Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
76. Testpack


__ADS_3

"Cukup.!!" sergah Disha.


"Ayu, dia itu..."


"Jangan bicara sembarangan tentang suami saya! Tahu apa anda tentang rumah tangga saya?"ucap Disha dengan nada ketus.


"Ayu, tapi dia..."


"Saya lebih tahu tentang suami saya dari pada orang lain. Dan jangan coba-coba untuk menjelek-jelekkan suami saya didepan umum apalagi di depan saya!"ucap Disha memperingati.


"Ayu, dari dulu sampai sekarang aku masih tetap mencintaimu!"ungkap Hery tidak tahu malu.


"Kau.."geram Alva.


"Saya tidak bisa melarang anda untuk mencintai saya. Tapi maaf, saya tidak bisa menerima cinta anda apalagi mencintai anda. Saya sudah memberikan cinta saya seutuhnya untuk suami saya,"ucap Disha memotong kata-kata Alva.


"Setelah bertahun-tahun kita bersama namun akhirnya kamu malah memilih dia. Ini tidak adil bagi ku, Yu!"protes Hery.


"Kalau ingin meminta keadilan seharusnya anda datang ke kantor polisi,"sela Riky.


"Kau.!! Jangan ikut campur urusan orang lain,"sergah Hery kesal.


"Aku tidak menyangka ada orang yang tidak tahu malu seperti anda. Merendahkan diri untuk mengemis cinta dari seorang wanita yang sudah bersuami,"cibir Alva.


"Kamu yang tidak tahu malu karena telah merebut kekasihku,"ucap Hery percaya diri.


"Cukup Her.!! Aku dulu menerima mu sebagai pacarku karena aku capek kamu kejar-kejar dan sesungguhnya aku tidak pernah mencintaimu. Hanya Alvarendra Bramantyo lah satu-satunya pria yang pernah aku cintai dalam hidup ku,"


"Jadi mulai sekarang, tolong jangan ganggu aku dan keluargaku lagi!"ucap Disha yang sudah muak dengan tingkah laku Hery. Disha kemudian menatap Alva,"Ayo sayang, kita pulang!"ucap Disha.


Disha mengibaskan rambutnya ke belakang hingga terlihat banyak kiss mark di lehernya, kemudian dengan sengaja mengecup leher suaminya yang memang sengaja ingin menunjukkan kiss mark di leher Alva. Dan benar saja, semua orang yang ada di tempat itu bisa melihat dengan jelas jejak percintaan di leher sepasang suami-isteri itu.


"Ayo kita pulang! Putra kita pasti sudah rindu pada kita,"sahut Alva mengecup sekilas bibir Disha kemudian membawa Disha pergi dari tempat itu setelah berpamitan pada kedua mempelai dan orang tua mempelai.


"𝐒𝐢𝐚𝐥𝐥.! 𝐌𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐧𝐠𝐚𝐣𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐣𝐮𝐤𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐦𝐞𝐬𝐫𝐚𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐝𝐢𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐮𝐦𝐮𝐦, 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐦𝐚𝐥𝐮 𝐦𝐞𝐧𝐮𝐧𝐣𝐮𝐤𝐤𝐚𝐧 𝐣𝐞𝐣𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚,"umpat Hery dalam hati. Hery merasa panas hatinya saat melihat Alva dan Disha bermesraan di depan umum, apalagi saat melihat jejak percintaan di leher Disha dan Alva.


"𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐍𝐲𝐨𝐧𝐲𝐚!! 𝐏𝐞𝐛𝐢𝐧𝐨𝐫 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐩𝐞𝐫𝐥𝐮 𝐝𝐢 𝐭𝐚𝐦𝐩𝐚𝐫 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐭𝐚-𝐤𝐚𝐭𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐩𝐞𝐫𝐥𝐮 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐦𝐩𝐚𝐫 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐚𝐥 𝐛𝐚𝐤𝐢𝐚𝐤 (𝐬𝐞𝐧𝐝𝐚𝐥 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐫𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐲𝐮)"batin Riky yang merasa senang dengan respon Disha.


"𝐌𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐧𝐠𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐦𝐞𝐬𝐫𝐚𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐝𝐞𝐩𝐚𝐧 𝐮𝐦𝐮𝐦. 𝐓𝐞𝐫𝐧𝐲𝐚𝐭𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐠𝐚𝐥𝐚 𝐡𝐚𝐥 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐞𝐦𝐩𝐮𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮. 𝐊𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤, 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐞 𝐜𝐞𝐫𝐝𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐞𝐤𝐚𝐲𝐚𝐚𝐧,"batin Anjani yang tanpa terasa air mata menetes namun segera dihapusnya.


"Sudahlah sayang, jangan ingat dia lagi. Sebaiknya kamu memikirkan masa depanmu,"ucap Adiguna kemudian memeluk Anjani. Adiguna tahu, Anjani pasti merasa sedih dan cemburu melihat kemesraan Alva dan Disha tadi.


"Kita pulang saja, pa! Aku sudah tidak ingin berada di sini lagi,"ucap Anjani yang langsung dituruti oleh Adiguna.

__ADS_1


***


Di apartemen Disha dan Alva.


Setelah kembali dari resepsi pernikahan, Alva dan Disha segera membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, Disha menghampiri Kaivan yang sudah dibuatkan kamar sendiri.Namun setiap malam Disha akan membawa Kaivan ke dalam kamarnya.


Disha menciumi pipi Kaivan yang gembil, merasa gemas dengan putranya yang semakin hari semakin menggemaskan.


"Bik Inah istirahat saja! Saya akan membawa Kaivan ke kamar saya,"ucap Disha kepada baby sister Kaivan.


"Baik, Nyonya,"sahut perempuan paruh baya itu. Kemudian Disha membawa Kaivan ke dalam kamarnya.


"Anak mama haus ya?!"ucap Disha saat Kaivan mulai gelisah dengan mengecap ngecapkan bibirnya dan Disha pun segera menyusui.


Tidak lama kemudian Alva masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas susu untuk ibu menyusui.


"Sayang, minum dulu susunya. Anak papa bangun, ya,"ucap Alva menyodorkan segelas susu untuk Disha kemudian menciumi pipi Kaivan yang sedang menyusu.


"Terimakasih PakSu, sayang!"ucap Disha sambil mengerlingkan sebelah matanya sambil tersenyum manis kemudian meminum susu yang diberikan Alva.


"Kamu semakin genit dan semakin berani menggoda ku. Tunggu saja nanti, aku akan memakan mu sampai habis hingga kamu akan kesusahan untuk bangun dari pembaringan,"ancam Alva namun Disha malah tergelak.


"Kamu menertawakan aku? Kamu menganggap aku bercanda?"tanya Alva sambil memicingkan matanya.


"Aku percaya, tapi aku tidak yakin kamu akan bisa melancarkan aksimu dengan lancar,"sahut Disha.


"Kamu kan tahu sendiri, kalau Kaivan sering terbangun untuk menyusu,"jawab Disha.


"Aku akan meminta baby sister untuk menjaganya agar aku bisa bersamamu tanpa gangguan dari Kaivan,"ucap Alva serius.


"Terserah kamu saja,"ucap Disha yang tidak mau melanjutkan obrolan tentang hal itu.


'Kaivan sudah tidur sayang, sini biar aku tidurkan di box bayi,"ucap Alva kemudian mengambil Kaivan dari pangkuan Disha dan membaringkannya di box bayi.


Disha membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Alva pun menyusul Disha dan berbaring di sisi Disha.


"Apa ASI untuk Kaivan besok pagi sudah ada, sayang? Kamu ingat kan kalau Kaivan hanya minum ASI?"tanya Alva.


"Iya sayang, aku tahu. Stok ASI difrezer masih kok, tapi besok aku akan memompa lagi. Aku nggak mau Kaivan kelaparan,"sahut Disha.


"Sayang, aku sangat muak dengan mantan mu itu. Jika suatu saat kesabaran ku sudah habis, aku tidak akan bisa mengontrol emosiku,"ucap Alva yang mengalihkan topik pembicaraan.


Disha yang tadi sudah memejamkan matanya disamping Alva, akhirnya merubah posisinya dengan menjadikan dada bidang Alva sebagai bantalnya.

__ADS_1


"Jangan melakukan hal yang akan merugikan dirimu sendiri, sayang!"ucap Disha seraya memeluk tubuh Alva.


"Aku sangat jengkel dengan ulah dia, sayang,"ucap Alva memeluk tubuh Disha.


"Apa kamu tidak percaya kalau aku benar-benar mencintai, Al?"tanya Disha mendongakkan kepalanya menatap Alva.


Alva memiringkan tubuhnya dan menjadikan lengannya untuk Disha jadikan bantal kemudian menatap manik mata Disha lekat-lekat.


"Aku sangat mencintaimu, jadi aku takut kehilangan kamu, sayang,"jelas Alva seraya memegang pipi Disha.


"Percayalah padaku, sayang! Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sampai malaikat maut memanggil ku,"ucap Disha.


"Aku senang jika kamu memanggil ku sayang bukan karena suatu alasan,"ucap Alva.


"Maksudnya?"tanya Disha.


"Jangan hanya memanggilku sayang karena ingin menggoda ku atau untuk memanas-manasi orang lain saja,"jelas Alva.


"Oke..oke.. sayang.!" ucap Disha lalu mengecup bibir Alva.


"Kamu menggodaku lagi?!"tanya Alva tersenyum smirk.


"Sudah, ayo tidur! Aku sudah mengantuk!" ucap Disha kemudian menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


***


Di kediaman Adiguna.


Setelah pulang dari acara resepsi pernikahan, Anjani nampak murung dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Adiguna hanya bisa menarik nafas dalam melihat putri semata wayangnya itu.


Pagi harinya Anjani merasa mual dan perutnya terasa seperti diaduk-aduk kemudian muntah-muntah.


"Sudah beberapa hari ini aku seperti ini. Apakah aku..?? Ach tidak, tidak mungkin aku mengandung. Tapi seharusnya aku sudah datang bulan seminggu yang lalu.Tapi kenapa sampai sekarang aku belum juga datang bulan? Ya Tuhan.!! Bagaimana jika aku sampai mengandung?!"


"Sebaiknya aku membeli alat untuk mengetes kehamilan. Aku harus tahu, aku hamil atau tidak,"gumam Anjani.


Setelah mandi Anjani langsung bergegas pergi ke apotik yang buka 24 jam lalu segera membeli alat untuk mengetes kehamilan. Sepulang dari apotik, Anjani langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengetes dirinya hamil atau tidak.


Hingga beberapa menit kemudian Anjani berniat melihat lima testpack dari merk berbeda yang dipakainya untuk mengetes kehamilan. Dengan jantung yang berdetak kencang dan tangan tremor Anjani mulai melihat testpack itu.


"Aku....


...🌟"Cinta itu bukan tentang memiliki, tapi tentang ketulusan hati."🌟...

__ADS_1


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued


__ADS_2