Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
256. Ampuni Saya , Tuan!


__ADS_3

Ferdi dan anak buahnya hanya menatap ke lantai dasar hotel itu dengan tatapan datar tanpa ekspresi, sama sekali tidak ada pergerakan dari mereka berdua, jantung mereka berdua rasanya hampir copot, karena hampir saja majikan mereka jatuh dari roof top dan sekarang malah melihat Trisha yang terjatuh dari roof top itu.


Beberapa saat kemudian anak buah Ferdi yang sempat syok itupun tersadar dari syok nya, kemudian membantu Ferdi menjauh dari pinggir roof top itu, dengan pisau yang masih menancap di punggung Ferdi.


Niko yang dari tadi membuntuti Alva, juga nampak syok melihat kejadian di depan matanya itu, walaupun agak jauh dari tempatnya berdiri. Niko tidak melihat secara langsung saat Trisha jatuh ke ke lantai dasar, namun dari gestur tubuh kedua anak buah Alva yang nampak diam mematung setelah terdengar teriakan Trisha, Niko yakin bahwa saat ini Trisha pasti sudah jatuh ke lantai dasar. Tubuh Niko kaku dan lidahnya kelu, mematung di tempatnya berdiri. Tidak bisa berpikir apapun, otaknya benar-benar terasa kosong.


"Sayang, kamu baik-baik saja?"tanya Alva sembari berusaha bangkit, hingga posisinya dan Disha sekarang duduk di lantai roof top.


"Al..hiks..hiks..hiks..."Disha tidak mampu lagi berkata-kata, tubuhnya nampak bergetar, syok dan ketakutan karena peristiwa yang hampir saja merenggut nyawanya.


"Tenanglah, sayang! Semua baik-baik saja! Tenanglah!" ucap Alva memeluk erat tubuh istrinya, menenggelamkan kepala Disha di dada bidangnya, mencoba menenangkan Disha yang sekarang berada dalam dekapannya.


"Ketua!"ucap anak buah Ferdi, membantu Ferdi, saat Ferdi berusaha mendekati Alva.


"Aku baik-baik saja!"ucap Ferdi berusaha mendekati Alva, namun dari raut wajah terlihat jika dia sedang menahan rasa sakit karena pisau yang di hunjamkan Trisa di punggungnya. Darah pun masih mengalir di punggung Ferdi.


"Apa yang kamu lakukan Fer? Diam lah, dan jangan banyak bergerak! Kamu sedang terluka, jika kamu banyak bergerak, itu akan berpengaruh pada lukamu,"ucap Alva yang nampak khawatir pada Ferdi.


"Ampuni saya, Tuan! Saya tidak bisa menjaga Nyonya Disha dengan baik!"ucap Ferdi duduk bersimpuh di depan Alva yang sedang mendekap Disha, menunduk dalam pada Alva.


Alva menatap anak buah Ferdi,"Cepat telepon ambulans dan katakan posisi kita sekarang! Jangan menyentuh apalagi mencabut pisau yang menancap di punggung Ferdi! Lapor pada polisi tentang kejadian ini, dan minta mereka datang secara diam-diam, aku tidak ingin pesta pernikahan kakak ku terganggu karena insiden ini!"titah Alva pada anak buah Ferdi.


"Baik, Tuan,"sahut anak buah Ferdi langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Alva.

__ADS_1


"Jangan banyak bergerak, Fer! Kamu tidak perlu meminta maaf pada ku. Aku yang harus minta maaf padamu, karena aku tidak sempat mencegah Trisha menghujam punggung mu dengan pisau,"ucap Alva masih mendekap tubuh Disha erat.


"Saya yang salah, Tuan. Jika saya tidak teledor dalam menjaga Nyonya, semua ini tidak akan terjadi,"ucap Ferdi dengan wajah yang semakin memucat karena luka di punggungnya, ada rasa bersalah yang begitu besar dalam hatinya.


"Sudah! Tidak usah di bahas siapa yang salah, sekarang semua baik-baik saja. Yang terpenting sekarang adalah, kamu harus segera diobati,"tukas Alva lalu merogoh handphone dari saku celananya.


Alva menghubungi Riky dan menyuruh Riky menunggunya di depan kamar hotel yang sudah disewa Riky untuk mereka. Alva juga menyuruh orang kepercayaan Ferdi untuk membereskan semua kekacauan yang terjadi karena ulah Trisha itu.


Sedangkan Niko, beberapa saat kemudian baru bisa menguasai diri setelah melihat kejadian barusan yang membuat dia syok. Perlahan Niko mundur meninggalkan tempat itu, tidak ingin terlibat dalam peristiwa itu. Karena jika dia menjadi saksi, bisa saja nanti dirinya menjadi tersangka, mengingat dia dan Trisha bertemu di butik Trisha beberapa hari yang lalu. Di pesta tadi pun, dirinya juga sempat mengobrol dengan Trisha. Jika ada yang memergoki dirinya ada di TKP, bisa saja dia dituduh bersekongkol atau bahkan dituduh menjadi dalang atas peristiwa yang baru saja terjadi. Itulah yang ada di dalam otak Niko, hingga dia memilih pergi secara diam-diam dari tempat itu dan akan berpura-pura tidak mengetahui kejadian itu.


Tak lama kemudian ada sebuah helikopter yang mendarat di roof top hotel itu dan Ferdi pun langsung dibawa ke rumah sakit menggunakan helikopter itu. Sedangkan Alva memilih membawa Disha ke dalam kamar hotel yang sudah di pesan untuk mereka oleh Riky.


Disha memeluk erat leher Alva yang sedang menggendongnya ala bridal style dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alva untuk menenangkan dirinya. Disha merasa tenang dan terlindungi saat dirinya berada dalam dekapan suaminya itu.


Riky melihat Alva yang keluar dari lift dengan menggendong Disha. Riky mengernyitkan keningnya menatap wajah Alva yang nampak datar dan wajah Disha yang nampak pucat. Disha memeluk erat leher Alva dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Alva. Riky berfirasat ada sesuatu yang buruk telah terjadi, karena ekspresi wajah keduanya nampak berbeda dari biasanya.


"Antar aku ke kamar ku! Setelah itu, kamu bantu anak buah Ferdi untuk membereskan kekacauan yang di buat oleh Trisha. Jangan katakan apapun pada keluarga ku! Jika mereka menanyakan tentang kami, katakan saja kami kelelahan dan sedang beristirahat. Pastikan semua dilakukan secara diam-diam! Aku tidak ingin pesta pernikahan kakak terganggu karena kekacauan yang di buat Trisha ini,"ucap Alva pada Riky sambil terus berjalan ke arah kamarnya di pandu oleh Riky.


"Baik, Tuan,"sahut Riky seraya membukakan pintu kamar Alva, walaupun dia tidak tahu, kekacauan apa yang telah di buat Trisha, Riky tetap menyanggupi apa yang diperintahkan oleh Alva..


Setelah Alva masuk ke dalam kamarnya, Riky menutup pintu kamar Alva. Sambil berjalan, Riky segera menghubungi salah satu anak buah Ferdi yang biasanya selalu bersama Ferdi. Tak lama kemudian anak buah Ferdi mengangkat teleponnya. Riky langsung bertanya pada anak buah Ferdi, kekacauan apa yang telah di buat oleh Trisha. Anak buah Ferdi pun menceritakan semua yang ia ketahui pada Riky. Riky sangat terkejut setelah mendengar semua yang dikatakan oleh anak buah Ferdi


Setelah mengetahui apa yang terjadi, Riky pun langsung memberikan perintah kepada anak buah Ferdi itu. Riky menjelaskan apa saja yang harus dilakukan, dan anak buah Ferdi pun langsung mengerti, apa yang harus dilakukan nya.

__ADS_1


"Si Trisha itu benar-benar menyusahkan. Hidup bikin ulah dan mati pun masih bikin masalah. Berani sekali dia mencari gara-gara dengan Tuan Alva. Beruntung dia langsung mati, kalau tidak, aku tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Tuan Alva dan Ferdi padanya,"gumam Riky menggerutu sendiri.


Malam pun semakin larut, setelah membereskan kekacauan yang di buat oleh Trisha, Riky segera kembali ke tempat pesta pernikahan digelar.


"Kak, kakak dari mana saja?"tanya Yessie saat melihat Riky kembali.


"Tadi aku mengerjakan tugas yang diberikan oleh Tuan,"sahut Riky tersenyum tipis kemudian merangkul istrinya itu.


"Rik, dimana Alva dan Disha? Aku tidak melihatnya dari tadi?"tanya Ghina yang menghampiri Riky bersama Mahendra.


"Nyonya dan Tuan merasa lelah, jadi mereka beristirahat di salah satu kamar di hotel ini, Nyonya. Saya tadi yang memesankan kamarnya dan saya sendiri yang mengantarkan Tuan dan Nyonya ke kamar mereka,"jawab Riky yang melihat ada raut kegelisahan di wajah Ghina.


"Syukurlah kalau mereka baik-baik saja,"ucap Ghina nampak bernapas lega.


"Apa kata papa? Disha dan Alva baik-baik saja. Mama terlalu khawatir pada mereka hanya karena tidak melihat mereka dari tadi,"celetuk Mahendra.


"Entah, pa. Aku tidak tahu kenapa hati ku merasa gelisah saat tidak melihat Disha,"sahut Ghina.


Dari tadi memang Ghina terlihat gelisah saat tidak menemukan Disha di ruangan itu. Entah mengapa hatinya tiba-tiba merasa begitu gelisah dan ingin sekali bertemu dengan Disha.


NB : Sering kali orang yang melihat korban luka tusuk, berusaha mencabut benda tersebut sebagai bentuk pertolongan pertama. Padahal, tindakan tersebut tidak tepat dan justru dapat membahayakan kondisi orang yang terluka.


Pencabutan atau pengangkatan benda yang tertinggal di dalam tubuh hanya dapat dilakukan oleh ahli dan tenaga medis. Pencabutan benda tajam membutuhkan keahlian dan juga peralatan yang lengkap. Pencabutan ini biasanya dilakukan di Unit Gawat Darurat (UGD), ruangan bedah atau kamar operasi.

__ADS_1


Sumber: CNN Indonesia "Bahaya Mencabut Tusukan Pisau yang Menancap di Luka"


To be continued


__ADS_2