
Keesokan harinya keluarga Bramantyo dan keluarga Mahendra sudah duduk mengelilingi meja makan untuk sarapan bersama sama. Seperti biasa, Disha selalu melayani Alva di meja makan.
"Sayang, kamu mau sarapan pakai apa?" tanya Disha.
"Nasi goreng, telor ceplok aja, sayang," sahut Alva.
"Mau pakai mentimun?"
"Boleh,"sahut Alva tersenyum tipis pada istrinya dan Disha pun segera mengambilkan apa yang diinginkan oleh Alva.
Ratih pun mengambilkan makanan untuk Bramantyo, Ghina mengambilkan makanan untuk Mahendra, sedangkan Radeva hanya diam melihat semua pria di meja makan itu dilayani istrinya masing-masing.
"Mangkanya cepetan nikah, biar ada yang melayani kamu, Dev,"celetuk Bramantyo yang melihat Radeva belum mengambil apapun.
"Gimana ya, Om?! Nyari pasangan hidup ternyata lebih sulit dari pada nyari uang,"sahut Radeva dan Bramantyo hanya menggeleng pelan.
"Kamu mau makan apa, biar mama ambilkan,"tawar Ghina pada Radeva.
"Nasi goreng aja, ma,"sahut Radeva tersenyum tipis.
Setelah sarapan, Alva dan Disha pun segera pergi ke kantor. Radeva yang melihat Kaivan digendong oleh Bik Inah pun langsung mendekati Kaivan.
"Sini, ikut Paman!"ucap Radeva mengambil alih Kaivan dari gendongan Bik Inah.
"Kamu lucu sekali, sich!"ucap Radeva yang kini sedang memangku Kaivan. Berkali-kali Radeva mencium bayi montok itu dengan gemas membuat Kaivan tertawa karena geli dengan bulu-bulu halus di wajah Radeva.
Mahendra yang melihat Radeva sedang asyik dengan Kaivan pun ikut mendekat, ingin juga menggendong bayi tampan, lucu dan montok itu.
"Sini, main sama kakek dulu,"ucap Mahendra mengulurkan tangannya pada Kaivan dan langsung disambut oleh Kaivan dengan mengulurkan tangannya pada Mahendra.
"Pa, aku baru sebentar bermain dengan Kaivan,"keluh Radeva namun tidak dihiraukan oleh Mahendra.
"Cucu ku baru kemarin melihat kalian, kenapa dia nampak langsung akrab dengan kalian. Padahal biasanya dia tidak mau di gendong oleh orang yang baru dia lihat,"celetuk Bramantyo heran melihat cucunya cepat akrab dengan keluarga Mahendra.
"Kami ini orang baik, Tyo. Bayi kan perasaannya peka, mereka masih polos dan bisa menilai mana orang yang tulus dan mana orang yang penuh dengan akal bulus,"sahut Ghina yang tiba-tiba muncul lalu mencium pipi Kaivan.
Bramantyo merasa tertohok dengan kata-kata Ghina. Dulu dia menolak Disha menjadi bagian dari keluarganya dan Kaivan nampak enggan jika Bramantyo ingin mengendong nya.Namun semenjak Bramantyo berdamai dengan Disha dan mau menerima Disha sebagai menantu nya, Kaivan jadi lebih dekat dengan nya.
Ghina benar, mungkin Kaivan yang masih polos dapat merasakan bahwa Bramantyo dulu membenci ibunya, karena itu Kaivan dulu suka menolak jika dia ingin mengendong nya.
"Mangkanya cepetan nikah, Dev. Biar bisa segera punya momongan,"ucap Ratih yang ikut nimbrung dengan mereka.
__ADS_1
"Belum ketemu jodoh, Tan,"sahut Radeva seraya tersenyum.
"Kamu terlalu pemilih kali!"sahut Ratih.
"Enggak juga, Tan. Cuma belum ada yang cocok saja,"sahut Radeva.
"Padahal udah pantes loh, jadi ayah," sahut Bramantyo.
"Iya, kamu cepat lengket sama Kaivan," timpal Ratih.
"Dulu saat Disha mengandung, Disha tidak ngidam tapi malah Alva yang ngidam,"ucap Bramantyo sambil terkekeh saat mengingat Alva mual-mual dan muntah-muntah karena ngidam.
"Iya, sampai-sampai Om kamu cemburu sama Alva karena Alva selalu nempel sama Tante dan tidak suka mencium aroma apapun selain aroma tubuh Tante dan tubuh Disha,"celetuk Ratih.
"Benarkah? Yang ngidam Alva, Tan?"tanya Radeva tidak percaya.
"Iya. Dia sampek lemes gara-gara terus saja mual dan muntah,"sahut Ratih.
"Itu karena Alva terlalu mencintai Disha. Kata orang tua dulu, jika suami terlalu mencintai istrinya memang kemungkinan besar saat istrinya mengandung, yang ngidam adalah suaminya,"sahut Ghina.
"Kok, bisa ya, ma?"tanya Radeva.
"Ya kenyataannya bisa. Papa kamu dulu juga gitu. Mama yang hamil, tapi papamu yang ngidam,"sahut Ghina.
"Iya. Ternyata tidak enak saat mengalami morning sickness,"sahut Mahendra.
"Berarti papa sangat mencintai mama, ya?"celetuk Radeva.
"Tentu saja. Mama mu satu-satunya wanita yang ada dalam hidup papa dan wanita satu-satunya yang papa cintai," jawab Mahendra jujur dan tidak malu mengakui perasaannya.
"Apa kita pulang ke apartemen sekarang saja, pa, ma?"tanya Radeva.
"Sebenarnya papa masih ingin bermain dengan jagoan kecil ini. Baiklah, kita pulang sekarang. Lain kali kita kesini lagi," ucap Mahendra.
"Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian,"ucap Bramantyo.
"Terimakasih, Tyo,"ucap Mahendra kemudian keluarga Mahendra pun pulang ke apartemen yang sudah disewa Radeva.
***
Di kediaman Darmawan.
__ADS_1
Hery bangun dengan kepala yang terasa sangat berat dan pusing dan mendapati dirinya sudah berada di dalam kamarnya. Ingatannya kembali pada peristiwa semalam, dimana dia harus menerima kenyataan bahwa dirinya bukan anak kandung dari Darmawan. Dan Hery berharap kejadian semalam hanyalah mimpi.
Perlahan Hery turun dari ranjangnya kemudian mengguyur kepalanya dengan air shower. Setelah merasa lebih segar, Hery menyelesaikan ritual mandinya kemudian memakai pakaiannya dan turun dari kamarnya yang ada di lantai dua menunju meja makan.
"𝙎𝙞𝙖𝙡!! 𝙏𝙚𝙧𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙖𝙙𝙖 𝙙𝙞 𝙨𝙞𝙣𝙞,"batin Hery saat melihat Sandy dan Anjani sudah ada di meja makan.
"Duduklah! Kita sarapan bersama,"titah Darmawan menatap Hery.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Hery duduk di salah satu kursi. Mereka makan tanpa mengeluarkan suara selain suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
"Hery, seperti apa yang dikatakan oleh Sandy semalam, mulai hari ini kamu akan bekerja di divisi umum,"ucap Darmawan.
"Terserah papa,"sahut Hery datar.
"𝘽𝙖𝙞𝙠𝙡𝙖𝙝. 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙖𝙠𝙪 𝙜𝙖𝙜𝙖𝙡 𝙢𝙚𝙡𝙚𝙣𝙮𝙖𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙪 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙚𝙬𝙖𝙧𝙞𝙨 𝙩𝙪𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙃𝘿 𝙂𝙧𝙤𝙪𝙥, 𝙢𝙖𝙠𝙖 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙡𝙚𝙣𝙮𝙖𝙥𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙪. 𝘿𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙜𝙖𝙜𝙖𝙡 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙪𝙡𝙪,"batin Hery menatap Sandy sekilas.
***
Setelah Radeva memarkirkan mobilnya, Radeva membawa koper kedua orang tuanya dan berjalan ke unit apartemen yang sudah disewanya diikuti oleh Mahendra dan Ghina.
Trisha duduk di sofa dengan memejamkan matanya. Dari kemarin siang dia sendirian di apartemen itu. Trisha langsung menoleh kearah pintu saat mendengar suara code akses pintu yang ditekan dari luar. Namun sesaat kemudian kembali memejamkan matanya.
Trisha mendengar derap langkah kaki yang mendekat ke arah nya,"Kakak dari mana? Kenapa semalam tidak pulang?" tanya Trisha tanpa mau membuka matanya.
"Kakak dari rumah Hery,"sahut Radeva, sedangkan Mahendra dan Ghina masih belum ingin membuka suara.
Trisha mendengus mendengar kata-kata Radeva itu,"Untuk apa kakak datang ke rumah pria itu? Sudah aku bilang, aku tidak mau menikah dengan pria itu,"sahut Trisha masih enggan membuka matanya.
"Lalu bagaimana kalau kamu hamil? Apa kamu tidak malu jika hamil di luar nikah?"tanya Radeva.
"Aku tidak akan hamil,"ucap Trisha datar dengan mata masih terpejam.
"Itu bisa saja terjadi,Trisha! Kalian telah melakukan hubungan suami-istri, jadi ada kemungkinan kalau nanti kamu hamil.
Trisha langsung membuka matanya dan menatap tajam Radeva yang berdiri di depan nya tanpa menyadari bahwa ada Mahendra dan Ghina di belakang sofa yang tengah dia duduki.
"Aku tidak akan hamil, kak! Aku tidak sudi mengandung anak dari pria brengseek seperti Hery. Kalau pun aku hamil, aku akan menggugurkan nya!"pekik Trisha.
"Trisha!!"
...🌟 Sering kali kita menghadapi kenyataan pahit dalam hidup ini, dan mau tidak mau kita harus menghadapinya. Karena kenyataan tidak akan pernah berubah walaupun kita tidak mau menerimanya."🌟...
__ADS_1
..."Nana 17 Oktober"...
To be continued