
Alva nampak mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istrinya, namun tidak menemukan keberadaan istrinya itu. Alva merogoh handphone nya dari dalam saku celananya, kemudian mencari Disha lewat GPS handphone Disha. Entah mengapa, Alva merasa gelisah saat tidak melihat keberadaan istrinya.
Disisi lain, Trisha keluar dari lift diikuti oleh Disha. Trisha mengajak Disha ke roof top hotel berbintang lima itu. Angin bertiup kencang mengibarkan rambut dan pakaian kedua perempuan itu. Pemandangan kota terlihat jelas dari roof top hotel itu, indahnya lampu yang menerangi kota, dan juga bulan dan bintang yang bersinar terang di langit, semua bisa dinikmati dari roof top hotel tersebut.
"Apa yang ingin kamu katakan?"tanya Disha datar, menatap indahnya langit malam.
"Aku membencimu!"ucap Trisha begitu dingin dan penuh kebencian.
Disha membuang napas kasar,"Jika hanya untuk mengatakan itu, untuk apa mengajak ku ke sini? Tanpa kamu katakan padaku pun, aku dan semua orang disekitar ku juga sudah tahu kalau kamu membenciku,"ucap Disha nampak jengah.
"Apa kamu tidak ingin tahu kenapa aku membencimu?"tanya Trisha menatap tajam pada Disha.
Disha tersenyum miring,"Untuk apa aku mengetahui alasan kebencian mu padaku?"tanya Disha nampak acuh.
"Agar jika nanti kamu mati, kamu tidak akan mati penasaran,"ucap Trisha dengan senyuman dingin.
"Hanya orang yang punya rasa iri, dengki, dan dendam yang akan mati penasaran. Dan aku merasa tidak memiliki ke tiga rasa itu. Jadi aku tidak akan mati penasaran. Aku khawatir malah kamu yang akan mati penasaran karena terlalu banyak kebencian yang kamu simpan di dalam hati mu. Selamanya, kamu tidak akan pernah merasa bahagia jika kamu memelihara tiga rasa itu di dalam hati kamu,"ujar Disha panjang lebar.
Trisha tersenyum sinis pada Disha,"Kamu bisa berkata seperti itu, karena kamu terlahir dari rahim orang kaya. Kamu bisa menikah dengan pria kaya dan bisa membeli apapun semau kamu, berbeda dengan aku! Aku lahir dari rahim orang biasa, bahkan orang tua ku seorang penjahat, hingga membuat aku di benci oleh semua orang,"ucap Trisha dengan nada yang agak tinggi.
__ADS_1
"Kita tidak pernah bisa memilih, dari rahim siapa kita dilahirkan. Tapi kita bisa memilih, ingin menjadi orang baik atau orang jahat,"ucap Disha tenang.
"Omong kosong! Kamu bisa mengatakan itu karena kamu tidak mengalami apa yang aku alami! Kamu tidak merasakan bagaimana tidak bahagia nya aku karena latar belakang ku itu!"ucap Trisha semakin meninggikan suaranya.
"Bahagia itu datangnya dari diri kita sendiri, bukan dari orang lain. Jika kamu menjalani semua dengan ikhlas dan penuh syukur, serta berusaha melakukan yang terbaik yang kamu bisa, maka kamu akan bahagia,"ucap Disha menatap langit yang bersinar terang.
"Tidak usah ceramah! Jika kamu berada di posisi ku, apa kamu masih bisa bicara seperti itu? Bicara itu mudah, tapi menjalani itu sudah!"sambar Trisha.
"Percuma ngomong sama orang yang hati dan pikiran nya sudah ditutupi oleh rasa benci,"ucap Disha membuang napas kasar.
"Iya, kamu benar. Hatiku memang sudah ditutupi oleh rasa benci. Aku benci sama kamu, karena kamu bisa mendapatkan pria seperti Alva, aku benci kamu, karena kamu terlahir dari keluarga kaya raya dan aku juga benci kamu, karena kamu disayangi banyak orang. Aku benci kamu, sangat teramat membenci mu!"pekik Trisha berapi-api.
"Cuih! Jodoh kamu bilang?Aku menikah dengan Hery bukan karena dia jodohku, tapi karena aku dipaksa kedua orang tuamu. Jika tidak, mana sudi aku menikah dengan pria brengseek itu?! Dan soal bahagia, mana ada orang yang bahagia jika hartanya hanya pas-pasan, apalagi kekurangan. Tidak usah munafik! Mana mungkin kamu bahagia jika kamu tidak kaya? Soal kasih sayang....semua orang mengacuhkan aku semenjak kamu muncul dalam keluarga Mahendra. Kamu telah merebut segalanya dari ku? Alva, kasih sayang mama, papa dan kak Dev, harta keluarga Mahendra, semuanya kamu ambil!"ucap Trisha berapi-api.
"Kamu diacuhkan semua orang karena sikap dan tingkah lakumu yang buruk, bukan karena kehadiranku. Aku tidak pernah merebut apapun dari mu. Alva sudah menjadi suamiku saat kamu mengenalnya.Bahkan, mama Ratih dan mama Ghina memang berniat menjodohkan anak-anak mereka, sedangkan kamu bukan anak mama Ghina, kamu hanya anak angkat dan aku anak kandung. Jadi, dari awal, Alva memang dijodohkan dengan aku. Dan kasih sayang serta perhatian mama , papa dan kak Dev padaku, itu semua adalah wajar, karena aku adalah putri kandung mereka yang sudah 26 tahun terpisah. Jadi jika kamu mengatakan bahwa aku merebut segalanya dari mu, itu sungguh tidak masuk akal, karena yang terjadi adalah, kamu yang ingin merebut semua yang aku miliki,"ujar Disha tidak mau kalah dengan Trisha.
"Seharusnya kamu mati saat kedua orang tuaku membakar villa itu,"ucap Trisha memandang tajam dan penuh kebencian kepada Disha. Matanya nampak berkilat penuh kebencian dan amarah.
"Seharusnya waktu itu orang tuaku tidak memungut mu dari tempat sampah. Sayang, orang tua ku hatinya terlalu baik, mereka memungut mu dari tempat sampah, merawat dan membesarkan mu layaknya putri kandung mereka sendiri, tapi kamu malah memusuhi putri kandung mereka sendiri. Kamu benar-benar orang yang tidak tahu terimakasih, kamu orang yang tidak tahu balas budi. Mereka sudah melakukan semua hal untuk mu, tapi apa balasan mu?" ucap Disha yang sudah tersulut emosi, juga menatap tajam pada Trisha.
__ADS_1
Trisha dan Disha saling menatap tajam dalam jarak yang begitu dekat,"Balasan ku? Balasan ku adalah...aku akan melenyapkan mu! Aku akan menyelesaikan pekerjaan orang tuaku yang dulu gagal dan kini merintangi jalan ku,"ucap Trisha seraya mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam Sling bag nya tanpa disadari oleh Disha lalu menodongkan nya ke perut Disha, kemudian menatap pisau yang sekarang sudah siap dia tusukkan pada Disha.
Disha terkesima saat melihat ke arah mana tatapan mata Trisha. Sebuah pisau kini sudah berada tepat di perutnya,"Apa yang ingin kamu lakukan?"tanya Disha dengan jantung yang berdetak kencang melangkah mundur.
Trisha pun melangkah maju saat Disha melangkah mundur,"Kenapa? Kamu takut? Bukankah kalian mengatakan bahwa aku adalah anak penjahat? Jadi...apa kira-kira yang akan dilakukan oleh anak seorang penjahat ini?"tanya Trisha dengan senyuman menyeringai di wajahnya.
"Kamu jangan berbuat nekad! Apa kamu ingin mendekam di balik jeruji besi sampai akhir hidupmu?"tanya Disha mencoba menyadarkan Trisha.
"Aku tidak akan mendekam di balik jeruji besi, jika kamu mati bunuh diri,"ucap Trisha dengan cepat mendorong tubuh Disha.
"Akkkh"
...π"Menyalahkan orang lain atas apa yang kita alami bukanlah sebuah solusi, melainkan sebuah bentuk pelarian dan pembenaran diri."π...
..."Nana 17 Oktober"...
...πΈβ€οΈπΈ...
Like dan komennya, dong!
__ADS_1
To be continued