Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
29. Misi Merayu


__ADS_3

"Riky..!!!!"teriak Alva, namun secepat kilat Riky langsung berlari keluar dari ruangan itu.


Riky mengelus-elus dadanya setelah menutup pintu ruangan Presdir itu.


Disha yang melihat tingkah Riky itu mengernyitkan keningnya tidak mengerti.


"š“š‘‘š‘Ž š‘Žš‘š‘Ž š‘™š‘Žš‘”š‘– š‘‘š‘’š‘›š‘”š‘Žš‘› š‘Žš‘™š‘–š‘’š‘› š‘‘š‘Žš‘› š‘Žš‘ š‘–š‘ š‘”š‘’š‘›š‘›š‘¦š‘Ž š‘–š‘”š‘¢? š»š‘¢š‘“š‘“...š‘”š‘Žš‘‘š‘– š“š‘›š‘—š‘Žš‘›š‘– š‘šš‘Žš‘ š‘¢š‘˜ š‘‘š‘Žš‘› š‘š‘’š‘Ÿš‘”š‘’š‘Ÿš‘–š‘Žš‘˜, š‘˜š‘’š‘šš‘¢š‘‘š‘–š‘Žš‘› š‘˜š‘’š‘™š‘¢š‘Žš‘Ÿ š‘‘š‘’š‘›š‘”š‘Žš‘› š‘¤š‘Žš‘—š‘Žā„Ž š‘˜š‘¢š‘ š‘¢š‘”. š‘†š‘’š‘˜š‘Žš‘Ÿš‘Žš‘›š‘” š‘Žš‘ š‘–š‘ š‘”š‘’š‘› š‘Žš‘™š‘–š‘’š‘› š‘–š‘›š‘– š‘˜š‘’š‘™š‘¢š‘Žš‘Ÿ š‘‘š‘Žš‘Ÿš‘– š‘Ÿš‘¢š‘Žš‘›š‘”š‘Žš‘› š‘Žš‘™š‘–š‘’š‘› š‘ š‘’š‘š‘’š‘Ÿš‘”š‘– š‘˜š‘’š‘™š‘¢š‘Žš‘Ÿ š‘‘š‘Žš‘Ÿš‘– š‘˜š‘Žš‘›š‘‘š‘Žš‘›š‘” š‘šš‘Žš‘š‘Žš‘›. š“š‘˜š‘¢ š‘š‘’š‘›š‘Žš‘Ÿ-š‘š‘’š‘›š‘Žš‘Ÿ š‘”š‘–š‘‘š‘Žš‘˜ š‘šš‘’š‘›š‘”š‘’š‘Ÿš‘”š‘– š‘‘š‘’š‘›š‘”š‘Žš‘› š‘”š‘–š‘›š‘”š‘˜š‘Žā„Ž š‘šš‘’š‘Ÿš‘’š‘˜š‘Ž,"batin Disha menghela nafas panjang.


Di dalam ruangan Presdir.


"Apa benar cemburu ku ini tidak jelas? Tapi kalau dipikir pikir memang Disha tidak bersalah. Dan benar kata Riky, aku tidak akan bisa melukis malam ini jika aku belum berbaikan dengan Disha. Baiklah aku nanti akan mencoba meminta maaf padanya,"gumam Alva.


Malam harinya.


Setelah Alva dan Disha pulang dari kantor, mereka masih saling diam. Alva bingung bagaimana caranya untuk minta maaf pada Disha. Sedangkan Disha nampak acuh dengan keadaan mereka sekarang ini. Disha membiarkan hal ini untuk sementara waktu sambil mengistirahatkan diri dari gangguan Alva.


Malam semakin larut dan Disha pun mulai merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang. Tak lama kemudian Alva sudah menyusul Disha berbaring di sebelah Disha yang berbaring memunggunginya. Dengan perlahan Alva mendekati istrinya.


Disha merasakan pergerakan di atas ranjang dan ada seseorang yang masuk kedalam selimut yang sama dengannya. Disha yakin bahwa itu adalah suaminya, karenanya Disha hanya diam dan tetap memejamkan matanya. Namun Disha sempat terkejut saat tiba-tiba Alva memeluknya dari belakang.


"Sayang, maafkan aku. Aku salah karena terlalu cemburu, itu semua karena aku sangat mencintaimu dan takut kehilangan kamu. Maafkan aku ya?! Aku mohon jangan marah lagi padaku. Aku mohon maafkan aku,"ucap Alva mengeratkan pelukannya kemudian mengecup puncak kepala Disha beberapa kali.


"š»š‘¢ā„Žā„Ž...š‘Žš‘˜š‘¢ š‘š‘’š‘›š‘Žš‘Ÿ-š‘š‘’š‘›š‘Žš‘Ÿ š‘”š‘–š‘‘š‘Žš‘˜ š‘š‘–š‘ š‘Ž š‘šš‘Žš‘Ÿš‘Žā„Ž š‘™š‘Žš‘”š‘– š‘š‘Žš‘‘š‘Žš‘›š‘¦š‘Ž š‘—š‘–š‘˜š‘Ž š‘‘š‘–š‘Ž š‘ š‘¢š‘‘š‘Žā„Ž š‘šš‘’š‘šš‘’š‘™š‘Žš‘  š‘ š‘’š‘š‘’š‘Ÿš‘”š‘– š‘–š‘›š‘–,"batin Disha.


"Sayang..!!"panggil Alva lembut kemudian menggosok-gosokkan hidungnya di leher Disha.


"Hentikan Al.!!"seru Disha mendorong wajah Alva dari lehernya.


Disha tidak akan sanggup bertahan jika Alva sudah membuainya. Sedangkan Disha merasa Alva perlu diberi pelajaran agar tidak suka cemburu buta.


Untuk sesaat Alva menghentikan aksinya, karena takut istrinya bertambah marah. Namun itu hanya bertahan beberapa menit saja, tangan Alva sudah mulai merayap dari perut mulai merayap ke atas.


"Plakk.."dengan kuat Disha memukul tangan Alva yang mulai nakal itu.


"Awhh..!! Sakit sayang..!!"keluh Alva.

__ADS_1


"Menjauh dari ku..!!"ucap Disha melepaskan tangan Alva yang melingkar di perutnya.


"šš¢š¬šš-š›š¢š¬ššš§š²šš šØš­ššš¤š§š²šš š¦šžš§š ššš«ššš” š¤šž š¬ššš§šš šš¢š¬ššššš­ ššš¤š® š›šžš„š®š¦ š¦šžš¦šššššŸš¤ššš§ šš¢šš,"batin Disha tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya itu.


"Sayang maafkan aku,"ucap Alva memelas.


"Jangan ganggu aku, aku lelah,"ucap Disha kembali memejamkan matanya.


Alva menghela nafas berat,"Ijinkan aku memelukmu sayang,"ucap Alva memohon.


"Tidak, aku tahu kamu tidak akan hanya sekedar memeluk saja,"tolak Disha tegas.


"Aku janji hanya akan memelukmu saja sayang. Boleh ya?"ucap Alva kemudian perlahan mulai mengulurkan tangannya untuk kembali memeluk Disha tanpa menunggu persetujuan dari Disha.


Disha menghela nafas panjang, membiarkan Alva kembali memeluknya, hingga dia terlelap. Sedangkan Alva, walaupun sudah larut malam masih belum bisa terlelap.Setelah beberapa menit menunggu istrinya tidur dengan lelap, Alva pun mendengar dengkuran halus istrinya.


"Ach,...sial.!! Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diri jika dekat dengannya,"gerutu Alva kemudian dengan perlahan menyesap leher Disha di beberapa tempat hingga meninggalkan warna keunguan.


Setelah puas melukis tato di leher Disha , Alva pun menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Disha kemudian memejamkan mata hingga ikut terlelap bersama istrinya.


Saat membuka mata, Disha sudah disuguhi dada bidang berotot milik suaminya yang terpampang jelas di depan matanya. Perlahan Disha mendongakkan kepalanya menatap wajah pria yang sekarang sedang mendekapnya.


Wajah yang terlihat tampan tapi tegas dengan rahang yang kokoh, bibir yang tidak terlalu tipis atau pun tebal, hidung mancung, dan alis yang tebal. Sungguh sempurna pahatan Tuhan.


Disha mencoba merenggangkan pelukan Alva, tapi Alva malah memeluknya semakin erat.


"Al, lepaskan pelukan mu, aku ingin mandi,"ucap Disha.


"Sebentar lagi sayang,"sahut Alva dengan suara serak khas orang yang baru bangun dari tidurnya, tanpa mau membuka matanya apalagi melepaskan pelukannya.


"Aku harus menyiapkan sarapan kita Al,"ucap Disha.


"Delivery saja sayang, aku masih ingin bersamamu,"ucap Alva.


"Kita harus ke kantor sayang...!,"ucap Disha seketika membuat Alva membuka matanya.

__ADS_1


"Kamu bilang apa tadi?"tanya Alva menatap mata Disha.


"š€šš®š”....š¤šžš§ššš©šš š¦š®š„š®š­ š¤š® š›š¢š¬šš š¤šžšœšžš©š„šØš¬ššš§ š¦šžš§š ššš­ššš¤ššš§ š¬ššš²ššš§š  š¬š¢šœš”?! šš¢š¬šš š›šžš¬ššš« š¤šžš©ššš„šš š§š¢šœš” š¬š¢ ššš„š¢šžš§,"batin Disha.


"Kita harus kekantor,"ucap Disha berusaha tenang.


"Tidak, bukan begitu, tadi masih ada kelanjutannya. Ayo katakan lagi.!"perintah Alva.


"Nggak ada Al,"jawab Disha lagi.


"Aku tidak akan melepaskan mu sebelum kamu mengatakan apa yang tidak ingin kamu katakan tadi,"ucap Alva.


"Terserah, biar kita kesiangan ke kantornya,"ucap Disha kesal.


"Apa kamu tidak mau menyenangkan hati suamimu sedikit saja? Apa benar hanya aku yang mencintaimu dan kamu tidak?"tanya Alva dengan wajah yang nampak sedih.


"Sudahlah Al, aku tidak ingin bertengkar dengan mu pagi-pagi begini.Aku tidak mau mood ku hancur di pagi hari,"ketus Disha sambil melepaskan tangan Alva dengan kasar dari tubuhnya.


Alva menghela nafas berat, menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Terlihat kesedihan dan kekecewaan di raut wajahnya yang tampan.


"š€š©šš ššš¤š® šžš šØš¢š¬ š£š¢š¤šš ššš¤š® š¢š§š š¢š§ š¦šžš¦š¢š„š¢š¤š¢ š¤ššš¦š® š¬šžš®š­š®š”š§š²šš? š€š©šš ššš¤š® šžš šØš¢š¬ š£š¢š¤šš ššš¤š® š¢š§š š¢š§ š¤ššš¦š® š›šžš«š­ššš”ššš§ šš¢ š¬š¢š¬š¢š¤š® š°ššš„ššš®š©š®š§ š¤ššš¦š® š­š¢šššš¤ š¦šžš§šœš¢š§š­ššš¢ š¤š®? š‡ššš«š®š¬ š›ššš ššš¢š¦ššš§šš ššš¤š® š¦šžš¦š›š®š¤š­š¢š¤ššš§ šœš¢š§š­šš š¤š®? š€š©šš š²ššš§š  š”ššš«š®š¬ ššš¤š® š„ššš¤š®š¤ššš§ ššš ššš« š¤ššš¦š® š¦šžš§šœš¢š§š­ššš¢ kš®?"š›ššš­š¢š§ š€š„šÆšš .


"Dertt.... derttt..,.dertt....."


Suara handphone Disha membuyarkan lamunan Alva. Alva kemudian mencari dimana keberadaan handphone Disha itu dan menemukanya di dalam tas Disha. Alva mengambil handphone itu dan tanpa sengaja menjatuhkan obat dari dalam tas Disha.


Alva kemudian melihat siapa yang menelpon Disha, tapi sayangnya saat Alva akan mengangkatnya panggilan masuk itu sudah mati. Alva memungut obat yang terjatuh dari dalam tas Disha, kemudian mengamatinya.


"Obat apa ini?"gumam Alva mengembalikan handphone Disha ke dalam tas kemudian segera mengambil handphonenya dan memotret obat itu bolak-balik kemudian mengambil satu lalu mengembalikannya ke dalam tas Disha.


...🌟"Cemburu itu tanda cinta, tapi kalau tidak pada tempatnya malah akan merusak cinta."🌟...


..."Nama 17 Oktober "...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2