
"Halo, sayang!"ucap Radeva dengan senyum yang mengembang.
"Degh" jantung Icha seolah berhenti berdetak saat mendengar Radeva mengucapkan kata sayang pada orang yang sedang menelponnya.
"Kak..!! Alva, Kak!"ucap penelpon yang ternyata adalah Disha yang terdengar menangis.
"Ada apa sayang? Apa yang terjadi?"tanya Radeva nampak khawatir membuat hati Icha kini semakin mendung.
"Kak, pesawat yang ditumpangi Alva mengalami kecelakaan, kak. Aku ingin mencari Alva, kak,"ucap Disha dengan isak tangis yang terdengar begitu memilukan di telinga Radeva.
"Tunggu kakak di situ ya, sayang? Jangan kemana-mana dulu! Oke?!"tukas Radeva langsung mengakhiri sambungan telepon.
"Cha, maaf! Aku tidak bisa mampir. Aku harus pergi sekarang,"ucap Radeva dengan wajah khawatir.
"Iya, Kak. Nggak apa-apa. Terimakasih karena sekali lagi Kakak telah menolong aku,"ucap Icha berusaha tersenyum walaupun hatinya rasanya mau menangis.
"Sama-sama,"ucap Radeva singkat. Icha segera turun dan mengambil box kuenya dari jok belakang. Setelah Icha turun, Radeva pun segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Icha. Icha menatap sendu mobil Radeva yang semakin menjauh.
"Ternyata dia sudah mempunyai orang yang disayangi. Pupus sudah harapan ku! Khayalan ku untuk bisa bersama kak Radeva terlalu tinggi. Seharusnya aku sadar diri aku ini Upik abu, sedangkan Kak Radeva adalah pangeran. Lagian mana ada sich, orang seganteng dan setajir kak Radeva masih singel?! Sadar Icha! Sadar!!" gumam Icha mengingatkan dirinya sendiri, melangkah gontai memasuki rumahnya.
Radeva melajukan mobilnya dengan cepat menuju kediaman keluarga Bramantyo. Langit yang tadinya mendung kini semakin gelap dan titik-titik air pun mulai berjatuhan membasahi bumi. Bukan hujan yang deras, cuma gerimis yang nampaknya akan lama berhenti.
Sesampainya di kediaman Bramantyo, Radeva melihat Bramantyo yang sibuk menelpon. Radeva pun menghampiri Bramantyo yang wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Saking khawatirnya Bramantyo sampai tidak menyadari kehadiran Radeva.
"Om!"sapa Radeva membuat Bramantyo menoleh ke sumber suara.
"Dev, kamu di sini?"tanya Bramantyo.
"Disha tadi menelpon ku, katanya Alva..." Radeva tidak melanjutkan kata-katanya.
"Tadi sore kami menelpon Alva, dan dia mengatakan akan pulang dengan penerbangan sore tadi. Kami sudah cek, hanya ada satu penerbangan sore tadi, yaitu penerbangan ke negara kita ini. Dan pesawat yang terbang sore ini meledak di laut xxx," ucap Bramantyo dengan wajah kusut.
"Aku ingin menemui Disha, Om,"ucap Radeva meminta izin.
__ADS_1
"Iya, temui lah dia! Dia tidak keluar kamar semenjak mengetahui berita ini. Tante mu bahkan sempat pingsan saat mendengar kabar tadi,"ujar Bramantyo.
"Iya, Om,"sahut Radeva kemudian berjalan menuju kamar Disha.
Tok! Tok! Tok!
"Sayang, ini kakak!"seru Radeva.
Tidak berapa lama, pintu kamar itu pun terbuka lebar. Nampak Disha dengan wajah yang sembab karena menangis. Disha langsung memeluk Radeva dan kembali terisak.
"Kak, Alva, Kak!"ucap Disha sesenggukan memeluk erat tubuh Radeva.
"Tenang lah!"ucap Radeva dengan tangan kiri memeluk tubuh Disha dan tangan kanannya mengelus kepala Disha dengan penuh kasih sayang.
"Aku ingin ke lokasi jatuhnya pesawat kak," ucap Disha setelah merenggangkan pelukannya mendongak menatap wajah kakaknya.
"Tidak! Kamu tidak boleh ke sana, sayang! Biar kakak yang mencari informasi tentang Alva. Kamu tunggu di rumah saja, Oke! Kaivan butuh kamu. Akan banyak orang yang berkerumun dan berdesak- desakan untuk mencari informasi di sana nanti,"
"Kakak tidak mau kamu ikut berdesak- desakan dengan para pria. Lagian, kakak tidak ingin kamu sakit, diluar sana cuacanya sedang tidak bagus, sayang," bujuk Radeva sambil menghapus air mata Disha. Disha pun akhirnya menurut pada Radeva dan tetap tinggal di rumah.
"Om!"panggil Radeva pada Bramantyo yang masih sibuk dengan handphonenya, mencari informasi tentang Alva.
"Ya?!"sahut Bramantyo mengangkat kepalanya menatap Radeva.
"Aku ingin mencari informasi tentang Alva ke bandara, tempat pesawat itu seharusnya landing,"ujar Radeva.
"Tunggu! Om ikut dengan mu. Om akan berganti pakaian dulu,"ucap Bramantyo yang langsung bergegas ke kamarnya tanpa menunggu jawaban dari Radeva.
"Ma, mama belum tidur?"tanya Bramantyo saat masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya duduk bersandar di headboard ranjang dengan pipi yang basah oleh air mata.
"Bagaimana mama bisa tidur, pa, jika mama belum tahu bagaimana keadaan putra mama,"ucap Ratih semakin terisak.
"Mama tidak boleh seperti ini! Percayalah! Putra kita akan baik-baik saja. Sekarang mama harus istirahat, agar mama tetap sehat. Saat putra kita pulang, dia tidak akan senang jika melihat mama sakit," bujuk Bramantyo seraya menghapus air mata Ratih.
__ADS_1
"Tapi mama tidak bisa tidur, pa,"sahut Ratih masih terisak.
"Mama minum obat tidur, ya?! Biar mama bisa istirahat. Papa dan Radeva akan ke bandara dan kemudian ke tempat jatuhnya pesawat untuk mencari informasi tentang putra kita.,"ujar Bramantyo kemudian menyodorkan obat tidur pada Ratih.
"Papa harus menemukan putra kita,"ucap Ratih setelah meminum obat tidur.
"Papa pasti akan berusaha semaksimal mungkin, ma,"ucap Bramantyo seraya membantu Ratih berbaring dan menyelimutinya.
Setelah Ratih memejamkan matanya Bramantyo langsung mengganti pakaiannya. Sebelum keluar dari kamar, Bramantyo mengecup kening Ratih lembut dan mengusap kepala Ratih, setelah itu Bramantyo keluar dari kamarnya.
Di ruangan tamu, Radeva nampak gelisah menunggu Bramantyo. Radeva ingin cepat-cepat pergi untuk mencari informasi tentang Alva. Sungguh, hatinya merasa sangat sedih melihat adiknya menangis seperti tadi. Selama 26 tahun dia telah kehilangan adiknya itu, baru saja mereka bertemu, tapi malah ada musibah seperti ini.
Radeva yang merasa selama ini belum melakukan apapun untuk adiknya itu pun bertekad mencari Alva sampai ketemu. Jika memang sumber kebahagiaan adiknya adalah Alva, maka Radeva akan melakukan apapun untuk menemukan Alva. Selagi pria itu masih hidup, maka Radeva akan memastikan bahwa Alva akan tetap berada di sisi adiknya.
"Dev, ayo kita berangkat!"ucap Bramantyo saat sudah berada di dekat Radeva.
"Ach iya, Om,"sahut Radeva langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari rumah Bramantyo menuju mobilnya diikuti oleh Bramantyo.
"Kita ke bandara dulu, ya Om?!"tanya Radeva.
"Iya. Om tadi memang sudah menelepon orang yang Om kenal di bandara untuk menanyakan tentang Alva, tapi Om juga ingin memastikan sendiri di bandara. Dia bilang memang ada nama Alva dalam daftar penumpang pesawat yang meledak di atas laut xxx itu,"
"Menurut kenalan Om itu, ada beberapa orang yang ditemukan masih selamat, walaupun dengan luka bakar yang lumayan parah. Sepertinya, sebelum pesawat meledak, mereka berusaha menyelamatkan diri dengan cara terjun ke laut,"ujar Bramantyo.
"Aku berharap Alva termasuk diantara orang-orang yang selamat itu,"sahut Radeva penuh harap.
"Om juga berharap demikian. Om tidak tahu bagaimana reaksi Tante mu jika .....jika sampai Alva tidak ditemukan," ucap Bramantyo mengepalkan tangannya di depan mulutnya lalu menggigit jari jempol nya. Bramantyo tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan Ratih jika Alva sampai meninggal.Wanita itu sangat menyayangi Alva begitupun dengan dirinya. Alva adalah anak semata wayangnya.
Setelah sampai di bandara, mereka langsung mencari informasi tentang Alva. Mereka sengaja ke bandara dahulu karena jalan menuju lokasi jatuhnya pesawat melewati bandara tersebut. Ternyata nama Alva memang terdaftar sebagai penumpang pesawat tersebut. Bramantyo dan Radeva pun mendapat nama-nama penumpang pesawat yang sudah ditemukan dan sudah teridentifikasi namanya. Namun ada pula penumpang yang telah ditemukan, tapi belum teridentifikasi namanya.
Setelah dari bandara, mereka pun pergi ke lokasi jatuhnya pesawat. Mereka berharap dapat menemukan Alva dalam keadaan selamat. Sesampainya di pinggir pantai tempat jatuhnya pesawat, mereka berdua pun langsung menuju tempat informasi. Semalaman mereka berdua berada di sana memeriksa setiap orang yang telah ditemukan. Baik orang-orang yang ditemukan selamat ataupun orang -orang yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat terbang itu.
...πΈππΈ...
__ADS_1
To be continued
.