Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
133. Iri


__ADS_3

Riky, Disha dan Alva telah sampai di acara pesta pernikahan yang diadakan rekan bisnis mereka. Setelah turun dari mobil, Disha nampak celingukan mencari Yessie.


"Rik, Yessie mana? Kamu nggak ngajak Yessie?"tanya Disha.


"Saya mengajaknya, Nyonya. Bahkan sudah saya belikan gaun dan saya jemput ke rumah nya. Tapi Yessie mendadak sakit perut, jadinya nggak bisa ikut,"jelas Riky.


"Ah, sayang sekali Yessie tidak bisa ikut. Tapi Yessie itu kan nggak punya riwayat sakit lambung. Dia juga selalu sehat karena selalu menjaga pola makannya. Terus dia sakit perut karena apa?"tanya Disha.


"Anu...itu Nyonya...."Riky bingung bagaimana cara mengatakan nya.


"Anu , itu, apa sich Rik?"tanya Disha geregetan mendengar Riky yang nampak susah berkata-kata.


"Sakit karena datang bulan, Nyonya,"sahut Riky pelan seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Puff...ha..ha..ha...Alamat puasa kamu nanti, Rik,"ucap Alva menertawakan Riky.


"Alamat puasa? Maksud Tuan?"tanya Riky bingung, kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Nanti kamu juga tahu,"ucap Alva terkekeh demikian pula Disha yang mengulum senyum menahan tawanya.


Sepasang suami-isteri itu pun akhirnya melangkah meninggalkan parkiran dan Riky yang masih bingung dan tidak mengerti dengan maksud kata-kata Alva.


"Alamat puasa? Maksud Tuan apa sich?Kok nggak nyambung banget sama pembicaraan tadi. Aku bilang Yessie datang bulan kok Tuan malah tertawa dan mengatakan aku alamat puasa?"gumam Riky bingung sendiri.


"Eh, Tuan, Nyonya, tunggu! Jangan tinggalin saya!"teriak Riky saat baru menyadari bahwa kedua majikannya sudah meninggalkannya,"Udah datang nggak bawa pasangan, ditinggalkan pula. Nasib...nasib..!!"gumam Riky, sedikit berlari mengejar kedua majikannya itu.


"Suasana pesta di ballroom hotel bintang lima itu nampak ramai. Seperti biasanya, Alva dan Disha selalu menjadi pusat perhatian dimana pun mereka berada. Apalagi saat dalam acara pesta seperti saat ini.


Alva yang tampan dengan tubuh tinggi, tegap dan bentuk tubuh yang proporsional memikat mata para kaum Hawa. Sedangkan Disha yang cantik dengan tubuh bak gitar Spanyol selalu memikat mata kaum Adam.


Disha memakai gaun agak longgar dan tertutup. Namun tetap saja gaun itu tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuh nya yang aduh hai itu.


Trisha yang sudah datang terlebih dulu nampak tidak suka melihat Disha menjadi pusat perhatian mata para kaum Adam. Apalagi saat melihat tangan Alva yang begitu posesif melingkar di pinggang ramping Disha, hati Trisha terasa panas.


"𝐈𝐬𝐡..𝐬𝐨𝐤 𝐤𝐞𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐬𝐢𝐜𝐡, 𝐬𝐢 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐢𝐭𝐮. 𝐃𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐫𝐚 𝐥𝐚𝐤𝐢-𝐥𝐚𝐤𝐢 𝐢𝐭𝐮, 𝐬𝐞𝐨𝐥𝐚𝐡 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐃𝐢𝐬𝐡𝐚 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤. 𝐏𝐚𝐝𝐚𝐡𝐚𝐥 𝐚𝐤𝐮 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤. 𝐃𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐦𝐮𝐫𝐚𝐡𝐚𝐧! 𝐒𝐮𝐤𝐚 𝐭𝐞𝐛𝐚𝐫 𝐩𝐞𝐬𝐨𝐧𝐚.𝐀𝐤𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐊𝐚𝐤 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐞𝐧𝐜𝐢 𝐦𝐮 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐥𝐞𝐦𝐩𝐚𝐫𝐦𝐮 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩𝐧𝐲𝐚.𝐓𝐞𝐫𝐬𝐞𝐧𝐲𝐮𝐦𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐞𝐩𝐮𝐚𝐬 𝐦𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐢𝐧𝐢, 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐬𝐨𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐚𝐧𝐠𝐢𝐬," batin Trisha tersenyum menyeringai.

__ADS_1


Sedangkan Hery seperti biasanya, matanya tak bisa beralih dari Disha. Bahkan Hery seolah enggan untuk mengedipkan matanya.


"𝐒𝐞𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐡𝐚𝐫𝐢, 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐀𝐲𝐮. 𝐀𝐤𝐮 𝐬𝐞𝐦𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐠𝐢𝐥𝐚-𝐠𝐢𝐥𝐚 𝐩𝐚𝐝𝐚𝐦𝐮. 𝐀𝐤𝐮 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐬𝐚𝐛𝐚𝐫 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢𝐦𝐮,"batin Hery seraya meminum sedikit demi sedikit red wine dari dalam gelasnya. Senyum penuh misteri pun terbit di bibirnya.


"Selamat malam Tuan Rendra, Nyonya Disha!"sapa Radeva dengan Trisha yang bergelayut di lengannya.


"Selamat malam Tuan Radeva!"sahut Alva, sedangkan Disha hanya tersenyum tipis dan sedikit menundukkan kepalanya pada Radeva.


"Malam kak Alva!"sapa Trisha tersenyum manis pada Alva, tanpa menyapa Disha membuat Disha melirik tidak suka.


"Malam,"sahut Alva singkat dan datar.


"𝐂𝐨𝐛𝐚 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐝𝐚 𝐬𝐮𝐚𝐦𝐢𝐤𝐮, 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐮 𝐛𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐢 𝐤𝐚𝐦𝐮!"batin Disha dan dengan sengaja mengelus dada Alva dengan gaya yang menggoda membuat Alva memicingkan matanya.


"𝐀𝐝𝐚 𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚? 𝐀𝐩𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐬𝐞𝐧𝐠𝐚𝐣𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐚𝐬 𝐦𝐚𝐧𝐚𝐬𝐢 𝐓𝐫𝐢𝐬𝐡𝐚?"batin Alva melirik sepintas pada Trisha yang berwajah masam menatap Disha.


"Nyonya Disha semakin cantik saja apalagi ditambah kalung anda itu, anda semakin mempesona,"puji Radeva yang membuat Trisha memutar bola matanya malas, sedangkan Alva semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Disha.


"𝐂𝐢𝐡𝐡..𝐝𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐩𝐞𝐫𝐣𝐚𝐤𝐚 𝐭𝐮𝐚 𝐭𝐚𝐤 𝐥𝐚𝐤𝐮-𝐥𝐚𝐤𝐮. 𝐁𝐞𝐫𝐚𝐧𝐢 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐨𝐝𝐚 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐤𝐮,"batin Alva.


"Ah, Tuan Radeva terlalu memuji. Banyak wanita yang lebih cantik dari saya,"sahut Disha merendah.


"Nyonya terlalu rendah hati,"ucap Radeva.


"Yang dia katakan itu benar, Kak. Disini banyak wanita yang lebih cantik dari dia, lebih muda dan lebih mempesona dari pada dia,"ucap Trisha seraya mengibaskan rambutnya ke belakang dengan gaya yang dibuat semenggoda mungkin.


""𝐂𝐢𝐡𝐡..𝐃𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐚𝐧𝐚𝐤 𝐥𝐚𝐛𝐢𝐥 𝐤𝐞𝐠𝐚𝐭𝐞𝐥𝐚𝐧.𝐀𝐩𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐩𝐚𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐜𝐚𝐧𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐬𝐨𝐧𝐚? 𝐏𝐃 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢!!"batin Disha seraya tersenyum meremehkan ke arah Trisha.


"Mata Nyonya Disha mengingatkan saya pada almarhum nenek saya. Tapi saya tidak dapat mengingat wajah nenek saya karena nenek saya meninggal saat saya masih berusia enam tahun,"ujar Radeva.


"Oh.. begitu, ya?!"sahut Disha.


"Ngomong -ngomong, kalung anda sangat indah. Liontin nya terbuat dari berlian merah muda. Itu berlian yang sangat mahal karena berlian dengan warna itu sangat langka,"ucap Radeva seraya memperhatikan kalung yang dikenakan oleh Disha.


"𝐀𝐤𝐮 𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐩𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐰𝐚𝐫𝐧𝐚 𝐬𝐞𝐩𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐢𝐭𝐮. 𝐀𝐤𝐮 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐦𝐚,"batin Trisha yang selalu merasa iri terhadap Disha..

__ADS_1


"Nampak nya anda sangat tahu soal perhiasan,"celetuk Alva.


"Saya sedikit tahu Tuan Rendra, karena mama saya suka mengoleksi perhiasan,"sahut Radeva.


"Oh, pantas mama saya kenal dengan mama anda,"celetuk Alva.


"Iya, Kak. Kemarin aku baru saja menelpon mama. Kata mamaku kemarin, sebenarnya dulu mama ku dan mama Kak Alva berjanji akan menjodohkan aku dengan Kak Alva. Tapi ternyata mama Kakak tidak menepati janji dan Kakak malah menikah dengan perempuan ini,"ucap Trisha menatap sinis kearah Disha yang ada di depannya.


"Trisha, jaga sopan santun mu!"sergah Radeva pelan tapi penuh penekanan.


"Aku mengatakan yang sebenarnya kok, kak,"ucap Trisha tanpa dosa.


"Saya yang akan menjalani hidup saya, jadi saya berhak memilih siapa yang menjadi pendamping hidup saya. Lagi pula walaupun kita di jodohkan, kita tetap tidak akan bisa bersama jika Tuhan menuliskan takdir bahwa kita tidak berjodoh,"


"Saya yakin serta percaya bahwa Disha adalah wanita yang ditakdirkan Tuhan untuk saya. Bagi saya Disha adalah satu-satunya wanita dalam hidup saya dan ibu dari anak-anak saya. Saya tidak akan pernah menggantikan posisi Disha dalam hati dan hidup saya dengan siapa pun apalagi dengan kamu!"ucap Alva tegas dengan tatapan mata yang begitu dingin kepada Trisha.


Alva tidak suka dengan Trisha yang selalu mencari gara-gara dengan Disha. Trisha selalu berusaha menjatuhkan Disha setiap ada kesempatan.


"Kak..."ucap Trisha tak percaya dengan apa yang didengar nya, apalagi saat melihat tatapan mata Alva yang begitu dingin padanya.


"Tuan Radeva, sebaiknya anda didik adik anda ini dengan baik agar tidak selalu mencari gara-gara dengan orang lain, apalagi dengan istri saya,"ucap Alva.


"Atas nama adik saya, saya mohon maaf Tuan Rendra, Nyonya Disha,"ucap Radeva seraya menundukkan kepalanya.


"Kami permisi!"ucap Alva langsung membawa Disha menjauh dari Radeva dan Trisha.


Setelah Alva dan Disha jauh, Radeva menatap tajam pada Trisha"Sebaiknya kamu diam agar kamu tidak terus menerus mempermalukan kakak!"sergah Radeva dengan tatapan tajam pada Trisha kemudian berlalu meninggalkan Trisha begitu saja.


"Kak.!!"panggil Trisha yang tak dihiraukan oleh Radeva.


"Ish...Awas saja kamu Disha! Akan ku pastikan untuk mempermalukan mu! Dan kamu Kak Alva, akan ku buat kamu bertekuk lutut di hadapan ku,"gumam Trisha dengan jemari yang saling meremas.


...🌟 Jangan biarkan iri dan dengki merasuki hati mu. Karena iri dan dengki lama kelamaan akan merusak hati dan hidup mu."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2