Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
266. Karena Nyaman


__ADS_3

Pemuda yang memegang tangan Dina, terdiam menatap Dina yang masuk ke sebuah mobil mewah dan tak lama kemudian mobil itu pun melaju meninggalkan tempat itu.


"Siapa perempuan itu, cantik sekali,"ucap salah seorang teman pemuda itu dengan tatapan mata yang tertuju pada mobil mewah yang membawa Dina dan seorang wanita cantik pergi.


"Apa pria itu tadi kakak Dina, ya? Aku akui dia tampan dan tubuhnya juga proposional, tapi tatapan matanya tajam dan dingin sekali. Aku ngeri saat melihat nya,"ucap yang lainnya.


"Sepertinya iya. Dina memanggil pria itu kakak,"ucap yang lainnya lagi kemudian menatap pemuda disampingnya," Kamu yakin masih ingin mendekati Dina?"tanya siswa itu pada temannya yang di tendang Dina tadi dan pemuda itu hanya mengangkat kedua bahunya.


Para siswa itu pun akhirnya pergi meninggalkan tempat itu dengan berbagai macam pertanyaan yang tidak mereka temukan jawabannya.


Sedangkan di dalam mobil Disha, Ferdi masih nampak mengeluarkan aura dinginnya. Ferdi memasang earphone nya dan menghubungi seseorang, namun tak kunjung tersambung, membuat Ferdi merasa kesal.


Disha menatap gadis di sampingnya. "Siapa namamu?"tanya Disha seraya tersenyum ramah.


"Dina, Nyonya,"sahut Dina ikut memanggil nyonya seperti Ferdi. Dina menebak kalau perempuan cantik yang sedang duduk di sampingnya ini adalah majikan suaminya.


"Kamu siapanya Ferdi?"tanya Disha penasaran.


"Saya...saya..."ucap Dina yang nampak ragu untuk menjawab, menatap Ferdi yang sedang duduk di kursi kemudi. Ferdi yang menatap raut wajah bingung istrinya dari kaca dasbor mobil pun menjawab,"Dina istri saya, Nyonya,"sahut Ferdi.


"Ohh.. istri kamu," ucap Disha yang nampak belum mencerna kata-kata Ferdi, hingga,"Apa? Istri kamu? Kamu bercanda Fer!"tanya Disha nampak terkejut dan tidak percaya.


"Saya tidak bercanda, Nyonya,"sahut Ferdi serius.


"Wahh.. parah kamu Fer. Apa kamu itu pedofil? Anak SMU kamu nikahi, bahkan istrimu sekarang sedang mengandung. Apa istri mu tahu kalau kamu menikah lagi?"cecar Disha tak habis pikir dengan bodyguard nya itu.


"Saya bukan pedofil, Nyonya. Istri saya juga tahu jika saya menikah lagi. Bahkan Lily dan Dina tinggal serumah dengan saya,"sahut Ferdi tetap fokus menyetir.


"What? Astaga Ferdi....kok kamu tega sich, menyakiti hati istrimu,"ucap Disha kemudian menatap Dina," Dan kamu, apa kamu dipaksa Ferdi untuk menikah dengannya? Katakan saja yang sejujurnya, jangan takut! Jika kamu memang di paksa Ferdi, aku akan membantumu lepas dari Ferdi,"ujar Disha menatap lekat bola mata Dina.


"Tidak ada yang seperti itu Nyonya. Saya sama sekali tidak terpaksa menikah dengan Kak Ferdi. Saya...saya mencintai kak Ferdi,"sangkal Dina membuat Ferdi tersenyum tipis.


"Benarkah? Kamu tidak dipaksa atau di ancam oleh Ferdi, kan?"tanya Disha menatap lekat manik mata Dina, seolah mencari kejujuran di sana.


"Saya benar-benar tidak dipaksa Nyonya. Kak Ferdi sudah menolong saya dan keluarga saya. Jika tidak ada Kak Ferdi, saya nggak tahu bagaimana kehidupan saya dan keluarga saya,"ucap Dina menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Jadi kamu menikah dengan Ferdi untuk membalas budi?"tanya Disha semakin mengorek informasi dari Dina, sedangkan Ferdi hanya bisa menghela napas panjang setiap kali mendengar pertanyaan majikannya yang penuh kecurigaan.


"Waktu itu, Kak Ferdi memang bertanya pada saya, apakah saya mau menjadi istrinya atau tidak dan saya bersedia. Terus terang awalnya saya setuju menikah dengan Kak Ferdi karena Kak Ferdi menjanjikan perlindungan pada keluarga kami, menanggung semua biaya berobat ibu saya sampai sembuh, mencukupi semua kebutuhan saya dan kedua orang tua saya, bahkan berjanji akan mendukung saya menuntut ilmu, setinggi yang saya mau,"


"Tapi nyatanya, saya merasa nyaman bersama kak Ferdi, dan makin ke sini nya, saya semakin suka pada kak Ferdi. Kak Ferdi menerima saya apa adanya, tanpa menuntut apapun pada saya dan kedua orang tua saya,"ucap Dina terlihat jujur dan tulus dimata Disha. Ferdi yang mendengar pengakuan istri mudanya itu pun menipiskan bibirnya, menyembunyikan rasa bahagia dalam hatinya.


"Lalu, apa istrimu mengijinkan kamu menikah lagi, Fer? Atau kamu memaksanya untuk menerima istri muda mu?"tanya Disha memicingkan sebelah matanya menatap Ferdi yang duduk di depannya.


"Saya tidak akan menikah lagi jika istri ke tiga saya tidak mengijinkan saya, Nyonya,"sahut Ferdi masih tetap fokus mengemudi.


"What? Istri ketiga? Memangnya kamu punya berapa istri?"tanya Disha semakin terkejut mendengar pengakuan Ferdi.


"Ada, empat, Nyonya. Yang pertama meninggal karena melahirkan, yang kedua meninggal karena penyakit kanker, Lily yang ketiga dan Dina yang keempat,"jelas Ferdi terus terang pada Disha tanpa ada yang ditutup tutupi, sama seperti saat dia ditanya oleh Alva.


Disha menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya setelah mendengar jawaban Ferdi, kemudian menatap Dina dan bertanya,"Apa kamu tidak cemburu pada madumu?"tanya Disha menyelidik.


"Dulu sich, enggak Nyonya. Tapi sekarang saya suka cemburu pada kak Lily,"jawab Dina mengerucutkan bibirnya. Ferdi yang mendengar jawaban istrinya itu pun mengernyitkan keningnya. Selama ini Ferdi merasa sudah berlaku adil pada ke dua istrinya, lalu kenapa Dina merasa cemburu pada Lily? Itulah yang ada dalam pikiran Ferdi saat ini.


"Dulu kamu tidak cemburu pada madumu, tapi sekarang kamu cemburu pada madumu. Kenapa? Apa karena Ferdi tidak adil pada kalian berdua , atau karena kamu sekarang sudah menyukai Ferdi?"tanya Disha yang sekarang sama dengan pertanyaan dalam hati Ferdi dan nampak semakin penasaran menunggu jawaban dari mulut Dina.


Ferdi yang melihat ekspresi Disha pun berkata,"Orang tua Dina memperlakukan Lily seperti anak mereka sendiri, Nyonya. Karena Lily juga memperlakukan kedua orang tua Dina seperti orang tuanya sendiri. Lily berasal dari panti asuhan dan tidak pernah tahu siapa kedua orang tuanya. Jadi saat orang tua Dina memperlakukan Lily seperti mereka memperlakukan Dina, Lily sangat bahagia, karena selama ini Lily tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua,"jelas Ferdi.


"Begitu ya? Pantas keluarga kalian akur. Aku salut dengan kalian. Keluarga mu benar-benar unik, Fer. Semoga kalian selalu bahagia!"ucap Disha jujur dan tulus.


"Terimakasih, Nyonya,"sahut Ferdi dan Dina bersamaan.


"Apa kamu ingin melanjutkan kuliah?"tanya Disha mengganti topik pembicaraan.


"Iya, Nyonya. Saya ingin kuliah,"jawab Dina dengan senyum merekah.


"Dina termasuk murid cerdas, Nyonya. Dia sekolah di sekolah elit karena mendapatkan beasiswa,"sahut Ferdi nampak bangga.


"Oh ya? Bagus sekali. Jika kamu kuliah nanti, kamu akan mengambil jurusan apa?"tanya Disha antusias.


"Saya ingin mengambil jurusan kedokteran, Nyonya,"jawab Dina nampak bersemangat.

__ADS_1


"Cita-cita yang mulia,"sahut Disha.


Tak terasa mereka bertiga pun sampai di sebuah supermarket. Disha mengajak Dina berbelanja dan menyuruh Dina mengambil apapun yang dia mau, namun Dina merasa tidak enak hati, jadi hanya mengambil beberapa barang saja. Disha yang melihat Dina sungkan pun mengambil apapun yang nampak menarik perhatian gadis itu.


Setelah puas berbelanja mereka pun kembali ke dalam mobil. Disha membelikan banyak barang untuk Dina. Setelah mengantar Disha pulang, Ferdi menyuruh salah seorang anak buahnya mengantarkan barang-barang yang diberikan Disha pada Dina ke rumahnya. Ferdi ingin pulang bersama istrinya dengan mengendarai motor. Namun tiba-tiba handphone Ferdi berdering.


"Halo!"ucap Ferdi menerima panggilan telepon itu.


"Ketua, ampuni saya. Saya tidak tahu keberadaan istri muda ketua, saya kehilangan jejak istri muda ketua,"sahut anak buah Ferdi terdengar sangat khawatir.


Ferdi membuang napas kasar,"Kenapa baru sekarang memberi kabar? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada istri ku? Dari mana saja kamu? Kenapa tidak menjemput istriku tepat waktu? Kamu tahu, istriku diganggu seorang pemuda karena kamu terlambat menjemputnya,"cecar Ferdi terdengar dingin.


Ferdi memang menugaskan anak buah perempuan nya untuk mengantar dan menjemput istri mudanya. Tapi hari ini anak buahnya itu tidak menjemput istrinya tepat waktu sehingga Dina diganggu oleh seorang pemuda.


"Maafkan saya, ketua. Motor saya tiba-tiba mogok,"ucap anak buah Ferdi penuh sesal.


"Seharusnya kamu kabari temanmu yang lain untuk menjemput istri ku,"segar Ferdi.


"Iya, ketua. Saya janji tidak akan teledor lagi,"ucap anak buah Ferdi dan panggilan suara pun diakhiri Ferdi.


Ferdi menatap istrinya yang nampak kagum melihat rumah Mahendra yang megah. Rasa kesalnya pada anak buahnya pun langsung bilang saat menatap wajah istrinya itu,"Ayo kita pulang!"ajak Ferdi seraya merangkul pundak istrinya, berjalan menuju motor sport nya.


"Rumah Nyonya bagus sekali ya, kak. Seperti istana,"ujar Dina yang masih memperhatikan rumah Mahendra, hingga Ferdi memakaikan helm di kepalanya,"Kita pulang naik motor?"tanya Dina mendongak menatap suaminya dengan wajah yang berbinar.


"Hum. Kenapa? Kamu tidak suka?"tanya Ferdi tersenyum tipis menaiki motor sportnya.


"Tentu saja suka. Kakak tahu kan, kalau aku sangat senang jika naik motor bersama kakak,"ucap Dina langsung duduk dibelakang Ferdi dan langsung melingkarkan tangannya di perut rata suaminya dengan erat.


Ferdi tersenyum di balik helm nya, melajukan motornya meninggalkan kediaman Mahendra dengan kecepatan rata-rata. Dina nampak sangat bahagia, menikmati kebersamaannya dengan suaminya. Mencintai Ferdi? Tentu saja, perasaan nyaman saat bersama Ferdi, pria yang tidak pernah menuntut apapun darinya dan tidak pernah berbuat kasar padanya. Sikap dewasa Ferdi benar-benar membuatnya nyaman dan merasa di lindungi.


...🌟" Terkadang, cinta hadir karena rasa nyaman."🌟...


..."Nana 17 Oktober"...


...🌸❀️🌸...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2