
"Kemari lah, Her! Ada yang harus kita bahas,"cetus Darmawan tanpa memperdulikan pertanyaan dari Hery pada Radeva dan Sandy.
Dengan rasa penasaran karena pertanyaan nya yang belum mendapatkan jawaban, Hery yang masih berdiri agak jauh dari sofa yang ada di ruang tamu itu pun akhirnya melangkah ke arah sofa dan duduk tidak jauh dari Darmawan.
"Kamu pasti sudah tahu apa tujuan saya, papa dan mama saya kemari, bukan?" tanya Radeva yang sejak tadi hanya diam.
"Kalian ingin apa dariku? Tanggung jawab atau ganti rugi?"tanya Hery tanpa dosa yang seketika membuat Mahendra dan Radeva mengepalkan tangan mereka menahan emosi.
"Hery! Jaga bicaramu!"bentak Darmawan yang membuat semua orang di ruangan itu tersentak.
"Pa!"ucap Sandy tanpa suara seraya mengelus lengan Darmawan agar Darmawan bisa mengontrol emosinya. Dan benar saja, Darmawan mencoba menurunkan emosinya dengan menghela nafas panjang beberapa kali.
"Tidak bisa kah kamu berhenti berbuat ulah! Papa sudah bosan membereskan semua kekacauan yang kamu buat. Papa ingin hidup tenang,"ucap Darmawan yang terlihat sedikit lebih tenang.
"Kalau mau tenang ya di kuburan, pa! Mana ada orang yang bisa tenang jika masih hidup,"ucap Hery tanpa perduli tatapan tidak percaya dari semua orang.
"Kamu ini, benar-benar, ya?! Kamu ingin papamu cepat mati?!"sergah Darmawan.
"Papa kan memang sudah tua, paling sepuluh tahun lagi juga sudah mati. Itupun kalau papa berumur panjang!"ujar Hery tanpa dosa seraya duduk dengan menyilang kan kakinya dan sibuk mengutak atik handphone nya.
Sandy yang melihat papanya semakin emosi pun memegang lengan Darmawan dan mengelus punggung Darmawan pelan agar bisa lebih tenang. Dan benar saja Darmawan kembali tenang, walaupun Sandy sendiri mati-matian menahan emosinya karena kata- kata Hery tadi.
"𝘼𝙨𝙩𝙖𝙜𝙖𝙖𝙖!! 𝙋𝙧𝙞𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙢𝙖𝙘𝙖𝙢 𝙖𝙥𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙩𝙪? 𝙎𝙚𝙪𝙢𝙪𝙧 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙖𝙧𝙪 𝙠𝙖𝙡𝙞 𝙞𝙣𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙘𝙖𝙢 𝙙𝙞𝙖 𝙞𝙣𝙞. 𝙃𝙖𝙧𝙪𝙨𝙠𝙖𝙝 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙪𝙩𝙧𝙞𝙠𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙘𝙖𝙢 𝙙𝙞𝙖? 𝘼𝙠𝙖𝙣 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙖𝙥𝙖 𝙧𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞?"batin Mahendra seraya memijit pelipisnya karena tiba-tiba kepalanya menjadi pusing karena mendengar kata-kata Hery.
"𝙏𝙧𝙞𝙨𝙝𝙖 𝙠𝙚𝙧𝙖𝙨 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙡𝙖 𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙞𝙣𝙞?! 𝙎𝙚𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙨𝙤𝙣𝙜𝙤𝙣𝙜, 𝙗𝙧𝙚𝙣𝙜𝙨𝙚𝙚𝙠 𝙙𝙖𝙣 𝙠𝙪𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙖𝙟𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙖 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙙𝙪𝙧𝙝𝙖𝙠𝙖,
𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙠𝙖𝙝? 𝘼𝙠𝙪 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙖𝙮𝙖𝙣𝙜𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙟𝙖𝙙𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙚𝙡𝙪𝙖𝙧𝙜𝙖 𝙢𝙚𝙧𝙚𝙠𝙖 𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞,"batin Radeva membuang nafas kasar.
"Dasar anak kurang ajar! Anak durhaka! Sampai kapan kamu akan bertingkah seperti itu? Kamu tidak akan pernah menemukan kebahagiaan jika kamu terus begini dan tidak mau berubah,"geram Darmawan.
"Tuan Darmawan, saya ingin putri saya dan putra anda ini menikah di atas kertas saja. Hanya sebatas status dan mereka akan tinggal secara terpisah. Bagaimana, Tuan?"tanya Mahendra setelah mengambil keputusan, tegas dan penuh keyakinan.
Walaupun Trisha bukan putri kandung mereka, namun Mahendra tidak akan menyerahkan Trisha pada orang yang salah, apalagi pada pria brengseek dan durhaka seperti Hery.
"Saya terserah anda saja,"sahut Darmawan yang merasa tidak enak hati pada keluarga Mahendra.
__ADS_1
"Kalau begitu saya akan mengurus semua surat-surat nya secepatnya,"ucap Radeva.
"Baiklah Tuan Darmawan, kalau begitu kami permisi,"ucap Mahendra berpamitan.
"Iya, Tuan. Saya akan menyiapkan semua surat-surat yang dibutuhkan untuk persyaratan pernikahan itu. Saya mohon maaf atas kelakuan anak saya,"ucap Darmawan tertunduk, menghela nafas panjang.
"Tidak apa-apa, Tuan," sahut Mahendra kemudian mereka bertiga pun meninggalkan rumah Mahendra sedang kan Hery terlihat acuh.
"Papa benar-benar tidak percaya ada orang seperti si Hery itu,"celetuk Mahendra setelah mobil mereka melaju meninggalkan rumah Darmawan.
"Iya, pa.Aku juga percaya seratus persen jika Hery itu bukan anak kandung dari Tuan Darmawan. Aku sependapat dengan Alva bahwa Tuan Darmawan itu orang yang baik dan bijaksana berbanding terbalik dengan Hery,"timpal Radeva yang sedang mengemudi.
"Dan mama juga yakin seratus persen jika pria yang bernama Sandy itu adalah putra kandung Tuan Darmawan. Mereka sama-sama terlihat tenang dan berwibawa,"imbuh Ghina yang duduk di kursi penumpang bagian belakang.
"Mama benar, aku setuju dengan mama," sahut Mahendra yang duduk di bangku penumpang di samping Radeva.
"Apa papa memutuskan untuk menikahkan mereka demi menutupi aib Trisha?"tanya Radeva.
"Iya, papa tidak punya pilihan lain. Tapi karena papa juga memikirkan dan menyayangi Trisha, maka papa memutuskan agar mereka menikah di atas kertas saja. Maaf, papa mengambil keputusan tanpa berdiskusi pada kalian. Papa tidak bisa berkata-kata melihat dan mendengar apa yang dikatakan orang yang bernama Hery itu,"ujar Mahendra.
"Aku setuju dengan mama. Menurut ku keputusan papa tadi adalah keputusan yang terbaik untuk Trisha,"timpal Radeva.
"Yah, ini adalah pilihan tersulit dalam hidup papa. Dan papa tahu, Trisha pasti tidak akan setuju,"ucap Mahendra.
"Setuju ataupun tidak setuju, Trisha harus menerimanya, pa. Selama ini kita sudah terlalu lembut padanya. Sekarang kita harus bersikap tegas pada anak itu agar dia tidak semakin menjadi berbuat yang tidak baik,"sahut Radeva.
"Mama merasa gagal mendidik Trisha,"keluh Ghina.
"Itu bukan salah mama, tapi memang watak anak itu saja yang semaunya sendiri dan juga keras kepala,"sahut Mahendra.
***
Kembali di kediaman Darmawan, setelah keluarga Mahendra meninggalkan rumah itu. Darmawan langsung menatap Hery dengan tajam.
"Hery, tidak bisakah kamu berubah?! Mau jadi apa kamu itu Hery! Semakin lama kamu bukan semakin baik, tapi semakin bejatt!"bentak Darmawan.
__ADS_1
"Aku memang seperti ini dari sananya, memang papa mau apa?"celetuk Hery masih tetap fokus dengan handphone nya, asyik chatting degan seseorang.
"Lihat papa saat papa bicara dengan mu! Dimana sopan santun mu?!"sergah Darmawan.
"Persetan dengan sopan santun,"sahut Hery yang membuat Sandy menghela nafas panjang mencoba mengontrol emosinya mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Hery.
"Hery!!!"bentak Darmawan dengan suara menggelegar membuat Sandy tersentak.
"Papa tidak usah marah-marah! Nanti bisa-bisa papa kena darah tinggi, terserang stroke dan hanya bisa diam di atas ranjang menjadi bayi besar,"ucap Hery terlihat acuh dan tidak mau menatap Darmawan.
"Cukup Hery! Lebih baik kau tutup mulut mu dari pada kamu mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati orang yang telah merawat dan membesarkan kamu!" sergah Sandy yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Hery.
Hery menengadah kemudian menatap Sandy,"Kamu?! Kenapa kamu masih disini? Dan jangan ikut campur dengan urusan orang lain!"ketus Hery menatap tajam pada Sandy.
"Mulai besok, kamu tidak lagi menjadi CEO di perusahaan HD Group. Jabatan kamu aku turunkan dan kamu akan bekerja di bagian divisi umum,"ucap Sandy tegas.
Hery tergelak mendengar kata-kata Sandy kemudian menatap Sandy,"Kamu pikir kamu siap? Kamu itu hanya ayah sambung dari anakku. Orang dari kalangan menengah ke bawah!"cibir Hery kemudian menatap Darmawan.
"Posisi apa yang papa berikan pada orang miskin ini sehingga dia berani memerintah anak pemilik perusahaan?" tanya Hery menatap Darmawan.
"Posisiku? Kamu ingin tahu apa posisiku di HD Group? Posisiku adalah memilik HD Group,"ucap Sandy datar.
Hery kembali tergelak mendengar kata-kata Sandy," Kamu sedang bermimpi? Khayalan mu terlalu tinggi," ucap Hery kembali tertawa.
"Apa yang dikatakan Sandy adalah benar. Sekarang Sandy adalah pemilik HD Group dan kamu akan bekerja sesuai dengan perintah Sandy. Papa akan katakan satu kebenaran padamu, Sandy adalah putra kandungku dan kamu hanyalah keponakan ku,"ucap Darmawan datar namun menatap tajam pada Hery.
"Apa?! Apa maksud papa?"tanya Hery.
"Kamu bukan putraku!!"
...🌟"Bagaimana orang lain mau menghargai kita, jika kita saja tidak mau menghargai orang lain?!"🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
To be continued
__ADS_1