
"Papa akan mentransfer uang senilai 100 juta ke rekening kamu dan memberimu sebuah butik yang ada di kota ini sebagai tempat untuk usaha mu,"jawab Mahendra.
"Terus apa lagi, pa?"tanya Trisha antusias.
"Tidak ada, hanya itu yang akan papa berikan kepadamu. Dan mulai besok kamu bukan lagi tanggungan papa,"sahut Mahendra yang ingin mengetes seberapa besar Trisha menyayangi dan mencintai keluarganya yang selama ini telah merawat dan membesarkannya.
"What?! Papa bercanda kan? Masa aku cuma diberi itu doang?! Itu cuma recehan buat papa.Harta kekayaan papa sangat banyak bahkan papa mempunyai beberapa perusahaan. Kenapa papa hanya memberikan itu padaku? Papa tidak adil. Aku tidak terima! Papa harus membagi dua harta papa untuk aku dan kakak dengan adil!"pekik Trisha tidak terima.
"Kenapa papa harus membagi harta yang papa milik pada kamu? Kamu tidak berhak meminta apalagi menuntut apapun dari kami, karena kamu bukan putri kami,"
"DUAARR"
Trisha bagai di sambar petir di siang hari saat mendengar Mahendra mengatakan bahwa dirinya bukanlah putri mereka.
"A..apa maksud papa?"tanya Trisha yang berharap apa yang baru saja di dengarnya tadi tidaklah benar.
"Sebenarnya kamu bukanlah putri kami, dan Radeva bukanlah kakak kamu.Kami memungut mu dari tong sampah sewaktu kedua orang tuamu meninggal karena tertabrak mobil. Kamu selamat karena kamu terlempar dari gendongan ibumu dan masuk ke tong sampah yang berisi dedaunan,"
"Kami melihat kecelakaan itu dengan mata dan kepala kami sendiri.Lalu kami mencoba mencari keluarga kamu yang lain dengan melapor pada polisi bahkan kami menyewa detektif. Tapi kami tidak menemukan keluarga ayah dan ibumu,"
"Akhirnya kamilah yang memakamkan kedua orang tua mu, merawat dan membesarkan mu. Nanti kami akan menunjukkan dimana letak makam orang tuamu," jelas Mahendra panjang lebar menurunkan emosinya.
"Tidak, itu tidak mungkin!! Papa pasti bohong kan? Papa hanya mengarang cerita karena tidak mau membagi harta papa secara adil kepada kami! Itu tidak benar kan, ma, kak? Iya kan?! Itu tidak benar! Aku adalah putri kandung kalian! Aku bukan anak pungut!"pekik Trisha menatap ketiga orang di ruangan itu secara bergantian. Seketika dia merasa tubuhnya lemas bagaikan tak bertulang.
"Mau tidak mau kamu harus menerima kenyataan ini, Trisha. Kamu seharusnya bersyukur karena kami memperlakukan kamu layaknya seorang putri dalam keluarga kami. Kami menyayangi mu setulus hati, tapi kamu malah hanya mengharapkan harta dari orang-orang yang telah merawat dan membesarkan kamu dengan tulus. Kami kecewa sekali padamu,"cetus Radeva.
"Selama ini kami sudah merawat dan membesarkan mu, mencukupi semua kebutuhan kamu dan menuruti semua keinginanmu. Sekarang waktunya kamu berdiri dengan kakimu sendiri,"imbuh Mahendra tenang tapi tegas, walaupun dalam hati ada rasa kecewa karena ternyata harta lebih utama bagi Trisha.
__ADS_1
"Apa maksud papa? Merawat dan membesarkan aku, mencukupi semua kebutuhan ku dan menuruti semua keinginanku itu adalah kewajiban kalian sebagai orang tua. Kenapa papa mengungkit soal itu? Walaupun aku anak angkat, aku tetap berhak mendapatkan semua itu,"
"Apa karena aku akan menikah dengan orang yang tidak memiliki orang tua dan hanya memiliki jabatan rendah, jadi papa melakukan ini? Kalau begitu aku tidak usah menikah dengan Hery! Aku akan mencari pria kaya untuk aku nikahi,"ujar Trisha berapi-api.
"Kamu harus tetap menikah dengan Hery. Jika tidak, papa tidak akan memberikan apapun padamu,"ucap Mahendra berusaha tenang, sedangkan Ghina dan Radeva hanya diam walaupun merasa kesal dengan apa yang dikatakan oleh Trisha. Mereka jadi tahu, kasih sayang yang mereka berikan selama ini tidak lebih penting dari harta.
"Tidak! Aku tidak mau menikah dengan Hery jika papa tidak memberikan setengah kekayaan papa padaku."sarkas Trisha tidak tahu malu.
"Mau tidak mau kamu harus mau karena kamu tidak punya pilihan. Terima apa yang papa beri atau pergi tanpa apapun dari papa?"sergah Mahendra kesal.
"Aku akan bunuh diri jika papa melakukan itu!"ancam Trisha.
"Terserah! Papa selama ini sudah sangat bersabar menghadapi tingkah laku kamu," ucap Mahendra nampak acuh, demikian pula Radeva dan Ghina.
"Jika papa dan mama mati, aku akan menuntut harta yang seharusnya menjadi bagian ku!"pekik Trisha tidak terima membuat Mahendra, Radeva dan Ghina sangat terkejut.
'Trisha.!!Jaga ucapan mu!!"bentak Radeva terlihat marah.
"Menuntut? Atas dasar apa kamu menuntut pembagian harta warisan dari papa? Terserah papa mau papa berikan kepada siapa harta papa. Jika kamu tidak suka dengan keputusan papa, kamu boleh angkat kaki dari keluarga Mahendra," sergah Mahendra membuat Trisha tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Ghina mendekati Trisha kemudian memegang kedua pundak Trisha dan menatap gadis yang sudah dirawat dan di besarkannya dari bayi itu dengan lembut.
"Sebaiknya kamu beristirahat, karena besok adalah hari pernikahan mu dengan Hery,"ucap Ghina mengelus lembut kepala Trisha kemudian membawa Trisha kedalam kamar. Ghina tidak ingin perdebatan itu berlarut-larut.
Setelah Ghina keluar dari kamarnya, Trisha masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang mengucur deras dari shower.
"Aku rasanya tidak percaya jika mereka bukanlah orang tua ku. Aku harus bagaimana agar aku mendapatkan harta dari mereka ? Aku tidak ingin kehilangan sumber uang ku. Sial.!! Sial.!! Sial.!! Seandainya aku bisa mendapatkan seorang Alvarendra, aku tidak akan takut akan menjadi miskin," umpat Trisha seraya mengusap wajahnya dengan kasar beberapa kali.
__ADS_1
"Papa tidak menyangka, anak yang kita besarkan dengan kasih sayang ternyata hanya mencintai harta,"ucap Mahendra saat Ghina sudah keluar dari kamar Trisha.
"Iya, pa, mama juga tidak menyangka jika Trisha akan menjadi seperti ini,"sahut Ghina.
"Sebaiknya papa dan mama istirahat," ucap Radeva.
"Iya. Dan sebaiknya kamu juga segera istirahat,"ucap Ghina.
"Iya, ma,"sahut Radeva tersenyum tipis.
Keesokan harinya, keluarga Mahendra dan Darmawan pun pergi ke kantor catatan sipil untuk menyaksikan pernikahan Hery dan Trisha.
"Sekarang kalian sudah resmi menikah, kamu dan Trisha bisa tinggal di rumah papa, Her,"ucap Darmawan.
"Iya,"sahut Hery datar.
"Mulai sekarang Trisha adalah tanggung jawab mu, Her. Belajarlah untuk saling menerima pasangan kalian,"timpal Mahendra.
"Perbaikilah diri mu!"ucap Radeva seraya mengelus kepala Trisha dan Trisha pun tersenyum tipis yang nampak dipaksakan. Trisha terpaksa menuruti Mahendra karena takut tidak mendapatkan apapun dari Mahendra.
"Semoga bahagia!"ucap Ghina kemudian memeluk Trisha.
"Kalau begitu kami pamit Tuan Darmawan,"ucap Mahendra.
"Silahkan!"ucap Darmawan dengan ramah. Sedangkan Radeva dan Ghina hanya tersenyum tipis dan mengangguk kecil pada Darmawan. Darmawan pun membalasnya dengan cara yang sama.
Sesampainya di rumah Darmawan, Darmawan mengenalkan Trisha kepada Sandy dan Anjani yang juga baru pulang dari rumah sakit karena Ruzain sakit.
__ADS_1
"𝙅𝙖𝙙𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙖𝙣 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙠𝙖𝙠 𝘼𝙡𝙫𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙃𝙚𝙧𝙮? 𝘼𝙥𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙮𝙪 𝙎𝙖𝙣𝙙𝙮 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞? 𝙆𝙖𝙠 𝘼𝙡𝙫𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙨𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙖𝙠𝙪 𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣. 𝙎𝙚𝙥𝙚𝙧𝙩𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖𝙞 𝙞𝙣𝙘𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙧𝙪. 𝘿𝙞𝙖 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣, 𝙜𝙖𝙜𝙖𝙝 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙮𝙖. 𝙒𝙖𝙡𝙖𝙪𝙥𝙪𝙣 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙮𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙠𝙖𝙠 𝘼𝙡𝙫𝙖, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙟𝙖𝙪𝙝 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙞 𝙃𝙚𝙧𝙮. 𝙈𝙪𝙣𝙜𝙠𝙞𝙣 𝙎𝙖𝙣𝙙𝙮 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙢𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙙𝙞 𝙧𝙖𝙮𝙪,"batin Trisha.
To be continued