Suami Berkedok Atasan

Suami Berkedok Atasan
189. Melupakan Tujuan


__ADS_3

Dita berdiri di depan kaca besar di ruangan kantornya dengan tangan yang terlipat di depan dada. Kaca yang memperlihatkan pemandangan kota yang dipenuhi gedung-gedung bertingkat dan hiruk pikuk kendaraan yang ada di jalanan yang tidak jauh dari perusahaannya.


"Tok! Tok! Tok!"


"Masuk!"sahut Dita saat mendengar pintu ruangannya di ketuk.


"Nyonya,"ucap sekretaris Dita.


"Ada apa?"tanya Dita tanpa menoleh pada sekretarisnya. Karena tanpa melihat siapa yang masuk pun Dita sudah tahu siapa orang yang ada di dalam ruangan nya sekarang, karena Dita sudah hafal dengan suara sekretaris nya.


"Semalam, Tuan Alva pergi ke negara xx, Nyonya,"sahut sang sekretaris.


Dita membalikkan tubuhnya dan menatap sekretaris nya,"Untuk apa dia ke negara itu?"tanya Dita dengan mengernyitkan keningnya.


"Bramantyo mempunyai perusahaan di negara itu, Nyonya,"


"Dengan siapa dia pergi ke negara itu?" tanya Dita seraya mendekati kursi kebesarannya kemudian duduk di sana.


"Dia pergi sendiri, Nyonya,"


"Benarkah?"tanya Dita dengan sudut bibir yang tertarik ke atas.


"Iya, Nyonya. Saya sudah memastikan nya,"sahut sang sekretaris nampak yakin.


"Dimana dia menginap selama berada di negara itu?"


"Di hotel xx yang tidak jauh dari perusahaannya, Nyonya,"sahut sang sekretaris.


"Atur keberangkatan ku ke negara itu secepatnya dan carikan aku kamar yang berdekatan dengan kamar nya,"titah Dita dengan senyum smirk di sudut bibirnya.


"Baik, Nyonya,"sahut sekretaris Dita.


Hari itu juga akhirnya Dita berangkat ke negara xx untuk menyusul Alva. Dita menunggu Alva kembali ke hotel itu di lobi hotel. Setelah mendapat informasi dari anak buahnya bahwa Alva sudah berada di parkiran hotel, Dita pun mempersiapkan diri untuk berpura-pura tidak sengaja bertemu dengan Alva.

__ADS_1


Saat melihat Alva, Dita langsung berjalan cepat dari arah samping Alva, berpura- pura fokus dengan handphonenya hingga...


"Brugh" / "Akkh.! Dita menabrak Alva dan pura-pura kehilangan keseimbangan agar Alva menangkap tubuhnya hingga...


"Bugh"pantat Dita mendarat dengan sempurna di atas lantai yang keras hingga membuat Dita meringis karena saat dia pura-pura akan jatuh Alva sama sekali tidak meraih tubuhnya seperti yang dia harapkan, hingga membuat dia benar-benar jatuh.


"Kau?"ucap Alva saat melihat siapa yang menabraknya,"Kenapa kamu berjalan tanpa melihat ke depan?"tanya Alva sambil mengulurkan tangannya pada Dita.


"Awh.!"pekik Dita setelah menyambut uluran tangan Alva, dan berusaha untuk berdiri, tapi malah terduduk lagi.


"Kenapa?"tanya Alva kemudian berjongkok di depan Dita.


"Sepertinya kakiku terkilir, Al!"ucap Dita seraya meringis memegang kaki kirinya.


Alva melihat kaki yang di pegang oleh Dita dan memperhatikan nya secara seksama, kemudian memegangnya.


"Auwh! Sakit, Al!"pekik Dita,"Tolong bantu aku kembali ke kamar ku , Al? Kakiku sakit sekali, aku tidak bisa berjalan. Tolong gendong aku, Al!"pinta Dita membuat Alva mengernyitkan keningnya.


"Punggung ku masih sakit karena aku terlalu banyak berolah raga dengan istri ku sebelum aku pergi ke negara ini. Jadi aku tidak mungkin menggendong mu," ucap Alva ambigu membuat Dita kesal.


"Hey, Rendra!"sahut pria yang disapa Alva.


"Teman ku ini terjatuh dan tidak bisa berjalan. Sedangkan punggung ku sedang sakit kerena kebanyakan berolah raga. Jadi maukah kamu membantu temanku ini kembali ke kamar hotelnya dengan menggendong nya?"pinta Alva dalam bahasa Inggris karena Kristian hanya menguasai bahasa Inggris.


"Oh, tentu saja. Dengan senang hati,"ucap pria itu dengan senyum cerah, secerah mentari pagi.


Alva kemudian mendekati Kristian lalu berbisik di telinga pria itu,"Teman ku ini cantik, masih muda dan janda kaya, mungkin malam ini kamu bisa bersenang-senang dengan dia,"bisik Alva kemudian tersenyum penuh arti pada Kristian dan Kristian pun ikut tersenyum lebar.


Alva sudah lama mengenal Kristian, dan Alva tahu jika Kristian adalah seorang Casanova. Alva juga tahu jika Dita berpura-pura terkilir dan mencari perhatian nya, karena Alva melihat kaki Dita biasa saja. Tidak ada tanda-tanda kaki Dita terkilir dan kebetulan Alva melihat Kristian. Karena itu Alva ingin mengerjai Dita yang telah berpura-pura terkilir itu.


"Dit, temanku ini akan mengantarkan kamu ke kamar hotel mu,"ucap Alva menatap Dita yang masih duduk di lantai,"Angkat dia Kris," ucap Alva tanpa menunggu jawaban dari Dita, sambil menepuk pundak Kristian dan Kristian pun langsung mengangkat tubuh Dita dan menggendongnya.


"𝙎𝙞𝙖𝙡𝙖𝙣 𝙨𝙞 𝘼𝙡𝙫𝙖! 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙖𝙥𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙩𝙤𝙝 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙚𝙣𝙙𝙤𝙣𝙜 𝙠𝙪 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙥𝙧𝙞𝙖 𝙩𝙖𝙢𝙥𝙖𝙣. 𝙉𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙥𝙞𝙠𝙞𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞𝙢𝙖𝙣𝙖 𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙞 𝘼𝙡𝙫𝙖," gumam Dita dalam hati.

__ADS_1


"Aku pastikan akan mengantarkan kamu sampai ke dalam kamarmu dengan selamat, nona cantik,"ucap Kristian dengan senyum sejuta pesona ala Casanova nya.


Alva berjalan lebih dulu dan membuka pintu lift, kemudian mereka bertiga pun masuk ke dalam lift. Alva sempat terkejut saat mengetahui bahwa kamar Dita bersebelahan dengan kamar nya. Namun Alva tidak mau ambil pusing karena hal itu.


Saat mereka sudah berdiri di depan kamar, Alva mendekati Kristian,"Kamu tidak pantas disebut seorang Casanova jika tidak bisa menidurinya," bisik Alva ditelinga Kristian yang tidak bisa di dengar oleh Dita, Alva sengaja memanas-manasi Kristian.


"Aku pastikan akan membuatnya menjerit malam ini karena ku, hingga suaranya habis,"balas Kristian berbisik di telinga Alva hingga keduanya pun tergelak membuat Dita yang tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan mengernyitkan keningnya.


"Oke, aku masuk ke kamar ku dulu,"ucap Alva, menepuk pundak Kristian kemudian langsung masuk ke dalam kamarnya.


Setelah masuk ke dalam kamar Alva segera membersihkan diri kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Jari jempolnya menggulir layar handphonenya, menatap satu persatu foto-foto Disha, Kaivan dan juga foto-foto kebersamaan nya dengan Disha, dengan Kaivan dan juga foto kebersamaan mereka bertiga.


"Aku sangat merindukan kalian. Terutama kamu, sayang,"ucap Alva menatap lekat foto Disha,"Tidak bisakah kamu mempersingkat masa hukuman ku? Aku sungguh tidak sanggup jika harus seperti ini selama satu bulan,"gumam Alva lalu membuang nafas kasar.


Sedangkan di kamar sebelah, tepatnya di dalam kamar Dita, Kristian mendudukkan Dita di atas ranjang. Perlahan Kristian melepaskan sepatu high heels Dita kemudian duduk di pinggir ranjang menghadap Dita.


"Kamu cantik sekali, siapa namamu?" tanya Kristian seraya meraih tangan Dita, kemudian mencium punggung tangan Dita dengan lembut.


''Dita,"sahut Dita tersenyum tipis.


Kristian mendekatkan wajahnya ke wajah Dita kemudian berbisik,"Apa kamu sudah punya kekasih?"tanya Kristian yang nafasnya terasa hangat di leher Dita, membuat bulu-bulu di tubuh Dita meremang. Apalagi saat Kristian mengusap punggung Dita dengan lembut.


"Be..belum,"sahut Dita tergagap.


"Kamu sangat cantik,"puji Kristian dengan menerbitkan senyuman mautnya dengan wajah yang begitu dekat dengan Dita membuat Dita terpaku menatap pria tampan di depan matanya itu. Dita seolah terhipnotis dengan pria rupawan yang penuh karisma di depannya itu. Otaknya seakan beku saat menatap mata biru yang begitu indah milik Kristian.


Kristian merapikan anak rambut Dita kemudian menyelipkan nya ke belakang telinga Dita, hingga membuat jantung Dita berdetak kencang. Perlahan pria itu menunduk dan memiringkan kepalanya dan tak lama kemudian bibir pria itu sudah menempel dengan bibir Dita kemudian dengan lembut melum mat bibir Dita.


Dita seolah kehilangan akal karena pria tampan di depannya itu, membiarkan pria itu mencium bibirnya dan menjelajahi mulutnya. Tangan Kristian yang sudah terampil memanjakan tubuh wanita pun mulai menyentuh titik-titik sensitif tubuh Dita, membuat janda muda itu sukses mengeluarkan desa Han.


Satu demi satu, helai demi helai benang yang melekat di tubuh mereka pun terlepas dari tubuh mereka. Dita begitu terbuai dengan sentuhan Kristian dan terhanyut dalam cumm buan Kristian, hingga bagian inti tubuhnya merasakan kenikmatan yang begitu memabukkan saat Kristian menyatukan tubuh mereka dan bergerak menciptakan kenikmatan yang semakin memabukkan. Akhirnya Dita menghabiskan malam itu dengan berbagi peluh dengan Kristian, melupakan tujuannya datang ke negara itu.


...🌟"Manusia hanya berencana, namun Tuhan lah yang menentukan segalanya."🌟...

__ADS_1


To be continued


__ADS_2