
"Dia bukan wanita bayaran! Dia adalah istriku!"ucap Alva, mencekik leher Kristian dengan tatapan mata yang begitu dingin dan wajah penuh amarah.
"Kendalikan emosi anda Tuan, apa anda ingin merusak pesta, ini?"ucap Riky yang tiba-tiba muncul membuat Alva langsung melepaskan Kristian.
"Uhuk .uhuk...uhuk..."Kristian terbatuk-batuk setelah Alva melepaskannya cekikikan di lehernya.
"Atas dasar apa, anda mengatakan istri Tuan Alva adalah seorang wanita bayaran?"tanya Riky menatap Kristian tajam, begitu pun Alva yang nampak berusaha keras menguasai emosinya.
"Sorry, aku tidak tahu jika dia istrimu, bro!"ucap Kristian setelah napasnya mulai normal, kemudian menatap Riky. "Aku berpikir seperti itu, karena selain berciuman dengan Rendra, aku melihat dia dipeluk dan di cium seorang pria yang usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan Rendra. Aku juga melihat perempuan itu dicium seorang pria paruh baya,"jelas Kristian membuat Riky dan Alva saling menatap dan mengernyitkan kening mereka, seolah sudah tahu, siapa dua pria yang dimaksud oleh Kristian.
"Tolong tunjukkan pada kami, pria mana saja yang telah mencium, Nyonya Alvarendra,"pinta Riky berusaha menyelesaikan masalah, karena Riky tidak percaya jika Disha mau disentuh sembarang orang.
"Oke, akan aku tunjukkan,"ucap Kristian kemudian melangkah kembali ke ruangan utama diikuti Riky dan Alva.
Setelah tiba di ruangan utama, Kristian mengedarkan pandangannya untuk mencari dua orang pria yang dilihatnya telah mencium Disha, dan jari telunjuknya langsung mengarah pada Radeva saat matanya menangkap sosok Radeva sedang berbincang dengan beberapa orang.
"Orang yang memakai tuksedo itu yang telah mencium Shahira, dan.....pria paruh baya yang sedang menggendong anak kecil itu,"ucap Kristian menunjuk pada Radeva, kemungkinan pada Mahendra yang sedang menggendong Kaivan,"Mereka lah yang telah memeluk dan mencium Shahira,"sambung Kristian membuat Riky dan Alva membuang napas kasar secara bersamaan.
"Mengapa ekspresi kalian seperti itu?"tanya Kristian mengerutkan dahinya.
"Mereka adalah kakak ipar, dan mertua Tuan Alvarendra,"sahut Riky kemudian melirik Alva yang menatap Kristian, tapi bukan tatapan dingin seperti tadi.
"What?"ucap Kristian tampak terkejut, kemudian menatap wajah Alva,"Sorry bro! Aku terlalu cepat berasumsi negatif kepada orang lain,"ucap Kristian nyengir bodoh seraya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"It's oke,"aku juga terlalu mudah emosi. Sorry!" sahut Alva.
__ADS_1
***
Trisha baru saja kembali ke ruangan utama setelah mengelilingi rumah baru keluarga angkatnya itu. Niat awal yang ingin mencari Radeva dan Ghina diurungkan nya karena penasaran dengan rumah baru yang ditinggali keluarga angkatnya itu.Tak lama kemudian acara pun dimulai. Mahendra nampak berdiri di atas panggung yang tidak terlalu besar bersama Ghina kemudian menyapa para tamu undangan bertepatan dengan kedatangan Niko bersama kedua orang tuanya.
"Selamat malam saya ucapkan pada semua para tamu undangan yang telah menyempatkan waktu untuk hadir dalam acara keluarga kami ini. Tanpa banyak basa-basi saya ingin menyampaikan bahwa acara malam ini adalah untuk memperkenalkan putri kami kepada anda sekalian,"mendengar kata-kata Mahendra itu, senyum dibibir Trisha pun langsung merekah, dan segera memperbaiki penampilan nya.
"Setelah memperkenalkan putri kami, maka acara selanjutnya adalah acara pertunangan putra kami. Baiklah, perkenalkan putri kami....Shahira..,"ucap Mahendra membuat Trisha yang hendak melangkahkan kakinya menuju panggung dengan senyum diwajahnya langsung terhenti dengan ekspresi yang berubah menjadi terkejut.
Dengan langkah yang anggun dan senyum manis yang terukir di bibirnya, Disha berjalan menuju panggung. Wajahnya yang cantik dan penampilan tertutup namun terlihat begitu anggun dan mempesona, membuat semua orang takjub melihat nya.
"𝙎𝙚𝙟𝙖𝙠 𝙠𝙖𝙥𝙖𝙣 𝙙𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙞 𝙢𝙖𝙢𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙥𝙖?"gumam Trisha dalam hati seraya mengepalkan kedua tangannya di kedua sisi pahanya. Tatapan kebencian begitu terlihat di matanya.
Mahendra dan Ghina menyambut Disha dengan senyum mengembang kemudian memeluk dan mencium kening Disha secara bergantian disusul dengan Radeva yang ikut naik ke atas panggung. Yessie dan Icha nampak terkejut saat melihat Radeva naik ke atas panggung kemudian ikut memeluk dan mencium kening Disha.
Yessie dan Icha saling bertatapan,"Dia, kakak Disha?"tanya mereka bersamaan, sedangkan Riky yang berada di samping Yessie nampak mengernyitkan keningnya melihat ekspresi Yessie dan Icha yang nampak terkejut, namun enggan untuk bertanya.
"𝙅𝙖𝙙𝙞 𝘼𝙮𝙪 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙮𝙖? 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝘼𝙡𝙫𝙖 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙪𝙣𝙜 𝙠𝙪, 𝙥𝙖𝙨𝙩𝙞 𝘼𝙮𝙪 𝙨𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙢𝙞𝙡𝙞𝙠 𝙠𝙪,"batin Hery seraya mengepalkan kedua tangannya.
Kemudian Disha pun menyapa para tamu undangan dan menyampaikan sepatah dua patah kata tentang rasa syukurnya karena telah dipertemukan dengan kedua orang tuanya dan juga saudara laki-lakinya. Setelah itu nampak Radeva mulai berdehem dan mulai berbicara.
"Beberapa hari yang lalu saya telah melamar pujaan hati saya, dan malam ini saya ingin menyematkan cincin di jari manisnya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa dia adalah milik saya,"ucap Radeva dengan senyuman dan kebahagiaan yang terpancar di matanya.
"𝙔𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣...𝙡𝙪𝙠𝙖 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙝𝙖𝙢𝙗𝙖-𝙈𝙪 𝙞𝙣𝙞 𝙢𝙖𝙨𝙞𝙝 𝙩𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙗𝙚𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙥𝙚𝙧𝙞𝙝, 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙠𝙖𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙗𝙖-𝙈𝙪 𝙞𝙣𝙞 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙠𝙨𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙟𝙖𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙩𝙞 𝙝𝙖𝙢𝙗𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙚𝙢𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙘𝙞𝙣𝙘𝙞𝙣 𝙙𝙞 𝙟𝙖𝙧𝙞 𝙢𝙖𝙣𝙞𝙨 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙡𝙖𝙞𝙣? 𝙔𝙖 𝙏𝙪𝙝𝙖𝙣... 𝙖𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙖𝙙𝙖 𝙧𝙖𝙨𝙖 𝙨𝙖𝙠𝙞𝙩 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙨𝙖𝙠𝙞𝙩 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙗𝙖 𝙧𝙖𝙨𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙣𝙞? 𝙅𝙞𝙠𝙖 𝙝𝙖𝙢𝙗𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖𝙞 𝙞𝙡𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙡𝙚𝙥𝙤𝙧𝙩𝙖𝙨𝙞, 𝙝𝙖𝙢𝙗𝙖 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣 𝙥𝙞𝙣𝙙𝙖𝙝 𝙠𝙚 𝙙𝙞𝙢𝙚𝙣𝙨𝙞 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙖𝙜𝙖𝙧 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙥𝙚𝙧𝙡𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙮𝙖𝙠𝙨𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙟𝙖𝙙𝙞𝙖𝙣 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙞𝙣𝙞,"batin Icha dengan wajah tertunduk dengan air mata yang sudah mengembun di pelupuk mata.
Sedangkan Yessie nampak menggenggam erat tangan Icha untuk menenangkan dan memberi kekuatan pada Icha.
__ADS_1
"𝙎𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙜𝙖𝙙𝙞𝙨 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙡𝙖𝙢𝙖𝙧 𝙍𝙖𝙙𝙚𝙫𝙖? 𝘿𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙞𝙣𝙞 𝙥𝙪𝙡𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙥𝙞𝙣𝙙𝙖𝙝 𝙠𝙚𝙢𝙗𝙖𝙡𝙞 𝙠𝙚 𝙣𝙚𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙞𝙣𝙞?"batin Niko bertanya-tanya.
Radeva turun dari panggung dan dengan mantap dan tegap, Radeva melangkah ke arah Icha yang berada di tengah- tengah ramainya tamu undangan sehingga para tamu undangan pun menyingkir, memberikan jalan pada Radeva. Yessie yang melihat Radeva dengan senyum cerah melangkah kearah mereka dan menatap Icha yang masih menunduk pun jadi agak panik dan menggoyang goyangkan tangan Icha yang sedang dipegangnya.
"Cha, A... angkat wajahmu dan lihat ke depan, Cha!"perintah Yessie tapi Icha masih bergeming dengan posisi menunduk dalam, menahan air matanya yang sudah hampir tumpah.
Yessie membeku saat tiba-tiba Radeva duduk berjongkok di depan Icha dengan melipat kaki sebelah kirinya ke belakang kemudian membuka sebuah kotak beludru dan mengulurkan kotak yang berisi cincin berlian itu didepan Icha.
Icha terkesiap saat melihat Radeva yang tiba-tiba berjongkok di depannya dengan mengulurkan sebuah kotak berisi cincin yang berkilau kepadanya.
"Di depan semua orang yang hadir di rumah ini, aku ingin menyematkan cincin ini di jari manis mu, sebagai tanda bahwa kamu adalah milikku. Hidup dan menua lah bersamaku, sampai maut memisahkan kita,"ucap Radeva dengan penuh senyuman menatap Icha yang terlihat shock.
"Ambil cincin nya atau dia akan berubah pikiran untuk memberikan cincin itu pada perempuan lain,"ucap mama Icha yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Icha dengan mencubit kecil pinggang Icha, agar putrinya itu tersadar dari keterkejutannya, membuat Icha menoleh dan menatap mamanya.
"Dia yang kamu inginkan sebagai suamimu, kan? Dia adalah pria yang beberapa hari lalu melamar mu. Ambil cincinnya!"titah mama Icha lagi.
Tanpa mengambil cincin yang di salurkan Radeva, tiba-tiba Icha langsung menghambur memeluk Radeva. Radeva sempat terkejut dan hampir saja terjatuh jika tidak bisa mengimbangi tubuhnya karena pelukan dadakan Icha. "Ini bukan mimpi kan?"tanya Icha menangis terisak dalam pelukan Radeva.
"Jangan menangis, atau makeup kamu akan luntur!"bisik Radeva membuat Icha langsung melepaskan pelukannya. Radeva menghapus air mata Icha kemudian membantu Icha untuk berdiri. Radeva kemudian meraih tangan Icha dan menyematkan cincin bertahtakan berlian itu di jari manis Icha. Seketika tepuk tangan pun bergemuruh dan Radeva pun memeluk erat tubuh Icha dengan kebahagiaan yang terpancar di wajahnya. Sedangkan Icha menyembunyikan wajahnya di dada bidang Radeva dan memeluknya erat seolah takut jika ini semua hanya mimpi atau sebuah halusinasinya saja.
"𝘼𝙥𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙞𝙣𝙞 𝙣𝙮𝙖𝙩𝙖?'"batin Icha yang masih belum percaya dengan apa yang sedang dialaminya.
...🌟"Saat apa yang terjadi pada kita itu menyakitkan, terkadang kita ingin bahwa semua itu hanyalah mimpi belaka....
...Namun saat apa yang terjadi pada kita adalah hal yang membahagiakan, terkadang kita ingin waktu berhenti berputar,"🌟...
__ADS_1
..."Nana 17 Oktober"...
To be continued