
Disha membereskan barang-barang yang berantakan karena ulah Alva, sedangkan Alva berada di kamar mandi yang ada di dalam ruangan pribadinya kemudian mencuci wajahnya.
"𝐀𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐞𝐠𝐨𝐢𝐬, 𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐥𝐞𝐩𝐚𝐬𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧𝐩𝐮𝐧, 𝐤𝐞𝐜𝐮𝐚𝐥𝐢 𝐬𝐚𝐚𝐭 𝐧𝐲𝐚𝐰𝐚𝐤𝐮 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐞𝐩𝐚𝐬 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐫𝐚𝐠𝐚 𝐤𝐮. 𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐢𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐮 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐤𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐠𝐢 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐝𝐢 𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐥𝐚𝐢𝐧,"batin Alva menatap pantulan wajahnya di cermin di depannya.
"Aku akan kembali ke meja kerja ku,"ucap Disha dengan nada datar, saat Alva sudah keluar dari ruangan pribadinya.
"Bisakah aku memegang janji mu di saat pernikahan kita?"ucap Alva tiba-tiba, membuat Disha menghentikan langkahnya.
"Aku berjanji, dan kamu bisa memegang janjiku, karena aku bukan tipe orang yang suka ingkar janji,"ucap Disha tanpa menoleh kepada Alva kemudian keluar dari ruangan itu.
Disha merasa kesal saat Alva tidak membalas ciumannya, membuat harga diri Disha merasa terluka. Sedangkan Alva tidak membalas ciuman Disha karena saat itu dia benar-benar sangat marah. Alva takut akan berbuat brutal pada Disha jika dia membalas ciuman Disha. Setelah Disha keluar dari ruangannya Alva langsung menghubungi Riky.
"Riky, keruangan ku sekarang,"perintah Alva pada Riky melalui panggilan interkom.
Tak lama kemudian Riky sudah berada di dalam ruangan Alva.
"Ada apa Tuan?"tanya Riky.
"Kamu sudah berinvestasi di agensi tempat Anjani bekerja kan?"tanya Alva.
"Sudah Tuan, bahkan sekarang kita adalah pemegang saham terbesar di agensi Nona Anjani bekerja,"jawab Riky.
"Bagus, aturlah sebaik mungkin agar Anjani sibuk dengan dunia modelingnya. Buat dia tidak punya waktu untuk menganggu ku. Dan satu lagi, atur agar putra Tuan Darmawan itu tidak bisa bertemu apalagi mendekati istriku,"perintah Alva.
"Anda cemburu Tuan? Jadi itu pacar Nyonya?"ledek Riky.
"Dari mana kamu tahu kalau......"Alva menggantung kata-katanya karena sangat benci jika harus mengatakan bahwa Hery adalah pacar Disha.
"Maaf Tuan, bukan pacar Nyonya tapi mantan pacar Nyonya,"ucap Riky sambil nyengir.
"Maksud mu?"tanya Alva.
"Maksud saya, tadi Nyonya sudah memutuskan hubungan mereka. Nyonya berkata pada Tuan Hery agar Tuan Hery tidak lagi mendekati Nyonya lagi karena Nyonya sudah menikah,"
"Nyonya juga bilang, Nyonya sengaja menjauhi laki-laki lain karena Nyonya tidak ingin Tuan salah paham kepada Nyonya," jelas Riky.
"Benarkah Disha berkata seperti itu?"tanya Alva yang wajah mendung nya tiba-tiba berubah menjadi cerah.
__ADS_1
"Jika Tuan tidak percaya dengan apa yang saya katakan, Tuan bisa bertanya pada karyawan anda yang berada dekat dengan ruangan saya,"ucap Riky.
"Tidak, aku tidak perlu bertanya pada mereka. Aku percaya padamu,"ucap Alva tersenyum tipis.
"Apa masih ada yang harus saya lakukan disini, Tuan?"tanya Riky.
"Tidak, kamu boleh pergi,"ucap Alva.
"Baik Tuan,"ucap Riky kemudian berniat keluar dari ruangan Alva. Namun baru beberapa langkah Riky berhenti dan berbalik menatap Alva.
"Tuan....Tuan tadi pasti dari berantem dengan Nyonya ya? Sebaiknya Tuan meminta maaf dengan memberikan Nyonya hadiah. Bunga kek, perhiasan kek, asal jangan tokek,"
"Dan satu lagi, jika Tuan tidak bisa merayu Nyonya hingga Nyonya tidak mau memaafkan Tuan, malam ini Tuan tidak akan mendapatkan jatah ha..ha..ha..."ujar Riky menertawakan Alva.
"Riky..!!!"teriak Alva.
"Ampun Tuan..!!"pekik Riky ngibrit keluar dari ruangan Alva dan seperti biasa, Riky berdiri di depan pintu ruangan Alva sambil mengatur nafasnya.
"Dis, sabar banget kamu punya suami yang cemburuan akut,"ucap Riky kemudian berlalu pergi.
Disha yang melihat tingkah dan kata-kata asisten suaminya itu pun hanya bisa menghela nafas panjang. Sedangkan karyawan lain yang mendengar kata-kata Riky pun mengernyitkan dahi mereka seolah-olah bertanya "Pak Riky mengenal suaminya Disha?"begitulah kiranya pertanyaan yang ada di kepala mereka.
"Benar kata Riky, aku harus memberikan hadiah untuk Disha. Jika tidak, jangankan memberikan aku jatah, dipeluk pun dia tidak akan mau,"
"Tapi hadiah apa ya yang harus aku berikan? Disha seperti tidak mempunyai sesuatu yang sangat dia sukai atau pun dia kagumi. Aku jadi bingung harus memberikan Disha hadiah apa,"gumam Alva.
Saat Alva sedang berpikir, hadiah apa yang akan dia berikan kepada Disha untuk meminta maaf, tiba-tiba pintu ruangan Alva di buka tanpa di ketuk.
Seorang wanita cantik memakai dress sebatas paha, berwarna merah yang nampak begitu pas melekat di tubuhnya hingga menampakkan lekuk tubuh wanita itu yang sangat menggoda.
"Al.."
"Kamu? Jaga etika dan sopan santun mu!"ucap Alva sarkas.
"Apa maksudmu, Al?"tanya wanita yang tidak lain adalah Anjani, terus berjalan mendekati Alva.
"Ketuk pintu sebelum masuk keruangan ku!"ketus Alva.
__ADS_1
"Aku masuk keruangan suamiku kenapa harus mengetuk pintu?"jawab Anjani enteng kemudian berusaha menyentuh Alva tapi Alva langsung menghindar dengan mendorong kursinya agar menjauh dari Anjani.
"Cih...aku tidak pernah menganggap kamu istri ku. Buat apa kamu kesini?"tanya Alva dengan wajah dingin dan datarnya.
"Tentu saja mengunjungi suamiku tersayang,"ucap Anjani kembali berusaha menyentuh Alva tapi Alva malah menepis tangan Anjani.
"Cih....percaya diri sekali kamu?! Aku tidak pernah menganggap mu sebagai istri ku,"ucap Alva dengan nada mencibir sambil memandangi berkas-berkas yang ada di meja kerjanya.
"Al, uangku sudah habis,"ucap Anjani dengan suara manja tidak menghiraukan kata-kata pedas Alva.
"Lalu...apa hubungannya dengan ku?"tanya Alva dengan dengan wajah tidak suka.
"Tentu saja ada hubungannya dengan mu. Aku adalah istri mu, jadi aku kesini ingin meminta uang padamu, Al,"ucap Anjani.
"Aku bukan bank atau pun mesin ATM. Kamu salah jika kesini untuk mendapatkan uang,"ucap Alva tetap dengan nada dingin dan datarnya.
"Jangan pelit pada istri sendiri, Al,"ucap Anjani.
"Aku sudah berbaik hati mentransfer seratus juta perbulan ke rekening mu, jadi jangan berharap aku akan memberikan kamu uang tambahan,"ucap Alva datar.
"Tapi seratus juta itu sedikit, Al,"rengek Anjani.
"Jika kamu ingin uang yang banyak, bercerai lah dari ku dan carilah pria yang kaya yang bisa kamu jadikan mesin ATM berjalan mu,"ucap Alva sarkas.
"Al, kamu kasar sekali sich?! Akan aku adukan kelakuan kamu ini pada papaku,"ucap Anjani kesal.
"Adukan saja, memang hanya itu kan kemampuan mu? Wanita manja dan tukang ngadu,"cibir Alva.
"Aku benar-benar akan mengadukan kamu pada papaku,"ucap Anjani semakin kesal.
"Silahkan, aku berharap papamu akan semakin benci padaku jika kamu mengadu pada papamu. Dengan begitu, papamu akan menyuruh ku untuk menceraikan kamu, dan itulah yang aku tunggu-tunggu,"ucap Alva tanpa menatap Anjani.
"Kamu.....dasar Alva menyebalkan!!"pekik Anjani kemudian meninggalkan ruangan Alva dengan membanting pintu ruangan itu dengan kuat hingga membuat semua mata karyawan yang berada dekat dengan ruangan Alva menatap Anjani yang nampak sangat marah itu.
...🌟"Memperjuangkan orang yang tidak ingin kamu perjuangkan itu menyakitkan. Ibarat kata bertepuk sebelah tangan."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
__ADS_1
.
To be continued