
"Tapi apa dok?!"tanya Alva sambil mengguncang kedua pundak Dokter itu.
"Tapi kami tidak bisa menyelamatkan istri anda. Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkehendak lain. Kami ikut berduka cita," lanjut dokter tersebut sambil menepuk pundak Alva, membuat tubuh Alva tiba-tiba terasa lemas hingga pegangan tangan Alva di pundak dokter itu terlepas.
"Tidak...itu tidak mungkin! Disha sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku," gumam Alva dengan air mata yang sudah jatuh dari sudut matanya, hampir terhuyung tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya yang terasa lemas.
Sedangkan Riky, Bramantyo, Ratih dan Anjani nampak terkejut mendengar berita meninggalnya Disha. Sedangkan Yessie dan Icha yang melihat dari tempat yang tidak terlalu jauh pun ikut terkejut mendengar kata-kata dokter itu.
"Tidak.!! Disha ku tidak mungkin pergi.!!!"pekik Alva tiba-tiba Alva masuk kedalam ruangan bersalin dan menghambur memeluk tubuh Disha yang nampak pucat pasi dengan mata yang tertutup rapat.Seorang petugas medis yang hendak melepaskan peralatan medis yang menempel ditubuh Disha pun menghentikan kegiatannya untuk sementara, memberikan waktu untuk Alva.
Riky, Bramantyo Ratih dan Anjani pun ikut masuk ke dalam ruangan itu, melihat Alva yang sedang memeluk tubuh Disha dan seorang perawat yang sedang menggendong putra Alva dan Disha.
"Sayang..kamu sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku. Kamu tidak boleh mengingkari janji mu! Bukankah kamu bilang bahwa kamu bukan orang yang suka ingkar janji? Lalu kenapa sekarang kamu mengingkari janjimu?"ucap Alva dengan berderai air mata, tubuhnya luruh ke lantai.
Tangis Alva terdengar sangat pilu hingga membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa hatinya teriris. Termasuk Yessie dan Icha yang memberanikan diri untuk mendekati ruangan itu dan sekarang berdiri di depan pintu ruangan yang terbuka lebar itu.
Bramantyo Ratih dan Anjani nampak berdiri mematung melihat apa yang terjadi di depan mata mereka. Seorang Alvarendra Bramantyo yang terkenal dingin, tegas dan datar menangis pilu karena seorang wanita.
"Tuan, tenangkan diri, Tuan,"ucap Riky mencoba menenangkan Alva.
"Disha sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku Rik, kenapa sekarang dia meninggalkan aku Rik? Kenapa Rik?"tanya Alva sambil mengguncang tubuh Riky berjongkok disampingnya beberapa kali.
"Tuan, kendalikan diri Tuan! Saya akan mengurus jenazah Nyonya,"ucap Riky.
"Tidak.!! Disha ku tidak mati!! Dia belum mati!!"pekik Alva kembali bangkit memeluk tubuh Disha.
"Sayang...kamu tidak boleh pergi!! Kamu tidak boleh meninggalkan aku! Aku tidak bisa hidup tanpamu, sayang! Aku mohon jangan tinggalkan aku!!"ucap Alva menangkup wajah Disha dengan kedua telapak tangannya yang besar yang nampak tremor, air matanya jatuh menetes membasahi wajah Disha yang terlihat pucat pasi.
Tiba-tiba terdengar suara dari Elektrokardiogram, yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Suara detak jantung Disha kembali dan grafik dilayar monitor yang tadinya lurus sekarang menunjukkan gambar naik turun.
𝐄𝐥𝐞𝐤𝐭𝐫𝐨𝐤𝐚𝐫𝐝𝐢𝐨𝐠𝐫𝐚𝐦, 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐦𝐞𝐫𝐢𝐤𝐬𝐚𝐚𝐧 𝐫𝐞𝐤𝐚𝐦 𝐣𝐚𝐧𝐭𝐮𝐧𝐠, 𝐝𝐢𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐮𝐧𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐬𝐢𝐧 𝐩𝐞𝐧𝐝𝐞𝐭𝐞𝐤𝐬𝐢 𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐬 𝐥𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤 𝐣𝐚𝐧𝐭𝐮𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭 𝐞𝐥𝐞𝐤𝐭𝐫𝐨𝐤𝐚𝐫𝐝𝐢𝐨𝐠𝐫𝐚𝐟. 𝐃𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐚𝐭 𝐭𝐞𝐫𝐬𝐞𝐛𝐮𝐭, 𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐤𝐭𝐢𝐯𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐥𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢𝐤 𝐣𝐚𝐧𝐭𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐩𝐚𝐧𝐭𝐚𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐦𝐩𝐚𝐤 𝐛𝐞𝐫𝐮𝐩𝐚 𝐠𝐫𝐚𝐟𝐢𝐤 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐦𝐩𝐢𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢 𝐥𝐚𝐲𝐚𝐫 𝐦𝐨𝐧𝐢𝐭𝐨𝐫.
"Disha... sayang ..kamu kembali..?! Sayang..?!"ucap Alva dengan tangan yang semakin tremor, setelah melihat ke layar monitor menunjukkan denyut jantung Disha kembali. Ada senyum bahagia bercampur air mata di raut wajahnya yang terlihat kuyu dan sembab.
__ADS_1
Petugas medis yang tadinya hendak melepaskan alat medis dari tubuh Disha pun segera menekan tombol untuk memanggil dokter.
"Tolong, kalian semua keluar, biarkan kami menangani pasien,"ucap petugas medis itu.
Riky pun menarik tangan Alva agar keluar dari ruangan itu. Sedangkan perawat yang menggendong putra Alva dan Disha membawa bayi itu keruangan khusus untuk bayi. Tak lama kemudian dokter pun datang.
Alva dan yang lainnya pun kembali menunggu di didepan ruang bersalin tersebut. Yessie dan Icha pun kembali ke tempat mereka semula. Alva nampak terlihat lebih tenang walaupun masih ada kecemasan yang terlihat diwajahnya. Melihat itu, Anjani pun segera menghampiri Alva.
"Apa maksud semua ini, Al? Siapa sebenarnya Disha?"tanya Anjani yang sudah ditahannya sejak terjadinya kecelakaan tadi siang.
Alva menatap Anjani yang berdiri di depannya dengan wajah serius kemudian berkata," Disha adalah istri ku,"ucap Alva jelas, singkat, padat dan tegas.
"DUARR"kata-kata Alva bagaikan suara petir disiang bolong.
Anjani sempat terhuyung, mundur beberapa langkah saat mendengar jawaban dari Alva. Bramantyo nampak terkejut dengan mata terbelalak, Ratih nampak menutup mulutnya karena merasa tidak percaya.Sedangkan Yessie dan Icha yang berada tidak jauh dari tempat itu pun juga sangat terkejut mendengar pengakuan dari Alva.
"Ka..kamu sedang bercanda kan, Al?"tanya Anjani memastikan bahwa apa yang didengarnya itu tidak benar.
"Aku serius dan tidak bercanda,"ucap Alva tegas dan penuh penekanan.
"Dengarkan aku baik-baik! Hari ini, aku Alvarendra Bramantyo menceraikan kamu, dan mulai detik ini juga kamu bukan lagi istriku. Aku sudah mengurus surat perceraian kita, tunggu saja surat gugatan cerai ku dari pengadilan agama,"ucap Alva menatap tajam pada Anjani.
"Alva apa yang kamu lakukan?!"bentak Bramantyo.
"Tidak! Kamu tidak bisa menceraikan aku! Aku akan menyuruh papaku untuk menarik semua sahamnya dari perusahaan mu jika kamu berani menceraikan aku!!"pekik Anjani.
"Terserah!"ucap Alva nampak acuh.
"Alva.!! Jangan bicara sembarangan!! Anjani, jangan dengarkan apa kata Alva!"ucap Bramantyo.
"Tolong jangan membuat keributan di sini!" tegas seorang petugas medis.
"Papa, Anjani, sebaiknya kita pulang dulu! Kita bicarakan ini di rumah,"bujuk Ratih meredam keributan yang sedang terjadi.
__ADS_1
Akhirnya dengan terpaksa Bramantyo, Ratih dan Anjani meninggalkan tempat itu karena ada security yang sudah datang ke tempat itu dan menatap mereka dengan wajah yang tidak bersahabat.
Sedangkan Yessie dan Icha juga memilih untuk pulang dan akan menjenguk Disha keesokan harinya.
Setelah Disha dipindahkan ke ruang rawat, Alva duduk di kursi disebelah ranjang Disha. Kemudian seorang perawat masuk keruangan itu mengantarkan bayi Alva dan Disha yang sedang menangis.
"Tuan, ini bayi anda. Anda bisa mencoba membantu bayi anda untuk mendapatkan ASI eksklusif dari ibunya. Dari tadi dia menangis dan tidak mau meminum susu formula,"jelas perawat itu.
"𝐘𝐚 𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧.!! 𝐀𝐩𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐮 𝐥𝐚𝐤𝐮𝐤𝐚𝐧? 𝐀𝐤𝐮 𝐬𝐢𝐛𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐤𝐢𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐚𝐩𝐚-𝐚𝐩𝐚,"batin Alva merasa bersalah karena menelantarkan anaknya sendiri yang baru terlahir di dunia.
"Tolong bantu saya, saya belum pernah melakukannya,"ucap Alva.
Perawat itupun akhirnya membantu dan menjelaskan pada Alva cara agar putranya mendapatkan asi walaupun ibunya belum siuman. Perawat itu merebahkan tubuh mungil putra Alva dan menempelkan mulut bayi mungil itu pada sumber kehidupan di dada ibunya.
Alva menitikkan air mata saat melihat putranya mulai berhenti menangis saat diletakkan di dada Disha.Perlahan bayi mungil itu mencari sumber kehidupannya dan perlahan menghisapnya.
Setelah bayi mungil itu nampak sudah kenyang dan terlelap, perawat itupun mengambil bayi mungil itu dari dada ibunya.
"Saya ingin mengendong nya,"ucap Alva pada perawat itu, dan perawat itupun memberikan bayi mungil itu untuk digendong oleh Alva.
Alva begitu bahagia melihat bayi mungil dalam gendongannya dan sesekali mencium pipi putranya itu. Setelah puas menggendong putranya, Alva pun memberikan bayi mungil itu pada perawat agar dibawa lagi ke ruangan khusus bayi.
Setelah perawat itu pergi, Alva kembali menghampiri Disha, mengecup kening Disha lembut kemudian duduk di samping ranjang Disha, mengecup punggung tangan Disha.
"Terimakasih sudah bertahan untuk ku dan untuk buah hati kita. Aku mencintaimu, jangan pernah meninggalkan aku, aku tidak akan sanggup bila harus hidup tanpamu," ucap Alva hingga akhirnya Alva tertidur dalam posisi duduk di kursi tapi kepalanya berada diatas ranjang dengan tangan masih menggenggam tangan Disha.
Dua jam setelah Alva terlelap, tangan Disha nampak bergerak-gerak. Perlahan mata Disha nampak berkedip-kedip kemudian terbuka sempurna.
"Al..."
...🌟"Terkadang kita baru menyadari betapa berartinya apa yang kita miliki ketika kita hampir atau bahkan sudah kehilangan apa yang kita miliki."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
__ADS_1
To be continued