Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
33. Mencari Informasi


__ADS_3

"Alien..!! Kembalikan handphone ku..!!"teriak Disha saat tiba-tiba Alva mengambil handphonenya dan menyembunyikannya di balik punggung Disha sendiri karena posisi Alva yang sedang memeluk Disha dari samping.


"Sayang, aku rindu sekali sama kamu,"ucap Alva dengan puppy eyes nya.


Disha menghela nafas kasar, menatap wajah suaminya yang sudah melas pakai banget.Disha sama sekali tidak bisa bergerak karena pelukan Alva. Melihat Disha yang sudah tidak bisa bergerak, Alva pun memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya kemudian mencium bibir wanita yang dicintainya itu dengan lembut.


Semakin lama ciuman itu pun semakin menuntut dan berujung dengan penyatuan mereka yang berkali-kali mendapatkan pelepasan.


Disha merasa sangat lelah setelah kegiatan panas mereka selesai. Alva benar-benar seperti balas dendam, menyerangnya tanpa ampun.Mereka hanya berhenti sebentar untuk menyantap makan malam mereka, kemudian Alva kembali menyerang Disha hingga sekarang Disha tertidur lelap dalam dekapan Alva.


Alva sesekali membelai rambut dan juga wajah cantik istrinya, mengecup puncak kepala, kening dan juga bibir Disha beberapa kali untuk meluapkan rasa cintanya.


Alva menjadi malas saat melihat jam yang menempel di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ingin rasanya dia tetap bersama Disha hingga mentari yang hangat menyapa tubuh mereka esok hari. Tapi Alva takut mamanya akan marah dan benar-benar mengikutinya ke kantor jika dia melakukan itu.


Dengan perlahan Alva melepaskan pelukannya pada Disha, mengganti lengannya yang dipakai sebagai bantal oleh Disha dengan bantal yang ada di atas ranjang itu, menutup tubuh polos istrinya dengan selimut. Alva bangkit dari ranjang pelan-pelan karena tidak ingin membuat istrinya terbangun.


Beberapa menit kemudian, Alva sudah selesai mandi dan memakai pakaiannya. Alva menatap istrinya yang sedang tidur dengan lelap, kemudian menghampirinya.


"Maafkan aku sayang, aku harus pergi,"ucap Alva kemudian mengecup kening dan bibir Disha dengan lembut, enggan untuk meninggalkannya.


***


Di kediaman Bramantyo.


Seperti biasanya, Alva akan tidur di sofa ruang kerjanya. Pagi-pagi sekali sebelum orang-orang bangun Alva sudah berolahraga disekitar rumahnya. Sekedar lari, push up, full up dan melatih gerakan ilmu bela dirinya.


Setelah dirasa cukup Alva pun masuk kedalam rumah menuju kamarnya. Anjani yang hari itu tumben tumbenan bangun pagi pun terkejut sekaligus terpesona saat Alva masuk ke dalam kamar.


Tubuh Alva nampak basah oleh keringat, dengan rambut yang setengah basah membuatnya terlihat semakin tampan dengan buliran keringat di wajah tegasnya.


Alva hanya menggunakan celana training dan kaos oblong yang menempel di tubuhnya karena keringat yang membanjiri tubuhnya, sehingga samar-samar terlihat bentuk tubuhnya yang proporsional.


Anjani yang masih duduk di atas ranjang diam mematung melihat pemandangan indah di depan matanya itu. Sedangkan Alva nampak cuek, langsung mengambil pakaian ganti kemudian masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


"𝐘𝐚 𝐓𝐮𝐡𝐚𝐧....𝐚𝐤𝐮 𝐬𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐰𝐚𝐫𝐚-𝐰𝐢𝐫𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐦𝐨𝐝𝐞𝐥, 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡 𝐩𝐫𝐢𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐮𝐫𝐧𝐚 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡 𝐀𝐥𝐯𝐚. 𝐖𝐚𝐥𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐝𝐢𝐚 𝐦𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐤𝐚𝐢 𝐛𝐚𝐣𝐮, 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐲𝐚𝐤𝐢𝐧 𝐝𝐢𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐝𝐚𝐝𝐚 𝐛𝐢𝐝𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐨𝐭𝐨𝐭 𝐝𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐢𝐱𝐩𝐚𝐜𝐤,"


"𝐁𝐚𝐣𝐮 𝐛𝐚𝐬𝐚h 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐤𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐦𝐩𝐞𝐥 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐚𝐝𝐢 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐭𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐲𝐞𝐦𝐛𝐮𝐧𝐲𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡𝐧𝐲𝐚. 𝐀𝐜𝐡..𝐚𝐤𝐮 𝐢𝐧𝐠𝐢𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐚𝐧𝐩𝐚 𝐝𝐢𝐡𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠𝐢 𝐤𝐚𝐢𝐧. 𝐀𝐜𝐡... 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐨𝐭𝐚𝐤𝐤𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐭𝐫𝐚𝐯𝐞𝐥𝐢𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐧𝐢 𝐲𝐚?"batin Anjani kemudian segera merapikan penampilannya agar terlihat cantik di mata Alva.


Beberapa menit berlalu akhirnya Alva keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Dan tanpa berkata apapun langsung berjalan keluar dari kamar itu.


"Al .!!"panggil Anjani tapi tidak dihiraukan oleh Alva.


"Huh... menyebalkan sekali. Apa aku ini makhluk tidak kasat mata hingga tidak sedikit pun aku terlihat olehnya ?! Aku harus mencari cara untuk mendapatkan perhatian dari Alva,"gumam Anjani kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Seperti biasanya, Alva berangkat kerja tanpa sarapan bersama keluarganya. Alva tidak ingin lama-lama bersama dengan Anjani.


"Pa, hari ini mama akan kekantor Alva. Mama ingin mencari informasi tentang Alva dari orang-orang disekitarnya,"ucap Ratih antusias.


"Terserah mama saja,"sahut Bramantyo.


"Apa kamu mau ikut mama, sayang?"tanya Ratih sambil menatap Anjani.


"Maaf ma, hari ini aku ada pemotretan,"jawab Anjani.


Sebelum makan siang, Ratih segera bergegas ke perusahaan Bramantyo Group. Ratih bertanya kepada beberapa orang karyawan di kantor Alva tapi tidak mendapatkan informasi apapun tentang Alva kecuali kedekatan Alva dengan asisten dan juga sekretarisnya.


Mereka mengatakan hal yang sama, yaitu kemanapun Alva pergi akan selalu didampingi oleh asisten dan sekretarisnya. Karena itu, Ratih berinisiatif untuk bertemu dengan sang sekretaris yang tidak diingat namanya oleh Ratih.


"Eh..kamu...siapa nama kamu? Saya lupa,"tanya Ratih kepada Disha saat Ratih sudah berada di depan meja kerja Disha.


"Disha Nyonya,"sahut Disha.


"Kamu makan siang bareng Tante ya?!"ajak Ratih.


"Tidak usah repot-repot Nyonya, saya bisa makan siang di kantin seperti biasanya,"sahut Disha.


"Saya tidak mau ditolak,"ucap Ratih tegas.

__ADS_1


"Baiklah, Nyonya mau makan siang dimana? Saya tidak bisa makan siang terlalu jauh dari kantor Nyonya, takut waktu istirahatnya keburu habis,"sahut Disha yang tidak mau membuat Ratih kesal.


"Kalau begitu biar Tante yang minta izin sama Alva,"ucap Ratih kemudian langsung masuk ke ruangan Alva.


"𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐭𝐢𝐛𝐚-𝐭𝐢𝐛𝐚 𝐦𝐚𝐦𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐀𝐥𝐯𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐣𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐚𝐧𝐠? 𝐏𝐚𝐝𝐚𝐡𝐚𝐥 𝐤𝐚𝐦𝐢 𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐮𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐢 𝐢𝐧𝐢,"batin Disha yang merasa aneh dengan ajakan Ratih untuk makan siang.


"Al..!!"panggil Ratih saat baru saja masuk ke dalam ruangan Alva.


Alva mengalihkan pandangannya dari laptopnya ke arah datangnya sumber suara yang tidak lain adalah mamanya.


"Ada apa ma?"tanya Alva bangkit dari duduknya untuk menghampiri Ratih.


"Mama minta izin untuk mengajak sekretaris kamu makan siang,"ucap Ratih.


"Kenapa mama mengajak karyawan ku makan siang? Seumur-umur mama tidak pernah mengajak karyawan ku makan siang,"tanya Alva menyelidik.


"Memangnya kenapa jika mama ingin mengajak karyawan kamu makan siang ?!"ketus Ratih.


"Ya, aneh saja, ma. Mengajak aku makan siang saja tidak pernah, ini malah mengajak makan siang sekretaris ku,"ucap Alva.


"Kenapa? Kamu cemburu?"tanya Ratih.


"Cemburu? Mama ini nanyanya aneh-aneh saja,"sahut Alva.


"Ya siapa tahu, kamu cemburu karena kamu nggak mama ajak makan siang di luar tapi malah mengajak sekretaris mu. Ya sudah, kalau begitu mama akan mengajak sekretaris mu untuk makan siang sekarang,"ucap Ratih.


"Aku ikut ma, aku kan juga belum makan siang,"sahut Alva.


"Tidak boleh.!!! Mama mau bicara masalah perempuan,"sahut Ratih tegas kemudian langsung keluar dari ruangan Alva.


"Mau bicara soal apa mama sama Disha. Jangan-jangan mau ngasih nasehat yang sesat lagi?"gumam Alva yang merasa penasaran.


...🌟"Selama masih ada rasa cinta, maka rasa rindu pun akan tetap ada."🌟...

__ADS_1


..."Nana 17 Oktober "...


To be continued


__ADS_2