Tuan,"ucap Riky yang juga ikut khawatir.


"Bertahanlah sayang, kita akan segera sampai ke rumah sakit,"ucap Alva mencoba menenangkan Disha.


"Sakit banget, Al,"sahut Disha lirih.


Setelah pintu lift terbuka, Riky segera berlari menuju ke parkiran khusus untuk mobil untuk petinggi perusahaan. Para karyawan yang melihat Riky berlari cepat pun terkejut, apalagi saat melihat Alva yang sedang menggendong Disha berjalan cepat menuju pintu utama.


Riky menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama. Security yang melihat Alva berjalan cepat menggendong Disha menuju mobil itupun langsung berlari membuka pintu mobil bagian penumpang. Alva pun segera masuk, dan security tadi langsung menutup pintu mobil itu.


Alva mendekap Disha yang berada dalam pangkuannya,"Bertahanlah sayang,"ucap Alva sambil mengelus perut Disha berharap sakit yang dirasakan oleh Disha berkurang. Disha tidak menjawab, namun tangan kanannya mencengkram lengan Alva untuk menahan rasa sakit di perutnya. Sedangkan tangan kirinya yang berada di belakang tubuh Alva mencengkram punggung Alva.


Riky mengemudikan mobilnya dengan kencang hingga mereka dikejar oleh dua orang polisi yang menggunakan motor. Sedangkan mobil Ferdi berada di belakang mobil Riky.


"Achh ..siall.!! Kenapa sich para polisi itu terus mengejar kita?! Tidak tahu apa kalau ini sedang urgent?!"gerutu Riky.


"Jangan pedulikan mereka Rik, kita harus segera tiba di rumah sakit,"ucap Alva.


"Baik, Tuan,"sahut Riky.


Riky terus fokus pada jalan raya tanpa memperdulikan polisi yang mengejar mereka.Riky pun terpaksa berhenti saat lampu lalulintas berwarna merah hingga polisi yang mengejar mereka pun tiba dan menggedor kaca mobilnya. Riky membuka kaca mobil itu dan Alva pun ikut membuka kaca mobil bagian penumpang.


"Selamat siang, anda berkendara dengan kecepatan rata-rat...."


"Pak, istri saya sedang butuh pertolongan medis. Bisakah anda mengawal kami ke rumah sakit?!"ucap Alva memotong kata-kata polisi itu.


Polisi itu pun melihat Alva yang sedang memangku Disha. Melihat wajah Disha yang begitu pucat dan seperti menahan rasa sakit.

__ADS_1


"Al, sakit sekali, Al,"lirih Disha.


"Sabar, sayang,"ucap Alva menenangkan.


"Apa yang terjadi dengan istri anda?"tanya polisi tersebut.


"Istri saya sedang mengandung dan tadi terjatuh di kamar mandi, saya harus segera membawanya ke rumah sakit,"jelas Alva agar urusan dengan polisi itu cepat selesai.


"Baiklah akan kami kawal,"sahut polisi tersebut.


"Terimakasih, Pak,"ucap Alva.


Polisi itu pun menganggukkan kepalanya dan segera mengawal mobil yang di kendarai oleh Riky sehingga mereka lebih cepat tiba di rumah sakit.


Setelah tiba di rumah sakit, Disha langsung dilarikan ke IGD. Dengan cemas, Alva menunggu di depan IGD. Riky pun masih setia menemani Alva dengan wajah yang sama cemasnya. Begitu pula dengan Ferdi yang selama ini ditugaskan oleh Alva untuk menjaga Disha


𝐁𝐞𝐝𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐈𝐆𝐃 𝐝𝐚𝐧 𝐔𝐆𝐃 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐈𝐆𝐃 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐢𝐧𝐬𝐭𝐚𝐥𝐚𝐬𝐢 𝐠𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐫𝐮𝐫𝐚𝐭, 𝐮𝐤𝐮𝐫𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐛𝐞𝐬𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐛𝐚𝐧𝐝𝐢𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐮𝐧𝐢𝐭 𝐠𝐚𝐰𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐫𝐮𝐫𝐚𝐭 (𝐔𝐆𝐃). 𝐃𝐢 𝐈𝐆𝐃, 𝐚𝐥𝐚𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐝𝐨𝐤𝐭𝐞𝐫 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐩𝐮𝐧 𝐥𝐞𝐛𝐢𝐡 𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐬𝐩𝐞𝐬𝐢𝐚𝐥𝐢𝐬𝐚𝐬𝐢. 𝐒𝐞𝐦𝐞𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐢𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐔𝐆𝐃, 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐠𝐚 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐨𝐤𝐭𝐞𝐫 𝐮𝐦𝐮𝐦, 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐣𝐞𝐧𝐢𝐬 𝐚𝐥𝐚𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐫𝐞𝐥𝐚𝐭𝐢𝐟 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐚𝐭𝐚𝐬.


Setelah menunggu lama dengan perasaan yang begitu cemas, akhirnya dokter pun keluar dari ruangan IGD itu. Alva pun segera menghampiri dokter itu.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?"tanya Alva.


"Syukurlah, anda tidak terlambat membawanya ke sini. Istri anda dan janin yang ada dalam kandungan istri anda selamat, tapi istri anda harus bedrest, agar keadaannya cepat pulih,"jelas dokter.


"Dokter tadi bilang apa? Janin? Maksud dokter istri saya benar-benar sedang mengandung?"tanya Alva memastikan bahwa apa yang didengarnya tadi tidak salah.


"Iya, istri anda sedang mengandung dan usia kandungan istri anda sudah berusia enam Minggu. Jadi tolong jaga baik-baik ya Pak! Untuk lebih jelasnya anda bisa ikut keruangan saya. Saya akan menjelaskan apa yang harus dihindari saat masa kehamilan dan apa saja asupan makanan dan minuman yang harus diberikan,"jelas dokter.


"Rik, Fer, istri ku sedang mengandung dan sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah,"ucap Alva dengan wajah yang bahagia.


Alva rasanya hampir tidak percaya bahwa Disha benar-benar sedang mengandung anaknya, dan sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah.


"Selamat, Tuan! Sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah,"ucap Riky ikut bahagia melihat Alva bahagia.


"Terimakasih, Rik,"ucap Alva.


"Selamat, Tuan, atas kehamilan Nyonya!"ucap Ferdi ikut bahagia.


"Terimakasih, Fer,"ucap Alva,"Aku akan ke ruangan dokter,"lanjut Alva.


Akhirnya Alva pun mengikuti Dokter tersebut dan mendengar arahan dari dokter tentang apa saja yang harus dilakukan Alva untuk menjaga agar istrinya dan juga janin yang berada dalam kandungan istrinya sehat.

__ADS_1


Setelah mendengarkan penjelasan dari dokter secara detail, Alva pun keluar dari ruangan dokter itu dengan wajah yang bahagia.


"Tuan, Nyonya sudah di pindahkan ke ruang rawat,"ucap Riky memberitahu.


"Antar aku ke sana,"ucap Alva.


"Baik, Tuan,"ucap Riky kemudian menunjukkan tempat Disha dirawat kepada Alva.


Alva melihat Disha yang terbaring di atas brankar, kemudian mendekati Disha dengan perasaan haru dan bahagia. Sedangkan Riky memilih menunggu di luar bersama Ferdi karena tidak mau menganggu kebersamaan pasangan suami-istri itu.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu?"tanya Alva sambil mengusap rambut Disha dengan lembut kemudian mengecup kening Disha dengan penuh kasih sayang.


"Aku sudah lebih baik, Al,"sahut Disha tersenyum tipis.


"Apa perutmu masih sakit?"tanya Alva seraya mengusap perut Disha dengan lembut.


"Sudah tidak sakit lagi, Al,"sahut Disha.


"Berarti Alva junior baik-baik saja di dalam sini,"ucap Alva dengan wajah yang bahagia.


"Maksud mu?"tanya Disha dengan kening yang berkerut.


"Maksud ku, didalam perut mu ada anak kita,"ucap Alva tersenyum manis.


"Maksud kamu aku sedang mengandung?"tanya Disha memastikan.


"Iya, kamu sedang mengandung anak kita,"jelas Alva.


"Tidak.....itu tidak mungkin, Al,"ucap Disha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa tidak mungkin? Kita sering melakukan hubungan suami-istri, jadi wajar kalau kamu mengandung,"ucap Alva.


"Tapi..aku..."ucap Disha menggantung kata-katanya.


"Apa kamu tidak suka jika kamu mengandung anakku?"tanya Alva yang merasa kecewa saat melihat ekspresi wajah Disha yang sama sekali tidak bahagia bahkan mengatakan tidak mungkin dirinya mengandung.


"Kamu jangan mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin, Al!"ucap Disha menatap wajah Alva sendu.


"Apa maksud kamu?"


...🌟"Bahagia itu bila bersamamu, rindu itu bila jauh dari mu, sedih itu jika aku mencintaimu tapi kamu tidak mencintaiku. Walaupun aku tahu, tidak seharusnya aku mencintai manusia lebih dari aku mencintai Tuhan-ku."🌟...

__ADS_1


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued


__ADS_2