Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
273. Istri Selalu Benar


__ADS_3

Radeva mengendarai mobilnya dengan perasaan kacau. Mau tidak mau harus mengakui kesalahannya pada kedua mertuanya agar bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan istrinya dan mengantisipasi kesalahpahaman mertuanya suatu hari nanti tentang masalah mereka saat ini. Jangan sampai kedua mertuanya lebih dulu mengetahui masalah mereka dari istrinya ataupun dari orang lain. Setelah menempuh perjalanan yang diwarnai kemacetan, akhirnya Radeva pun sampai di pekarangan rumah mertuanya. Dengan langkah berat, Radeva keluar dari dalam mobilnya dan berjalan menuju pintu utama rumah itu. Radeva mengangkat tangannya untuk menekan bel, bersamaan dengan pintu yang terbuka, membuat Radeva mengurungkan niatnya untuk menekan bel rumah itu.


"Kenapa tidak bilang kalau mau kesini? Mama kan bisa menyiapkan menu masakan spesial untuk kalian,"ucap mama Icha saat membuka pintu,"Oh iya, Icha mana?"tanya mama Icha saat tidak melihat putrinya bersama Radeva seraya menatap mobil Radeva berharap Icha akan keluar dari mobil itu. Dari pertanyaan mertuanya itu, Radeva sudah bisa memastikan jika istrinya memang tidak ada di rumah ini.


"Icha tidak ikut, ma,"sahut Radeva nampak serba salah.


"Ma, suruh masuk dulu menantu kita! Kenapa mama malah menanyainya di depan pintu?"ucap papa Icha yang berjalan menghampiri mereka.


"Ah iya, lupa,"sahut mama Icha seraya tersenyum.


"Masuk Dev!"titah papa Icha, berjalan lebih dulu ke ruang tamu.


"Ayo masuk!"imbuh mama Icha.


"Iya, pa, ma,"sahut Radeva mengikuti kedua mertuanya masuk ke dalam rumah.


Papa Icha mengernyitkan keningnya melihat wajah menantunya yang nampak berbeda, tidak seperti biasanya yang nampak segar dan bersemangat. Hari ini, menantunya itu terlihat kusut, seperti ada masalah.


"Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan pada kami, Dev?"tanya papa Icha setelah mengamati wajah menantunya.


"Iya, pa,"sahut Radeva menghela napas panjang, mempersiapkan diri dimarahi kedua mertuanya karena tidak bisa menjaga putri mereka dengan baik.


"Katakanlah!"titah papa Icha, sedangkan mama Icha sudah merasakan firasat yang tidak baik setelah mengamati wajah menantunya itu.


"Begini, pa, ma, sebelumnya saya minta maaf, karena apa yang terjadi saat ini adalah kesalahan saya,"ucap Radeva menjeda kata-katanya untuk menenangkan dirinya yang malah membuat kedua orang tua Icha merasa was-was dengan apa yang akan dikatakan oleh menantu mereka itu. Namun mereka tetap diam, menunggu menantu mereka melanjutkan kata-katanya.


"Terjadi kesalahpahaman antara saya dan Icha, hingga membuat Icha pergi tanpa memberi tahu saya. Bahkan handphone nya pun tidak bisa dihubungi,"ucap Radeva seraya menundukkan kepalanya.


Kedua orang tua Icha pun terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Radeva. Papa Icha nampak menghela napas,"Kesalahpahaman seperti apa yang membuat Icha sampai pergi tanpa pamit padamu?"tanya papa Icha berusaha untuk tenang menghadapi situasi saat ini.

__ADS_1


Radeva pun menceritakan tentang kesalahannya yang pergi berbelanja bersama rekan bisnisnya yang seorang wanita dan tanpa sengaja dilihat Icha. Namun Radeva tidak berani mengatakan bahwa sebelumnya dia telah mengacuhkan istrinya.


"Jika maksud kedatangan kamu ke sini untuk mencari Icha, kamu tidak akan menemukannya. Icha tidak pulang ke sini dan kami juga tidak mengetahui keberadaan Icha. Kami tidak menyembunyikan Icha,"ucap papa Icha yang berusaha bersikap tenang. Papa Icha tidak bisa membenarkan tindakan anak dan menantunya saat ini. Radeva memang salah dengan tindakannya hari ini, tapi Icha juga salah, karena pergi tanpa pamit pada suaminya dan malah pergi tanpa menyelesaikan masalah yang terjadi.


"Saya percaya, mama dan papa tidak akan menyembunyikan Icha dari saya. Saya hanya ingin bertanya, kemana kira-kira Icha pergi jika dia sedang sedih?"tanya Radeva penuh harap mertuanya bisa memberikan petunjuk keberadaan istrinya.


"Biasanya jika Icha sedih, dia akan pergi ke rumah Yessie. Tapi sekarang Yessie kan, sudah menikah, jadi mama rasa Icha tidak akan pergi ke rumah Yessie,"sahut mama Icha.


"Anak buah saya kehilangan jejak Icha di terminal bus. Kira-kira, kemana Icha akan pergi menggunakan bus, pa, ma?" tanya Radeva berharap kedua mertuanya mengetahui tempat tujuan Icha.


"Terminal, bus?"tanya papa Icha nampak mengernyitkan keningnya.


"Iya, pa,"sahut Radeva.


Kedua orang tua Icha itu nampak saling menatap kemudian nampak sama-sama berpikir, kemana kira-kira putri mereka pergi. Wajar jika Radeva tidak mengetahui kemana Icha pergi, karena Radeva dan Icha belum lama saling mengenal, tapi langsung menikah. Jadi keduanya pasti belum terlalu banyak mengetahui sifat dan kebiasaan pasangan mereka sendiri.


"Papa benar-benar tidak bisa menebak kemana Icha pergi,"ucap papa setelah beberapa saat berpikir hingga suasana menjadi hening.


Radeva menghela napas panjang, mendengar jawaban kedua mertuanya. "Kalau begitu, saya pamit dulu, pa, ma. Saya akan mencari Icha lagi. Tolong kabari saya jika mama dan papa mengetahui informasi tentang keberadaan Icha,"ucap Radeva terlihat lesu karena tidak menemukan titik terang dimana keberadaan istrinya.


Akhirnya Radeva pun meninggalkan rumah mertuanya dan berkeliling mencari keberadaan istrinya. Hingga malam menjelang, Radeva tidak kunjung menemukan istrinya. Karena sudah merasa kelelahan, akhirnya Radeva memilih untuk pulang.


Saat Radeva melewati ruang keluarga,"Kakak belum menemukan dia?"tanya Disha tiba-tiba, dengan suara dingin dan wajah sinis,


Radeva menoleh ke ruang keluarga yang ternyata semuanya sedang berkumpul di sana. Penampilan Radeva nampak berantakan, wajahnya nampak kusut. "Belum,"sahut Radeva singkat, tanpa semangat.


"Syukurin!"ucap Disha masih dengan wajah sinis nya.


"Kok, kamu gitu sich sayang? Kamu nggak kasihan sama kakak?"tanya Radeva nampak kecewa dengan sikap adiknya itu. Saat ini dirinya butuh orang yang memberinya semangat, bukan cibiran atau penghakiman atas kesalahannya.

__ADS_1


"Lalu apa yang kakak harapkan dari ku? Dukungan? Aku tidak mau mendukung orang yang salah, meskipun itu kakak kandungku sendiri. Kakak mengacuhkan sahabat ku dan memilih jalan dengan perempuan lain, bercanda dan tertawa bersama perempuan itu, bahkan berbelanja bersama. Wanita mana yang tidak sakit hatinya diperlakukan seperti itu? Apa kakak sudah lupa kalau kakak itu sudah menikah? Kakak bukan lagi pria singel yang bebas pergi dengan siapapun yang kakak mau? Kakak itu seorang suami, kakak harus menjaga perasaan istri kakak seperti sahabat ku yang selalu menjaga perasaan kakak!"ujar Disha berapi-api.


"Sayang, kakak saat ini butuh dukungan kita, bukan penghakiman,"ucap Alva lembut, berusaha menenangkan istrinya. Sedangkan Mahendra dan Ghina terdiam melihat putri mereka bersikap seperti itu. Karena mereka tidak pernah melihat Disha seperti itu sebelumnya.


"Kamu juga sama saja! Kalian para lelaki itu nggak peka dan egois! Kalian selalu ingin dimengerti, dipahami dan diutamakan, tapi kalian sendiri tidak pernah mau berusaha mengerti, memahami dan mengutamakan kami para wanita. Buktinya, kakak lebih mengutamakan menemani wanita lain belanja dari pada menemani istri kakak sendiri!"ujar Disha menggebu-gebu yang membuat Alva terperangah.


"𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙞𝙠𝙪𝙩 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙬𝙖-𝙗𝙖𝙬𝙖? 𝘼𝙘𝙝..𝙣𝙮𝙚𝙨𝙚𝙡 𝙖𝙠𝙪 𝙞𝙠𝙪𝙩 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖. 𝘽𝙞𝙨𝙖 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩 𝙟𝙖𝙩𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞. 𝙈𝙚𝙣𝙙𝙞𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙙𝙞 𝙙𝙞𝙖𝙢 𝙨𝙖𝙟𝙖, 𝙙𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙚𝙣𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖,"gerutu Alva dalam hati, menyesal karena ikut bicara, mengusap tengkuknya dengan wajah masam.


"Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu, sayang!"ucap Radeva selembut mungkin seraya menahan emosinya. Alva menarik lengan kemeja Radeva sambil menggeleng kecil, bermaksud memberi isyarat pada Radeva agar diam. Namun Radeva malah memelototi Alva, karena merasa bahwa Disha sedang mengeluarkan unek-unek dalam hatinya yang seharusnya ditujukan pada Alva, bukan pada dirinya.


Disha tersenyum miring mendengar jawaban dari bibir Radeva,"Iya, kakak memang tidak bermaksud, karena lebih tepatnya, kakak berniat,"cibir Disha.


Ghina diam tak bersuara, sedangkan Mahendra juga memilih diam mengambil jalan aman, tidak ingin ikut kena sembur oleh naga yang sedang mengamuk. Ingin memberi isyarat pada Radeva agar diam, tapi Radeva tidak menatapnya.


"Tidak dua-duanya, sayang! Kakak tidak pernah bermaksud ataupun berniat untuk menduakan kakak ipar mu,"sahut Radeva kembali menjawab, walaupun Alva kembali menarik lengan baju Radeva untuk memberi isyarat agar Radeva diam, namun malah membuat Radeva kembali melotot pada Alva.


"Omong kosong! Mana ada maling ngaku! Kalau semua maling ngaku, sudah penuh tuch, penjara! Jangan pikir karena kami wanita, kalian para pria bisa menindas dan memperlakukan kami sesuka hati kalian! Kami diam dan mengalah bukan karena kami lemah, kami diam karena kami tidak ingin membuat keributan, kami mengalah karena kami menghargai kalian dan selalu berusaha untuk memahami kalian. Tapi kalian para lelaki malah jadi semakin tidak peka!"sengit Disha.


"Sayang.... Auwh!"Radeva tidak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Alva menginjak kakinya dengan kuat,"Al.!! Apa kamu tidak bisa melihat?Kenapa kamu menginjak kakiku!"pekik Radeva dengan wajah yang memerah menahan sakit.


"Maaf, kak! Sengaja, eh..salah, tidak sengaja,"sahut Alva sambil menyengir bodoh.


"Tidak sengaja kamu bilang?!"sergah Radeva dengan mata melotot, memegang kakinya yang terasa sakit.


Melihat dua pria itu mulai ribut, dengan wajah cemberut Disha pun pergi meninggalkan ruangan itu, diikuti oleh Ghina di belakangnya.


Setelah Disha dan Ghina pergi, ekspresi Alva pun langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Senyuman di wajahnya menghilang, wajahnya terlihat dingin dan tatapannya begitu tajam ke arah Radeva,"Kakak harus tahu satu hal, hukum dalam sebuah rumah tangga adalah, istri selalu benar dan suami selalu salah. Jika kakak ingin mencari aman, lebih baik kakak diam menerima bahwa kakak salah dan meminta maaf. Tidak ada gunanya menjelaskan apapun saat mereka marah," ujar Alva kemudian meninggalkan ruangan itu menyusul istrinya, membuat Radeva tertegun.


Mahendra mendekati Radeva yang masih tertegun karena kata-kata dan ekspresi Alva yang berubah seratus delapan puluh derajat,"Apa yang dikatakan oleh Alva benar. Istri selalu benar dan suami selalu salah,"ucap Mahendra menepuk pundak Radeva kemudian pergi begitu saja. Radeva terduduk di lantai dengan wajah lesu tanpa gairah.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2