
Di perusahaan Bramantyo Group.
"Tuan, saya sudah menyelesaikan tugas yang anda berikan,"ucap Riky yang sekarang sedang berada di dalam ruangan Alva.
"Benarkah? Kamu juga sudah menyiapkan segalanya jika Adiguna menarik seluruh sahamnya?"tanya Alva serius.
"Sudah Tuan, anda tidak perlu khawatir, saya sudah mempersiapkan segalanya. Dan ini semua dokumen yang anda inginkan,"ucap Riky seraya meletakkan setumpuk dokumen di atas meja Alva.
Alva kemudian memeriksa dokumen yang diberikan Riky satu persatu dengan teliti hingga beberapa menit kemudian Alva menatap Riky yang sedang duduk di depannya sedang sibuk dengan tabletnya.
"Terimakasih Rik, kamu memang paling bisa diandalkan,", ucap Alva dengan wajah yang bahagia.
"Sama-sama Tuan, ini juga berkat bimbingan dari Tuan,"ucap Riky jujur.
Selama ini Alva mengajarkan banyak hal kepada Riky tentang dunia bisnis yang tidak Riky dapatkan melalui bangku kuliah. Riky menjadi pintar dan cekatan dalam dunia bisnis karena bimbingan dari Alva.
"Kamu selalu saja merendah dan tidak pernah sombong, aku suka itu. Jika semua berjalan sesuai dengan rencana kita, aku akan memberikan kamu bonus tiga kali lipat dari gaji mu,"ucap Alva dengan perasaan senang.
"Benarkah, Tuan?"tanya Riky yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Alva.
"Terimakasih, Tuan. Tuan memang yang terbaik dan tidak pernah pelit,"ucap Riky senang,"Tapi, Tuan, sekarang aset Anda hanya tinggal resort yang baru beberapa bulan lalu selesai,"sambung Riky.
"Tidak apa, aku lihat pendapatan dari tempat itu juga lumayan,"ujar Alva.
"Iya, Tuan. Sepertinya anda bisa mendapatkan modal lagi dari tempat itu,"timpal Riky.
"Aku rasa juga begitu,"balas Alva.
***
Di apartemen Disha.
"Sayang, kamu ngapain di dalam kamar mandi? Kenapa lama sekali?!'"tanya Alva yang merasa khawatir karena Disha sudah lama beranda di dalam kamar mandi.
"Sebentar, Al,"sahut Disha dan tidak lama kemudian Disha pun keluar dari kamar mandi itu.Alva meraih tangan Disha, takut wanita itu terjatuh.
"Aku sudah bilang, jangan kunci pintunya jika kamu sedang berada dalam kamar mandi sayang. Aku takut jika terjadi sesuatu pada mu,"ucap Alva.
"Kamu nggak usah khawatir Al, aku baik-baik saja,"sahut Disha.
"Tapi aku khawatir sayang, perut kamu sudah sangat besar, tapi caramu berjalan malah biasa saja,"ucap Alva sambil mengarahkan Disha duduk di tepi ranjang.
"Ya terus aku harus berjalan seperti siput, begitu?"tanya Disha.
"Bukan begitu sayang, aku melihat rata-rata ibu hamil itu kalau jalan agak lambat, tapi kamu berjalan seperti orang yang sedang tidak mengandung,"jelas Alva kemudian menaiki kali Disha ke atas ranjang agar bisa selonjoran.
"Ya aku jalannya memang seperti ini, Al. Aku merasa nggak ada yang salah kok,"ucap Disha.
"Iya, memang kamu jalannya biasa saja dan nggak ada yang salah, tapi aku yang merasa khawatir jika kamu berjalan cepat dengan perutmu yang besar ini, sayang,"ucap Alva.
"Kamu tambah cerewet Al, sudah kayak emak-emak saja,"gerutu Disha.
__ADS_1
"Diam lah di sini, aku akan membuatkan susu untuk mu,"ucap Alva kemudian mengecup pipi Disha yang semakin gembil itu.
Beberapa saat kemudian Alva sudah datang dengan membawa segelas susu untuk ibu hamil kemudian memberikannya kepada Disha.
"Minumlah, sayang,"ucap Alva sambil mengelus kepala Disha.
"Iya,"sahut Disha.
"Sayang, aku ingin tahu apa yang dilakukan anak kita,"ucap Alva sambil naik ke atas ranjang.
Alva membaringkan kepalanya di pangkuan Disha kemudian menyibak baju atasan yang dipakai oleh Disha. Alva mengelus, mencium dan sesekali menggosok-gosokkan hidungnya di perut Disha.Sedangkan Disha mengelus rambut Alva yang hitam dan tebal tapi halus itu.
"Sayang.."panggil Alva masih setia mengelus perut Disha.
"Emm.."sahut Disha mengelus rahang kokoh Alva.
"Kayaknya dedek bayinya pengen ditengok in sama papanya dech!"ucap tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Disha.
"Jangan modus, ya?!"ucap Disha sambil menjewer telinga Alva.
"Awh.. sakit sayang!"keluh Alva.
"Habisnya kamu nya modus mulu, sich!!" ucap Disha.
"Sayang, kata dokter, ketika hamil sembilan bulan, harus sering - sering ditengok, biar nanti mempermudah si dedek bayinya keluar,"ujar Alva.
"Bener-bener pintar kamu kalau cari alasan,"ucap Disha.
"Oke, tapi cuma sekali,ya?! Nggak ada acara nambah!"ucap Disha menyetujui sekaligus memperingati.
"Yahh..mana full baterainya kalau cuma sekali, sayang,"rajuk Alva.
"Sekali atau tidak sama sekali,"tegas Disha memberikan pilihan.
"Oke .. oke..aku nurut, sayang,"sahut Alva, tidak ingin Disha berubah pikiran , Alva pun segera bangun dan memulai aksinya dengan mencium bibir Disha, sedangkan tangannya mulai melucuti pakaian mereka hingga berserakan di lantai.
Alva kemudian mencium leher Disha dan semakin turun hingga berlama-lama di dua bukit kembar milik disha. Alva melakukan penyatuan dengan hati-hati mengingat keadaan Disha dengan kandungan yang sudah besar dan mungkin sebentar lagi akan melahirkan.
Suara decapan dan des sahan pun terdengar silih berganti di dalam ruangan itu hingga akhirnya keduanya mencapai puncak kenikmatan. Alva mengecup kening dan bibir Disha beberapa kali setelah hasraatnya tersalurkan.
"Aku mencintaimu, berjanjilah tidak akan pernah meninggalkan aku apapun yang terjadi,"ucap Alva menatap wajah Disha dengan penuh cinta dengan posisi masih berada di atas tubuh Disha namun menahan tubuhnya agar tidak menindih tubuh wanita hamil itu.
"Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu,"ucap Disha meraih tengkuk Alva kemudian menciumnya dengan lembut dan spontan dibalas oleh Alva.
"Aku pegang janjimu,"ucap Alva kemudian mengecup kening Disha lalu beranjak dari atas tubuh Disha, membaringkan tubuhnya disamping tubuh istrinya.
"Tidurlah dengan posisi miring, aku tahu kamu tidak nyaman jika tidur dengan posisi telentang,"ucap Alva membantu Disha mengatur posisi yang nyaman untuk bumil itu.
"Terimakasih, sayang,"ucap Disha.
"I love you my sweet heart,"ucap Alva sambil memeluk tubuh Disha dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Disha.
__ADS_1
"Love you too,"ucap Disha sambil mengelus wajah Alva yang berada di ceruk lehernya.
***
Di sebuah acara resepsi pernikahan, Ratih dan Bramantyo sudah pulang duluan. Sedangkan Anjani belum ingin pulang, nampak Anjani berjalan sendiri ke tempat yang tidak begitu ramai hingga....
"Bugh"
"Auwh..!!"pekik Anjani yang bertabrakan dengan seorang pria dan hampir saja terjatuh jika pria itu tidak segera meraih pinggangnya.
"Maaf, saya tadi sedang membaca pesan di handphone saya,"ucap pria itu sambil membantu Anjani berdiri.
"Tidak apa-apa, saya tadi juga tidak memperhatikan jalan,"ucap Anjani jujur.
"Bukankah anda ini Anjani ya? Model terkenal itu? Istri dari Alvarendra Bramantyo?"tanya pria tampan bertubuh proposional itu.
"Ach..iya benar,"sahut Anjani.
Walaupun pernikahan Anjani dan Alva tidak dipublikasikan, namun hampir semua pebisnis mengetahui pernikahan mereka.
"Kebetulan kita bertemu disini. Bolehkah saya bertanya tentang sesuatu?"tanya pria itu.
"Tentang apa?"tanya Anjani seraya mengerutkan keningnya.
"Oh ya, sebelum saya bertanya, perkenalkan nama saya adalah Hery Darmawan,"ucap pria yang ternyata adalah Hery.
"Oh iya, salam kenal. Anda ingin bertanya soal apa tadi?"tanya Anjani.
"Anda adalah istri Pak Rendra jadi pasti anda mengenal sekretaris Pak Rendra kan?"tanya Hery to the point.
"Si Disha yang berpenampilan katrok itu?"tanya Anjani tersenyum miring.
"Dia itu tidak katrok, dia memang sengaja berpenampilan seperti itu untuk menyembunyikan wajahnya yang cantik," jelas Hery.
"Dari mana anda tahu kalau wajahnya cantik?"tanya Anjani sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Saya pacarnya sejak SMP dan baru putus sekitar delapan bulan lalu,"ucap Hery.
"Baru putus sekitar delapan bulan yang lalu?"tanya Anjani memastikan.
"Iya,"sahut Hery.
"Jadi anak siapa yang ada di dalam kandungan Disha?"
"Maksud anda...Disha sedang mengandung?"tanya Hery nampak terkejut.
...🌟"You can give without loving, but you can never love without giving....
...Kamu bisa memberi tanpa mencintai, tapi kamu tidak akan pernah bisa mencintai tanpa memberi."🌟...
..."Nana 17 Oktober "...
__ADS_1
To be continued